Memalsukan Nasab Anak Kepada Selain Ayahnya dan Pengikraran Ayah Terhadap Anak Sendiri

0

Menurut syariat islam, seorang muslim tidak dibenarkan menasabkan diri kepada selain ayahnya, atau menggolongkan diri kepada selain kaumnya. Sebagian orang ada yang melakukan hal tersebut untuk tujuan materi, sehingga menulis nasab palsu dalam surat-surat dan dokumen penting untuk memudahkan urusannya. Sebagian lain ada yang melakukannya karena dendam kepada sang ayah yang meninggalkan dirinya sejak kecil.
Semua perbuatan di atas hukumnya haram. Perbuatan tersebut melahirkan kerusakan besar di banyak bidang persoalan, misalnya dalam urusan mahram, nikah, warisan dan sebagainya. Dalam sebuah hadits marfu’ dari Sa’ad bin Abi Bakrah radhiallahu anhu disebutkan:
Barangsiapa mengaku (bernasab) kepada selain ayahnya, sedang ia mengetahuinya, maka haram baginya surga.
Jadi menurut ketentuan syariat, haram hukumnya mempermainkan nasab atau memalsukannya. Sebagian laki-laki apabila terjadi pertengkaran dengan istrinya, menuduhnya berselingkuh dengan laki-laki lain, sehingga ia tidak mengakui anaknya sendiri tanpa bukti apapun, padahal anak itu jelas-jelas lahir dari hubungan antara dirinya dengan istrinya.
Sebagian istri juga ada yang berkhianat. Misalnya dia hamil dari hasil zina dengan lelaki lain, tetapi kemudian ia menasabkan anak tersebut kepada suaminya yang sah. Orang-orang sebagaimana disebutkan di atas, mendapat ancaman yang keras dari Allah ta’ala.
Abu Hurairah radhiallahu anhu meriwayatkan, bahwasannya ia mendengar rasulullah shollaulohu alaihi wassalam bersabda, pada saat turun ayat mula’anah:
Perempuan manapun yang menggolongkan (seorang anak) kepada suatu kaum, padahal dia bukan dari golongan mereka, maka Allah ta’ala berlepas diri dari padanya dan tidak akan memasukkannya ke dalam surga. Siapa saja dari laki-laki yang mengingkari anaknya, padahal ia melihatnya (sebagai anaknya yang sah), maka Allah ta’ala akan menutup diri darinya dan akan mempermalukannya di hadapan orang-orang terdahulu dan orang-orang yang sesudahnya.

Dikutip dari: Dosa-dosa Yang Dianggap biasa; Syaikh  Muhammad bin Shaleh Al-Munajjid; Kantor Dakwah-Sulay; Penerjemah, Ainul Harits Umar Thayyib ; Islamic Propagation Office In Rabwah; www.islamhouse.com

Leave A Reply