Metode Penetapan 1 Syawal

0

Segala puji bagi Allah yang telah berfirman :

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (Yunus:5)

Dan juga yang berfirman:

Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas. (Al-Isra:12)

Shalawat dan Salam mudah-mudahan senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah SAW selaku penutup para nabi dan rasul, yang telah menunjukkan manusia kepada jalan yang terang benderang, malamnya ibarat siang, sehingga barang siapa yang menyimpang dari jalan itu, pasti sesat dan binasa.

Fenomena perbedaan pendapat bukanlah hal yang aneh dalam kamus fiqih islam. selama perbedaan tersebut tidak keluar dari ring Al-Quran dan As-Sunnah, maka perbedaan yang ada akan adalah keberagaman yang terpuji.

Di Indonesia hampir tiap tahun kita diributkan dengan adanya perbedaan waktu dalam penentuan awal puasa ramadhan kemudian berlanjut pada perbedaan penentuan 1 syawal (hari raya idul fitri). Hal ini tentu membuat sebagian dari kita berpikir, sebenarnya apa sih yang menyebabkan hal itu berbeda-beda, toh bulannya satu, tahunnya satu, kita juga hidup ditempat yang sama, tapi mengapa sering sekali terjadi perbedaan penentuan awal puasa maupun penentuan 1 syawal/idul fitri.melalui makalah singkat ini kami berkeinginan untuk menjelaskan metode para fuqaha dalam penentuan awal bulan Syawal serta pendapat yang paling rajih dalam masalah tersebut, sehingga hilanglah kerancuan yang sering timbul di tubuh umat islam dalam memahami perbedaan dalam penentuan 1 syawal. Wallahul musta’an

  1. Metode para Ulama dalam menentukan 1 syawal.[1]

Untuk menetapkan tanggal 1 syawal, para ulama memiliki 2 metode:

  • Ru’yatul hilal.

Diriwayatkan dari ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Apabila kalian telah melihatnya maka berpuasalah, dan apabila kalian telah melihatnya maka beridul fitrilah, jika terhalang oleh mendung maka genapkanlah 30 hari. (HR.Al-Bukhari No 1900 dan Muslim No.1080)

            Ash-Shan’ani berkata: hadits ini merupakan dalil atas wajibnya berpuasa ramadhan jika telah melihat hilal ramadhan, dan wajibnya beridul fithri jika telah melihat hilal syawal.[2]

  • Menggenapkan bilangan ramadhan menjadi 30 hari

Rasulullah bersabda:

 “Satu bulan itu ada 29 malam, maka janganlah kamu berpuasa ramadhan sampai kamu melihat hilal dan jangan pula beridul fithri sampai kalian melihatnya ,jika langit tertutup mendung maka genapkanlah bilangan tersebut menjadi 30 hari” (HR.Al-Bukhari No.1907)

  1. Metode ru’yatul hilal (Melihat hilal)
  2. Definisi

Ru’yah secara bahasa berarti melihat, baik dengan mata ataupun hati. Ru’yah adalah mashdar dari kata ra’a. kata ini jika bermakna melihat maka membutuhkan satu objek (Maf’ul) dan jika bermakna mengetahui maka membutuhkan dua objek.[3]

Adapun kata “Hilal” (bulan sabit) maka ia memiliki banyak arti diantaranya adalah bulan yang tampak pertama kali saat menghadap ke arah matahari, yang biasanya muncul pada malam pertama dan kedua pada tiap bulannya ada juga yang menganggap bulan pada malam ketiga juga termasuk hilal, selain itu kata bulan sabit juga biasa digunakan untuk menyebut bulan yang tampak pada malam ke 26 dan 27, mengingat besarnya bulan yang hamper sama dengan bulan sabit pada awal bulan.ada juga yang berpendapat bahwa “hilal” adalah sebutan untuk bulan yang belum dapat menerangi gelapnya malam, dan ini biasa terjadi antara tanggall 1 hingga tanggal 7[4]

