Mengenal Tartar

0
 SIKAP IBNU TAIMIYAH TERHADAP TARTAR
 Mengenal Tartar (Mongol)
▶ Pendiri dinasti mereka bernama Jenghis Khan seorang penyembah berhala, dia yang meletakkan dan undang-undang yang disebut Al Yasiq (Ilyasa) yaitu sebuah kitab undang-undang dari kumpulan hukum-hukum yang diambil dari multi syari’at, dari Yahudi, Nasrani, millah Islamiyah dan lainnya. (buku Tafsir Ibnu Katsir 2/67). Dia meninggal pada tahun 624 H.

▶  Tartar penyembah berhala dan Mongolia (Mongol atau Mongolia  kalau kita lihat dalam peta dunia adalah negara yang terletak antara Rusia dan Cina, di sebelah selatan dari Rusia dan di sebelah utara dari Cina) mereka menjajah dan menyerang kaum muslimin dan berhasil menguasai wilayah negara Islam  (Iraq) pada tahun 656 H di bawah pimpinan Hulaghu Khan cucu Jenghis Khan.
▶ Di antara pimpinan mereka yang pertama kali masuk Islam adalah Sultan Ahmand bin Hulaghu pada tahun 680 H (Lihat Watsiqul Hurubish Shalibiyah wal Ghazwil Moghol – Dr. Mahir Hamadah hal 80).
▶ Imam Ibnu Katsir menceritakan bahwasanya di antara peristiwa yang terjadi pada tahun  694 H, salah seorang raja Tartar bernama Qazan/Ghazan bin Arghun bin Ahghabun Toli bin Jenghis Khan telah masuk Islam dan mendhohirkan Islamnya di atas tangan Amir Tuzon rahimahullah dan masuklah Tartar atau kebanyakan mereka ke dalam agama Islam, dia membagi-bagikan emas, perak, dan permata di depan khalayak ramai pada hari keislamannya dan dinamakan dengan Mahmud. (Al Bidayah wan Nihayah 13/360)
▶Pada tahun 699 H, Qazan mengirim surat kepada wakilnya yang memerintah negeri-negeri Syam yaitu Saifuddin Qabjiq, yang mana risalah atau surat tersebut dibacakan di atas mimbar-mimbar Damsyik (Damaskus) pada tahun 699 H, di antara kandungan surat tersebut Qazan mengatakan: Dan wajib atas raja besar pemimpin para amir-amir Saifuddin untuk bertaqwa kepada Allah dalam hukum-hukumnya dan takut kepada-Nya untuk membatalkan dan melepaskannya, mengagungkan syari’at dan penguasa-penguasanya/hakim-hakimnya dan seterusnya.. dan agar supaya menegakkan hukum hudud dan qishas terhadap setiap orang yang wajib diqishas ….. (watsaiqul hurubish shalibiyal wal ghazwil mughuli hal 403-406)
▶Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah wafat pada tahun 728 H. Berarti satu zaman dengan Sulthan Ahman bin Hulaghu yang masuk Islam pada tahun 680 H. Demikian juga sezaman dengan Qazan cucu Jenghis Khan yang masuk Islam pada tahun 699 H.
▶Al Allamah Ibnul Katsir lahir pada tahun 701 H dan beliau wafat pada tahun 744 H. Berarti juga sezaman dengan mereka.
▶ Tartar adalah kaum yang pertama kali dalam sejarah Islam yang menisbahkan diri sebagai orang-orang Islam tetapi berhukum dengan selain syari’at Islam. (Al Jami’ 13/169)
▶Raja-raja Tartar yang mengaku Islam berhukum selain dengan hukum yang diturunkan Allah yaitu undang-undang Alyasiq. Di kalangan mereka sendiri, hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaikhul Islam: Dan mereka tidak mewajibkan berhukum dengan hukum Allah di antara mereka. (Majmu’ul Fatawa 28/505), demikian juga pernyataan Al Allamah Ibnu Katsir: … maka Al Yasiq menjadi syari’at yang diikuti di kalangannya. (Tafsir Ibnu Katsir 2/67).
⏩Pada tahun 699 H tentara Tartar yang beragama Islam namun berhukum dengan hukum Ilyasiq, bergerak akan menyerang kota Halb (Syiria), pasukan Islam dari Mesir mundur sehingga hanya tersisa pasukan Islam Syam yang akan berjihad melawan Tartar. Saat itu beliau menulis surat kepada kaum muslimin dan menyatakan bahwa umat Islam terpecah menjadi tiga kelompok:
فَهِذِهِ الْفِتْنَةُ قَدْ تَفَرَّقَ النَّاسُ فِيْهَا ثَلاَثَ فِرَقٍ :
اَلطَّائِفَةُ الْمَنْصُوْرَةُ وَهُمُ الْمُجَاهِدُوْنَ لِهَؤُلاَءِ اْلقَوْمِ الْمُفْسِدِيْنَ.
