Menjauhkan Diri Dari Perbuatan Maksiat

Sesungguhnya meninggalkan perbuatan maksiat, baik yang besar maupun kecil, wajib hukumnya setiap waktu. Hanya saja, musafir kadang kala dibujuk dan dirayu oleh syaitan untuk jatuh ke dalam perbuatan maksiat, bahkan syaitan menggambarkan indahnya perbuatan maksiat itu kepadanya. Terlebih lagi di tempat tidak seorang pun dapat mengenali dirinya. Syaitan terus akan merayunya agar ia jatuh dalam perkara yang buruk.

Berapa banyak wanita-wanita yang menjaga hijab (jilbab) dan menutup aurat di negerinya, namun ketika ia keluar dari negerinya membuka hijab dan menampakkan aurat tubuhnya, bahkan ia berani berbuat maksiat. Berapa banyak laki-laki yang keluar dari tempat tinggalnya lalu mendatangi tempat-tempat munkar, memakai pakaian orang-orang fasik, serta menghabiskan harta dan waktunya untuk bermaksiat kepada Allah ta’ala.

Hal ini menunjukkan bahwasannya orang tersebut malu terhadap manusia dan tidak malu kepada Allah ta’ala. Sungguh, akhlak ini sangat buruk. Sesungguhnya Allah ta’ala melihatnya di mana saja ia berada. Kalaulah ia benar-benar malu kepada Allah, niscaya ia akan malu berbuat maksiat kepada-Nya, baik ketika mukim ataupun safar, baik dalam rombongan ataupun sendirian.

Dikutip dari: Ensiklopedi Adab Islam 2; Abdul Aziz bin Fathi As-Sayyid; Pustaka Imam Asy-Syafi’i

Comments are closed.