  1. Hukum Melihat Hilal

Adurrahman Al-Jazairi berkata: Wajib bagi kaum muslimin untuk mengamati dan mencari hilal pada tanggal 29 Sya’ban dan Ramadhan, sehingga jelaslah nantinya apa yang harus dilakukan, apakah berpuasa ataukah beridul fithri, mengenai wajibnya mengamati hilal ini tidak ada yang berbeda pandapat kecuali madzhab Hambali, mereka menyatakan: hukum mengamati hilal adalah dianjurkan bukan diwajibkan. Tetapi pandapat selain Madzhab hambali tentunya jauh lebih logis, pasalnya puasa ramadhan merupakan salah satu rukun islam yang memiliki hubungan erat dengan tampak dan tidaknya hilal,sehingga sangat tidak mungkin hukum mengamati hilal hanya sekedar dianjurkan.[5]

terlihatnya hilal memiliki hubungan yang erat dengan beberapa waktu yang ditetapkan oleh Syariat untuk menjalankan ibadah, maka dari itu kaum muslimin disyariatkan untuk mengamatinya, terutama pada malam-malam berikut; malam ke 30 dari bulan Sya’ban untuk menetapkan 1 ramadhan, malam ke 30 untuk menetapkan tanggal satu syawal serta berakhirnya bulan Ramadan dan malam ke 30 dari bulan dzul Qa’dah untuk mengetahui tanggal 1 dzul hijjah ketiga bulan tersebut memilki kaitan yang sangat erat dengan dua rukun islam yaitu puasa dan haji. Juga untuk menetapkan waktu idul fithri dan idul adha.[6]

  1. Tata cara menentukan tanggal 1 syawal berdasarkan ru’yatul hilal

Para ulama berbeda pandapat apakah untuk menetapkan jatuhnya 1 syawal, harus berdasarkan pengamatan sekelompok besar kaum muslimin, ataukah bisa ditetapkan dengan pengamatan  dua orang muslim yang adil, atau bahkan hanya cukup dengan hasil pengamatan satu orang muslim yang adil saja. Berikut ini kami paparkan pendapat para ulama dalam masalah ini:

  • Madzhab Hanafi berpendapat sebagai berikut:
  1. Jika langit terlihat cerah, maka untuk menetapkan bulan ramadhan, berbuka puasa dan hari raya, maka hilal harus disaksikan oleh banyak orang.mengenai jumlah personalnya, maka tidak ada batasan,semuanya dikembalikan kepada imam. yang penting jumlah tersebut bisa memberikan keyakinan bahwa hilal memang benar-benar telah muncul. Pemberian syarat seperti diatas dikarenakan waktu munculnya hilal hanya satu kali dalam satu tempat, selain itu disyaratkan juga agar segala macam hal yang menghalangi terlihatnya hilal disingkirkan, penglihatan yang normal serta antusias yang tinggi untuk melihat hilal. Dengan demikian maka jika ada orang yang melihat hilal sendirian padahal ia ditengah-tengah kerumunan orang, maka ia tidak bias dibenarkan. Dan dalam memberikan kesaksian atas munculnya hilal, setiap orang harus mengucapkan kata “Aku bersaksi”
  2. Jika langit tidak cerah, baik karena mendung atau yang lainnya, maka imam cukup meminta kesaksian dari seorang muslim yang adil (orang yang kebaikannya mengalahkan kejelekannya), berakal, baligh, atau -menurut pendapat yang shahih-orang yang tidak diketahui identitasnya, baik laki-laki maupun perempuan, baik yang merdeka maupun yang lainnya. Kriteria-kriteria diatas diperlukan karena hal ini merupakan urusan keagamaan. Oleh karena itu penerimaan kesaksian dalam ru’yatul hilal ibarat penerimaan dalam periwayatan hadits. Maka seseorang tidak perlu mengatakan “aku bersaksi”.apabila ia tinggal di kota maka kesaksiannya cukup diutarakan kepada hakim setempat, namun jika ia berdomisili didesa maka kesaksiannya bisa dikemukakan di masjid yang berisi khalayak ramai.

