Mazhab Apa Masuk Mula-mula Ke Aceh?

0

Ada sebuah pertanyaan yang berhubungan dengan keadaan masuknya Islam ke Indonesia, yaitu dalam bentuk aliran mazhab mana, mazhab Syafi’i-kah atau mazhab Syi’ah. Pertanyaan ini tidak mudah dijawab, apalagi jika dipikirkan bahwa keadaan mazhab itu dalam masyarakat Islam ibarat ukuran panas, kadang-kadang naik digerakkan oleh kegiatan penganut-penganut aliran itu, kadang-kadang turun dikalahkan oleh aliran lain, manakala penganut-penganut aliran yang kalah itu tidak kelihatan lagi kesungguhannya.

Mengenai Pase dan Perlak kita agak mendapat penerangan yang lebih jelas. . Ibn Batuttah, oleh karena ia selain pengarang juga seorang ulama, dapat membeda-bedakan mazhab dalam Islam. Dan oleh karena itu tatkala dia menemui “Sultan Jawa” (Samudra) Malikuzh Zhahir, ia menceriterakan bahwa raja itu dikelilingi oleh orang-orang besar dalam bidang hukum, seperti Syarif Amir Sayyid Asy-Syirazi dan Tajuddin Al-Ashfahani dan lain-lain ulama-ulama dan fuqaha. Ia menceritakan.bahwa Sultan Malikuzh Zhahir itu seorang Islam yang bermazhab Syafi’i, dicintai oleh ulama-ulama fiqhnya, selalu ia menghadiri pengajian-pengajian dan pertemuan-pertemuan. Ia banyak mengerjakan jihad dan peperangan terhadap kafir. Ia pergi ke Masjid berjalan kaki untuk melakukan sembahyang Jum’at, penduduk negerinyapun bermazhab Syafi’i juga orang-orang yang mencintai jihad terhadap negeri-negeri yang belum masuk Islam, negeri-negeri karir yang sudah dikalahkan membayar jizyah (upeti) kepada raja Malikuzh Zhahir. Ibn Batuttah pernah sembahyang Jum’at bersama-sama Sultan sebelum ia diterima menghadap. Dalam pertemuan dengan Sultan, Malikuzh Zhahir bertanya tentang beberapa banyak masalah fiqh mengenai mazhab Syafi’i, yang dijawab oleh Ibn Batuttah satu persatu sampai waktu asar sore hari. Kelihatan Sultan senang sekali dengan pembicaraan mengenai hukumhukum Islam menurut mazhab Syafi’i itu.

Barangkali sudah dapat kita ambil kesimpulan, bahwa Islam yang masuk ke Perlak dan Pase ilu tak dapat tidak dalam zaman Malikuzh Zhahir dalam mazhab Syafi’i. Sebelumnya belum tentu dalam mazhab Syafi’i.

Cuma saya belum berkeyakinan bahwa Islam masuk ke Al Rami atau Aceh Besar pada permulaannya sudah dalam bentuk mazhab Syafi’i. Kita ketahui bahwa Aceh Besar zaman Poli sudah pernah dipengaruhi oleh agama Hindu Mahayana dan bahwa agama Islam masuk kesana dari dua jalan pertama dari Pase melalui anak Sultan Malikuzh Zhahir, kedua yang mungkin datang dari Irak, Yaman dan India, daerah-daerah yang sudah pernah terdapat di sana paham-paham Syi’ah. Ibn Batuttah pernah mengunjungi Irak dan ia kunjungi makam kuburan Sayyidina Ali di Nejet. Diceritakannya, bahwa Nejet itu sebuah kota yang ramai dan indah. Penduduknya bermazhab Syi’ah Rafidiyah, dan “mereka itu adalah saudagar-saudagar yang keluar ke seluruh pojok dunia” (dipetik melalui buku Donoldson, Aqidah Syi’ah).

Maka timbullah pertanyaan apakah tidak ada juga orang-orang membawa agama Islam ke Aceh Besar itu dalam bentuk mazhab Syi’ah. Saya yakin mungkin demikian.

