Menahan Kemarahan

0

 

 
Suatu saat, terjadi peperangan antara pasukan khalifah Ali bin Abi Thalib melawan para pemberontak Nashrawan. Seperti biasa, sebelum peperangan dimulai, diadakan perang tanding satu lawan satu dari kedua belah pihak untuk menguji sejauh mana kapasitas kekuatan individu kedua pasukan.

Ali sendiri maju mewakili pasukannya. Ia memberi teladan bagaimana menantang maut dengan kesatria. Ia mengejawantahkan prinsip kepemimpinan Umar bin Khathab: Ketika umat ini sengsara, biarlah aku yang pertama merasakan kesengsaraan itu. Dan sebaliknya, manakala mereka senang, biarlah aku orang terakhir yang merasakan kesenangan itu. Atau sabda nabi saw, “Pemimpin terbaik adalah dia yang bisa bertindak ibarat ‘pembantu’ bagi yang dipimpinnya.”
Seperti biasa, lawan tanding Ali kali ini pun jatuh terkulai. Namun, ketika Ali akan mengayunkan pedangnya untuk menghabisi seterunya itu, tanda diduga, tiba-tiba sang musuh meludahi mukanya. Tak ayal, api kemarahan Ali serta-merta berkobar hebat, sehingga semangat untuk menghabisi sang musuh semakin meledak-ledak di dalam dadanya.
Akan tetapi, sesaat menjelang pedang diayunkan, Ali mengucapkan istighfar dan mengurungkan sabetannya. Lawan yang sudah tanpa daya itu dibiarkannya tetap hidup dan Ali meninggalkan area perang tanding sembari menyarungkan pedangnya.
Para pengikutnya heran dan bertanya-tanya. Ali mengatakan bahwa ia khawatir jika sampai ia menghabisi musuh bukan karena membela kemuliaan Al-Islam, melainkan sekedar memuaskan amarah.
Dikutip dari Belajar Dari Kisah Kearifan Sahabat.

 

Leave A Reply