Menghadapi Orang Sekarat (Sakarotul Maut)

0

Pertanyaan: Syaikh yang terhormat, apa yang harus kami lakukan terhadap seseorang yang sedang sekarat?

Jawab: Jika ada seorang muslim yang sakit, maka sangat dianjurkan bagi para kerabat dan seseorang yang paling dekat dengannya untuk hadir di situ. Yang demikian itu agar para kerabat bisa melaksanakan hal-hal yang disyariatkan kepada mereka terhadap orang sekarat ini. Berupa, memejamkan kedua matanya, mentalqin, menutupi jasadnya, atau melakukan hal-hal lainnya.

Diriwayatkan dari sahabat Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu bahwa dia berkata,

“Hadapkan saya ke arah kiblat!”[1]

Demikiannya seperti disebutkan Ibnu Qudamah di dalam Al-Mughni. Maksudnya, membaringkannya di atas samping kanan dengan menghadap kiblat.

Dari Syadad bin ’Aus Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda,

“Jika kalian menghadiri orang yang sekarat, maka pejamkanlah matanya, sebab mata itu mengikuti ruh. Dan ucapkanlah yang baik-baik saja, karena setiap yang diucapkan keluarga mayit pasti diamini oleh para Malaikat.”[2]

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Yang diucapkan saat seseorang meninggal adalah,

“Dengan menyebut nama Allah Azza wa Jalla dan atas wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam.”

Juga dianjurkan bagi keluarga mayit mentalqin (mengajarinya) dengan mengucapkan kalimat syahadat. Diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda,

“Talqin (ajarilah) orang-orang yang sekarat dari kalian dengan ucapan Laa ilaaha illallaah.”[3]

Dan diriwayatkan pula dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dalam hadits yang semisal dengannya. Sedangkan dari Mu`adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, beliau bersabda,

“Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah laa ilaaha illallaah, ia pasti masuk Surga.”

Dinukil dari

al-Muqorrib li Ahkaamil Jana`iz : 148 Fatawa fil Jana`iz, penyusun : ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad al-‘Arifi, dimuroja’ah oleh : ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Jibrin, Penerbit : Dar ath-Thayibah, Riyadh, 1418 H/1997 M.

http://dear.to/abusalma; Maktabah Abu Salma al-Atsari

[1] Lihat Manaar As-Sabiil, 1/158; dan Irwa` Al-Ghalil, 3/152. Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini mursal -pen.

[2] HR. Ahmad no. 16513, juga Ibnu Ibnu Majah dan Al-Hakim. Al-Hakim menghukumi shahih atas hadits ini.

[3] HR. Muslim no. 1523, At-Tirmidzi no. 898, dan yang lainnya.

Leave A Reply