Di Persi pelajaran Syi’ah ini (ajaran-ajaran yang mempercayai dua belan imam) sampai abad ke XVI dalam pemerintahan dinasti Safawi diakui sebagai agama negara, kira-kira sampai pemerintahan Ahli Sunnah, yang kekuasaan politiknya berada dalam tangan pemerintahan sultan-sultan Turki Usmaniyah yang perkasa itu. Oleh karena itu antara Persi dan Turki terdapat suatu daerah yang politik agamanya sangat bertentangan antara satu dengan lain dan yang masalah-masalah khilafiyah sangat ditonjol-tonjolkan dengan sifatsifat agama yang fanatik.

Umumnya daerah Arab selatan sangat dipengarui oleh Zaydiyah salam satu mazhab Syi’ah yang sampai sekarang masih berkembang dalam sebagian Hadramaut dan Yaman, dari mana banyak orangorang Arab datang ke Indonesia.

Amal ibadat golongan Syi’ah ini serta keyakinannya meluas sampai tanah Hindustan, tetapi sesudah keluar dari Persi sudah banyak bercampur dengan ahli sunah, sehingga sukar membedakan kembali antara kedua keyakinan itu. Aliran ini dengan kedatangan agama Islam ke Indonesia melalui India terbawa juga dan sampai waktu yang akhir masih kelihatan bekas-bekasnya. Perhubungan dunia antara Indonesia dengan negara-negara Islam, istimewa dengan Mekkah dan Mesir, menyebabkan bekas-bekas keyakinan Syi’ah itu lenyap dari masyarakat kaum muslimin Indonesia, tetapi beberapa kejadian seperti upacara merayakan hari kesepuluh Muharram atau Asyura (perayaan yang ditujukan untuk memperingati hari keguguran kedua anak Sayyidina Ali yaitu Hasan dan Husin, yang bagi Syi’ah adalah imam yang kedua dan ketiga) masih terdapat di beberapa tempat di Indonesia. Perayaan tabut Hasan Husin baru saja terhapus dari beberapa daerah di Sumatera pada waktu yang akhir-akhir ini.

Demikian kita catat beberapa hal mengenai Syi’ah menurut D.G. Stibbe Encyclopaedic van Nederlandsch Indie 2de dr., ‘s-Gravenhage, 1919, 3de, hal. 749 – 795.

Memang saya tidak mudah melepaskan kebenaran bahwa paham aliran Syi’ah pernah datang di Aceh Besar. Saya sebagai anak yang lahir di Kutaraja (umur saya sekarang 53 tahun) masih mendapati di tempat kelahiran saya yaitu kampong Kedah, beberapa orang Syi’ah yang tinggal di Kampung itu dekat kuburan Tengku Anjong, dan masih ingat cerita-cerita yang dikemukakan mereka, yang kemudian saya ketahui tidak lain daripada cerita-cerita yang berlaku dalam kalangan Syi’ah. Tengku Anjong adalah seorang Syayid dari suku Bilfaqih, .yang datang dan tinggal di kampung itu mengajar dan meninggal di sana. Ia meninggal menurut Dr. C. Snouck Hurgronye dalam tahun 1783 M. dan dianggap salah seorang wali yang keramat. Saya sebagai anak imam kampung, leluasa keluar masuk kuburannya yang dikurung dengan trali dan dikunci. Pada waktu saya mula-mula belajar Qur’an dilakukan suatu upacara di kuburan itu. Saya dipakaikan sebuah jubahnya berwarna kuning daripada sutra bersulam sebuah jubah yang besar, yang hampir sama dengan jubah yang dipakai Ibn Sina dalam lukisan-lukisannya, hingga saya terbungkus hilang kedalamnya. Kopiyah yang dipakai di atas kepala saya panjangnya hampir 40 cm., dan diperbuat seperti disulam. Orang dapat melihat kopyah-kopyah itu dalam gambaran orang-orang Persi yang bermazhab Syi’ah.

Saya turut banyak kali dalam perayaan tabut Hasan Husin yang saban tahun diadakan di Kutaraja serta perabot-perabotnya baru saja disingkirkan dari sebuah rumah yang terletak di kampung Kedah di depan tempat tinggal Tuanku Raja Keumala. Keluarga India yang saya ingat memainkan rol yang penting dalam upacara tabut Hasan Husin itu masih terdapat di kampung Kedah, keluarga Merasab, yang sudah terlebur ke dalam masyarakat Aceh, diantaranya masih ada seorang yang sekarang terkenal dengan Husen Sab. Merasab mungkin Meurah Sahib atau Mir Sahib.

