Menyibak Apa Yang Tersembunyi

0

✒ Oemar Mita

Penyimpangan agama itu terjadi adalah ketika menyampaikan suatu permasalahan dengan hanya bersandar satu dalil dan menyembunyikan banyak dalil lainya dengan tujuan tertentu. Layaknya khowarij dan murjiah maka mereka pun menyimpang ketika bersandar dengan satu dalil serta membuang banyak dalil lainya. Padahal ahlu sunnah adalah metode yang dalam pengambilan hukum dengan mengumpulkan riwayat serta baru menyampaikan kesimpulan dari hal tersebut. Contoh dalam hal hadits masalah kepemimpinan yang sering di sampaikan sesuai dengan nafsunya tanpa mengumpulkan banyak riwayat yg lainya.

Contoh kasus;
Diriwayatkan oleh Imam Muslim bin Al Hajjaj Al Qusyairi An Nisaburi dalam Shahihnya (hadits ke 1847) dari Abi Sallam mengatakan : “Telah mengatakan Hudzaifah bin Al Yaman : Aku pernah berkata kepada Rasulullah : Wahai Rasulallah ! Kami dulu dalam kejelekan, maka Allah datangkan kepada kami kebaikan dan kami sekarang ada padanya, apakah setelah kebaikan ini nanti akan datang kejelekan? Nabi menjawab : Ya. Aku tanya lagi : Apakah setelah kejelekan itu akan datang kebaikan? Nabi menjawab : Ya. Aku bertanya lagi : Apakah setelah kebaikan itu akan datang kejelekan? Nabi menjawab : Ya. Aku bertanya lagi : Bagaimana itu terjadi? Nabi menjawab : Akan ada sepeninggalku para pimpinan yang tidak berpedoman dengan bimbinganku, dan tidak memakai sunnahku sebagai jalan hidupnya. Dan akan berdiri (sebagai pimpinan) dikalangan mereka orang-orang yang hati mereka sebagai hati syaithan dalam rongga tubuh manusia. Hudhaifah bertanya : Bagaimana yang harus aku perbuat, wahai Rasulullah kalau aku menemui zaman yang seperti itu? Nabi menjawab : Engkau tetap mendengar dan ta’at kepada penguasamu walaupun punggungmu dipukul, dan hartamu dirampas, tetaplah engkau mendengar dan ta’at kepadanya”.

Derajat hadits ini;
Mengenai hadits ini Al Imam An Nawawi menerangkan : “Berkata Ad Daraqutni, sanad hadits ini menurutku adalah Mursal (yakni dhaif karena terputus sanadnya). Karena Abu Sallam tidak mendengar riwayat ini dari Hudhaifah. Dan memang sanad hadits ini seperti yang dikatakan Ad Daraqutni tersebut. Akan tetapi lafadl hadits ini shahih bersambung sanadnya dengan sanad hadits sebelumnya. Hanya saja Imam Muslim membawakan hadits ini dengan sanad demikian sebagai riwayat pendukung terhadap riwayat sebelumnya, sebagaimana engkau melihatnya.

Dan telah kita bahas dalam fasa-fasal sebelumnya dan dalam pembahasan lainnya, bahwa hadits mursal apabila diriwayatkan dari sanad lain dengan sanadnya bersambung, dimana hadits mursal itu fungsinya hanya sebagai penjelasan terhadap riwayat lainnya, maka hadits mursal itu menjadi shahih dan boleh berhujjah dengannya, sehingga jadilah dalam masalah ini kedua hadits tersebut menjadi shahih.

”[ syarah Shahih Muslim, Al Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An Nawawi (wafat th. 676 H), juz 12 halaman 552, Darul Khair – Beirut – Libanon cet. Pertama tahun 1414 H / 1994 M.)

Berkenaan dengan keterangan Al Imam An Nawawi tersebut, Al Allamah Abu Abdirrahman Muqbil bin Hadi Al Wadi’ierahimahullah memberi komentar : “Dalam Hadits Hudzaifah ini terdapat tambahan lafadl yang tidak terdapat dalam lafadl hadits Hudzaifah sebelumnya yang telah disepakati keshahihahnya.Yaitu perkataan Beliau : “Engkau harus tetap ta’at kepada penguasamu, walaupun punggungmu dipukul dan hartamu dirampas”. Tambahan lafadl tersebut adalah tambahan yang lemah, karena tambahan tersebut dari sanad yang terputus.Wallahu a’lam”[ Al Ilzamat Wat Tatabbu’, Al Imam Al Hafidl Abi Hasan Ali bin Umar bin Ahmad bin Mahdi Ad Daraqutni (wafat th. 385 H). Dirasah wa tahqiq As Syeikh Abu Abdirrahman Muqbil bin Hadi Al Wadi’ie, Darul Kutub Al Ilmiyah, Beirut – Libanon cet kedua th. 1405 H / 1985 M, halaman 182 keterangan hadits ke 53.)