Memberikan kesaksian atas kesaksian orang lain hukumnya boleh dan hukumnya adalah sah.seseorang yang melihat hilal sendirian hendaknya berpuasa, meskipun  kesaksiannya ditolak oleh hakim. Seandainya ia tidak berpuasa [pada hari itu padahal ia telah melihat hilal, maka ia wajib mengqadhanya dan tidak wajib mengeluarkan kafarat.[7]

  • Madzhab maliki berpendapat bahwa hilal ramadhan ditetapkan dengan tiga model kesaksian:
  1. Kesaksian yang diberikan oleh sekelompok besar kaum muslimin, meskipun mereka bukan orang yang adil, yang penting semuanya sangat mustahil untuk berdusta. Dalam kesaksian model seperti ini maka tidak disyaratkan harus laki-laki, orang merdeka atau orang yang adil
  2. Kesaksian yang berikan oleh dua orang atau lebih. Kesaksian yang diberikan oleh keduanya dianggap sah dan bias dijadikan patokan dalam berpuasa dan tidaknya kaum muslimin. Hal tersebut berlaku pada kondisi langit cerah dan mendung.
  3. Kesaksian yang diberikan oleh satu orang yang adil. Dengan kesaksian ini wajib bagi orang yang melihat hilal untuk berbuka atau beridul fithri. Juga wajib bagi orang yang mendengar informasi darinya, jika orang yang mendengar informasi tersebut bukan seorang yang memiliki perhatian terhadap hilal. Jika yang melihat hilal adalah Imam, maka hukumnya wajib untuk diikuti. Adapun hilal Syawal, maka harus ditetapkan melalui kesaksian sekelompok orang yang mustahil memberikan kesaksian yang bohong, atau dengan kesaksian dua orang yang adil, sebagaimana penetapan hilal ramadhan.[8]
  • Menurut madzhab Syafi’I, penetapan hilal ramadhan , syawal dan bulan-bulan lainnya bisa dilakukan dengan kesaksian seorang muslim yang adil, meskipun identitasnya belum diketahui, hal ini berlaku ketika langit cerah dan mendung, dengan syarat orang yang melihat hilal adalah seorang yang adil, muslim, baligh, berakal, merdeka, laki-laki dan dalam persaksiannya mengucapkan “Aku bersaksi”, dengan demikian hilal tidak bisa ditetapkan melalui kesaksian yang diberikan oleh orang fasiq, anak kecil, orang gila, hamba sahaya, dan perempuan.[9]
  • Adapun madzhab hambali, mereka berpendapat bahwa penetapan hilal ramadhan dapat diterima melalui pernyataan seorang mukallaf yang adil, baik secara terang-terangan maupun tidak, baik laki-laki maupun perempuan, baik orang yang merdeka maupun hamba sahaya, sekalipun tidak mengucapkan “Aku bersaksi bahwa aku telah melihat hilal”

Adapun hilal syawal, maka tidak bias ditetapkan kecuali dengan kesaksian dua orang yang adil, keduanya harus mengucapkan kalimat kesaksian, karena pada umumnya bulan-bulan selain ramadhan diketahui oleh banyak orang.[10]

            Menurut ibnul Qayyim Al-Jauziyah, hilal ramadhan bisa ditetapkan dengan kesaksian satu orang, adapun idul fithri, maka harus berdasarkan kesaksian dua orang[11] , hal serupa juga dinyatakan oleh Al-Imam Al-Baghawi, beliau berkata: “Adapun Hilal Syawal, maka menurut para ulama tidak bisa ditetapkan kecuali dengan kesaksian dari dua orang (atau lebih)”[12]. An-Nawawi dalam Syarh Muslim mengatakan: seluruh ulama sepakat bahwa kesaksian satu orang muslim yang adil tidak bisa dipakai untuk menetapkan hilal Syawal, kecuali pendapat yang diusung oleh abu tsaur yang menganggap bolehnya menetapkan hilal syawal dengan kesaksian satu orang, Asy-Syaukani membenarkan pendapat ini.[13]namun jika kita cermati semua pemaparan diatas, tentunya pendapat jumhur jauh lebih tepat daripada Abu tsaur. Jumhur berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abdurrahman Bin Zaid Bin Khattab, bahwas Para sahabat nabi, menceritakan kepadanya , bahwa Rasulullah SAW bersabda:….dan jika dua orang saksi telah bersaksi, maka berpuasalah dan beridul fithrilah kalian..(HR. An-Nasai 1/300, Ahmad 4/321 dan dishihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’ hadits 909)