وَ الطَّائِفَةُ الْمُخَالِفَةُ وَهُمْ هَؤُلاَءِ الْقَوْمُ وَمَنْ تَحَيَّزَ إِلَيْهِمْ مِنْ خَبَالَةِ الْمُنْتَسِبِيْنَ إِلَى اْلإِسْلاَمِ
وَ الطَّائِفَةُ الْمُخَذِّلَةُ وَهُمُ الْقَاعِدُوْنَ عَنْ جِهَادِهِمْ وَ إِنْ كَانُوا صَحِيْحِي اْلإِسْلاَمِ.
فَلْيَنْظُرِ الرَّجُلُ أَيَكُونُ مِنَ الطَّائِفَةِ الْمَنْصُورَةِ أَمْ مِنَ الْخَاذِلَةِ أَمْ مِنَ الْمُخَالِفَةِ, فَمَا بَقِيَ قِسْمٌ رَابِعٌ.
“ Dalam menghadapi fitnah ini, manusia telah terpecah menjadi tiga kelompok :
1⃣Thaifah Manshurah ; yaitu kaum mukmin yang berjihad melawan kaum yang merusak (tartar).
2⃣Thaifah mukhalifah (kelompok musuh) ; yaitu kaum perusak (tartar) dan “sampah-sampah” kaum muslimin yang bergabung (memihak) kepada mereka.
3⃣Thaifah mukhadzilah : yaitu umat Islam yang tidak berjihad melawan mereka,s sekalipun keislaman mereka benar.
Maka hendaklah setiap orang melihat, termasuk kelompok manakah dirinya ; Thaifah Manshurah, Thaifah mukhadzilah ataukah Thaifah mukhalifah, karena tidak ada kelompok keempat !!!?”
(Majmu’ Fatawa 28/417)
⏩ Berkata Syaikhul Islam dalam Majmu’ Fatawa 28/532:
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:
الطَّائِفَةُ باِلشَّامِ وَمِصْرَ وَنَحْوُهُمُا، فَهُمْ فِي هَذَا الْوَقْتِ الْمُقَاتِلُونَ عَنْ دِيْنِ اْلإِسْلاَمِ، وَهُمْ مِنْ أَحَقِّ النَّاسِ دُخُولاً فِي الطَّائِفَةِ الْمَنْصُوْرَةِ الَّتِي ذَكَرَهَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِقَوْلِهِ فِي اْلأَحَادِيْثِ الصَّحِيْحَةِ الْمُسْتَفِيْضَةِ عَنْهُ:«لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِيْنَ عَلَى اْلَحَقِّ، لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ وَلاَ مَنْ خَذَلَهُمْ، حَتَّى تَقُوْمَ السَّاعَةُ»
“ Adapun kelompok umat Islam di Syam, Mesir dan wilayah lain yang saat ini berperang demi membela Islam, mereka adalah manusia yang paling berhak masuk dalam golongan thaifah manshurah yang disebutkan oleh Rasulullah dalam hadits-hadits shahih yang sangat terkenal ” Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yg tegak diatas kebenaran, tidak memudharatkan mereka orang-orang yg menyelisihi dan menyia-nyiakan mereka sampai datangnya hari Kiamat”
 Tentang NEGERI MARDIN (sekarang masuk Wilayah Turki Selatan) yang penduduknya adalah Muslim tetapi dikuasai Tartar yg memberlakukan hukum-hukum kafir walaupun kebanyakan tentara mereka adalah Muslim.
Syaikhul Islam berfatwa tentang Mardin
⏩ وأما كونها دار حرب أو سلم فهي مركبة فيها المعنيان ليست بمنزلة دار السلم التي يجري عليها أحكام الإسلام لكون جندها مسلمين ولا بمنزلة دار الحرب التي أهلها كفار بل هي قسم ثالث يعامل المسلم فيها بما يستحقه ويقاتل الخارج عن شريعة الإسلام بما يستحقه (الفتاوى الكبرى – ج 3 / ص 532)
“…Adapun kondisi negeri Mardin apakah termasuk Darul Harb atau Darul Islam, maka sesungguhnya kondisi kota ini mempunyai dua kriteria, wilayah tersebut tidak bisa dinilai sebagai Darul Islam yang ditegakkan syari’at Islam di dalamnya , hanya karena tentaranya Muslim dan tidak pula bisa dikatakan sebagai Darul Harb dikarenakan penduduknya kafir. Namun wilayah itu masuk kepada ketegori ke tiga yakni memberikan hak kepada muslim sesuai hak mereka dan memerangi mereka yang keluar dari syariat Islam sesuai dengan haknya“. (Al Fatawa Al Kubro juz 3 hal 532)
⌛ Akhirnya, mau jadi thoifah yang manakah kita??
