Mendahului Imam Secara Sengaja Dalam Shalat

0

Di antara tabiat manusia adalah tergesa-gesa dalam tindakannya, Allah ta’ala berfirman:

Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (QS. Al-Isra: 11)

Nabi SAW bersabda:

Sifat perlahan-lahan adalah dari Allah ta’ala dan tergesa-gesa adalah dari syaitan.[1]

Dalam shalat berjamaah, sering orang menyaksikan di kanan kirinya banyak orang yang mendahului imam dalam ruku dan sujud, takbir perpindahan dan bahkan hingga mendahului salam imam. Mungkin dengan tak disadari, hal itu juga terjadi pada dirinya sendiri.

Perbuatan yang barangkali dianggap persoalan remeh oleh sebagian besar umat islam itu oleh rasulullah SAW diperingatkan dan diancam secara keras, dalam sabdanya:

Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, bahwa Allah akan mengubah kepalanya menjadi kepala keledai.[2]

Jika saja orang yang hendak melakukan shalat dituntut untuk mendatanginya dengan tenang, apalagi  dengan shalat itu sendiri.

Tetapi terkadang orang memahami larangan mendahului imam itu  dengan harus terlambat dari gerakan imam. Hendaknya dipahami sebagaimana para fuqaha telah menyebutkan kaidah yang baik dalam masalah ini, yaitu hendaknya makmum segera bergerak ketika imam telah selesai  mengucapkan takbir. Ketika imam selesai melafadzkan huruf (ra) dari kalimat Allahu Akbar, saat itulah makmum harus segera mengikuti gerakan imam tidak mendahului  dari batasan tersebut atau mengakhirkannya. Jika demikian maka batasan itu menjadi jelas.

Dahulu para sahabat nabi radhiallahu anhum sangat berhati-hati sekali untuk tidak mendahului nabi SAW. Salah seorang sahabat bernama Al Barra bin Azib ra berkata:

Sungguh mereka (para sahabat) shalat di  belakang Rasulullah SAW, maka jika beliau  mengangkat kepalanya dari ruku, saya tak melihat seorangpun yang membungkukkan punggunggnya hingga Rasulullah SAW meletakkan keningnya di atas bumi, lalu orang yang ada di belakangnya sujud (bersamanya).[3]

Ketika Rasulullah SAW mulai udzur dan geraknya tampak pelan, beliau mengingatkan orang-orang yang shalat di belakangnya:

Wahai sekalian manusia, sungguh aku telah gemuk (lanjut usia), maka janganlah kalian mendahuluiku dalam ruku dan sujud.[4]

Dalam shalat, imam hendaknya melakukan sunnahnya takbir. Yakni sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu  Hurairah ra:

Bila Rasulullah SAW berdiri untuk shalat, beliau bertakbir ketika berdiri, kemudian bertakbir ketika ruku, kemudian bertakbir ketika turun (hendak sujud), kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya, kemudian bertakbir ketika sujud, kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya, demikian beliau lakukan dalam semua shalatnya sampai selesai dan bertakbir ketika bangkit dari dua (rakaat) setelah duduk (tasyahud pertama).[5]

Jika imam menjadikan takbirnya bersamaan dan beriringan dengan gerakannya, sedang makmum memperhatikan ketentuan dan cara mengikuti imam sebagaimana disebutkan di atas, maka jama’ah dalam shalat tersebut menjadi sempurna.

Dikutip dari: Dosa-dosa Yang Dianggap biasa; Syaikh  Muhammad bin Shaleh Al-Munajjid; Kantor Dakwah-Sulay; Penerjemah, Ainul Harits Umar Thayyib ; Islamic Propagation Office In Rabwah; www.islamhouse.com

[1] Hadits riwayat Baihaqi dalam As Sunanul Kubra: 10/104; dalam As Silsilah As Shahihah hadits no:: 1795.

[2] Hadits riwayat Muslim 1/320-321.

[3] Hadits riwayat Muslim, hadits no. 474, tahqiq. Abdul Baqi.

[4] Hadits riwayat Baihaqi no. 2/93 dan hadits tersebut dihasankan dalam Irwa’ul Ghalil 2/290.

[5] Hadits riwayat Bukhari, hadits no. 476, cet. Al bagha.

Leave A Reply