  • Lalu Apakah yang harus dilakukan oleh seseorang yang melihat hilal sendirian dan kesaksiannya ditolak oleh hakim?Para ulama berbeda pendapat dalam menyikapi hal ini[14]:
  1. Jika ia melihat hilal ramadhan maka ia wajib berpuasa, dan jika ia melihat hilal Syawal maka ia wajib berbuka, keduanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi supaya tidak terkesan menyelisihi Jama’ah Kaum Muslimin. Ini adalah pendapat imam As-Syafi’I, salah satu riwayat dari Imam Ahmad dan juga pendapat Ibnu Hazm, karena Allah berfirman:

“Maka barang siapa yang menyaksikan hilal, hendaklah ia berpuasa”

  1. Jika ia melihat hilal Ramadhan maka ia harus berpuasa, namun jika ia melihat hilal Syawal maka ia tidak boleh beridul fithri kecuali bersama kaum muslimin lainnya, ini adalah pendapat Abu Hanifah, Malik, dan pendapat yang masyhur dalam Madzhab Ahmad
  2. Ia tidak boleh beramal berdasarkan hilal yang ia lihat, sehingga ia tetap berpuasa bersama kaum muslimin lainnya dan juga beridul fithri besama-sama dengan mereka.ini adalah salah satu pendapat yang diriwayatkan dari imam Ahmad, pendapat ini dipilih oleh Ibnu Taimiyah, Karena Rasulullah bersabda:

“Puasa kalian adalah ketika kalian bersama-sama menjalankan ibadah puasa, Idul Fithri kalian adalah ketika kalian bersama-sama melaksanakan idul fithri, dan idul Adha kalian adalah ketika kalian bersama-sama melaksanakan idul Adha”(HR.Abu Dawud 2324 dan di shahihkan oleh Albani dalam Al-Irwa’ hadits no 905).mengenai maksud hadits ini, para ulama mengatakan: puasa dan Idul Fithri harus dilaksanakan bersama mayoritas kaum muslimin.[15]

Dari ketiga pendapat diatas, pendapat yang pertama adalah paling benar, mengingat adanya kesesuaian dengan zhohir nash, hal ini berlaku, baginya selagi ia tidak berpuasa melebihi 30 hari.[16]

  • Apakah wajib menunggu Keputusan dewan itsbat atau Imam?

Tidak ada keharusan untuk menunggu keputusan dari dewan itsbat, namun jika seandainya dewan itsbat telah menetapkan terlihatnya hilal dengan menggunakan suatu metode yang bisa dipertanggung jawabkan, maka wajib bagi penduduk suatu negeri untuk mengikutinya. Karena keputusan yang dikeluarkan oleh hakim akan menyelesaikan masalah. Hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama. kecuali apa yang dianut oleh Madzhab Syafi’I yang mewajibkan untuk menungu dewan itsbat.[17]

Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ketika ditanya tentang kemungkinan
seorang Imam itu dalam menetapkan Hilal Ramadhan dan Syawwal dengan hawa
nafsunya, beliau menjawab:
“Apa yang sudah menjadi ketetapan sebuah hukum tetaplah berlaku, termasuk
dalam ru’yah hilal. Sama saja dia seorang mujtahid yang benar atau salah,
atau melampaui batas.
Bahwa ada Imam yang menyembunyikan terlihatnya hilal, padahal manusia sangat
bersemangat mencarinya, maka telah tersebut dalam As-Shahihah bahwa Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda tentang para imam seperti ini
Mereka (para imam) shalat bersama kalian, jika mereka benar maka pahala bagi
kalian dan mereka, dan jika salah maka pahala bagi kalian dan dosa atas
mereka.”
Maka kesalahan dan pelampauan batas adalah dosa mereka bukan bagi kaum
muslimin yang tidak salah dan tidak melampaui batas.”[18] ()

