Menghormati Yang Lebih Dewasa dan Yang Memiliki Kelebihan

0

Hidayah islam mengajarkan kaum muslimin untuk menghormati orang lain. Terutama, kepada mereka yang pantas memperolehnya, yaitu orang yang lebih dewasa, orang-orang alim dan orang yang utama dalam akhlaknya. Mengabaikan hal demikian akan mengubur kebaikan dan kemuliaan umat islam. Nabi saw menyatakan secara tegas:

Bukanlah termasuk umatku mereka yang tidak menghormati/memuliakan yang lebih dewasa dan tidak menyayangi yang  lebih kecil. (HR. Ahmad dan Thabrani).

Sesungguhnya menghormati orang yang lebih dewasa dan mendahulukannya dari yang lebih kecil, menunjukkan kewibawaan suatu masyarakat yang menunjukkan bahwa setiap anggota masyarakat mempunyai akhlak terpuji, berjiwa besar dan berpendidikan. Oleh karena itu rasulullah saw selalu berusaha memperjelas makna itu dalam jiwa kaum muslimin dan mengangkat kaidah-kaidah masyarakat islam yang di dalamnya sarat dengan akhlak.

Di antara bukti adanya usaha mewujudkan makna  tersebut di atas, rasulullah  berkata kepada Abdurrahman bin Sahal ketika melihatnya sedang bercakap-cakap dan ia adalah utusan yang menghadap rasul, “Kabbir, kabbir, (hormati bicara orang yang lebih dewasa).”, maka diamlah Abdurrahman dan bicara baik kepada siapa yang lebih besar darinya. (HR. Muttafaq Alaih).

Rasulullah saw sengaja pergi ke tempat  yang sangat jauh untuk mengunjungi orang yang lebih tua dan mempunyai kelebihan, beliau sangat menghormati mereka, semata-mata karena keagungan Allah, sabdanya:

Sesungguhnya termasuk keagungan Allah ta’ala adalah memuliakan orang-orang dewasa muslim, menjunjung Al-Quran tanpa meninggalkan dan tidak menjauh dari bacaannya dan mengerjakan apa-apa yang dikandungnya dan memuliakan pemimpin yang adil. (HR. Abu Daud, hadits hasan).

Pendidikan telah menampakkan buahnya di dalam jiwa generasi muda dari kaum muslimin, membentuk manusia-manusia berakhlak mulia, mereka memberikan contoh nyata bagaimana mereka memuliakan orang yang lebih dewasa atau yang mempunyai kelebihan.

Abu Said Samurah bin Jundub ra berkata, “Sungguh saya termasuk anak kecil pada jaman rasulullah, saya mengerti benar tentang hal ini, maka tidaklah ia mencegahku dalam soal berbicara setelah mereka (yang tua) berbicara, karena mereka itu termasuk generasi yang tua dariku (maksudnya harus dihormati). (HR. Muttafaq Alaih).

Dalam soal menghormati dan memuliakan orang dewasa dan yang mempunyai kelebihan, dipraktekkan juga oleh Abdullah bin Umar ra.

Ia mendatangi majelis rasulullah saw, di dalamnya terdapat Abu Bakar ra dan Umar ra. Rasulullah saw mengajukan suatu pertanyaann yang Ibnu Umar itu mengetahui jawabannya, akan tetapi ia tidak berbicara untuk menghormati Abu Bakar dan Umar. Abdullah bin Umar berkata, “Rasulullah bersabda,

“Beritahukan kepadaku sebuah pohon yang dimisalkan sebagai muslim, mendatangkan setiap saat makanan atas ijin Allah dan  tidak berguguran daunnya.” Dalam hatinya Abdullah bin Umar menjawab, “Pohon Kurma.” Tetapi aku enggan untuk mengatakan, mengingat di sana ada Abu Bakar dan Umar. Maka ketika mereka berdua itu (Abu Bakar dan Umar) tidak menjawab, nabi pun berkata, “Yang aku maksud adalah pohon kurma.” Maka ketika aku keluar bersama ayahku, aku berkata, “Wahai ayah, sebenarnya dalam hati aku menjawab, “Pohon kurma.” Ayah bertanya, “Mengapa engkau tidak mengatakannya?” Dia menjawab,”Tidak ada yang menghalangiku untuk bicara, kecuali ketika aku melihatmu bersama Abu Bakar ada di  situ, itulah yang menyebabkan aku enggan.” (HR. Syaikhoni).

Islam telam menempatkan kedudukan manusia di dalam masyarakat sesuai dengan kedudukannya. Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah ra, katanya rasulullah saw memerintahkan kita untuk menempatkan manusia dalam posisi mereka.  Termasuk kedudukan mereka adalah mengetahui kemampuan mereka, menghormati  ulama, menghormati Al-Quran dan memuliakan orang-orang yang mempunyai kelebihan ilmu dan akhlak.

Dalam masyarakat islam, ulama menempati kedudukan yang sangat tinggi, sebab mereka itu senantiasa  berjalan di atas undang-undang syariat Allah, berjalan di atas kebenaran, giat meningkatkan syiar islam, sehingga Allah ta’ala menempatkan mereka  dalam kedudukan yang sangat mulia.

Allah berfirman:

Apakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tak berilmu? Sesungguhnya hanya ulil albab (yang beriman dan berfikir) yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9).

Orang yang menjunjung tinggi isi Al-Quran, mereka  juga akan menempati kedudukan tinggi dalam masyarakat islam, mereka akan dijadikan imam di dalam shalat dan dapat diandalkan di dalam majelis.

Dari Ibnu Mas’ud Al-Anshori ra, katanya  rasulullah bersabda, “Orang-orang yang pantas jadi imam (dalam shalat) ialah yang paling pandai membaca kitabullah. Jika ternyata mereka sama pandai,  maka ambil yang  lebih pandai tentang Sunnah. Jika ternyata mereka sama alim, maka ambil yang paling dahulu hijrah. Jika mereka bersamaan dalam berhijrah, maka ambil yang lebih tua umurnya. Janganlah kamu menjadi imam di wilayah kekuasaan orang lain dan jangan pula duduk di tempat yang disediakan khusus untuk kemuliaan seseorang, kecuali dengan ijinnya.” (HR. Muslim).

Ketika rasulullah menguburkan para syuhada islam yang gugur dalam perang uhud, beliau  bermaksud untuk menguburkan dua orang dalam satu kubur, ia bertanya;

“Siapakah di antara kedua mayat ini yang paling banyak hafalan qurannya?” Maka ketika ditunjukkan salah seorang, beliau memasukkan mayat yang paling banyak menghafal Al-Quran itu paling awal.” (HR. Bukhori).

Di dalam menertibkan shaff shalat berjamaah, rasulullah saw menentukan bagi orang-orang mulia dan pintar (ulul ahlam) agar berada di belakang beliau, agar bisa menggantikan kedudukan imam jika beliau ada uzur syar’i. (HR. Muslim).

Masih banyak lagi contoh-contoh sejarah tentang indahnya ajaran islam, khususnya penghormatan seorang muslim terhadap yang lainnya yang lebih tua, atau karena ilmunya, atau karena kemuliaan akhlaknya.

Dikutip dari: DR. Muhammad Ali Hasyimi; Apakah Anda Berkepribadian Muslim?; Gema Insani Press

Leave A Reply