Penolakan beliau terhadap keterangan Al Imam An Nawawi yang menganggap shahih matan hadits ini meskipun sanadnya dhaif, bukanlah sesuatu yang baru di kalangan para Ulama’. Karena jauh sebelum Syeikh Muqbil, juga telah menolak matan dan sanad hadits riwayat Muslim ini seorang Ulama’ terkenal dari Andalus yang populer dengan sebutan Ibnu Hazm Adh Dhahiri (wafat th. 456 H). Beliau menyatakan : “Maka telah shahih bahwa semua yang telah disabdakan oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallamadalah wahyu dari Allah Aza Wa Jalla, dan wahyu Allah itu tidak ada perselisihan antara satu dengan yang lainnya dan tidak ada pertentangan dan tidak ada kontradiksi padanya. Maka kalau memang demikian, maka dengan sangat yakin dan tidak ada keraguan padanya dan telah diketahui oleh setiap Muslim, bahwa mengambil harta seorang Muslim atau bahkan harta kafir dzimmi dengan cara yang tidak benar, serta memukul punggungnya dengan sebab yang tidak benar adalah dosa dan pelanggaran hukum Allah serta haram.

Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallambersabda :
إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ وَأَبْشَارَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ
“Sesungguhnya darah kalian dan harta kalian dan kehormatan kalian dan kulit kalian adalah haram atas kalian (untuk saling mengganggunya)”.

Kalau yang demikian ini adalah perkara yang tidak ada keraguan padanya dan tidak ada seorang Muslimpun yang berbeda pendapat tentangnya, maka orang yang menyerahkan hartanya untuk dirampas oleh penguasa itu secara dzalim, dan menyerahkan punggungnya untuk dipukul dengan cara dzalim, padahal dia mampu untuk melawannya dan membela hartanya dengan cara apapun tetapi justru menyerahkan harta itu kepada penguasa yang dzalim tersebut berarti dia membantu penguasa itu untuk berbuat dzalim dan membantunya untuk berbuat dosa dan melanggar hukum Allah, dan yang demikian itu adalah haram sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an” [ Al Faslu Fil Milal Wal Ahwa’ Wan Nihal, Al Imam Abu Muhammad Ali bin Ahmad Ibnu Hazem Al Andalusi Ah Dhahiri, jilid 3 halaman 105, Al Maktabah At Taufiqiyyah, Cairo – Mesir, ]

2. Manhaj Sunnah adalah menggabungkan semua dalil dan tidak menghukumi satu dalil serta menafikan dalil dalil shohih lainya.
Ayat,
افحكم الجاهلية يبغون ومن احسن من الله حكما لقوم يوقنون
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan siapakah yang lebih baik dari hukum Allah bagi kaum yang mempunyai keyakinan yang benar”. (QS. Al Maidah : 50)

Al Hafidl ibnu Katsir rahimahullah menerangkan dalam tafsirnya :
“Allah Ta’ala mengingkari atas mereka yang keluar dari hukum Allah yang telah jelas di atas segala kebaikan dan melarang dari segala kejelekan kemudian meninggalkan hukum Allah itu dan menggantinya dengan hukum selainnya, yaitu hukum produk pikiran dan selera hawa nafsu manusia serta berbagai istilah yang dibikin diantara mereka, yang dibikin oleh para tokoh dengan tidak bersandar kepada Syari’at Allah, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah dimana mereka berhukum dengannya yang diambil dari berbagai kesesatan dan kebodohan mereka, yang mereka bikin dari berbagai pikiran dan selera hawa nafsu mereka, dan sebagaimana orang-orang Tartar menjalankan hukum dalam perkara pemerintahan kerajaan, yang hukum itu diambil dari pikiran raja mereka yang bernama Jengis Khan, dimana dia ini telah membikinkan bagi mereka kitab undang-undang hukum yang bernama Al Yasaq, dan kitab ini adalah kitab kumpulan hukum-hukum yang diambil dari berbagai syari’ah, yaitu dari syari’ah Yahudi, syari’ah Nasrani, dan Syari’ah Islamiyah.

