Mengajak Ke Jalan Kebenaran

0

Seorang muslim harus penuh semangat dan bermobilisasi tinggi  di  dalam dakwahnya, tidak banyak memikirkan rintangan dan mencurahkan pikirannya sepenuhnya untuk menyeru manusia menuju jalan yang benar. Ia mengetahui dan meyakini alasan Allah, pahala yang besar bagi hamba-Nya yang ikhlas dalam berdakwah.

Rasulullah pernah berkata kepada Ali  ra:

“Maka demi Allah, pasti Allah akan memberikan hidayah kepada seseorang dengan dakwahmu itu. Itu lebih baik bagimu daripada segala nikmat.” (Muttafaq Alaih).

Sesungguhnya sebuah kalimat thayyibah yang disampaikan seorang da’i (pendakwah) yang jujur dan ikhlas, masuk ke dalam hati manusia, sehingga terhujam di  dalam hatinya secercah hidayah, akan menjadikan pahala Allah turun pada pendakwah  itu  yang besarnya melebihi seluruh kenikmatan dunia.

Bahkan rasulullah memberitahukan kepada kita bahwa seorang da’i akan dilimpahkan pahala sebesar pahala orang yang melakukan kebaikan karena bimbingan yang diberikannya.

Sabda rasul;

“Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk Allah, maka baginya pahala sebesar pahala orang yang mengikutinya, sedikit pun tak dikurangi.” (HR. Muslim).

Maka tidaklah aneh, jika kita diperbolehkan iri kepada dua golongan manusia, yaitu  kepada seorang da’i yang selalu sabar dalam menerima segala cobaan dan rintangan dakwahnya, termasuk orang yang diberi ilmu oleh Allah dan berusaha mengajarkannya serta mengamalkannya di jalan Allah; dan kepada orang yang ada kelebihan harta lalu ia menginfakkannya untuk keepentingan umat, rasul bersabda:

“Tidak diperbolehkan iri, kecuali pada dua hal yaitu; kepada orang yang diberi Allah ilmu, lalu ia mengamalkannya dan mengajarkannya; dan kepada orang yang diberi kelebihan harta, lalu ia belanjakan di jalan Allah.” (Muttafaq Alaih).

Tidak perlu merasa kecil hati karena sedikitnya ilmu, untuk menyeru ke jalan Allah. Cukuplah menyampaikan apa-apa yang ia dengar mengenai kebenaran, meskipun hanya satu ayat dari kitabullah, begitulah wasiat rasul kepada kita.

Demikianlah, hidayah bisa diperleh seorang manusia karena sebuah kalimat dari ayat yang menyentuh hatinya, menebus liang persembunyian terdalam dari  iman. Maka kehidupannya dan hatinya bersama-sama tersinari oleh hidayah  itu.

Sesungguhnya seorang muslim yang benar perlu cemburu kepada tabiatnya, mencintai saudaranya sesama muslim lebih dari cintanya terhadap dirinya sendiri, selalu memperhatikan urusan kaum muslimin.

Dia juga tidak menginginkan dirinya saja yang masuk surga, sedangkan orang lain masuk neraka. Ia selalu berdakwah menyeru umat manusia dengan nasihat berharga yang dapat mengantarkan mereka ke surga. Itulah akhlak dakwah yang telah tertanam pada diri seorang muslim yang sungguh mulia dan luhur. Rasulullah bersabda;

“Allah mengelokkan rupa seseorang karena telah mendengar dari-ku sesuatu dan menyampaikannya seperti apa yang ia dengar. Maka senantiasalah seorang mubaligh banyak mendengar dari  pendengar.” (HR. Tirmizi).

Sesungguhnya pribadi-pribadi dalam masyarakat islam berbeda pun saling melengkai satu sama lain, karena bertanggung jawab dalam urusan-urusan  masyarakat dan selalu berlaku  jujur. Seperti itu merupakan manifestasi tanggungjawabnya di hadapan Allah.

Setiap individu bangkit karena merasa memikul kewaiban dakwah di tengah-tengah masyarakatnya. Mereka menyadari bahwa jika  mereka mencampakkan urusan  syariat, mereka akan jatuh ke derajat yang rendah dan  hina.

Allah mengancam siksa yang pedih bagi mereka yang menghindar dan mundur dari gelanggang dakwah dan menyembunyikan ilmu yang diberikan Allah. Rasulullah bersabda;

“Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang dengan ilmu itu ia bisa memperoleh rida Allah, tetapi ia tidak menuntutnya dan mengerjakannya kecuali untuk dunianya, maka tiada baginya bau surga di hari kiamat.” (HR. Abu Daud).

“Barangsiapa ditanya tentang  ilmu, lalu ia  menyembunyikannya, maka di hari kiamat akan dilempar dengan batu dari neraka.” (HR. Abu Daud dan Tirmizi).

Dikutip dari: DR. Muhammad Ali Hasyimi; Apakah Anda Berkepribadian Muslim?; Gema Insani Press

Leave A Reply