Memerintahkan Yang Makruf dan Mencegah Yang Munkar

0

Di antara kewajiban-kewajiban  dakwah menuju jalan Allah ialah memerintahkan manusia kepada yang makruf/kebaikan dan mencegahnya dari yang munkar. Namun demikian, seorang muslim dalam melakukan amar makruf nahi munkar tersebut sebaiknya menggunakan cara bijaksana, logis dan pendekatan yang baik.

Dalam melawan kemunkaran jika mungkin digunakan kekuataan tangan atau kekuasaan. Apabila tidak bisa, maka dengan lisan keterangan-keterangan atau hujjah. Apabila tidak bisa, maka cukup mengingkarinya dengan hati. Tentang hal ini, rasulullah saw menjelaskan:

“Barangsiapa melihat kemunkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak dapat, lakukanlah dengan lisannya. Apabila tidak dapat juga, maka ubahlah dengan hatinya (cukup mengingkari kebatilan itu), demikian itu merupakkan selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).

Seorang muslim ketika melakukan amar makruf nahi munkar sebaiknya hanyalah menyampaikan nasihat. Agama adalah nasihat, sedangkan amar makruf nahi munkar merupakan realisasi nasihat itu.

“Telah berkata nabi saw, “Din/agama itu nasehat.” Aku bertanya, “Untuk siapa?” Rasul menjawab, “Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk rasul-Nya dan untuk pemimpin kaum muslimin serta umat pada umumnya.” (HR. Muslim).

Nasihat dan amar maruf nahi mukar adalah untuk menguatkan kaum muslimin secara bebas dan tegas, menyampaikan kebenaran sekalipun di hadapan orang zalim. Demi kejayaan, kemerdekakan dan kemuliaan umat haruslah ada orang-orang yang berani menyampaikan kebenaran secara terus terang tanpa rasa takut kepada siapapun kecuali Allah. Bentuk mengatakan kepada orang zalim, kamu zalim! Telah disampaian kepada kita sabda  nabi saw:

“Jika kamu melihat umatku takut mengatkan kepada si fulan ‘kamu zalim’, maka ia akan ditinggalkan dari mereka.” (HR. Ahmad dan Tabrani).

Kedatangan keterangan-keterangan yang jelas dari nabi saw kepada kaum muslimin itu telah membangkitkan ruh dan semangat jihad serta kepahlawanan dalam menghadapi kebatilan. Keberanian itu disertai dengan ketenangan tanpa takut berkurang bahkan sebaliknya meyakini sepenuhnya bahwa Allah adalah sangat luas karunia-Nya. Sabda nabi saw:

“Janganlah rasa takut kepada seseorang dapat mencegah seseorang dari kamu untuk mengatakan kebenaran jika melihatnya dan mengingat keagungan-Nya. Maka sesungguhnya (keberanian seperti itu) tidaklah mendekatkan kepada ajal dan tidak pula menjauhkannya dari rejeki.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Tabrani).

“Seseorang menghadap nabi saw ketika beliau sedang di atas mimbar, ia berkata, “Wahai rasulullah, manusia mana yang paling baik?” Rasulullah menjawab, “Mereka yang konsekuen, paling takwa dan memerintahkan yang makruf dan mencegah yang munkar, serta menyambungkan silaturrahmi.” (HR. Ahmad dan Tabrani).

Semangat amar makruf dan nahi munkar di dalam masyarakat yang telah tertanam di dalam jiwa kaum muslimin yang benar telah menjadikan diri mereka pemberani dan percaya diri, mengambil resiko dalam perjuangan melawan kebatilan dan membela kaum tertindas.

Begitulah, bimbingan nabi saw telah menjadikan kaum muslimin sebagai umat yang perkasa dan berbudi luhur, serta berjiwa pahlawan yang menakjubkan. Pantaslah pertolongan Allah bagi orang-orang semacam mereka yang selalu maju pantang menyerah menyampaikan kebenaran di hadapan kaum yang zalim tanpa pernah gentar. Bersabda rasulullah saw:

“Tidaklah seseorang membiarkan (tidak menolong) seorang muslim di  suatu tempat yang dapat mengurangi keluhuran akhlaknya dan merusak kehormatannya, kecuali Allah akan membiarkannya pada suatu tempat, tanpa menurunkan pertolongan-Nya. Tidaklah seseorang menolong seorang muslim di suatu tempat yang dapat mengurangi keluhuraan akhlaknya dan merusak kehormatannya, kecuali Allah akan menolongnya di suatu tempat, mencintainya dann menolongnya.” (HR. Abu Daud dan Tabrani).

Seorang muslim dituntut untuk mengemban risalah, tidak berdiam diri terhadap kezaliman, selalu aktif berjuang untuk menegakkan kebenaran. Dia tidak rela kezalian menyebar di masyarakat. Dia tidak boleh berhenti memerangi kemunkaran, selalu berusaha merubahnya, menentang maju memperoleh pahala Allah ta’ala. Ia tahu apa akibat orang yang tidak menolak kemunkaran dan diam tanpa berusaha merubahnya. Ia merenungkan perkataan Abu Bakar;

‘Ketika Abu Bakar ra memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, dia berdiri di atas mimbar seraya memuji Allah, kemudian berkata, “Wahai umat manusia, kalian telah membaca ayat; Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Al-Maidah:105). Sedangkan kamu  semua salah  dalam memahami itu, aku telah mendengar rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya manusia itu jika melihat kemunkaran dan tidak berusaha merubahnya, maka mereka itu –akan- mendapat bencana atau siksasan dari Allah ta’ala.” (Hayatush Shahabah III/233)

Seorang muslim yang benar, imannya selalu hidup menyinari hatinya sehingga sangat jauh dari hal-hal yang kotor, ia tidak akan merendahkan ketentuan syariat dan tidak pernah berhenti melakukan amar makruf nahi munkar. Ia selalu berusaha melaksanakan semua itu dengan segenap kemampuanya, dengan segenap harta, pemikiran bahkan jiwa sekalipun.

Abu Musa Al-Asy’ari ra meriwayatkan bahwa rasulullah  saw telah bersabda:

“Sesungguhnya orang yang sebelumnya dari bani Israel, seseorang dari kalangan mereka melakukan suatu kesalahan/dosa maka tampak mustahil orang lain mencegahnya. Sehingga mereka pada pagi harinya duduk-duduk, makan-makan dan minum-minum seolah-olah mereka tidak pernah melihat perbuatan dosa yang kemarin dilakukan.

Maka melihat kondisi mereka itu, Allah mensifatkan mereka melalui lisan Daud dan Isa bin Maryam, sebagian atau sebagian yang lain dengan mengatakan, “Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 61). Demi Dzat yanngn jiwaku ada dalam kuasa-Nya, sungguh telah diperintahkan atasku berbuat yang makruf dan mencegah kemunkaran, menncabut kekuatan orang jahat dan membelokkan kepada kebenaran. Atau akan mencampakkan hati dari kamu dan mengutukmu sebagaimana Dia mengutuk mereka. (HR. Tabrani).

Dikutip dari: DR. Muhammad Ali Hasyimi; Apakah Anda Berkepribadian Muslim?; Gema Insani Press

 

Leave A Reply