Menujukan Ibadah Kepada Allah Ta’ala Semata

0

Tidak diragukan lagi bahwasannya menujukan ibadah hanya kepada-Nya merupakan adab teragung kepada Allah ta’ala. Ini juga merupakan buah teragung dari keimanan kepada Allah ta’ala, ma’rifah kepada-Nya, iman kepada rububiyah-Nya, nama-nama dan sifat-sifat- Nya, pengkhususan ibadah hanya kepada- Nya karena Dia adalah pemilik, pengatur dan penguasa. Dialah yang telah menciptakan segenap makhluk dan melimpahkan rizki kepada mereka, tidak ada sekutu bagi- Nya. Oleh karena itu hanya Dia-lah dzat yang berhak untuk disembah. Tidak boleh memalingkan satu bentuk ibadah pun kepada selain Allah ta’ala, siapa pun dia, baik Malaikat yang didekatkan, seorang Nabi yang diutus, wali yang shalih, batu, pohon, bintang atau yang selainnya.
Ini menjelaskan bathilnya perbuatan sebagian orang yang menisbatakan dirinya kepada Islam dari para penyembah kubur, tempat-tempat keramat dan kuburan orang-orang shalih. Orang-orang itu mengharapkan dari mereka untuk mendatangkan manfaat, menolak mudharat, serta mengabulkan berbagai macam hajat. Padahal orang mati yang berada di kubur tidak memiliki kemampuan untuk mendatangkan manfaat atau menolak mudharat bagi diri mereka sendiri, apalagi bagi orang lain. Ini merupakan kesyirikan yang sangat besar kepada Allah ta’ala. Sangat disayangkan, musibah ini telah merata di seluruh negeri kaum muslimin sehingga kedustaan dan khurafat merupakan perkara yang tidak dapat dipungkiri. Di balik kedok inilah, harta manusia dimakan secara bathil dan kemungkaran merajalela. Laa haula walaa quwata illa billah.
Celakalah orang yang telah dikotori oleh akalnya yang sakit hingga meyakini bahwasannya makhluk ini memiliki kemampuan untuk mendatangkan manfaat dan mudharat.
Allah ta’ala berfirman:
Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kamu akan dikembalikan. (QS. Al-Ankabut: 17).
Allah ta’ala juga berfirman:
Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. (QS. Fathir: 13-14).
Ayat-ayat dalam hal ini sangat banyak.
Adab ini memiliki atsar yang agung dan terpuji, di antaranya:
1. Keikhlasan ibadah hanya bagi Allah ta’ala semata; sedikit maupun banyak, besar maupun kecil. Oleh karena itu, seorang hamba yang taat beribadah dan ikhlas tidaklah melihat di hadapannya kecuali Allah ta’ala. Dia menghadapkan dan mengkhususkan ibadah hanya kepada-Nya. Dia menjauhi segala perkara yang bertentangan dengan keikhlasan, atau yang dapat mengurangi kesempurnaannya.
Keikhlasan kepada Allah ta’ala saja merupakan pokok agama ini dan rukunnya yang paling kuat, sebagaimana firman Allah ta’ala:
Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. (QS. Az-Zumar: 11).
Firman-Nya yang lain:
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS.Al-Bayyinah: 5).
Ayat yang semakna dengan ini sangat banyak.
2. Jauh dari riya’. Di dalam perkataan maupun perbuatan. Ini merupakan kelanjutan dari pengaruh sebelumnya. Sesungguhnya seorang yang benar keikhlasan di dalam hatinya, maka seluruh perkataan dan perbuatannya akan bersumber dari keikhlasan ini. Yang ia lihat dengan mata hati dan bashirah (akal) hanyalah Rabbnya ta’ala. Maka dari itu, terhapuslah riya’ dalam ucapan dan perbuatannya. Dia tidak lagi mencari keuntungan dunia atau keridhaan salah seorang dari makhluk di balik semua itu. Bahkan, ia semata-mata mencari keridhaan Allah ta’ala dan mengharap dapat melihat wajah-Nya yang mula. Jika niat seorang hamba telah ikhlas, begitu juga amal dan kehendaknya bersih dari riya’ dan keinginan duniawi, maka yang demikian itu merupakan sebab terbesar untuk meraih kebaikan agama maupun dunia.
3. Memerangi segala bentuk syirik dan riya’ karena seorang mukmin melihat bahwasannya dia harus memerangi segala bentuk kesyirikan, kebohongan, dan khurafat dengan seluruh kemampuan yang dia miliki. Selain itu, menjelaskan kepada manusia tentang kesesatan dan kebathilannya, serta melawannya baik dengan lisan, tangan, maupun harta hingga tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya bagi Allah ta’ala.

Dikutip dari: Ensiklopedi Adab Islam 1; Abdul Aziz bin Fathi As-Sayyid; Pustaka Imam Asy-Syafi’i

Leave A Reply