Melibatkan Diri Di Tengah Masyarakat dan Sabar Terhadap Gangguannya

0

Muslim yang sesungguhnya haruslah melibatkan diri di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan yang dilancarkan oleh orang yang berniat jahat, sebab hal itu sudah merupakan tuntutn baginya, sebagai seorang dai yang menyampaikan risalah. Karena itulah, siapa yang telah memilih jalan hidupnya untuk menjadi  dai yang membawa misi besar, harus membiasakan diri untuk berkorban di dalam menjalankan kewajiban, sabara menerima tanggung jawab/amanat risalah dan mengemban tanggung jawab dakwah yang di antaranya harus sabar menghadapi beragam perilaku manusia, keburukan sikap mereka, kata-kata penuh dusta, licik dan keengganan mereka dalam menerima kebenaraan.

Hal semacam itulah yang akan dihadapi oleh para dai, yaitu berbagai tantangan yang bertubi-tubi dan beragam jenisnya yang semua itu hendak menghambat lajunya dakwah. Jika mereka sabar pada saat demikian seolah-olah mereka mendapat kekuatan yaitu berupa petunjuk nabi saw yang akan memperkuat azam kaum yang beriman dan mengikat hati meneguhkan pendiriann dan yakin sepenuhnya bahwa orang-orang yang sabar dalam menjalani dakwah akan memetik buah yang lezat. Mereka akan mendapat tempat yang baik di sisi Allah.

Rasulullah saw bersabda:

Mukmin yang terjun dalam kehidupan masyarakat dan bersabar atas segala gangguan mereka, lebih baik daripada mukmin yang tidak melibatkakn diri  dalam kehidupan masyarakat dan tidak bersabar terhadap segala gangguan mereka. (HR. Bukhari).

Kisah tentang kesabaran nabi saw dan para nabi sebelumnya tercantum di dalam al-qur’an, mereka selalu menghadapi gangguan dan cobaan dari para musuh dengan penuh kesabaran, lapang dada, tegar dan sabar.

Contoh tentang kesabaran rasulullah saw di antaranya seperti apa yang diriwayatkan oleh syaikhon, yaitu ketika nabi saw membagi suatu benda. Tiba-tiba seorang Anshor berkata, “Demi  Allah, sesungguhnya benda itu hanya cukup untuk satu  bagian bukan dengan apa yang dikehendaki Allah ta’ala.” Kata-kata yang menyakitkan itu  di dengar rasulullah saw, maka beliau memberikan benda itu kepada lelaki Anshor itu. Beliau marah, wajahnya berubah  merah, lalu berkata, “Nabi Musa telah diuji dengan ujian yang lebih besar dari ini, tetapi beliau  tetap sabar.” Setelah mengucapkan kalimat yang pendek itu beliau  diam, Nampak hilang marahnya, hal itu menunjukkan hati beliau yang mulia dan sabar.

Semua nabi dan para dai di setiap jaman, mempunyai hati yang baik dan sabar menghadapi beragam corak manusia di sekelilingnya, karena tanpa bekal itu  pasti dakwah islam tidak akan berkembang.

Meskipun kaum muslimin bergaul dan hidup di tengah-tengah masyarakat yang jahat dan bersikap keras, hal itu tidak mengurangi kemurnian hati dan kesabarannya dalam menghadapi mereka.

Jangan sampai tergelincir melakukan kejahatan dan kekejian seperti apa yang mereka lakukan. Karena itulah seorang mukmin harus pandai menempatkan diri di dalam pergaulan dan pandai menjaga peranannya dalam  menyampaikan dakwahnya, sehingga mereka akan merasakan kelembutan hati dan sikapnya, inilah  suri tauladan yang dicontohkan nabi saw sebagaimana riwayat imam Bukhori dari Aisyah  ra:

Seorang lelaki meminta ijin kepada nabi  saw, bahwa seorang badui yang ingin bertemu dengan rasulullah saw. Beliau  mengijinkan dan menerima si badui itu dengan pelayanan yang sangat baik disertai dengan kesabaran hingga pertemuan itu usai dan si badui pulang.

Dengan pelayanan yang baik dan kesabaran tinggi, beliau tidak menyumbat mulut si badui yang terkenal kasar omongannya sehingga si badui  tidak sempat melontarkan kata-kata kotor kepada nabi.

Aisyah ra berkata:

Setelah laki-laki itu pulang, saya berkata kepada nabi saw, “Ketika anda mendengar pembicaraan dia, baginda bersabda begini, begitu dengan wajah yang berseri-seri, berlaku baik/sopan kepadanya.” Jawab nabi, “Sungguh sejahat-jahat manusia di sisi Allah pada hari kiamat yaitu orang yang ditinggalkan orang-orang karena khawatir kejahatannya akan menular.” (HR. Bukhari).

Abu Darda berkata, “Sesungguhnya kami tetap tersenyum menghadapi suatu kaum padahal sesungguhnya kami membenci mereka.”

Demikianlah sikap yang dicontohkan rasulullah dalam menghadapi orang yang berperangai keras dan kasar sikap semacam itu sangat mendidik dan menuntun umatnya agar bersikap lemah lembut, ramah, sabar, sopan dalam berbicara kepada siapa pun, muslim atau non muslim. Seorang muslim hendaknya tidak kehilangan akal dalam menghadapi tingkah  laku mereka, untuk turut kepada kebenaran, jangan sampai kita kehilangan akhlak saat menghadapi kebrutalan orang yang tidak berakhlak.

Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. (QS. Al-Furqan: 63)

Dikutip dari: DR. Muhammad Ali Hasyimi; Apakah Anda Berkepribadian Muslim?; Gema Insani Press

 

Leave A Reply