Menjaga Hak-hak Pekerja Yang Pergi (Tidak Hadir)

0

Hendaknya seorang majikan tetap menjaga hak-hak pekerja bila pekerja itu pergi sebelum ditunaikan haknya, baik karena sakit, pergi tiba-tiba, atau sebab lainnya.

Seandainya upah pekerja itu bergabung dengan harta majikan dan terus bertambah keuntungannya ketika si pekerja pergi, hendaknya majikan menyerahkan upah itu berikut keuntungannya. Ini merupakan amal shalih dan bentuk penunaian amanah. Rasulullah shollaullohu alaihi wassalam mengisahkan tentang tiga orang yang terperangkap di dalam gua:

“Orang yang ketiga berkata, ‘Ya Allah, aku pernah mempekerjakan beberapa orang pekerja. Aku pun menyerahkan upah mereka masing-masing, kecuali upah satu orang yang ia pergi sebelum aku menyerahkan upahnya. Kemudian, aku mengusahakan upah itu hingga berkembang menjadi harta yang banyak. Setelah berlalu beberapa waktu, ia pun mendatangiku seraya berkata, ‘Wahai hamba Allah, serahkanlah upahku kepadaku!’ Aku berkata kepadanya, ‘Semua yang engkau saksikan berupa unta, sapi, kambing dan budak ini adalah upahmu.’ Dia berkata, ‘Wahai hamba Allah, janganlah engkau bergurau denganku.’ Aku berkata, ‘Aku tidak bergurau.’ Maka ia pun mengambil seluruh harta itu, menuntunnya, dan tidak menyisakannya sedikit pun. Ya Allah, jika aku melakukan semua itu semata-mata karena mengharap wajah-Mu, maka keluarkanlah kami dari tempat ini.’ Batu itu pun bergeser hingga mereka bertiga dapat berjalan keluar.”[1]

Seandainya pekerja itu telah mati sebelum ia menerima upah, hendaknya majikan menyerahkan upah itu kepada ahli warisnya dengan segera. Sebab, mereka lebih berhak atas upah tersebut. Ini merupakan bentuk penunaian amanah.

Jika majikan sudah berusaha mencari ahlu waris pekerja itu namun tidak juga menemukannya, hendaknya ia bersedekah senilai upah itu atas nama pekerja tersebut. Wallahu a’lam.

Dikutip dari: Ensiklopedi Adab Islam 1; Abdul Aziz bin Fathi As-Sayyid; Pustaka Imam Asy-Syafi’i

[1] HR. Al-Bukhari (3465) dan Muslim (2743) dari Ibnu Umar radhiallahu anhu.

Leave A Reply