Memperkirakan Kemungkinan Terburuk Yang Akan Menimpanya Kemudian Menguatkan Diri Untuk Menerimanya

0

Berupaya menganggap ringan beban kesulitan yang ditanggungnya dengan memperkirakan kemungkinan terburuk yang akan menimpanya, kemudian dia kuatkan dirinya untuk menerima hal tersebut.

Jika hal tersebut telah dilakukan maka selanjutnya dia berupaya untuk memperingan problema yang dihadapi sedapat mungkin. Dengan kemantapan jiwa dan upaya yang bermanfaat tersebut, akan hilanglah perasaan gundah dan resah, berganti dengan upaya nyata untuk mendatangkan kemanfaatan dan menolak kesulitan yang mudah bagi seorang hamba.

Jika hal tersebut mampu mengantikan penyebab ketakutan, kepedihan dan kekhawatiran akan kefakiran, karena kecintaannya terhadap aneka ragam kesenangan, maka dia dapat menerima semua itu  dengan perasaan tenang dan kemantapan jiwa, bahkan sekalipun musibahnya lebih berat dari itu.

Karena kemantapan jiwa dalam menanggung kesulitan dapat meringankan kesulitan itu sendiri dan menghilangkan goncangannya,  khususnya jika dia menyibukkan dirinya dengan menyingkirkannya sedapat mungkin. Maka dalam dirinya akan  berkumpul kemantapan jiwa dan upaya nyata untuk mengatasi problemnya yang sekaligus dapat menghindarinya dari sekedar  memikirkan musibah  itu serta membantu dirinya untuk memperbaharui kekuatan dalam mengatasi masalah seraya bertawakkal dan percaya kepada Allah ta’ala.

Tidak diragukan lagi bahwa hal-hal semacam ini sangat besar manfaatnya untuk meraih kebahagiaan dan kelapangan dada di samping adanya harapan seorang hamba atas ganjaran yang setimpal dari Allah ta’ala baik di  dunia maupun di akhirat. Hal ini dapat disaksikan dan dialami oleh banyak orang.

Dikutip  dari: Syaikh Abdurrahman bin Nasir As-Sa’di; Meraih Hidup Bahagia; islamhouse.com

Leave A Reply