Mendambakan Kedamaian Bagi Kaum Muslimin

0

Termasuk urusan yang penting bagi kaum muslimin ialah kerja keras untuk memberikan manfaat bagi masyarakat, menangkal segala gangguan mereka, mendambakan ishlah di diri mereka, bahkan aktif mengusahakan perdamaian saudara-saudaranya yang berselisih.

Firman Allah;

jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Hujurat: 9)

Dalam ayat di atas jelas bahwa Allah memerintahkan kita untuk mendamaikan umat islam yang terlibat pertikaian atau perang, memerangi golongan pembangkang yang hendak merusak persatuan atau yang menjadi musuh dalam selimut, sehingga terciptalah persatuan hakiki di kalangan umat islam atas dasar iman dan takwa.

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (QS. Al-Hujurat: 10)

Rasulullah saw selalu berusaha mendamaikan umat yang bertikai dan menyatakan usaha-usaha seperti itu sebagai tanggung jawab dakwah, bahkan lebih menegaskannya sebagai kewajiban yang harus ditegakkan oleh kaum muslimin.

Dari Abu Abbas Sahal bin Said As-Saidi ra bahwa rasulullah mendapat kabar bahwa Bani Amru bin Auf bertikai dengan sesama mereka. Maka rasulullah keluar untuk mendamaikan mereka ketika masuk salat. Kisah ini terdapat dalam sebuah hadits yang panjang yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Sungguh rasulullah saw telah bekerja keras dan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk memuliakan ukhuwah islam. Beliau tak kenal lelah mendorong umatnya untuk beramal, tasamuh/saling toleransi, bersikap ramah, baik dengan pengarahan untuk mendidik umat islam agar selalu memikirkan sesamanya, sehingga masyarakat itu dapat memadamkan kerusakan dan perdebatan/kecurangan serta menghidupkan prinsip saling rela, saling mengasihi dan toleransi.

Ummul Mukminin Aisyah ra meriwayatkan sebuah hadits;

“Rasulullah saw mendengar suara orang berdebat dari dalam pintu dengan suara yang cukup keras. Yang satu meminta  kesediaan temannya agar dapat meringankan sebagian hutangnya. Temannya mengatakan, “Demi Allah, aku tidak akan melakukannya.” Kemudian rasulullah keluar seraya bertanya, “Siapa yang bersumpah atas nama Allah, sedang dia tidak berbuat makruf?” Ketika mendengar suara rasulullah saw, mereka segera menghentikan perdebatan itu, karena merasa malu. Yang merasa melakukkan berkata, “Saya wahai rasulullah.” Rasulullah berkata, “Apakah engkau lebih menyukai hal itu?” (Muttafaq Alaih).

Dalam rangka mendamaikan pihak-pihak  yang bertikai, beliau  membolehkan berdusta jika itu merupakan satu-satunya jalan yang baik yang demikian itu  tidak dikatakan dusta dan tidak termasuk perbuatan dosa.

Ummu Kultsum binti Uqbah  Abi Muaith ra berkata, “Saya mendengar rasulullah bersabda, “Tidak termasuk dusta orang yang mendamaikan dua orang yang berselisih, lalu dia mengatakan yang baik dan berhasil.” Kata Ibnu Syihab, “Aku tidak pernah mendengar rasulullah membolehkan orang berdusta, kecuali dalam tiga hal; dalam perang, dalam mendamaikan dua  orang yang berselisih, berita suami kepada istrinya  dan berita istri kepada suaminya.” (HR. Muslim).

Dikutip dari: DR. Muhammad Ali Hasyimi; Apakah Anda Berkepribadian Muslim?; Gema Insani Press

Leave A Reply