  1. Antara ittihadul Mathla’ dan ikhtilaful Matholi’

Karena memandang bahwa hilal tidak selalunya bisa di lihat dari seluruh belahan bumi, maka para ulama pun berbeda pendapat, apakah jika bulan sudah terlihat di suatu tempat wajib bagi seluruh kaum muslimin yang berada ditempat lainnya untuk mengikutinya , ataukah masing-masing tempat boleh menetapkan 1 syawal sesuai dengan hasil ru’yah yang didapatkan di masing-masing tempat?berikut kami paparkan pendapat para ulama dalam masalah ini:

  • Hanafi

Menurut pendapat yang paling kuat, perbedaan waktu munculnya hilal pada siang hari sebelum matahari tergelincir dan sesudahnya tidak perlu diperselisihkan. Pendapat ini dikemukakan oleh para tokoh madzhab hanafi, sehingga akhirnya menjadi fatwa tetap di madzhab ini. Dengan demikian, penduduk belahan timur mesti berpegang kepada hasil rukyat penduduk belahan barat. Dengan catatan hilal tersebut benar-benar ditetapkan dengan metode yang benar, misalnya dengan menghadirkan dua orang saksi, lalu keduanya bersaksi dihadapan hakim. Atau adanya informasi yang tersebar luas masyarakat.[19]

  • Maliki

Menurut madzhab maliki, jika hilal telah terlihat, maka wajib bagi semua daerah untuk berpuasa.[20]Al-Qurthubi berkata: Syaikh-Syaikh kami berkata:Apabila ru’yatnya benar-benar terbukti secara pasti,lalu informasi tentang ru’yah tersebut dibawa ke daerah lain melalui persaksian dua orang, maka penduduk daerah tersebut wajib untuk mengikutinya[21]

  • Syafi’i

Menurut madzhab Syafii, jika hilal telah terlihat di suatu daerah, maka wajib bagi daerah-daerah terdekat untuk berpuasa.adapun daerah-daerah yang jauh, maka tidak wajib untuk mengikutinya. Kewajiban puasa disesuaikan dengan perbedaan mathla’ (waktu terlihatnya hilal). Demikian menurut pendapat yang paling shahih dalam madzhab ini. Jarak  antara satu mathla’ dengan yang lain adalah kurang dari 24 farsakh (133.056 km)[22]

  • Hambali

Menurut madzhab Hambali, jika hilal telah pasti terlihat disuatu daerah, baik daerah tersebut dekat maupun jauh.maka semua orang wajib berpuasa, orang yang tidak melihat hilal wajib untuk mengikuti orang yang telah melihatnya.

Adapun pendapat yang rajih dalam masalah ini, menurut hemat kami adalah pendapat jumhur ulama yang meyakini ittihadul mathla’, hal ini dikarenakan beberapa hal:

Rasulullah bersabda:

 “Berpuasalah kalian melihatnya, dan beridul fithri karena kalian melihatnya, jika langit mendung maka genapkanlah bilangan hari pada bulan Sya’ban menjadi 30 hari”(HR.Al-Bukhari dan Muslim, lihat Nailul Awthar 4/191)

Hadits ini menunjukkan bahwa kewajiban berpuasa berlaku bagi setiap muslim dengan keumuman rukyat. Sesuatu yang umum harus diberlakukan sesuai dengan keumumannya, maka kesaksian dari beberapa orang, dipandang cukup.

