Mus’ab Al-Khair Bangsawan Yang Tercerahkan

0

 

 
Mus’ab mengenakan pakaian terbaiknya, menyisir rambutnya, menyemprotkan parfum ke tubuhnya, lalu pergi. Beberapa orang wanita berbisik-bisik tentang pemuda kaya raya itu. Mereka berharap bahwa Mus’ab mau menikahi salah satu putrinya. Hal itu wajar karena selain tampan dan kaya Mus’ab adalah juga seorang bangsawan Quraisy.

Suatu hari, Mus’ab mendengar tentang suatu peristiwa baru yang terjadi di Makkah. Saat itu nabi Muhammad saw mulai mengajak orang-orang untuk masuk Islam. Rasa ingin tahu Mus’ab mengantarkannya ke rumah Al-Arqam tempat nabi Muhammad saw menyampaikan ajarannya. Tadinya, dia bermaksud untuk meluangkan sedikit saja waktunya di rumah Al-Arqam itu sekedar menuruti rasa penasarannya karena dia telah berjanji pada teman-temannya untuk pergi mencari hiburan.
Namun ketika Mus’ab mendengarkan khutbah nabi Muhammad saw tentang Islam sebagai agama untuk semua orang, agama yang tidak membedakan antara Quraisy dengan selain Quraisy, antara Arab dan ‘Ajam (selain orang Arab), antara yang hitam dan yang putih, antara perempuan dan laki-laki dan antara pembantu dan majikan. Mendengar hal itu Mus’ab merasa mendapatkan sesuatu yang baru. Dia menyadari akan adanya ajaran yang mulia tentang cinta sejati dan akhlak yang baik. Tiba-tiba ia berkata, “Aku bersaksi tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah.”
Pada suatu malam, Mus’ab pulang ke rumahnya. Dia makan malam tanpa berkata apa-apa. Dia hanya makan satu jenis makanan. Ayahnya memandanginya. Ibunya pun heran dengan kebiasaan barunya itu. Ibunya bertanya tentang hal itu. Dia hanya menjawab, “Tidak ada apa-apa.”
Ketika waktu tidur tiba, Mus’ab berbaring di tempat tidurnya dan memandangi langit yang berbintang. Dia pun merasa sangat kagum atas kebesaran Allah, Pencipta langit dan bumi, Penguasa jagat raya.
Semua sudah tertidur, namun Mus’ab masih terjaga. Dia bangun dan berwudhu dengan hati-hati agar tidak seorang pun melihatnya. Dia memasuki kamarnya dan mulai berdoa pada Allah Yang Maha Mulia.
Pada pagi berikutnya, ibu Mus’ab merasa heran dengan perilaku aneh anaknya. Dia tidak berhenti di depan cermin untuk menyisir rambutnya. Dia tidak memakai parfum di tubuhnya. Dia hanya berpakaian seperti orang biasa. Selain itu, ia memperlakukan orang tuanya dengan sopan.
Suatu hari, ibunya mendengar kabar mengenai seringnya Mus’ab pergi ke rumah Al-Arqam. Ibunya pun menjadi marah. Ibu Mus’ab menunggu kedatangannya dengan tidak sabar.
Mus’ab kembali pada sore harinya dan menyapa ibunya. Namun ibunya menampar pipinya dan berkata dengan keras, “Mengapa kau tinggalkan agama leluhurmu dan mengikuti agama Muhammad?”
Mus’ab menjawab, “Ibunda, karena itu merupakan agama terbaik.”
Ibunya kehilangan akal sehat karena semua orang telah mengabaikannya. Dia tidak dapat mengendalikan dirinya lagi, maka ia pun menampar pipi anaknya lagi. Mus’ab lalu duduk dengan sedih. Ibunya pun ikut duduk juga. Ia mulai berpikir bagaimana caranya agar anaknya kembali ke agama leluhurnya?
Dengan lembut ibunya berkata, “Tidakkah kau lihat umat Islam menderita karena penyiksaan? Islam adalah agama para pembantu. Agama itu cocok untuk Bilal, Suhaib dan Ammar. Sedangkan kau merupakan bagian dari suku Quraisy yang terhormat.”
Mus’ab memandang kea rah ibunya dan berkata, “Tidak bu! Islam adalah agama semua orang. Tidak ada perbedaan antara Quraisy dengan selain Quraisy, antara yang hitam dan yang putih, yang membedakan di antara mereka hanyalah ketakwaan pada Allah. Ibu, aku mohon ikutilah agama Allah dan tinggalkan berhala karena mereka tidak berguna!”
