Mencukupi Fakir Miskin

0
 
Oleh : Heri Rusydie
            Islam adalah din yang penuh dengan kasih dengan kaum zhua’fa’ (lemah). Bahkan kepada ahli kitab sekalipun -yang harus kita yakini bahwa mereka adalah ahlu neraka. Maka Syariah tidak memperkenankan menarik jizyah dari mereka walaupun mereka hidup di wilayah daulah Islamiyah dengan mendapat jaminan keamanan. Tidak hanya itu. Meskipun mereka ada di darul harbi (negara kafir yang boleh diperangi) tidak diizinkan menyerang mereka selama mereka tidak membantu menyerang kaum muslimin. Seperti para wanita, orang yang sudah jompo dan anak-anak.
            Tentu kasih sayang yang seperti ini lebih berhak lagi dirasakan oleh kaum muslimin sendiri. Ada hak yang berlipat yang harus mereka terima. Hak seorang muslim dan hak karena kefakiran mereka. Mereka membutuhkan perhatian dan simpati. Agar mereka merasa bahwa mereka tidak sendirian dan memang seharusnya mereka punya teman dalam memanggul ‘kerasnya’ kehidupan. Tapi naif harapan mereka yang tinggal di negara sekuler dan diktator yang penuh dengan kezhaliman mencekik orang kecil seperti negeri kita ini. Keadaan mereka terlunta-lunta dan menjalani hari tanpa ada harapan.
            Tarbiyah puasa yang kita jalani harus bisa menyentuh hati kita, bahwa di sana ada kaum yang menahan kelaparan pada sebelas bulan yang kita jalani dengan keadaan kenyang. Mereka sangat susah mencari penawar rasa lapar itu di negara yang kaya dengan sumber daya alam ini yang telah dirampok oleh para borjuis.
Hati yang hidup pasti akan peduli dengan keadaan mereka. Sedangkan hati yang mati akan selalu rakus dan kurang dalam memburu nikmat dunia tanpa melihat kaum papa.
Allah memerintahkan setiap jiwa (baik besar kecil, waras maupun gila merdeka maupun budak) untuk menunaikan zakat fitri sebelum sholat ied dimulai dengan takbiratul ihram. Jaminlah mereka wahai kaum muslimin bahwa di hari yang penuh dengan kebahagian itu mereka tidak lagi meminta-minta hanya untuk sekedar mengusir rasa lapar.
Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah saw bersabda,
أغنوهم عن الطوف في هذا اليوم. رواه الدارالقطني
‘Cukupilah mereka dari meminta-minta pada hari ini (hari raya ‘idul fitri)’. Hadits ini diriwayatkan oleh Daruquthni.
Maksud (tujuan) dari zakat fitri adalah mencukupi mereka dari meminta-minta pada hari raya. Maka akan lebih afdhal seseorang membayarkan zakat fitrinya di penghujung bulan Ramadhan agar makanan yang dia bayarkan masih tersisa di hari ‘ied. Memang boleh dia bayarkan di awal Ramadhan namun nanti maksud syariah tidak kita raih dan maslahatnya kita begitu ‘mengena’. Kita dalam menjalankan syariat ini harus memperhatikan maqashidus Syariah (maksud dan tujuan pensyariatan hukum).   
            Zakat fitri berupa qutul balad (makanan pokok negeri setempat). Untuk negara kita adalah beras. Banyaknya adalah satu sha’ atau kurang lebih 2,5 kg. Dengan syarat wajibnya adalah dia masih punya persediaan makanan pada hari raya bagi dia dan orang yang ada di bawah tanggungannya, seperti anak, istri, orang tua, dan saudara perempuannya. Artinya orang yang  keadaannya seperti ini wajib menunaikan zakat fitri. Bila meninggalkannya, dia berdosa. Namun bila tidak ada makanan di hari itu tapi dia berinisiatif berhutang agar tetap bisa membayar zakat maka hal itu tidak mengapa. Bahkan kalangan Malikiyah berpendapat tetap wajib membayar zakat bagi orang yang sudah terpenuhi kebutuhan pokoknya walaupun dia harus berhutang untuk menunaikannya.

Leave A Reply