Adapun dalil dari Qiyas, maka para ulama mengqiyaskan daerah-daerah yang jauh dengan daerah yang dekat. Keduanya tidak memiliki perbedaan, membedakan keduanya merupakan tindakan yang mengada-ngada dan tidak berdasar sedikitpun kepada dalil.[23]

Adapun mengenai hadits Kuraib yang biasa dijadikan dalil oleh orang yang menganut ikhtilaful mathla’, maka kami jelaskan sebagai berikut:

“Artinya : Dari Kuraib : Sesungguhnya Ummu Fadl binti Al-Haarits telah mengutusnya menemui Mu’awiyah di Syam. Berkata Kuraib : Lalu aku datang ke Syam, terus aku selesaikan semua keperluannya. Dan tampaklah olehku (bulan) Ramadlan, sedang aku masih di Syam, dan aku melihat hilal (Ramadlan) pada malam Jum’at. Kemudian aku datang ke Madinah pada akhir bulan (Ramadlan), lalu Abdullah bin Abbas bertanya ke padaku (tentang beberapa hal), kemudian ia menyebutkan tentang hilal, lalu ia bertanya ; “Kapan kamu melihat hilal (Ramadlan) ? Jawabku : “Kami melihatnya pada malam Jum’at”. Ia bertanya lagi : “Engkau melihatnya (sendiri) ?” Jawabku : “Ya ! Dan orang banyak juga melihatnya, lalu mereka puasa dan Mu’awiyah Puasa”. Ia berkata : “Tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu, maka senantiasa kami berpuasa sampai kami sempurnakan tiga puluh hari, atau sampai kami melihat hilal (bulan Syawwal) “. Aku bertanya : “Apakah tidak cukup bagimu ru’yah (penglihatan) dan puasanya Mu’awiyah ? Jawabnya : “Tidak ! Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah memerintahkan kepada kami”. Hadits ini telah dikeluarkan oleh: Muslim (3/126), Abu Dawud (No. 2332), Nasa’i (4/105-106), Tirmidzi (No. 689), Ibnu Khuzaimah (No. 1916), Daruquthni (2/171), Baihaqy (4/251) dan Ahmad (Al-FathurRabbaani 9/270), semuanya dari jalan : Ismail bin Ja’far, dan Muhammad bin Abi Harmalah dari Kuraib dari Ibnu Abbas. Berkata Imam Tirmidzi : Hadits Ibnu Abbas hadits : Hasan-Shahih Gharib. Berkata Imam Daruquthni : Sanad (Hadits) ini Shahih. 1 Bahwa ternyata Ibnu Abbas RA kemudian tidak menyamakan awal/akhir Ramadhan dengan penduduk Syam setelah persaksian Kuraib, mendorong munculnya berbagai asumsi penyebab perilaku tersebut. Dan asumsi yang paling menonjol terhadap sikap beliau tersebut adalah karena beliau menilai Madinah dan Syam berbeda jarak sehingga harus menggunakan ru’yatul hilal masing masing wilayah. Padahal kesimpulan seperti (karena berbeda mathla’) itu sekali lagi adalah penafsiran dari pembaca, bukan ungkapan dari Ibnu Abbas itu sendiri. Dan atas hadits itulah oleh kemudian Imam Syafi’i memunculkan teorii ikhtilaf al-Matali’, yakni bahwa rukyat di suatu kawasan, tidak dapat diberlakukan untuk seluruh dunia. 2 Demikian pula muncul ragam pendapat dalam menafsirkan pernnyataan Ibnu Abbas RA : “Hakadza Amarana Rasulullah” (Begitulah Rasulullah menyuruh kami), yakni apakah hadits diatas bisa dimarfu’ kan kepada Rasul ataukah statusnya mauquf pada Ibnu Abbas RA dan merupakan ijtihad beliau semata. Penggolongan ini sangat penting sebab hadits mauquf (atsar sahabat) secara klasifikasi adalah termasuk golongan hadits dhoif dimana kita dilarang berhujah dengan hadits dhoif dalam masalah hukum syara khususnya lagi dalam masalah ibadah. Sehingga kedudukan hadits Kuraib ini berada dibawah hadits-hadits lainnya yang menjelaskan tentang kesatuan mathla’.