Dan di dalam kitab tersebut terdapat pula banyak ketentuan hukum yang diambil dari semata-mata pikiran dan hawa nafsunya Jenghis Khan, sehingga jadilah kitab ini di kalangan anak cucunya sebagai syari’ah yang sangat diikuti yang lebih diutamakan dari pada hukum yang diambil dari Kitab Allah dan Sunnah RasulNya shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam. Maka siapa saja yang melakukan demikian dari kalangan mereka itu, maka dia adalah kafir dan wajib diperangi, sampai dia mau kembali kepada hukum Allah dan RasulNya, sehingga dia tidak berhukum dengan selain hukum Allah dan RasulNya dalam perkara sedikit maupun dalam perkara yang banyak”. Demikian Al Hafidl Ibnu Katsir menerangkan,

Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, “Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul”. Dan mereka berkata, “Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.” (QS. Al-Ahzab [33] : 66-68)

Hadits,

Ummu Hushain radhiyallahu ‘anha bahwa beliau mendengar Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda ketika dalam suasana haji wada’ (yakni haji perpisahan, karena 4 bulan setelah itu Beliau wafat). Dan sabda beliau adalah :
ان امر عليكم عبد مجدع (حسبتها قالت) أسود يقودكم بكتاب الله تعالى فاسمعوا له واطيعوا
“Bila memimpin kalian hamba sahaya yang hidungnya terpotong (aku sangka dia menyatakan sabda Nabi) dan kulitnya berwarna hitam, dia memimpin kalian dengan Kitabullah Ta’ala, maka tetaplah kalian untuk mendengar dan mentaatinya”

Dari Ubadah bin As Shamit, sebagaimana Ahmad meriwayatkannya dalam Musnadnya, juga At Thabrani meriwayatkannya dan Al Hakim, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam bersabda :
سَيَلِى أُمُوْرَكُمْ مِنْ بَعْدِيْ رِجَالٌ يُعَرِّفُونَكُمْ مَاتُنْكِرُوْنَ وَيُنْكِرُوْنَ عَلَيْكُمْ مَاتَعْرِفُوْنَ فَلَا طَاعَةَ لِمَنْ عَصَى اللَّهَ
“Akan memegang urusan pemerintahan di antara kalian sepeninggalku, orang-orang yang memperkenalkan kepada kalian amalan yang kalian ingkari dan mengingkari amalan yang kalian mengetahuinya sebagai kebaikan. Maka tidak boleh ada ketaatan bagi siapa yang durhaka kepada Allah”.

Dan telah diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Abi Syaibah dari jalan Azhar bin Abdullah dari Ubadah bin As Shamit dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam, beliau bersabda :
سَيَكُوْنُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءٌ يَأْمُرُوْنَكُمْ بِمَا لَا تَعْرِفُوْنَ وَيَفْعَلُوْنَ مَاتُنْكِرُوْنَ فَلَيْسَ لِأُولَئِكَ عَلَيْكُمْ طَاعَةٌ
“Akan ada penguasa atas kalian yang mereka memerintahkan kalian kepada apa yang kalian tidak mengetahuinya sebagai ajaran Islam (yakni memerintahkan kepada bid’ah) dan mereka akan melakukan perbuatan yang kalian ingkari, maka bagi mereka itu tidak ada kewajiban atas kalian untuk menta’atinya”.[ Fathul bari jilid 13 hal. 8.]

Beliau menambahkan,
“Sesungguhnya akan ada setelahku para pemimpin yang berbuat kedustaan dan kezhaliman. Barangsiapa mendatangi mereka kemudian membenarkan kebohongan mereka, atau membantu mereka dalam kezhalimannya, maka ia bukan golonganku dan aku bukan golongannya. Serta ia tidak akan minum dari telagaku. Dan barangsiapa tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu mereka dalam berbuat shalim, maka ia adalah golonganku dan aku adalah golongannya. Dan kelak ia akan minum dari telagaku.” [HR. Ahmad].

Keberadaan para pemimpin yang menihilkan syariat Alloh lagi jahil seperti yang diberitakan di atas sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ
“Sesungguhnya yang aku takutkan atas umatku adalah (berkuasanya) para pemimpin yang menyesatkan.” (HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ahmad, dan al-Darimi. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam al-Shahihah: 4/109, no. 1582, dalam Shahih al-Jami’, no. 1773 dan 2316)

Menurut penulis Fath al-Majid, penggunaan kata Innama yang mengandung makna al-hashr (pembatasan/penghususan) menjelaskan bahwa beliau sangat takut dan khawatir terhadap umatnya dari para pemimpin yang menyesatkan.

Bahkan fitnah yang ditimbulkannya lebih menakutkan daripada fitnah Dajjal. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu pernah pertanya kepada Nabishallallahu ‘alaihi wasallam,
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ شَيْءٍ أَخْوَفُ عَلَى أُمَّتِكَ مِنْ الدَّجَّالِ قَالَ الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ
“Wahai Rasulullah, apa yang lebih engkau takutkan atas umatmu daripada Dajjal. Beliau menjawab, “Para pemimpin yang mudhillin (menyesatkan)”.” (HR. Ahmad. Syaikh Al-Albani mengatakan para perawinya terpercaya kecuali Ibnu Luhai’ah buruk hafalannya.)

