Menutupi Aib

0

Seorang muslim  yang baik selalu menghiasi akhlaknya dengan kepandaian menutup cacat orang lain. Dia tidak suka menyebarkan perbuatan keji di dalam masyarakat Islam, sebagai hasil bimbingan Al-Quran dan Sunnah yang suci. Pelanggaran terhadap etika itu akan menimbulkan kerusakan dalam  masyarakat, di samping menyebabkan ditimpakannya azab Allah di dunia dan di akhirat.

“Sesungguhnya orang yang ingin agar (berita)  perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nur: 19)

Demikian pula orang yang meneruskan tersiarnya berita-berita keji itu di dalam masyarakat juga mendapat dosa sebagaimana pelaku kejahatan itu.

Dari Ali bin Abi Tholib ra, rasulullah saw bersabda:

“Yang berbuat keji dan yang menyiarkan kekejian itu berada dalam keadaan yang sama-sama berdosa.” (HR. Bukhori).

‘Menutup aib dan malu menyebarkannya’ dapat mengangkat derajat seorang muslim dari sifat kerendahan dan menandakan kebaikan akhlaknya yang terpelihara lagi terdidik oleh ruh Islam. Dia menjauhi hal-hal yang dapat mencelakakan dirinya seperti perbuatan yang akan memperangkap dirinya ke dalam pertikaian sesama manusia. Dia berusaha menjaga lisannya dari ucapan yang menimbulkan maksiat secara terang-terangan, apakah langsung diterimanya, atau sekedar mendengarnya atau reka-rekaan dari orang lain.

Rasulullah saw bersabda:

“Seluruh umatku mendapat ampunan kecuali orang-orang yang secara terang-terangan melakukan dosa. Termasuk melakukan dosa dengan terang-terangan itu adalah seseorang yang melakukan amalan di suatu malam hingga paginya Allah menutupinya (rahasianya), kemudian tiba-tiba  dia sendiri membuka (rahasianya) dan bekata, “Hai fulan. Tadi malam saya  melakukan perbuatan ini dan itu.” Sengaja memamerkan sesuatu  yang oleh Allah ditutupi.” (HR. Muttafaq Alaih).

Di dalam hadits lain yang diriwayatkkan oleh Muslim, rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seseorang menutupi rahasia (orang lain) di dunia, kecuali Allah akan menutupi cacatnya di hari kiamat kelak.”

Sementara dari imam Bukhori diriwayatkan:

“Suatu kaum datang kepada Uqbah bin Amir, seraya berkata, “Sesungguhnya kami saling bertetangga, makan, minum, bekerja sama; apakah pantas kami beberkan aib mereka?” Berkata Uqbah, “Jangan, aku telah mendengar rasulullah saw  berkata,  “Barangsiapa melihat aurat (sesuatu yang tak boleh tampak) hendaknya ia menutupinya (jangan sampai orang lain mengetahui. Ia itu seperti orang yang hidup kembali dari kuburnya.”

Sesungguhnya mengobati kelemahan manusia itu tidaklah dengan cara menyelidiki cela-cela atau aib mereka. Atau bahkan membuka aib mereka itu dan menyebar-luaskannya. Lebih tepat dengn cara memalingkan mereka kepada kebenaran dengan penjelasan, nasihat, menuntun mereka kepada ketaatan dan menghalangi berbuat maksiat. Pendekatan dan tutur kata yang lembut, ramah, bersahabat dan mendidik, insya Allah akan menyibak kegelapan hati. Tunduklah hati mereka dan jiwa pun menjadi patuh.

Ajaran Islam melarang seseorang untuk melakukan “tajassus” (membuat atau menyebarkan isu merusak) atau rasa ingin mengetahui secara dalam rahasia umat. Secara tegas Allah menyatakan,

“Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Ibnu Mas’ud ra meriwayatkan:

“Seorang laki-laki datang kepadaku, berkata, “Ini fulan, janggutnya  ditetesi arak.” Kukatakan kepadanya, “Sesungguhnya kami meninggalkan “tajassus”, akan tetapi jika tampak oleh  kami sesuatu tentu kami ambil.” (HR. Abu Daud)

Mencuri rahasia-rahasia umat, mencari-cari kesalahan orang lain, menyelidiki dan membeberkan cela dan aib hanyalah akan menimbulkan kekacauan umat. Bahkan, bisa merambat ke masyarakat yang lebih luas. Tersiarlah secara luas berita-berita keji di masyarakat. Makin lama makin banyak anggota masyarakat yang ikut berbicara. Berkobarlah maksiat, menyebarlah kebencian dan ketakutan, merajalela penipuan, kerusakan dan sebagainya.  Pada akhirnya akan runtuhlah masyarakat. Semua itu dijelaskan rasulullah saw dengan sabdanya yang ringkas:

“Sesungguhnya jika kamu usil ingin mengetahui aurat umat Islam, maka rusaklah tatanan hidup mereka atau sama saja kamu merusak mereka.” (HR. Ahmad).

“Janganlah kalian mengganggu hamba Allah dan janganlah mengusik rahasia mereka serta jangan pula mencari-cari aib dan cacat mereka. Sesungguhnya barangsiapa menuntut (ingin tahu) aurat saudaranya sesama muslim, pasti Allah menuntut auratnya sehingga ia membuka aibnya sendiri di rumahnya sendiri pula.” (HR. Ahmad).

Ibnu Abbas ra mengatakan bahwa rasulullah saw di dalam suatu khutbahnya telah berkata:

“Wahai manusia, siapa yang beriman dengan lisannya, tetapi imannya itu belum meresap ke dalam hatinya, janganlah mengganggu (menyakiti) orang-orang yang beriman (lainnya), janganlah pula ingin mengorek-orek aurat mereka. Maka barangsiapa membuka tabir aurat saudaranya sesame muslim, pasti Allah akan mengoyak tabir rahasianya, barangsiapa membuka auratnya sendiri maka Allah menyibaknya, walaupun di kolong rumahnya sendiri.” (HR. Tabrani).

Dikutip dari: DR. Muhammad Ali Hasyimi; Apakah Anda Berkepribadian Muslim?; Gema Insani Press

 

Leave A Reply