  1. Lalu bagaimana denga idul fithri yang dilakukan oleh umat islam Indonesia kemarin?kenapa jatuh pada hari rabu? Padahal Arab Saudi telah menetapkan munculnya hilal pada hari selasa?

Berikut ini kami kutipkan pernyataan beberapa orang ulama, dalam menyikapi ketidak sesuaian data astronomi dengan ru’yah yang bersifat empiric:

  1. Imam Taqiyuddin As-Subki (wafat tahun 756 H), yang menyebutkan bahwa jika hisab telah menafikan kemungkinan berhasilnya ru’yah dengan pandangan mata telanjang, maka wajiblah atas qadhi untuk menolak kesaksian para saksi yang mengaku melihat hilal. Beliau berkata,”Karena hisab bersifat qath’i, sementara kesaksian dan pemberitaan bersifat zhanni, sedangkan yang zhanni itu tidak boleh bertentangan dengan yang qath’i, apalagi sampai diutamakan diatasnya” (Fatawa As-Subki Jilid I hal 219 – 220, lihat Fatawa Mu’ashirah Jilid II hal 221).
  2. Syaikh Muhammad Musthafa Al-Maraghi, pemilik tafsir Al-Maraghi dan Syaikhul Azhar pada zamannya, yang berpendapat seperti pendapat Imam As-Subki, dengan menolak kesaksian para saksi jika hisab memustahilkan kemungkinan ru’yah (lihat Fatawa Mu’ashirah Jilid II hal 222).
  3. Syaikh Ahmad Syakir, salah seorang ulama hadits terkenal, yang mengatakan,”Dulu aku dan beberapa saudaraku termasuk diantara orang-orang yang menentang Al-Ustadz Al-Akbar (maksudnya adalah Syaikh Muhammad Musthafa Al-Maraghi) dalam pendapatnya (sebagaimana yang tersebut diatas). Namun aku sekarang menegaskan bahwa beliaulah yang benar. Bahkan aku tambahkan bahwa wajib hukumnya menggunakan hisab dalam menetapkan bulan-bulan dalam segala situasi dan kondisi, kecuali bagi orang yang tidak menguasai ilmu hisab” (Risalah Awaa-il asy-Syuhur al-’Arabiyyah oleh Ahmad Syakir, hal 15, lihat Fatawa Mu’ashirah Jilid II hal 222).

Dr. Yusuf Al-Qardhawi, yang mengatakan,”Sungguh aku telah menyerukan sejak beberapa tahun yang lalu agar kita menggunakan ilmu hisab dan falak yang bersifat qath’i, minimal dalam penafian dan bukan dalam penetapan, untuk memperkecil perselisihan luas yang hampir terjadi setiap tahun dalam menetapkan awal Ramadhan dan ’Iedul Fitri”, dimana perselisihan tersebut bisa mencapai tiga hari antara sebagian negara Islam dan sebagian negara yang lainnya. Adapun yang dimaksud penggunaan hisab dalam penafian adalah bahwa kita tetap memprioritaskan penentuan hilal melalui ru’yah sesuai pendapat mayoritas ulama fiqih saat ini, namun jika hisab menafikan kemungkinan terjadinya ru’yah karena hilal memang belum wujud sama sekali (atau sudah wujud namun belum mencapai derajat ketinggian yang memungkinkan untuk di-ru’yah, pen) di tempat manapun di dunia Islam, maka wajib dalam kondisi itu tidak menerima sama sekali kesaksian para saksi, karena fakta yang dikukuhkan oleh perhitungan hisab yang bersifat qath’i mendustakan mereka. Bahkan dalam kondisi ini, sebenarnya tidak perlu lagi ada upaya ru’yatul hilal. Begitu juga mahkamah-mahkamah syar’iyah, lembaga-lembaga fatwa dan departemen agama tidak perlu membuka kesempatan bagi yang ingin dan akan memberikan kesaksian ru’yatul hilal” (Fatawa Mu’ashirah Jilid II hal. 221).

