Menggauli Istri Lewat Dubur (Anal Seks)

0

Sebagian orang yang memiliki kelainan (abnormal) dari kalangan orang-orang yang lemah iman, tidak segan-segan menggauli istrinya lewat dubur (tempat keluarnya kotoran). Perbuatan tersebut termasuk dosa besar. Rasulullah saw melaknat para pelaku perbuatan keji tersebut.

Dalam hadits marfu’ dari Abu Hurairah ra disebutkan:

(Sungguh) terlaknat orang yang menggauli istrinnya lewat duburnya.[1]

Bahkan lebih dari itu rasulullah saw bersabda,

Barangsiapa yang menggauli  istri (yang sedang haid), atau menggauli di duburnya, atau mendatangi dukun, maka ia telah kufur (mengingkari) dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad.[2]

Meskipun wanita normal enggan melayani kelainan suaminya, taapi  pada akhirnya banyak yang tak berdaya, sebab tak jarang suami  mengancam akan menceraikannya jika menolaknya.

Sebagian lagi menipu istrinya yang malu bertanya tentang hukum masalah tersebut  dengan mengatakan, hal itu halal dan dibolehkan. Mereka berdalil dengan firman Allah ta’ala:

Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. (QS. Al-Baqarah: 223).

Padahal kita tidak boleh menafsirkann maksud ayat di atas sesuaii dengan keinginan kita, tetapi kita harus merujuk kepada sunah. Sebab sebagaimana telah dimaklumi bersama, sunah  adalah penjelas Al-Quran. Sunah rasulullah saw menjelaskan,  suami boleh sekehendaknya menggauli istri, dari arah depan atau belakang selama di teempat jalan kelahiran anak (vagina). Tak diragukan lagi dubur  atau anus bukanlah  jalan kelahiran anak tetapi jalan keluarnya kotoran manusia.

Di antara sebab terjadinya perbuatan dosa ini adalah saat memasuki kehidupan rumah tangga yang suci, mereka masih  membawa warisan jahiliah yang kotor berupa berbagai  adegan menyimpang yang diharamkan. Atau masih membawa ingatan dan imajinasi adegan film-film porno tanpa taubat kepada Allah ta’ala.

Perbuatan ini tetap haram, meskipun dilakukan atas dasar suka sama suka oleh suami-istri. Karena saling merelakan untuk mengerjakan perbuatan haram, tidak menjadikannya sebagai perbuatan halal.

Dikutip dari: Dosa-dosa Yang Dianggap biasa; Syaikh  Muhammad bin Shaleh Al-Munajjid; Kantor Dakwah-Sulay; Penerjemah, Ainul Harits Umar Thayyib ; Islamic Propagation Office In Rabwah; www.islamhouse.com

[1] Hadits riwayat Ahmad; 2/479, dalam Shahihul Jami’, hadits no. 5865.

[2] Hadits riwayat Tirmidzi dari Abu Hurairah ra; 1/243, dalam Shahihul Jami’, hadits no; 5918.

Leave A Reply