Panembahan Senapati Dari Mataram Pada Puncak Kekuasaannya

www.richard-seaman.com
0

Sesudah menduduki Kerajaan Madiun pada tahun 1590, raja Mataram ini tidak berhasil memperluas daerahnya lebih jauh ke timur. Pada tahun 1591 rupanya ia berusaha lagi menduduki Kediri, dengan memanfaatkan perselisihan antara dua calon pengganti raja yang berkuasa di kerajaan yang penting itu. Ratu Jalu yang mengakui kekuasan tertinggi raja Surabaya tetap memegang kekuasaan. Lawannya, yang dalam cerita tutur Mataram diberi nama Senapati, minta bantuan senjata kepada panembahan Mataram dalam usahanya menguasai kota keraton. Suatu pasukan Mataram sampai ke dekat Kota Kediri, tetapi akhirnya Senapati beserta pengikutnya harus meninggalkan benteng pertahanannya. Bersama dengan laskar Mataram ia bergerak mundur, lalu mencari perlindungan pada Panembahan. Raja Mataram menerima dia sebagai anak angkat. Kedatangan kelompok orang-orang terkemuka dari Kediri itu merupakan suatu keuntungan bagi Keraton Mataram, karena mereka memperkenalkan secara lebih baik hasil-hasil ciptaan peradaban Jawa Timur. Menurut cerita tutur, Senapati Kediri itu (mungkin masih muda) ikut serta menyelesaikan atau memperbaiki tembok benteng batu yang mengelilingi istana raja Mataram yang selesai pada tahun 1592 atau 1593.

Usaha raja Mataram merebut ditanggapi oleh raja-raja Jawa Timur dengan serangan balasan yang menyebabkan pertempuran besar antara tahun 1593 dan 1595. Menurut cerita tutur Mataram, pasukan-pasukan Jawa Timur dipimpin oleh Adipati Pesagi dan Adipati Gending. Panembahan Senapati (yang sudah mulai tua) mempercayakan sebagian laskarnya di bawah pimpinan Senapati Kediri yang masih muda itu. Orang-orang Jawa Timur menguasai daerah Madiun lagi, tetapi mereka tidak dapat menembus masuk ke daerah inti Mataram, dan akhirnya mereka bergerak mundur. Pertempuran-pertempuran yang menentukan terjadi di dekat Uter dan Jatisari. Dekat Uter Senapati Kediri yang masih muda itu gugur. la dimakamkan di Wedi, di sebelah selatan Klaten sekarang.

Pada tahun 1598 dan 1599, menurut daftar tahun peristiwa Jawa, tentara Mataram mengadakan serangkaian serangan terhadap’Tuban. Tetapi tentara Mataram tidak berhasil menduduki kota pantai yang telah diperkuat itu. Pada tahun-tahun itu pelaut-pelaut Belanda masih menyaksikan makmurnya kota tersebut; rajanya seorang penguasa yang megah, bersikap ramah terhadap orang-orang asing itu. Tentang kekuasaan raja Mataram di pedalaman Jawa Tengah sama sekali mereka tidak tahu.

Serangan-serangan terhadap Tuban tidak dicantumkan dalam Babad Mataram. Begitu juga tidak tercantum pendudukan Kalinyamat, kota keraton Kerajaan Jepara pada tahun 1599. Kejadian-kejadian itu hanya dicantumkan pada daftar tahun peristiwa Jawa.

Terus bertambah besarnya kekuasaan Panembahan Mataram telah mendorong iparnya, Adipati Pragola I dari Pati, menuntut supaya ia benar-benar diakui sebagai raja merdeka. Sesudah Madiun diduduki dan setelah perkawinan antara Senapati Mataram dan putri Madiun pada tahun 1590, hubungan antara keraton-keraton di Pati dan Mataram menjadi renggang. Konon, pada tahun 1600 Raja Pragola dengan kawalan sejumlah, besar orang bersenjata bergerak dari Pati menuju Mataram. Di daerah Prambanan, dekat Kali Dengkeng, terjadi pertempuran; ia berhadapan dengan Panembahan Senapati sendiri. Akibat pertempuran itu Pragola kembali lagi ke kota istananya. Permusuhan dengan raja Pati itu, satu-satunya yang masih mempunyai pertalian keluarga di antara raja-raja yang memerintah di Jawa, menyebabkan Panembahan Senapati Mataram merasa dirinya lebih terpencil dari sebelumnya.

Hanya dari sebuah sumber Belanda diketahui bahwa Panembahan Senapati pada tahun-tahun akhir abad ke-16 masih berusaha agar kekuasaannya diakui di Banten. Dalam laporan yang panjang (Eerste Schipvaert, jil. I, hal.103 dan 106) diberitakan bahwa pada tahun 1596 di Banten terasa ancaman dari Mataram. Pada waktu itu baru pertama kali Banten disinggahi armada Belanda, di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Pada akhir tahun 1598, waktu Jacob van Neck dengan armadanya berlabuh di Teluk Banten, didengar kabar bahwa raja Mataram dengan laskar besar lewat laut telah mengepung Banten, tetapi tanpa hasil. Perincian lainnya tidak diberitakan pada laporan Belanda itu (Tweede Schipvaert, jil. I, hal. 89). Kalau diakui bahwa pada tahun 1598 pasukan-pasukan Mataram telah dikirim untuk menyerang Tuban, ada kemungkinan bahwa ekspedisi ke Banten itu terjadi pada tahun 1597. Pada waktu itu Panembahan Senapati belum mempunyai kota-kota pelabuhan yang dapat digunakan di pantai utara Jawa Tengah (Pati-Juwana dan Jepara). Mungkin ia telah memanfaatkan hubungannya dengan Keraton Cirebon yang cukup bersahabat itu untuk dapat menggunakan kota pelabuhan Jawa Barat itu sebagai batu loncatan bagi ekspedisi maritim terhadap Banten. Konon Cirebon pada dasawarsa-dasawarsa terakhir abad ke-16 dan pada paruh pertama abad ke-17 diperintah oleh cicit Sunan Gunungjati. Wali itu dalam cerita Jawa hanya disebut dengan nama Pangeran Ratu (lihat Bab VII-4). Pangeran Ratu dari Cirebon pada tahun 1590 pernah menerima bantuan dari Senapati Mataram untuk membangun atau memperkuat tembok benteng yang mengelilingi kotanya, karena kemungkinan besar. akan timbul permusuhan. Kenyataan bahwa Banten dahulu suatu daerah yang didirikan oleh tokoh besar raja Sunan Gunungjati (kira-kira pada tahun 1525, lihat Bab VII-3) menyebabkan raja-raja Cirebon kemudian menerima baik usul Mataram untuk berusaha menempatkan kembali Banten di bawah kekuasaan Cirebon (dan Mataram). Pagarage (Garage ialah nama Sunda) dari tahun 1650, di bawah pemerintahan Sunan Mangkurat I Seda-Tegal-Wangi dari Mataram, tercatat dalam Sadjarah Banten karena adanya usaha merebut kemerdekaan Banten oleh gabungan kekuatan Cirebon-Mataram (lihat Graaf, Sunan Mangku Rat, jil. I, hal. 41). Usaha-usaha itu tidak pernah berhasil, juga disebabkan oleh politik netral Kompeni di Betawi sejak 1619.

Dikutip dari; Kerajaan Islam Jawa; DR. HJ. DE GRAAF; Grafiti Pers.

 

Leave A Reply