                                                                                                   Wallahu A’lam

[1] Lihat Shahih Fiqhus Sunnah 2/90, kami sengaja tidak mencantumkan hisab dalam metode penetapan 1 syawal, karena para ulama telah berijmak bahwasanya perhitungan astronomi tidak bias dijadikan patokan dalam berpuasa dan beridul fithri. Diantara Ulama yang menukil adanya ijma dalam masalah ini adalah: Ibnu Al-Mundir, Ibnu Abdi Al-Bar, Ibnu Ar-Rusyd Al-Jadd Al-Baji yang kesemuanya dari kalangan malikiyah. Selain itu juga Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar, As-Subki, Al-Ainiy, Ibnu Abidin, Asy-Syaukani, Shidiq Hasan Khan, Mula Ali Qari dan ulama-ulama lainnya. Semuanya sepakat memvonis “Syadz” (nyleneh)siapapun yang menyetujui metode hisab. (silahkan lihat pembahasan ini dalam tulisan Syaikh Shalih Al-Luhaidan)hal yang sama juga diungkapkan oleh ibnul Arabi.(Ahkamul Quran 1/82), lebih jauh lagi Syaikh Abdurrahman Al-Jazairiy (Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba’ah 1/500) berkata: Perkataan para Astrolog sedikitpun tidak bisa dijadikan patokan, tidak ada kewajiban sedikitpun beramal berdasarkan perhitungan mereka baik itu benar ataupun salah. Karena Pembuat Syariat telah menetapkan tanda yang paten (dalam pelaksanaan ibadah puasa)yang selamanya tidak akan berubah-ubah yaitu Ru’yatul Hilal (mengamati Hilal) atau jika tidak bisa maka dengan menggenapkan bilangan hari dalam sebulan menjadi 30 hari, adapun perkataan para astrolog, meskipun mereka memiliki system perhitungan yang sangat teliti namun hasil perhitungan mereka kadang berbeda-beda, terbukti sering kali adanya silang pendapat diantara mereka. Demikian pernyataan tiga Imam Madzhab (Abu Hanifah, Malik dan Ahmad Bin Hambal).

[2] Subulu Salam 3/298

[3] Lisanul Arab

[4] Ash-Shihah oleh Al-Jauhari

[5] Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba’ah 1/500

[6] Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah  Al-Kuwaitiyah 22/23

[7] Ad-Durr Al-Mukhtar 2/123-130

[8] Asy-Syarh Ash-Shaghir 1/682 dan Asy-Syarh Al-Kabir 1/509

[9] Mughni Al-Muhtajj 1/420-422

[10] Al-Mughni 3/156-157

[11] Zadul Ma’ad 1/271

[12] Syarh As-Sunnah 4/144

[13] Nailul Awthar 4/552

[14] Silahkan lihat Al-Badai’ 2/80, Al-Mudawwanah 1/193, Al-Mubdi’ 3/10, Al-Majmu’6/270 Al-Muhalla 6/350 dan Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 25/114

[15] Syarh As-Sunnah  4/146

[16] Shahih Fiqh As-Sunnah 2/92

[17] Al-Fiqh Ala Madzahib Al-Arba’ah 1/501

[18] Majmu’ Fatawa25/206

[19] Ad-Durr Al-Mukhtar Wa Radd Al-Mukhtar 2/131-132

[20] Bidayatul Mujtahid 1/278

[21] Fathul Bari 4/155

[22] Mughnil Muhtajj 1/422-423, Fathul Bari 4/155. Ibnu Al-Majisyun menambahkan: kecuali jika ru’yah tersebut ditetapkan oleh Khalifah. Maka siapapun wajib untuk mengikutinya, karena seluruh permukaan bumi adalah ibarat satu wilayah baginya.dan keputusannya berlaku untuk semua wilayah.

[23] Al-Fiqh Al-Islamiy Wa adillatuhu 3/

Leave A Reply