Salah satu dari upacara Syi’ah yang saya ingat pernah berlaku di kampung saya, dirayakan dengan memasak bubur yang bercampur buah-buahan di samping jalan dan dibagi-bagikan kepada segala yang lalu lintas sebagai menghormati kejadian yang sedih di Karbala. Mandi pada hari Rebo Habeh, Arba-a akhir bulan Safar, yang juga terdapat hampir seluruh Indonesia, misalnya di Jawa dengan nama Rebo Wekasan, pernah saya alami di kampung saya secara besarbesaran. Pada waktu itu orang-orang keluar kelaut, Kuala Aceh, pergi mandi-mandi dan mengunjungi kuburan Teungku Ciah Kuala, dengan niat untuk menghilangkan sial dan menahan dirinya daripada bahaya malapetaka yang menurut keyakinan mereka turun dalam bulan Safar. Hal ini pernah diceritakan juga dalam De Acehers, di. j . I, hal. 219. Pada hari itu orang menulisi secarik kertas atau pada daun kelapa muda ayat-ayat Qur’an sebanyak 7 ayat yang akan dimasukkan kemudian kedalam sumur atau dicampakkan kedalam kali atau lautan di mana mereka mandi-mandi bersama-sama. Semua ini ada hubungannya dengan kehidupan orang-orang Hindustan atau orang lain yang menganut faham Syi’ah.

Tidak ada saya dapati dalam kesusasteraan Indonesia selain dalam bahasa Aceh cerita Hasan-Husin dan hikayat Nafiah, yang begitu mengharukan dan indah ditulis orang, sehingga saya menyangka bahwa kitab-kitab itu dikarang oleh Syi’ah untuk memperkenalkan pahlawan-pahlawannya.

Dalam cerita Hasan-Husin ditekankan kezaliman yang dilakukan orang kepada kedua cucu Nabi Muhammad itu, baik oleh Yazid yang menggunakan istrinya untuk meracuni Hasan atau untuk membunuh Husin, guna mengambil istrinya. Cerita itu dipilih demikian rupa, begitu juga hikayat Nafiah, yang tidak dari pada Muhammad Hanafiah, sehingga seakan-akan ceritera tersebut bukanlah terjemahan tetapi asli dalam bahasa Aceh (de Acehers II : 180).

Banyak hal-hal yang lain yang merupakan bekas aliran ini, seperti mengenai Tassawuf dan terekat menurut faham Wihdatul wujud dan huiuliyah, menggunakan pendupaan, penghormatan kepada golongan Sayid, yang sampai sekarang berlaku di seluruh Aceh, bahkan dengan menggunakan kata sanjungan banghulee kepada tiap orang yang bernama Sayid, keturunan dari cucu Nabi, upacara kelahiran, kematian, permainan saman, seudati, rapa’i dan berdabus dan lain-lainnya menunjukkan bahwa faham Syi’ah pernah menjalar di Aceh.

Berita yang akat kuat dasarnya menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang Arab pergi ke Timur Jauh sekitar masa pemerintahan khlifah Utsman. Memang pada waktu itu sudah ada perselisihan yang membelahkan orang Islam dalam dua bagian, golongan yang pro Khalifah Abu Bakar dan Umar, juga golongan yang ingin mempertahankan kedudukan Khalifah untuk Ah bin Abi Thalib, sebagai keturunan Rasulullah.

Perselisihan paham ini kemudian menjadi lebih hebat dalam masa Mu’awiyah dan Abbasiyah di mana keturunan Ali bin Abi Talib itu dihinakan dan disakiti, orang-orang Syi’ah pengikut Ali yang ketika itu bernama Alawiyin, merasa tidak aman tinggal di daerah-daerah Muawiyah dan Abbasiyah.

Lalu mereka menyingkir mula-mula ke daerah-daerah kedekat sebelah timur dan akhirnya makin bertambah jauh dan sampailah mereka ke Asia Timur dan Tenggara. Tentu saja banyak di a n t a r a mereka yang turut juga bersama orang-orang dagang dan pelaut.