Dan telah menceritakan kepada kami [Abu Ghassan Al Misma’i] dan [Muhammad bin Basyar] semuanya dari [Mu’adz] sedangkan lafadznya dari Abu Ghassan, telah menceritakan kepada kami Mu’adz dan dia Ibnu Hisyam Ad Dastawa`i telah menceritakan kepadaku [Bapakku] dari [Qatadah] telah menceritakan kepada kami [Al Hasan] dari [Dlabbah bin Mihshan Al ‘Anazi] dari [Ummu Salamah] isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Kalian akan dipimpin oleh para penguasa, kalian mengenal mereka namun kalian mengingkari (perbuatan mereka), barangsiapa membenci kemungkarannya maka ia telah berlepas diri, dan barangsiapa mengingkari berarti ia telah selamat. Tetapi bagi orang yang ridla dan mengikuti, para sahabat langsung bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita perangi saja?” beliau menjawab: “Tidak! Selama mereka masih melaksanakan shalat.” -maksudnya barang siapa membenci dan mengingkari dengan hatinya- Dan telah menceritakan kepadaku [Abu Ar Rabi’ Al ‘Ataki] telah menceritakan kepada kami [Hammad] -yaitu Ibnu Zaid- telah menceritakan kepada kami [Al Mu’alli bin Ziyad] dan [Hisyam] dari [Al Hasan] dari [Dlabbah bin Mihshan] dari [Ummu Salamah] dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda seperti hadits di atas, namun dia menyebutkan, “Barangsiapa mengingkarinya maka ia akan selamat, dan barangsiapa memebencinya maka ia akan selamat.” Dan telah menceritakan kepada kami [Hasan bin Ar Rabi’ Al Bajali] telah menceritakan kepada kami [Ibnu Al Mubarrak] dari [Hisyam] dari [Al Hasan] dari [Dlabbah bin Mihshan] dari [Ummu Salamah] dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda…kemudian dia menyebutkan hadits seperti di atas sampai perkataannya, ‘Akan tetapi barangsiapa rela dan mengikutinya, ‘ namun dia tidak menyebutkan yang seperti itu.”

Perkataan Para ulama;
Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah.

”Ibnul Qoyyim berkata: jumhur ulama mengatakan bahwa negara Islam adalah negara yang dikuasai kaum muslimin dan diberlakukan di dalamnya hukum-hukum Islam. Apabila sebuah negara tidak berlaku di dalamnya hukum-hukum Islam maka negara itu bukanlah negara Islam.”(Ahkamu Ahli Dzimmah karya Ibnul Qoyyim 1/366.cet Darul Ilmi Lil Malayin, tahun 1983 M).

Qiyas
Sebagai kiasan yang mudah, sebuah Bank ribawi masih dikatakan Bank Ribawi selama Bank ini tidak mengubah sistem ribawi kepada sistem syar’i. Mungkin pengarahnya adalah orang Islam, mayoritas perkerja sektor perbankan ribawi ini adalah orang Islam dan bukan orang kafir, akan tetapi selama bank tersebut terus memberlakukan sistem ribawai maka Bank itu tetap Bank ribawi, tanpa melihat mayoritas pekerja atau pelanggannya beragama Islam. Sama halnya pemerintahan. Jika yang berlaku adalah hukum selain hukum islam, walaupun para pelaksananya muslim, belum mengubah status negeri tersebut menjadi negeri islam. Yang diperbincangkan di sini adalah sistem yang digunakan oleh institusi tersebut dan bukan pekerja, pelanggan atau pemiliknya.

Fakta apakah dinegara kita memberlakukan demokrasi, sekulerisme dan pluralisme apakah sunnah? Jadi masih banyak lainya, kesimpulanya adalah tidak bisa disebut ulil amri ketika tidak menjalankan sunnah, membiarkan kesyirikan, menyuburkan bidah dan menjalankan sistem kufur demokrasi, sekulerisme dan pluralisme.

Disinilah sikap seorang mukmin adalah mengingkari apapun yang tidak berdasarkan kitabullah dan sunnah bukan membenarkan kesalahan.

Dan cara mengingkarinya dengan terus berdakwah kepada umat tanpa henti tentang tauhid dan sunnah. Adapun apabila ada perintah maka selama tidak bertentangan dengan kitabullah dan sunnah, maka ditaati. Penjelasan diatas bukan pula menjadi dalil untuk mengkafirkan setiap orang, karena memiliki kemungkinan bodoh dan tidak tahu.

Oemar mita
Baarokallah fikum

Leave A Reply