Najasyi

0

 

 
Amr bin Ash dan Amarah bin Al-Walid mengarungi laut dengan membawa hadiah yang banyak untuk Najasyi.
Mereka mengarungi laut dengan menggunakan sebuah kapal. Mereka pun kemudian tiba di Habsyi. Mereka lalu menuju istana raja.

Amr bin Ash berkata kepada penjaga isatana, ‘Kami utusan bangsa Quraisy membawa hadiah untuk sang raja.’
Najasyi menyambut mereka dan menerima hadiah dari orang Quraisy tersebut. Para pemuka agamanya juga menerima hadiah-hadiah dari mereka. Raja lalu menanyakan maksud kedatangan mereka.
Para utusan itu pun menjawab, ‘Ada beberapa orang bodoh yang telah mengungsi ke negeri Habsyi. Mereka telah mengabaikan agama ayah dan leluhur mereka. Mereka tidak menerima agama tuan (Kristen). Mereka telah membawa agama baru. Agama yang tuan dan kami tidak ketahui. Kami orang Quraisy adalah kaum yang mulia. Kami datang kemari untuk membawa mereka kembali dan mendidik mereka.’
Raja negeri Habsyi adalah seorang yang arif dan bijaksana. Lalu ia pun berkata, ‘Bagaimana bisa aku menyerahkan orang yang telah memilih negeriku dan meminta bantuanku? Bagaimanapun, aku akan terlebih dahulu bertanya kepada mereka. Apabila benar pikiran mereka jahat dan mereka telah berkhianat, aku akan serahkan mereka pada kalian. Jika sebaliknya, maka aku akan membiarkan mereka untuk tinggal di negeriku.’
Najasyi memanggil kaum yang berhijrah. Mereka pun menghadap ke istana. Ja’far bin Abi Thalib berada paling depan. Mereka memasuki istana dan berdiri tepat di hadapan sang raja.
Rakyat Habsyi membungkukkan badan ketika berhadapan dengan sang raja, begitu pula dengan utusan dari bangsa Quraisy, sedangkan kaum muslim tidak membungkuk; kepala mereka tetap ditegakkan.
Raja Najasyi pun bertanya kepada mereka, ‘Kenapa kalian tidak membungkukkan badan di hadapanku?’
Ja’far menjawab, ‘Kami tidak membungkuk di hadapan siapa pun kecuali di hadapan Allah.’
Raja bertanya, ‘Apa maksud kalian?’
Ja’far menjawab, ‘Yang mulia, Allah telah mengirimkan seorang rasul, rasul kami telah memerintahkan kami untuk tidak pernah membungkuk pada siapa pun kecuali kepada Allah. Beliau juga telah memerintahkan pada kami untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat.’
Amr bin Ash berkata dengan nada marah, ‘Mereka telah melanggar agama raja.’
Najasyi menyuruh Amr untuk diam dan meminta Ja’far ntuk melanjutkan.
Dengan sopan, Ja’far berkata, ‘Yang mulia, kami dulu hanyalah orang-orang bodoh. Kami menyembah berhala dan memakan bangkai binatang. Kami melakukan hal-hal yang buruk dan mengabaikan keluarga kami. Kami tiak menyantuni tetangga kami. Yang kuat menindas yang lemah. Kemudian Allah mengirimkan pada kami seorang rasul. Kami mengetahui dengan benar kejujuran dan keluhurannya. Kami mengetahui bahwa ia benar-benar orang yang suci dan dapat dipercaya. Kemudian beliau mengajak kami untuk menyembah pada Allah semata. Beliau memerintahkan kami untuk tidak menyembah apa yang dulu kami dan leluhur kami sembah. Beliau memerintahkan kami untuk senantiasa jujur dan menjaga amanah. Beliau memerintahkan kami untuk selalu mengunjungi kerabat dan menyantuni tetangga, menghentikan perbuatan jahat dan pertumpahan darah. Beliau mencegah kami dari perbuatan keji dan mungkar, mengambil hak-hak anak yatim dan berbicara buruk pada wanita yang telah menikah. Beliau memerintahkan kami untuk hanya menyembah Allah semata dan tidak menyembah banyak Tuhan. Beliau memerintahkan kami untuk mendirikan Shalat, bersedekah dan berpuasa.’
‘Yang mulia, kami mempercayai dan mengikuti apa yang telah beliau bawa dari Allah dan kami hanya menyembah Allah semata, kami tidak menyembah banyak Tuhan. Tetapi orang-orang Quraisy menyerang dan menyiksa kami. Mereka mencegah kami dari beribadah menurut agama kami dan memaksa kami menyembah berhala lagi. Kami datang ke negeri tuan. Kami lebih memilih negeri tuan disbanding negeri lain. Maka dari itu, kami meminta tuan untuk berlaku adil dan arif.’
Najasyi dengan sopan berkata, ‘Apakah engkau mengetahui sesuatu yang disampaikan oleh rasulmu?’
Ja’far menjawab, ‘Ya.’
Najasyi, ‘Bacakan untukku!’
Ja’far lalu mulai membacakan beberapa ayat dari surah Maryam. Najasyi pun terharu. Air matanya membasahi kedua pipinya. Para pemuka agama dan rahib-rahib istana ikut terharu. Suara Ja’far terdengar syahdu.
Najasyi mendukung firman-firman Allah ini dan berkata dengan lirih, ‘Tentu saja, apa yang telah kau bacakan dan apa yang telah dibawa oleh nabi Isa berasal dari satu tempat yang sama.’
Sang raja kemudian berpaling pada utusan Quraisy dan berkata dengan marah, ‘Aku tak akan menyerahkan mereka pada kalian dan aku akan membela mereka.’
Sang raja pun memerintahkan pada prajurit kerajaan untuk mengusir utusan Quraisy tersebut dan mengembalikan hadiah yang telah mereka berikan. Raja berkata, ‘Mereka telah berusaha menyuapku dan aku tak ingin disuap.’
Raja berpaling pada Ja’far dan umat muslim lainnya lalu berkata, ‘Kalian diterima di sini, begitu pula dengan rasul kalian. Aku mengakui bahwa dia adalah seorang rasul yang telah diberitakan oleh nabi Isa bin Maryam. Tinggallah sesuka kalian di negeriku.’
Najasyi ingin mengetahui kebiasaan dalam tata karma dalam Islam. Ia bertanya kepada Ja’far, ‘Bagaimana cara kalian saling bertegur sapa?’
Ja’far menjawab, ‘Kami menyapa dengan mengucapkan assalamu’alaikum.’
Dikutip dari Belajar Dari Kisah Kearifan Sahabat.

 

Leave A Reply