 Abu Salman Abdirrahman H.
▶  Tartar penyembah berhala dan Mongolia (Mongol atau Mongolia  kalau kita lihat dalam peta dunia adalah negara yang terletak antara Rusia dan Cina, di sebelah selatan dari Rusia dan di sebelah utara dari Cina) mereka menjajah dan menyerang kaum muslimin dan berhasil menguasai wilayah negara Islam  (Iraq) pada tahun 656 H di bawah pimpinan Hulaghu Khan cucu Jenghis Khan.
▶ Di antara pimpinan mereka yang pertama kali masuk Islam adalah Sultan Ahmand bin Hulaghu pada tahun 680 H (Lihat Watsiqul Hurubish Shalibiyah wal Ghazwil Moghol – Dr. Mahir Hamadah hal 80).
▶ Imam Ibnu Katsir menceritakan bahwasanya di antara peristiwa yang terjadi pada tahun  694 H, salah seorang raja Tartar bernama Qazan/Ghazan bin Arghun bin Ahghabun Toli bin Jenghis Khan telah masuk Islam dan mendhohirkan Islamnya di atas tangan Amir Tuzon rahimahullah dan masuklah Tartar atau kebanyakan mereka ke dalam agama Islam, dia membagi-bagikan emas, perak, dan permata di depan khalayak ramai pada hari keislamannya dan dinamakan dengan Mahmud. (Al Bidayah wan Nihayah 13/360)
▶Pada tahun 699 H, Qazan mengirim surat kepada wakilnya yang memerintah negeri-negeri Syam yaitu Saifuddin Qabjiq, yang mana risalah atau surat tersebut dibacakan di atas mimbar-mimbar Damsyik (Damaskus) pada tahun 699 H, di antara kandungan surat tersebut Qazan mengatakan: Dan wajib atas raja besar pemimpin para amir-amir Saifuddin untuk bertaqwa kepada Allah dalam hukum-hukumnya dan takut kepada-Nya untuk membatalkan dan melepaskannya, mengagungkan syari’at dan penguasa-penguasanya/hakim-hakimnya dan seterusnya.. dan agar supaya menegakkan hukum hudud dan qishas terhadap setiap orang yang wajib diqishas ….. (watsaiqul hurubish shalibiyal wal ghazwil mughuli hal 403-406)
▶Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah wafat pada tahun 728 H. Berarti satu zaman dengan Sulthan Ahman bin Hulaghu yang masuk Islam pada tahun 680 H. Demikian juga sezaman dengan Qazan cucu Jenghis Khan yang masuk Islam pada tahun 699 H.
▶Al Allamah Ibnul Katsir lahir pada tahun 701 H dan beliau wafat pada tahun 744 H. Berarti juga sezaman dengan mereka.
▶ Tartar adalah kaum yang pertama kali dalam sejarah Islam yang menisbahkan diri sebagai orang-orang Islam tetapi berhukum dengan selain syari’at Islam. (Al Jami’ 13/169)
▶Raja-raja Tartar yang mengaku Islam berhukum selain dengan hukum yang diturunkan Allah yaitu undang-undang Alyasiq. Di kalangan mereka sendiri, hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaikhul Islam: Dan mereka tidak mewajibkan berhukum dengan hukum Allah di antara mereka. (Majmu’ul Fatawa 28/505), demikian juga pernyataan Al Allamah Ibnu Katsir: … maka Al Yasiq menjadi syari’at yang diikuti di kalangannya. (Tafsir Ibnu Katsir 2/67).
⏩Pada tahun 699 H tentara Tartar yang beragama Islam namun berhukum dengan hukum Ilyasiq, bergerak akan menyerang kota Halb (Syiria), pasukan Islam dari Mesir mundur sehingga hanya tersisa pasukan Islam Syam yang akan berjihad melawan Tartar. Saat itu beliau menulis surat kepada kaum muslimin dan menyatakan bahwa umat Islam terpecah menjadi tiga kelompok:
فَهِذِهِ الْفِتْنَةُ قَدْ تَفَرَّقَ النَّاسُ فِيْهَا ثَلاَثَ فِرَقٍ :
اَلطَّائِفَةُ الْمَنْصُوْرَةُ وَهُمُ الْمُجَاهِدُوْنَ لِهَؤُلاَءِ اْلقَوْمِ الْمُفْسِدِيْنَ.
