Namimah (Mengadu Domba)

0

Yaitu mengadukan ucapan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak salah satu faktor yang menyebabkan terputusnya ikatan, serta yang menyulut api kebencian dan permusuhan antar sesama manusia.

Allah ta’ala mencela perbuatan tersebut dalam firman-Nya:

Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah. (QS. Al-Qalam: 10-11).

Dalam sebuah hadits marfu’ yang diriwayatkan oleh Hudzaifah radhiallahu anhu disebutkan:

Tidak akan masuk surga Al-Qattat (tukang adu domba).[1]

Ibnu Abbas radhiallahu anhu meriwayatkan:

“(Suatu hari) rasulullah shollaulohu alaihi wassalam melewati sebuah kebun di antara kebun-kebun Madinah, tiba-tiba beliau mendengar dua orang yang sedang disiksa dalam kuburnya, lalu nabi shollaulohu alaihi wassalam bersabda, “Keduanya disiksa padahal tidak karena masalah yang besar (dalam anggapan keduanya), lalu bersabda, “Benar.” (Dalam sebuah riwayat disebutkan: Padahal sesungguhnya ia adalah persoalan besar), salah seorang diantaranya tidak meletakkan sesuatu untuk melindungi diri dari percikan kencingnya dan seorang lagi (karena) suka mengadu domba.”[2]

Di antara bentuk namimah yang paling buruk adalah hasutan yang dilakukan seseorang terhadap seorang lelaki tentang istrinya atau sebaliknya, dengan maksud untuk merusak hubungan suami-istri tersebut.

Demikian pula adu domba yang dilakukan sebagian karyawan kepada teman karyawannya yang lain. Misalnya dengan mengadukan ucapan-ucapan kawan tersebut kepada direktur atau atasannya dengan maksud untuk memfitnah dan merugikan karyawan tersebut. Semua hal ini haram hukumnya.

Dikutip dari: Dosa-dosa Yang Dianggap biasa; Syaikh  Muhammad bin Shaleh Al-Munajjid; Kantor Dakwah-Sulay; Penerjemah, Ainul Harits Umar Thayyib ; Islamic Propagation Office In Rabwah;

[1] Hadits riwayat Bukhari, lihat Fathul Bari; 10/472. Dalam An-Nihayah karya Ibnu Atsir; 4/11 disebutkan: Al-Qattat adalah orang yang menguping (mencuri dengar pembicaraan) tanpa sepengetahuan mereka, lalu ia membawa pembicaraan tersebut kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba.

[2] Hadits riwayat Bukhari, lihat Fathul Bari; 1/317.

Leave A Reply