Mentakhfif Shalat

0

Yaitu mempersingkat shalat demi menjaga keadaan jama’ah dan untuk memudahkannya. Batasan dalam hal ini, ialah mencukupkan shalat dengan hal-hal yang wajib dan yang sunat-sunat saja, atau hanya mencukupkan hal-hal yang penting dan tidak mengejar semua hal-hal yang dianjurkan.1 Diantara nash yang menerangkan hal ini, ialah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah

“Jika salah seorang kalian shalat bersama manusia, maka hendaklah (dia) mentakhfif, karena pada mereka ada yang sakit, lemah dan orang tua. (Akan tetapi), jika dia shalat sendiri, maka berlamalah sekehandaknya”2

Akan tetapi perlu diingat, bahwa takhfif merupakan suatu perkara yang relatif. Tidak ada batasannya menurut syari’at atau adat. Bisa saja menurut sebagian orang pelaksanaan shalatnya terasa panjang, sedangkan menurut yang lain terasa pendek, begitu juga sebaliknya. Oleh karenanya, hendaklah bagi imam -dalam hal ini- mencontoh yang dilakukan Nabi , bahwa penambahan ataupun pengurangan yang dilakukan beliau  dalam shalat, kembali kepada mashlahat. Semua itu, hendaklah dikembalikan kepada sunnah, bukan pada keinginan imam, dan tidak juga kepada keinginan makmum.3

Dikutip dari; Adab-adab Imam dalam Sholat Berjama’ah, Ustadz Armen Halim Naro; www.ibnumajjah.wordpress.com

——————————————————————————–

  1. Shalatul Jama’ah, Syaikh Shalih Ghanim Al Sadlan, halaman 166, Darul Wathan 1414 H.

  1. HR Bukhari, Fathul Bari, 2/199, no. 703.

  1. Shalatul Jama’ah, halaman 166-167.

 

Leave A Reply