Mengamalkan Konsekuensi Makna Asma’ (Nama) dan Sifat Allah Ta’ala

0

Mengamalkan konsekuensi makna asma’ dan sifat Allah ta’ala merupakan buah keimanan yang sangat agung. Sebab, seorang yang beriman kepada Allah ta’ala meyakini apa-apa yang ditetapkan bagi Dia dari nama-nama-Nya yang husna (indah) dan sifat-sifat-Nya yang ‘ulya (tinggi) dan menetapkan bagi-Nya kesempurnaan makna-maknanya yang hakiki, serta makna-makna ini tertanam dalam jiwanya serta meresap ke dalam hatinya, maka keimanan ini akan membuahkan hasil yang nyata dalam perilaku dan muamalahnya, tampak pada anggota badannya dan tercermin dari perkataan maupun perbuatannya.

Maka barangsiapa beriman bahwasannya Allah ta’ala Maha Mendengar niscaya ia tidak akan berbicara dengan ucapan yang dapat mengundang kemurkaan Allah ta’ala, takut Allah akan mencatatnya dan mengadzabnya karena hal itu. Barangsiapa mengimani bahwasannya Allah Maha Melihat, menyaksikan dan mengawasi, niscaya ia akan takut Allah melihatnya berbuat maksiat dan mengadzabnya dengan siksa yang pedih. Maka dari itu, ia pun tercegah dari perbuatan maksiat dan berhenti melakukannya. Barangsiapa menyakini bahwasannya Allah ta’ala Mahaperkasa, niscaya ia tidak akan tunduk kepada selain Allah dan tidak merendahkan diri kecuali kepada-Nya. Barangsiapa mengimani bahwasannya Allah ta’ala berkuasa menahan dan membentangkan rizki, niscaya ia tidak akan meminta kelapangan rizki atau yang selainnya kecuali kepada-Nya. Barangsiapa mengimani bahwasannya Allah ta’ala Mahakuat lagi Mahaperkasa, niscaya akan semakin bertambah ketundukkannya kepada-Nya dan kekuatan seluruh manusia terasa kecil dalam dirinya sehingga ia tidak merasa takut dan lemah di hadapan mereka.

Demikian halnya dengan semua nama-nama dan sifat Allah yang lain. Kita harus merasakan hakikat maknanya secara sempurna dan mengamalkan seluruh konsekuensinya. Inilah hakikat menghitung nama-nama Allah ta’ala yang disebutkan oleh rasulullah shollaulohu alaihi wassalam dalam sebuah hadits:

Sesungguhnya Allah memiliki Sembilan puluh Sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa menghitungnya, niscaya ia masuk surga.[1]

Menghadirkan makna nama-nama Allah yang husna (indah) dan sifat-sifat-Nya yang ‘ulya (tinggi) merupakan suatu yang sangat bermanfaat bagi seorang mukmin. Di samping itu, merupakan sebab terbesar yang meluruskan perilaku maupun anggota badannya hingga menjadi sebab kebaikan hatinya, anggota badan, serta amal perbuatannya. Ini merupakan realisasi kebenaran tauhid.

Dikutip dari: Ensiklopedi Adab Islam 1; Abdul Aziz bin Fathi As-Sayyid; Pustaka Imam Asy-Syafi’i

[1] Al-Bukhari (6410), Muslim (2677) dan lafadz ini miliknya, dari Abu Hurairah radhiallahu anhu.

Leave A Reply