Mendo’akan Keluarga dan Karib Kerabat Yang Ditinggalkan

0

Mendo’akan keluarga dan karib kerabat yang ditinggalkan dapat menenangkan perasaan mereka, hendaklah seorang musafir melakukan seperti yang dilakukan oleh nabi shollaullohu alaihi wassalam.

Apabila nabi shollaullohu alaihi wassalam hendak bersafar, beliau mengucapkan kata-kata do’a kepada keluarganya, yaitu:

Aku menitipkan kalian kepada Allah yang tidak akan hilang titipan-Nya.[1]

Apabila ia titipkan keluarganya kepada Allah, niscaya Allah akan menjaga mereka. Kemudian, mereka pun melepasnya dengan mengucapkan:

Kami menitipkan kepada Allah agamamu, amanahmu dan akhir dari amalanmu.[2]

Karena nabi shollaullohu alaihi wassalam melepas para sahabat yang pergi bersafar dengan ucapan tersebut. Mereka (keluarga nabi) pun mengatakan kepada beliau:

Semoga Allah membekalimu dengan ketakwaan dan mengampuni dosa-dosamu, serta memudahkan bagimu kebaikan di mana pun engkau berada.[3]

Sebagaimana hal itu diriwayatkan juga dari nabi shollaullohu alaihi wassalam. Adapun wasiat takwa yang mereka berikan kepada nabi shollaullohu alaihi wassalam, sebagaimana yang dilakukan oleh nabi shollaullohu alaihi wassalam sendiri kepada seorang laki-laki dari kalangan sahabat sebelum safar, dia berkata kepada nabi, “Berikan aku wasiat.” Nabi shollaullohu alaihi wassalam berkata:

“Aku wasiatkan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah dan bertakbirlah setiap engkau mendaki.” Ketika laki-laki itu pergi, nabi shollaullohu alaihi wassalam berdo’a: “Ya Allah, dekatkanlah jarak perjalanannya dan mudahkanlah baginya di dalam safar.”[4]

Asy-syaraf: setiap dataran yang tinggi.

Dikutip dari: Ensiklopedi Adab Islam 2; Abdul Aziz bin Fathi As-Sayyid; Pustaka Imam Asy-Syafi’i

[1] HR. Ahmad (II/403) dan Ibnu Majah (2825) dari Abu Hurairah radhiallahu anhu. Lihat kitab Shahiihul Jaami’ (958).

[2] HR. Ahmad (II/25,38), Abu Dawud (2600) dan An-Nasa’i di dalam Al-Kabiir (V/10346) dari Ibnu Umar radhiallahu anhu. Dikeluarkan juga oleh Ahmad (II/7), At-Tirmidzi (3443) dan dishahihkannya serta Ibnu Majah (2826) dari Ibnu Umar radhiallahu anhu. Silahkan lihat kitab Shahiihul Jaami’ (957).

[3] HR. At-Tirmidzi (3444) dan dihasankan olehnya, juga Al-Hakim (II/97) dari Anas. Silahkan lihat kitab Shahiihul Jaami’ (2545).

[4] HR. Ahmad (II/325), At-Tirmidzi (3445) dihasankannya dan Ibnu Majah (2771), Ibnu Abi Syaibah (29608), Al-Hakim (II/98) dan dishahihkannya serta disetujui oleh Adz-Dzahabi, Al-Baihaqi (V/251) dan Ibnu Khuzaimah (2561) dari Abu Hurairah radhiallahu anhu. Lihat kitab Shahiihul Jaami’ (2545).

Leave A Reply