Menepati Janji

0

Ciri lain dari pribadi muslim yang benar-benar memelihara agamanya yang menandakan akhlak yang terpuji adalah kesetiaannya terhadap janji-janjinya. Ia selalu berusaha menyegerakannya. Ketepatan janji merupakan perwujudan kesetiaan dan merupakan akar akhlak islam.

Islam sangat menekankan kesetiaan terhadap janji. Banyak dalil berupa ayat qur’an maupun hadits nabi menyatakan kaitan erat antara kesehatan iman seorang muslim dengan kesetiaannya terhadap janji, antara lain;

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah ikatan-ikatan perjanjian itu.” [QS. Al-Maidah: 1]

“Penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggung-jawabannya.” [QS. Al-Isra:3]

Janji bukanlah hanya kalimat kosong yang diucapkan oleh seseorang tanpa disertai kesadaran dan komitmen penuh, sebagaimana dilakukan kebanyakan kaum muslimin sekarang. Tetapi janji adaah suatu tanggung jawab yang tetap terukir dan akan diperhitungkan kelak di hadapan sang Al-Khalik. Apalagi janji seorang hamba kepada Penciptanya yang penuh keagungan dan kesucian. Janji kepada Allah jauh mengandung tanggung jawab yang lebih besar. Allah berfirman:

“Tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji, janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpahmu itu sesudah meneguhkannya.” [QS. An-Nahl: 91]

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan.” [QS. Ash-Shaf: 2-3]

Ingkar janji dan menyepelekan janji merupakan dosa besar, tidak disukai Allah bagi hamba-Nya yang beriman dan tidak dikehendaki bagi mereka yang ingin dekat dengan-Nya. Keingkaran akan menjerumuskan kaum musimin ke sifat munafik. Rasulullah saw mengingatkan:

“Ciri-ciri orang munafik ada tiga: jika berbicara berdusta, jika berjanji mengingkari dan jika diberi amanat berkhianat.” [HR. Muttafaq Alaih]

Di dalam riwayat muslim ditambahkan: sekalipun ia berpuasa, shaat dan mengaku bahwa dirinya seorang muslim!

Jelaslah, bahwa baiknya keislaman seseorang tidak bisa dicapai hanya dengan memperkuat ibadah seperti puasa, shalat dan haji. Tetapi harus disertai dengan usaha mempelajari dan menghayati ajaran islam sampai memperkokoh jiwa dan kepribadiannya, serta mengikuti petunjuknya. Ia dituntut menampilkan akhlak yang luhur, mewujudkan nilai-nilai moral ilahiyah yang tinggi dan suci.

Ia wajib memperhatikan ketentuan-ketentuan Allah, komit terhadap selururh perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Ia selalu bernaung di bawah cahaya dan hidayah Allah di dalam setiap urusan. Tegasnya, seorang muslim yang baik haruslah mempu meninggakan dusta, ingkar janji, khianat dan akhak-akhlak tak terpuji yang lain. Perbuatan-perbuatan hina demikian hanya pantas untuk orang-orang munafik yang dibenci Allah.

  1. Muhammad Ali Hasyimi; Apakah Anda Berkepribadian Muslim?; Gema Insani Press

Leave A Reply