وَ الطَّائِفَةُ الْمُخَالِفَةُ وَهُمْ هَؤُلاَءِ الْقَوْمُ وَمَنْ تَحَيَّزَ إِلَيْهِمْ مِنْ خَبَالَةِ الْمُنْتَسِبِيْنَ إِلَى اْلإِسْلاَمِ
وَ الطَّائِفَةُ الْمُخَذِّلَةُ وَهُمُ الْقَاعِدُوْنَ عَنْ جِهَادِهِمْ وَ إِنْ كَانُوا صَحِيْحِي اْلإِسْلاَمِ.
فَلْيَنْظُرِ الرَّجُلُ أَيَكُونُ مِنَ الطَّائِفَةِ الْمَنْصُورَةِ أَمْ مِنَ الْخَاذِلَةِ أَمْ مِنَ الْمُخَالِفَةِ, فَمَا بَقِيَ قِسْمٌ رَابِعٌ.
“ Dalam menghadapi fitnah ini, manusia telah terpecah menjadi tiga kelompok :
1⃣Thaifah Manshurah ; yaitu kaum mukmin yang berjihad melawan kaum yang merusak (tartar).
2⃣Thaifah mukhalifah (kelompok musuh) ; yaitu kaum perusak (tartar) dan “sampah-sampah” kaum muslimin yang bergabung (memihak) kepada mereka.
3⃣Thaifah mukhadzilah : yaitu umat Islam yang tidak berjihad melawan mereka,s sekalipun keislaman mereka benar.
Maka hendaklah setiap orang melihat, termasuk kelompok manakah dirinya ; Thaifah Manshurah, Thaifah mukhadzilah ataukah Thaifah mukhalifah, karena tidak ada kelompok keempat !!!?”
(Majmu’ Fatawa 28/417)
⏩ Berkata Syaikhul Islam dalam Majmu’ Fatawa 28/532:
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:
الطَّائِفَةُ باِلشَّامِ وَمِصْرَ وَنَحْوُهُمُا، فَهُمْ فِي هَذَا الْوَقْتِ الْمُقَاتِلُونَ عَنْ دِيْنِ اْلإِسْلاَمِ، وَهُمْ مِنْ أَحَقِّ النَّاسِ دُخُولاً فِي الطَّائِفَةِ الْمَنْصُوْرَةِ الَّتِي ذَكَرَهَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِقَوْلِهِ فِي اْلأَحَادِيْثِ الصَّحِيْحَةِ الْمُسْتَفِيْضَةِ عَنْهُ:«لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِيْنَ عَلَى اْلَحَقِّ، لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ وَلاَ مَنْ خَذَلَهُمْ، حَتَّى تَقُوْمَ السَّاعَةُ»
“ Adapun kelompok umat Islam di Syam, Mesir dan wilayah lain yang saat ini berperang demi membela Islam, mereka adalah manusia yang paling berhak masuk dalam golongan thaifah manshurah yang disebutkan oleh Rasulullah dalam hadits-hadits shahih yang sangat terkenal ” Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yg tegak diatas kebenaran, tidak memudharatkan mereka orang-orang yg menyelisihi dan menyia-nyiakan mereka sampai datangnya hari Kiamat”
 Tentang NEGERI MARDIN (sekarang masuk Wilayah Turki Selatan) yang penduduknya adalah Muslim tetapi dikuasai Tartar yg memberlakukan hukum-hukum kafir walaupun kebanyakan tentara mereka adalah Muslim.
Syaikhul Islam berfatwa tentang Mardin
⏩ وأما كونها دار حرب أو سلم فهي مركبة فيها المعنيان ليست بمنزلة دار السلم التي يجري عليها أحكام الإسلام لكون جندها مسلمين ولا بمنزلة دار الحرب التي أهلها كفار بل هي قسم ثالث يعامل المسلم فيها بما يستحقه ويقاتل الخارج عن شريعة الإسلام بما يستحقه (الفتاوى الكبرى – ج 3 / ص 532)
“…Adapun kondisi negeri Mardin apakah termasuk Darul Harb atau Darul Islam, maka sesungguhnya kondisi kota ini mempunyai dua kriteria, wilayah tersebut tidak bisa dinilai sebagai Darul Islam yang ditegakkan syari’at Islam di dalamnya , hanya karena tentaranya Muslim dan tidak pula bisa dikatakan sebagai Darul Harb dikarenakan penduduknya kafir. Namun wilayah itu masuk kepada ketegori ke tiga yakni memberikan hak kepada muslim sesuai hak mereka dan memerangi mereka yang keluar dari syariat Islam sesuai dengan haknya“. (Al Fatawa Al Kubro juz 3 hal 532)
⌛ Akhirnya, mau jadi thoifah yang manakah kita??
 Abu Salman Abdirrahman

Leave A Reply