Menjauhi Dengki

0

Diantara sifat buruk yang harus diwaspadai oleh seorang muslim adalah sifat hasad/dengki. Sifat ini dan sifat-sifat buruk lain tidak pantas menyertai seorang muslim yang beriman kepada Allah, rasul dan hari akhir. Rasulullah saw selalu mengingatkan umatnya agar selalu waspada terhadap sifat dengki ini. Beliau bersabda,

“Hati-hatilah kamu sekalian terhadap hasad, karena sesungguhnya hasad akan memakan habis seluruh kebaikan sebagaimana api melalap habis kayu bakar”. [HR. Abu Daud]

Salah satu ciri khas seorang muslim yang benar adalah jiwa yang bersih dari sifat menipu dan dengki, dari menyaahi janji dan dendam kesumat. Kebersihan jiwalah yang mendorong seorang manusia ikhlas menghamba kepada Allah, beribadah menegakkan shalat dan bermunajat pada malah hari, berpuasa di siang hari. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad hasan dan oleh Nasa’i dari Anas bin Malik ra,

“Ketika kami duduk-duduk bersama rasulullah saw, bersabdalah beliau; atas dirimu semua kini datan seorang dari penghuni surga. Waktu itu muncu seorang anshor dengan jenggot sedikit basah bekas air wudhu, sambil menjinjing kedua sandalnya dengan tangan kirinya.

Esok harinya nabi saw kembali berkata demikian dan muncul pula orang tersebut seperti saat pertama ia muncul. Ketika pada hari ketiga nabi berkata seperti itu lai, muncul pula lelaki itu seperti sebelumnya. Tatkala nabi saw berdiri, Abdullah bin amru bin ash segera mengikuti lelaki itu dan berkata padanya;

“Sungguh aku telah bertengkar dengan bapak saya dan bersumpah tidak akan mendatanginya selama tiga hari. Seandainya akhi [saudara] mengijinkan aku tinggal di rumah akhi selama tiga hari itu, niscaya aku akan ikut akhi pulang.”

Lelaki itu menjawab, “Ya silahkan.” Kemudian Abdullah menceritakan bahwa selama tiga hari tinggal bersamanya, tak sekalipun ia melihat lelaki itu melakukan shalat malam; kecuali bahwa setiap lelaki itu berbalik dalam tidurnya dia menyebut nama Allah dan bertakbir hinga terbangun untuk meaksanakan shalat subuh.

Abdullah menambahkan, “Hanya saja saya tidak mendengarnya berkata selain dengan perkataan yang baik. Lewatlah sudah tiga malam dan akupun hampir meremehkan amalnya. Kemudian kukatakan kepadanya, “Wahai hamba Allah, sebenarnya tidak pernah terjadi pertengkaran antara aku dan bapakku; tetapi aku pernah mendengar rasulullah saw menatakan tentangmu tiga kali dengan ucapan, “Sekarang akan muncul seorang lelaki dari penghuni surga.” Selama tiga kali itu pula kau muncul; karena itu aku berusaha menginap di rumahmu untuk  melihat apa yang engkau lakukan sehingga aku bisa mencontohmu; namun aku tidak melihatmu mengerjakan amalan yang besar; lalu apa sebabnya engkau bisa mencapai derajat seperti yang dikatakan rasulullah tersebut?

Laki-laki itu menjawab, “Tidak ada yang saja kerjakan selain apa yang telah kau perhatikan.” Kata Abdullah, “Ketika berpaling meninggalkannya lelaki itu memanggil seraya berkata, “Tidak ada yang saya kerjakan selain apa yang telah kau perhatikan; tetapi tidak ada sedikit pun dalam hatiku keinginan untuk menipu seorang pun dari kaum muslimin atau menaruh dengki padanya atas kebaikan yang dikaruniakan  Allah kepadanya.” Kemudian Abdullah berkata, “Inikah yang tellah mengangkat derajatmu setinggi itu?”

Hadits mulia di atas mengandung pesan agar kaum muslimin selalu memelihara kemurnian jiwa dari sifat dendam dan dengki, menyelamatkan hati dari sifat mudah menyepelekan janji terhadap siapa pun. Ternyatalah, kebersihan jiwa, kebenaran janji dan perkataan akan mengangkat derajat seorang muslim di sisi Allah.

Juga dinyatakan bahwa kebersihan jiwa, keluhuran amal lebih bernilai di sisi Allah daripada ibadah yang banyak namun kosong dari nilai-nilai luhur yang dikandungnya. Lelaki itu dinyatakan oleh rasulullah telah menampilkan pribadi muslim dan dijamin masuk surga; karena walaupun dia tidak banyak mengerjakan ibadah melainkan sekedar yang wajib, dia memiliki kemurnian dan kesucian hati sehingga selamatlah orang lain dari perkataan dan tindakannya. Beliau juga menyatakan tentang seorang perempuan yang rajin bangun maam menegakkan shalat Sunnah dan berpuasa pada siang hari, namun tetangganya tidak merasa aman dari perbuatannya, bahwasannya dia adalah calon penghuni neraka, sebagaimana termaktub dalam sebuah hadits dari imam Bukhori.

Seorang muslim hakiki dan patut diteladani, menurut kacamata islam adalah mereka yang mampu menghimpun kebaikan ibadah dan kemurnian jiwa serta kebaikan amal perbuatannya. Kesucian hatinya selalu diungkapkan secara nyata daam kehidupan, perbuatannya tidak pernah menyalahi ucapan-ucapannya. Mereka laksana batu bata yang kuat dan bersih di dalam bangunan masyarakat islam yang kokoh. Mereka adalah teladan, menampilkan citra islami yang luhur. Sifat-sifat mereka telah digambarkan oleh nabi saw melalui sabdanya;

“Bagaikan sebuah bangunan yang kokoh, bagian yang satu memperkokoh bagian lainnya. Masyarakat demikian merupakan masyarakat yang bersih, terkendali, unik dan mempunyai sandaran yang kokoh, sehingga pantas memikul tanggung jawab risalah ilahi bagi umat manusia.”

  1. Muhammad Ali Hasyimi; Apakah Anda Berkepribadian Muslim?; Gema Insani Press

 

Leave A Reply