Menghadapi Si ABG

0

 

 
Idealnya orang tua (baik ayah maupun ibu ) pasti ingin menjadi orang yang uatama dan pertama dalam memberikan informasi seputar seksualitas pada anak-anaknya. Akan tetapi faktanya dewasa ini, anak-anak lebih nyaman mencari informasi tentang seksualitasnya dari sumber-sumber yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya seperti internet, media social, teman sekolah dan lain-lain.

Apabila ditanyakan mengapa hal itu dapat terjadi, maka 1001 alasan yang mereka kemukakan antara lain : “Nyokap gw KEMAL (KEpo maksiMAL)”, “Bokap dan nyokap gw CUPU (CUlun PUnya) gak mungkin mereka tahu tentang yang beginian” atau “Bingung mau mulai ngomongnya darimana”, “takut dituduh macam-macam” dan lain-lain.
Kalau boleh sedikit saja instrospeksi diri , salah satu yang mengakibatkan hal ini terjadi adalah karena adanya persepsi orang tua yang salah tentang seksualitas sehingga banyak orang tua yang salah memahami pertanyaan anak, merasa persepsinya paling benar dan sangat yakin bahwa anak memiliki persepsi yang sama dengan orang tua.
Seringkali orang tua pada umumnya menyamakan bicara tentang seksualitas atau dalam hal ini adalah pubertas dengan seks (mengajarkan cara berhubungan seks). Padahal cara berhubungan seks adalah instink, tidak perlu diajarkan, sudah tahu dengan sendirinya.
Tidak heran apabila kemudian banyak orang beranggapan bahwa bicara pubertas sebagai bagian dari seksualitas adalah hal yang tabu, porno, jorok ; sehingga tidak perlu membahas permasalahan ini dengan anak.
Padahal disisi lain, anak-anak sangat membutuhkan orang yang dapat menjawab keingintahuan mereka, butuh orang yang dapat membimbing mereka ke arah yang benar dan mendukung hari-hari mereka. Apabila anak-anak tidak dapat memperoleh hal-hal ini, maka akan fatal akibatnya.
Kondisi remaja kita saat ini banyak dilingkupi oleh minuman keras, NAPZA (Narkotika dan ZAt Adiktif), pornografi, kecanduan gadget, beban kurikulum sekolah yang berat, konten program / acara yang tanpa filter, tekanan sebaya, bullying dan pergeseran nilai ke arah nilai-nilai yang serba boleh.
Remaja kita seringkali menjadi galau ketika teman-teman sebayanya berkata, “Kalau gak ngerokok, elo cupu, kayak banci”, padahal kalau di survey mungkin akan terlihat bahwa lebih dari 90% banci adalah perokok. Remaja kita saat ini menjadi lebih berani menabrak norma masyarakat dan bahkan nilai-nilai agama.  Kalau dulu untuk mengungkapkan rasa cinta cukup dengan sms : I love You, I Miss You , tapi smsnya sekarang menjadi : “Yang, dah lama gak ML neech, Bokap nyokap lagi keluar, ke rumah donk, ML yuk”. Atau fenomena meningkatnya penjualan kondom pada waktu-waktu tertentu seperti pada malam tahun baru maeshi, Hari Valentine, bahkan sebelum Ramadhan dan setelah 1 Syawal.
Kondisi ini kemudian diperparah dengan kurangnya waktu bersama keluarga. Seringkali kita sebagai orang tua kurang menyediakan waktu untuk anak-anak kita. Tidak menyediakan waktu tapi hanya sekedar menyisakan waktu, padahal anak-anak adalah amanah yang harus dijaga, mereka adalah investasi dunia dan akhirat. Allah akan meminta pertanggung jawaban kita atas pendidikan yang kita berikan kepada mereka. Pendidikan yang berorientasi pada akhirat dan bukan semata-mata memanjakan mereka dengan fasiitas keduniawian.
Kebanyakan orang tua yang cenderung memanjakan anka-anak mereka, memberikan apapun yang mereka minta dan tidak membiarkan anak-anak berada dalam kesulitan-kesulitan walaupun hanya kesulitan kecil. Padahal ini semua dapat menjadi bumarang bagi para orang tua, di dunia dan akhirat. 
Nah, kembali pada topic bicara pubertas, sebagai bagian dari seksualitas, apabila topic ini tidak dibicarakan dengan remaja, maka karena rasa keingintahuan yang besar serta diperparah dengan paparan pornografi yang dahsyat, remaja pada akhirnya akan mencari sendiri sumber-sumbernya.
Gap komunikasi ini kemudian berkontribusi etrhadap maraknya bermunculan kasus anak-anak yang ketagihan video porno, kasus anak yang menjadi korban pedofil, kasus aborsi pada remaja, MBA (Married by Accident) dan lain-lain.
Sementara pendidikan seks sekuler yang saat ini digembar gembirkan hanya berfokus pada perilaku seks yang aman dan sehat. Aman dalam arti tidak dilakukan dengan paksaan atau dilakukan atas dasar suka sama suka, sehat dalam arti tidak menulatkan penyakit. Tidak penting apakah hubungan itu dilakukan dalam pernikahan atau tidak, bahkan tidak penting juga apakah itu dilakukan dengan sesama jenis atau lawan jenis. Karena pendidikan seks sekuler memandang semua ini sebagai sebuah pilihan. Na’udzubillah.
Dengan kondisi diatas, maka sangat epat apabila di ABG, kita berikan pendidikan seksualitas dengan pendekatan Islam. Karena dalam Islam, pendidikan seksualitas adalah bagian yang tidak terpisahkan dari syari’at Islam. Bukan pada perilaku aman dan sehat saja tapi juga semua itu harus dilakukan dalam koridor agama,
Ada 3 aspek pendidikan seks dalam Islam :
1.    Aspek Aqidah              :
Harus dipahami bersama bahwa tujuan asal manusia melakukan kegiatan terkait dengan seksualnya  adalah dalam rangka pengabdian kepada Allah SWT, sehingga semua hal bernilai ibadah.
2.    Aspek Syari’ah
karena dilakukan dalam rangka pengabdian kepada Allah SWT, maka pendidikan seks tidak boleh menyimpang dari tuntunan syari’at Islam
3.    Aspek Akhlaq
Pendidikan seks ini sejatinya harus dapat menjadi pedoman untuk dapat berakhlaqul karimah bersumber dari Al Qur’an dan sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Terlepasnya pendidikan seks dari ketiga unsur tersebut akan menyebabkan :
*      Ketidakjelasan arah dari pendidikan seks
*      Menumbulkan kesesatan
*      Penyimpangan dan tujuan asal manusia melakukan kegiatan seks dalam rangka pengabdian pada Allah.
Jadi pelaksanaan pendidikan seks tidak boleh menyimpang dari tuntunan syari’at islam.
Parung Bingung – Depok, 15 Desember 2015
Lucy Herny- Islamic Parenting Consultant
facebook; lucy herny
sms/wa; 0858-8271-8087

 

Leave A Reply