Memanfaatkan Waktu Dengan Berdzikir dan Melaksanakan Ketaatan

Hendaklah seorang muslim menggunakan setiap waktunya untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah ta’ala semampu yang bisa dilakukannya. Amal ketaatan yang dapat dilakukan adalah dengan membaca dan mentadabburi Al-Quran, senantiasa berdzikir kepada Allah ta’ala, bertafakkur tentang apa saja yang ada di sekitar, berbuat baik kepada teman-temannya, meninggalkan kesan yang baik pada tempat yang pernah disinggahi dengan berdzikir dan bacaan Al-Quran dan shalat semampunya.

Anas radhiallahu anhu berkata: “Sesungguhnya jika kami sampai di suatu tempat, tidaklah kami melakukan shalat sunnah hingga kami tinggal di situ.”[1]

Makna laa nusabbib, kami tidak melakukan shalat sunnah. Ada yang berpendapat, maksudnya adalah shalat sunnah Dhuha. Intinya adalah bahwa itu merupakan warisan yang baik di tempat yang ditinggalkan oleh para sahabat. Sesungguhnya tempat tersebut akan menjadi saksi pada hari kiamat bagi orang-orang yang beramal shalih dan menjadi saksi orang-orang yang melakukan amal-amal yang buruk.

Allah ta’ala berfirman:

Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Rabb mu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya. (QS. Az-Zalzalah: 4-5).

Firman Allah ta’ala:

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Yaasiin: 12)

Memperbanyak berdzikir kepada Allah akan menjadikan seorang hamba selalu disertai oleh Malaikat, cukuplah itu menjadi suatu keutamaan.

Rasulullah shollaullohu alaihi wassalam bersabda:

Tidaklah seorang musafir di dalam perjalanannya berkhalwat dengan Allah dan berdzikir kepada-Nya, melainkan ia akan disertai oleh Malaikat dan tidaklah ia mengisi perjalanannya dengan sya’ir dan sebagainya, melainkan syaitan akan menyertainya.[2]

Hal ini menjelaskan kepada kita jauhnya perbedaan, antara orang yang menantiasa menghidupkan kaset Al-Quran dan ceramah-ceramah agama di dalam kendaraannya, dengan orang yang asyik mendengarkan music, nyanyian dan sejenisnya di dalam perjalanannya. Boleh jadi suatu peristiwa atau kecelakaan terjadi di dalam perjalanannya sehingga datang padanya ajal dan ia mati dalam keadaan su’ul khatimah. Wal’iyadzubillah.

Dikutip dari: Ensiklopedi Adab Islam 2; Abdul Aziz bin Fathi As-Sayyid; Pustaka Imam Asy-Syafi’i

[1] HR. Abu Daud (2551) dari Anas radhiallahu anhu. Lihat kitab Shahiih Abi Dawud (2224).

[2] HR. Ath-Thabrani dalam kitab Al-Kabiir (895/17) dari Uqbah bin Amir. Lihat Kitab Shahiihul Jaami’ (5706).

Comments are closed.