Memurnikan Ittiba’ (Meneladani) Kepada Rasulullah Shollaullohu Alaihi Wassalam

0

Maknanya ittiba’ adalah seorang muslim menjadikan nabi Muhammad shollaullohu alaihi wassalam sebagai panutan dan teladan, sebagaimana firman Allah ta’ala:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: 21).

Maka dari itu, meneladani nabi dan mengikuti beliau merupakan dalil benarnya keimanan kepada Allah ta’ala dan hari akhir. Mengikuti rasulullah shollaullohu alaihi wassalam merupakan jalan untuk mendapatkan hidayah, sebagimana firman Allah ta’ala:

Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk. (QS. Al-A’raf: 158).

Mengikuti rasulullah shollaullohu alaihi wassalam merupakan jalan untuk mendapatkan cinta Allah ta’ala, sebagaimana firman Allah:

Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran: 31).

Demikian juga, tidak akan mungkin baik keadaan manusia di dunia dan di akhirat tanpa mengikuti petunjuk nabi Muhammad shollaullohu alaihi wassalam. Oleh karena itulah, wajib bagi setiap muslim berusaha untuk mengikuti nabi shollaullohu alaihi wassalam dalam setiap keadaannya, dalam aqidah, ibadah, perilaku, akhlak, muamalah, jihad dan semua urusannya. Sebab, ini merupakan bukti keimanan yang paling kuat dan paling benar.

Adapun berpaling dari ittiba’ kepada nabi shollaullohu alaihi wassalam dan menggantinya dengan yang lain merupakan sebab terbesar timbulnya kerusakan dan kekurangan dalam setiap perkara, kesesatan di dunia, serta kerugian dan adzab di akhirat.

Kerusakan yang terjadi di tengah kaum muslimin; kekurangan dalam berbagai sisi kehidupan mereka; musuh-musuh berkuasa, menimpakan adzab, serta mengambil apa yang ada di tangan mereka; harga-harga melambung tinggi, tersebarnya berbagai macam penyakit dan wabah; serta munculnya virus-virus penyakit yang tidak pernah dikenal sebelumnya terjadi karena ummat telah berpaling dari petunjuk Muhammad shollaullohu alaihi wassalam. Padahal, petunjuk nabi sudah cukup untuk memperbaiki keadaan mereka di dunia, mengangkat kedudukan mereka, mengalahkan musuh dan meraih kemenangan di akhirat. Yaitu, dengan mengikuti petunjuk tersebut dan berpegang teguh dengannya.

Sesungguhnya hal itu merupakan kewajiban yang paling utama atas mereka setelah mengikhlaskan agama kepada Allah ta’ala semata. Memurnikan ittiba’ kepada nabi shollaullohu alaihi wassalam merupakan realisasi syahadat Muhammad rasulullah dan bukti kejujuran syahadat tersebut. Tanpa ittiba’, orang yang mengucapkan syahadat dianggap telah berdusta karena apa yang ia lakukan bertentangan dengan ucapannya. Oleh sebab itu, wajib atas setiap muslim untuk memperbaiki ittiba’ kepada nabi shollaullohu alaihi wassalam dalam setiap urusannya karena itu merupakan jalan untuk meraih kemenangan dan keselamatan.

Dikutip dari: Ensiklopedi Adab Islam 1; Abdul Aziz bin Fathi As-Sayyid; Pustaka Imam Asy-Syafi’i

Leave A Reply