Ibunya tetap diam. Dia lalu memikirkan cara lain agar anaknya meninggalkan agama Muhammad SAW. Matahari bersinar pada keesokan paginya. Sinarnya memenuhi rumah-rumah di kota Makkah dan perbukitannya. Rumah itu tampak sepi. Mus’ab bertanya dalam hatinya, “Kemanakah ibuku pergi?”
Mus’ab hendak keluar. Dia lalu menuju pintu dan mencoba untuk membukanya, namun pintu itu ternyata terkunci. Mus’ab pun menunggu kedatangan ibunya. Satu jam berlalu. Pintu itu kemudian terbuka. Ibunya bersama seorang lelaki bersorban muncul dari belakang pintu. Lelaki itu membawa pedang di tangan kanannya dan rantai di tangan kirinya.
Ibunya bertanya, “Apakah kau ingin pergi ke rumah Al-Arqam?”
Mus’ab terdiam. Ibunya pun melanjutkan, “Ruangan itu akan menjagi penjara bagimu hingga kau tinggalkan agama Muhammad.”
Dengan tegas Mus’ab menjawab, “Lebih baik aku mati demi agama Muhammad.”
Orang bersorban itu pun merantai Mus’ab, ibunya mendorongnya ke dalam kamar yang menjadi penjara baginya.
Hari-hari pun berlalu. Mus’ab menderita kelaparan dan kesepian dalam penjara. Mus’ab tak henti-hentinya menangis. Nabi Muhammad SAW dan umat muslim mendengar tentang penderitaan Mus’ab. Mereka prihatin sekalius kagum kepada Mus’ab karena dia memilih di dalam penjara daripada mengingkari agama Allah.
Mus’ab selalu beribadah kepada Alah selama dalam kurungan. Dia ikhlas dengan takdirnya. Namun dia merasa bahwa kebebasan merupakan hal terindah dalam hidup dan keimanannya pada Allah merupakan jalan menuju kebebasan. Mus’ab merasakan penderitaan pembantu-pembantu di Makkah.
Hari dan minggu pun berlalu. Mus’ab masih tetap dikurung. Allah berkehendak untuk menyelamatkannya dari penderitaan it. Seorang muslim dengan sembunyi-sembunyi datang ke penjara Mus’ab. Orang itu memberi tahu Mus’ab tentang hijrahnya umat Islam. Mus’ab pun gembira dengan kabar itu dan dengan penuh harapan mulai menyusun cara membebaskan diri dari penjara keluarganya itu.
Atas bantuan para pembantunya yang merasa simpati dan kasihan kepada Mus’ab, akhirnya Mus’ab dapat lari dari penjara itu dan bergabung dengan rombongan hijrah kaum muslimin yang dipimpin Sa’ad bin Zarara.
Mereka melewati gurun pasir menuju ke Laut Merah dan melewati perkampungan yang dipimpin Usaid. Ketika Sa’ad bin Zararah melihat seseorang (yang ternyata Usaid) berjalan ke arahnya, dia berbisik pada Mus’ab, “Dia adalah Usaid. Dia adalah pemimpin suku ini. Apabila dia menjadi muslim, maka seluruh sukunya pun akan menjadi muslim.”
Usaid berhenti di dekat mereka. Dia lalu bertanya dengan nada mengancam, “Jika kalian masih senang hidup, pergilah dari sini!”
Mus’ab dengan sopan berkata, “Duduklah beberapa menit saja. Dengarkanlah apa yang sedang kami bacakan. Jika engkau tidak menerimanya, kami akan pergi.”
Usaid lalu berkata, “Aku rasa itu adil, baiklah.”
Usaid pun menaruh pedangnya di lantai dan duduk. Mus’ab mulai membacakan beberapa ayat Al-Qur’an. Usaid merasa bahwa keyakinan mulai memasuki hatinya.
Ekspresinya berubah seketika. Kemarahannya menghilang. Ia lalu berkata dengan senyuman, “Alangkah indahnya!”
Mus’ab berkata, “Ini adalah agama terbaik. Nabi yang jujur dan dapat dipercaya telah membawanya.”
Usaid lalu bertanya, “Apa yang harus aku lakukan apabila aku ingin menjadi seorang muslim?”
Mus’ab menjawab, “Bersihkanlah tubuhmu, berwudhulah, katakanlah, ‘aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah dan hamba Allah.’ Lalu shalatlah dua rakaat.”
Usaid berdiri lalu pulang ke rumahnya. Dia membersihkan tubuhnya, berwudhu, setelah itu kembali menghadap Mus’ab dan Sa’ad bin Zarara, lalu ia pun menjadi muslim. Kemudian dia berkata, “Ada seorang pria di sana. Pria itu adalah kawanku. Apabila ia menjadi seorang muslim, maka seluruh sukunya akan menjadi muslim juga. Aku akan panggilkan dia…”
Dikutip dari Belajar Dari Kisah Kearifan Sahabat.

 

Leave A Reply