Menjauhi Prasangka Buruk

0

Termasuk bagian akhlak muslim adalah tidak berprasangka buruk kepada orang lain, tidak membuka peluang bagi dirinya untuk mengkhayal dan membuat gambaran-gambaran jelek dan aib untuk menjatuhkan kehormatan orang lain. Allah berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. (QS. Al-Hujurat: 12).

Waspada terhadap prasangka merupakan petunjuk nabi yang lurus. Begitu juga merendahkan manusia dengan sindiran adalah bukan dari hakekat keyakinan. Nabi saw bersabda:

Hati-hatilah kalian dengan prasangka, sebab sesungguhnya prasangka itu merupakan sedusta-dusta perkataan. (HR. Muttafaq Alaih).

Rasulullah saw memasukkan prasangka sebagai perkataan yang paling dusta. Seorang muslim yang benar tidaklah keluar dari lisannya ucapan yang mengandung racun kedustaan. Bagaimana jika terjadi perkataan dusta ini?

Petunjuk nabi yang agung, sangat menekankan kewaspadaan terhadap prasangka, menilainya sebagai perkataan yang paling dusta. Kaum muslimin agar cukup melihat yang lahir saja dari perbuatan manusia itu, menjauhkan diri dari sangkaan-sangkaan, syak wasangka, usil dan keragu-raguan. Itu bukan termasuk akhlak muslim. Tidak pula mencampuri urusan-urusan orang lain terutama yang menyangkut kerahasiaannya dan yang bersifat khusus, atau mencampuri kehormatan mereka (mengusik-usiknya). Serahkan saja semuanya yang ghaib itu kepada Allah, karena Dialah yang Maha Mengetahui. Maka cukup mengetahui amalan-amalan lahiriahnya saja. Demikian yang telah dipelihara para salafus solih dari para sahabat, para tabi’in yang selalu menjaga kebersihan diri mereka di bawah petuah Allah dan sunah nabi-Nya.

Sebuah hadits dikeluarkan oleh Abdurrazak dari Abdullah bin Utbah bin Masud, berkata, “Sesungguhnya manusia pada jaman rasulullah telah menjadikan Wahyu sebagai pedoman hidup, ketika Wahyu itu selesai turun, kami mengambl kalian sekarang cukup dengan amalan-amalan lahiriah. Maka barangsiapa yang nampak pada kami itu baik, kami mempercayainya dan kami menemaninya serta kami tidak mencampuri urusan kerahasiaannya, cukuplah dia yang mengetahui rahasia-rahasianya. Siapa yang nampak pada kami jelek, maka kami tidak mempercayainya dan tidak berteman dengannya. Bisa saja ia mengatakan bahwa yang tersembunyi di hatinya baik.” (Hayatush Shahabah II/151).

Hendaklah seorang muslim berhati-hati dalam menilai seseorang. Sebab, kita hanya tahu sebatas yang lahiriah dari amalan-amalan manusia. Allah mengingatkan kita:

Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al-Isra: 36).

Sudah menjadi kebiasaan dan etika pergaulan di jaman nabi untuk tidak mengatakan sesuatu kecuali dengan pengetahuan, serta tidak menghukum sesuatu kecuali dengan keyakinan (kebenaran hukumnya).

Seorang muslim menyadari bahwa dua malaikat, malaikat Raqib dan Atid, selalu  mengawasi dan merekam setiap perbuatannya. Karena itu seorang muslim akan berusaha untuk tidak terjerat dalam dosa, termasuk melemparkan tuduhan atau prasangka buruk kepada seseorang. Ia selalu ingat firman Allah:

Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. Qaf:  18).

Seorang muslim yang memahami makna nash-nash itu tidak bisa terlepas dari rasa tanggung jawab terhadap setiap perbuatan maupun ucapannya. Ia waspada untuk tidak berkata sembarangan. Ia selalu berusaha berkata yang diridhai Allah dan terhindar dari kemurkaan dan kebencian-Nya. Rasulullah saw bersabda:

Sesungguhnya seseorang hendaknya berkata dengan perkataan yang diridhai Allah dan tidak berprasangka. Pasti Allah mencatatnya atas keridhaan-Nya, sampai hari perjumpaan dengan-Nya. Sesungguhnya orang yang berkata dengan kalimat yang mengundang kebencian Allah dan berprasangka, Allah pasti mencatatnya atas kemurkaan-Nya sampai hari kiamat. (HR. Malik).

Sungguh besar tanggung jawab pada setiap ucapan! Sungguh buruk kesan-kesan bagi si tertuduh akibat perbuatan orang lain yang banyak bicara tanpa arah dan hanya sekedar prasangka.

Ketakwaan hendaknya mampu mencegah seseorang dari rasa ingin tahu rahasia orang lain, mendengarkan ocehan atau igauan yang tak tentu arah, isu dan prasangka yang hanya mengacau masyarakat. Tidak rela pula untuk menerima berita palsu, usil atau yang menyebarkan  isu-isu dan prasangka-prasangka; tanpa dasar dan keyakinan. Rasulullah saw bersabda:

Seorang hamba yang membicarakan sesuatu yang belum  jelas baginya (hakekat dan akibatnya) akan dilempar ke neraka sejauh antara timur dan barat. (HR. Muslim).

Seseorang sudah cukup disebut dusta jika ia berbicara hanya atas dasar setiap apa yang ia dengar. (HR. Muslim).

Saya dapat menjamin suatu  rumah di  taman surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun ia benar. Menjamin rumah di pertengahan surga bagi orang yang tidak pernah dusta, meskipun sekedar bergurau. Menjamin satu rumah di bagian yang tinggi di surga bagi orang yang baik budi pekertinya. (HR. Abu Daud).

Dikutip dari: DR. Muhammad Ali Hasyimi; Apakah Anda Berkepribadian Muslim?; Gema Insani Press

 

Leave A Reply