Al-Haddad menceritakan tentang penaburan keturunan orangorang Alawi ini dalam kitabnya “Sejarah Perkembangan Islam di Timur Jauh” (Jakarta 1957). Di antara lain ia menulis, bahwa kedatangan Islam oleh golongan Syayid (Alawiyin) ke pulau-pula..Timur udah lama diketahui tetapi beberapa ahli ketimuran Barat yang menulis tentang kedatangan Islam ke Timur Jauh sedapat m u n g k in menjadikan kedatangannya ini sebagai suatu hal yang baru (hal. 39). Dalam kitab ini dibentangkan kemana orang-orang Arab suku Alawiyin pergi diberi silsilah satu persatu, ditunjukkan tempat yang meninggalkan kenang-kenangan kepada mereka. D a n banyak raia-raja yang berasal dari keturunan Alawiyin itu yang sampai sekarang ini masih menggunakan gelar-gelar yang menuhükkan kesukuan nenek moyang mereka. Bagi saya yang penting ialah bahwa kebanyakan di antara Alawiyin itu adalah bermazhab Syi’ah, karena mereka cinta kepada Ali bin Abi Thalib atau sekurang-kurangnya menaruh sfmpâti kepada aliran ini. Baik sadar atau tidak sadar mereka menyelipkan ajaran dan kehidupan Syi’ah itu dalam penyiaran Islamnya Orang-orang ini tersiar sampai ke Philipina. Al Haddad mengaskan, “Di sana (Philipina) telah masuk kaum Alawiyin diwaktu mereka melarikan diri dari golongan Bani Umaiyah. Mereka lalu menetap dan berkuasa di sana sampai mati dan dikuburkan di kepulauan itu yang letaknya di sebelah utara lautan ini, meskipun kepulauan ini banyak didiami oleh orang asing, mereka yang tidak ingin meninggalkannya walaupun mereka tidak hidup mewah-mewah.

Tentang negeri Sanf yaitu yang meliputi semua daerah-daerah yang terletak sesudah negeri-negeri Rangun dan Birma dikatakan sebagai berikut, “Penyiar agama Islam telah sampai di sana, di zaman Khalifah Usman dan di sanalah datang golongan Alawiyin yang lari dari golongan Bani Usmaniyah dan Al Hajaj. Mereka menyeberangi laut Zefti dan tinggal menetap di pulau yang terkenal dengan nama mereka (Alawiyin).”

Syihabuddin Akhmad Abdulwahab berkata dalam bukunya “Nihayatul Arab”, yang ditulis dalam 25 jibd, di halaman 220, jilid pertama :

“Di sebelah Timur dari Tiongkok ada enam pulau lagi yang dinamakan kepulauan Sila. Penduduknya adalah golongan Alawiyin yang datang melarikan diri dari golongan Bani Umaiyah”.

Ahli sejarah, Taqiyuddin Akhmad bin Ali Magrizi menerangkan dalam bukunya “Al Khutatul Magriziyah” halaman 25 jilid pertama sbb. :

“Di sebelah lautan Timur ini sesudah Tiongkok ada enam pulau lagi yang terkenal dengan nama pulau-pulau Sila, di mana telah datang sejumlah golongan Alawiyin pada permulaan Islam karena takut dibunuh.”

Nuruddin Muhammad Aufi, pelancong bangsa Persi, menerangkan, “Setelah penindasan atas golongan Asyrat (Syarif-syarif) Alawiyin, di masa sikap kerajaan Umaiyah kian bertambah keras, maka berhijrahlah setengah mereka itu ke perbatasan negeri Tiongkok. Di sana mereka mendirikan tempat tinggal baru di tepi sungai-sungai Mereka berdamai dengan Kaisar Cina dan tunduk kepada pemerintahannya, maka Baginda Kaisarpun lalu memberi pertolongan kepada mereka.” (Hal. 21 dan 22).

Dengan demikian masuklah faham Syi’ah ke Asia Timur, juga ke Aceh. Juga dalam abad-abad yang akhir mengenai kedatangan orang-orang Hadramaut ke Indonesia tidak terlepas dari mereka yang menganut faham Syi’ah Imamiyah, Ja’fariah, Paham Ahb Sunnah yang mereka masukkan merupakan Syafi’iyah atau Salaf. Mazhab Syi’ah (Ja’fariyah dan Zaidiyah), lebih dekat kepada Ahli Sunnah daripada Syafi’i kepada Hanafi (baca Al Rihlah Al Muqaddasah, karangan Kamal, hal. Zay).

Oleh karena itu saya berpendapat bahwa antara mazhab Syafi’I (ahli Sunnah) yang juga termasuk mazhab mula-mula masuk ke Indonesia (baca Ibn Batuttah) dengan mazhab Syi’ah Imamiyah yang mungkin tersiar pada hari-hari pertama di Aceh (lihat zaman Alaiddin Syah, hal. 113) tidak ada perbedaan yang menyolok. Kebanyakan penganut-penganut Imamiyah, yang sebagian besar terdiri daripada keturunan Ali bin Abi Thalib atau sahabat yang memihak kepadanya, bermahzab Syafi’i, karena mazhab inilah yang terdekat kepada mazhab Syi’ah, karena Muhammad Idris Asy-Syafi’i adalah salah seorang pendiri mazhab yang terdekat hubungan keluarganya kepada nabi Muhammad, begitu juga mengenai ijtihad-ijtihad dalam ilmu fiqh tidak begitu berbeda dengan Syi’ah Ja’fari dan Zaidi, yang merupakan keyakinan sebagian besar juga daripada ummat Islam di Persi, Arab Selatan, Asia Kecil dan Afrika Utara.

Memang belum ada alasan bagi saya untuk mengatakan bukan mazhab Syi’ah yang mula-mula masuk bersama Islam ke Indonesia, karena masih didapat orang buktinya sampai sekarang ini, misalnya uraian dalam kitab-kitab sejarah dari pengarang-pengarang timur dan barat, kecintaan kepada golongan yang bernama Habib, bubur Asyura, perayaan Hasan-Husin dan tabut, peringatan Karbala, cerita peperangan Yazid, tasawuf dan tarikat yang bersilsilah kepada Rasulullah melalui Ali, ajaran Hululiyah dalam ilmu-ilmu Wali Songo dan lain-lain, meskipun saya mengaku dalam masa pemerintahan Malikuzh Zhahir di Aceh Ibn Batuttah menceritakan, bahwa mazhab Islam pada ketika itu, yang dianut raja dan pembesarnya adalah Syafi’i. Tetapi beberapa orang raja sebelumnya disebutkan dalam catatan sejarah lain masih bermazhab Syi’ah.

Memang sukar bagi kita untuk mengatakan sekali pukul, bahwa mazhab Syafi’i-lah yang mula-mula berkembang di Indonesia bersama-sama kedatangan Islam dengan keterangan-keterangan sebagaimana yang saya sudah kemukakan. Cerita bahwa mazhab Syafi’i dibawa oleh orang-orang yang mengerjakan haji dan mengajar di Mekkah, sebagaimana cerita adanya ulama Syafi’i dan Mufti dari bangsa kita, semua itu dapat saya terima sebagai perkembangan mazhab ini dihari kemudian sesudah Syi’ah, karena yang saya kupas ialah mazhab apa yang terdapat pada hari-hari pertama pada beberapa tempat di Aceh dan di Indonesia.

Apabila di sini kita bicarakan Syi’ah, maka yang kita maksudkan ialah aliran yang benar, yang fahamnya mengenai aqaid dan fiqh terdapat pada Ahli Sunnah wal Jama’ah.

Syi’ah Isna Asyar Immamiyah merupakan suatu aliran ummat Islam yang tidak kecil, yang juga sebagai Ahli Sunnah wal Jama’ah mempunyai kitab-kitab agama yang lengkap dalam segala bidang ilmu seperti ilmu fiqh, ilmu tauhid, ilmu hadits dan ilmu tafsir yang berisi kupasan mengenai pokok-pokok dan cabang-cabang agama, usul dan furu’, sebagaimana terdapat dalam kitab-kitab yang lain.

Mengenai usuluddin mazhab Syi’ah ini tidak berbeda dengan Ahli Sunnah wal Jama’ah, dan memang tidak diperbolehkan berbeda.

Usuluddin itu terdiri dari tiga keyakinan, pertama keyakinan adanya satu Tuhan, kedua keyakinannya ada Nabi dan Rasul Tuhan dan ketiga adanya hari kebangkitan. Dalam bahasa Arab ditulis ringkas At-Tauhid, An-Nubuwwah dan Al-Ma’ad. Semua mazhab, baik Ahli Sunnah, Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hambali dan lain-lain baik mazhab Syi’ah, seperti Ja’fariyah-Imamiyah dan Zaidiyah, sama mempertahankan dengan tidak ada perselisihan faham dalam keyakinan tiga pokok ini.

Apakah beda Syi’ah dan Ahli Sunnah ? Perbedaan yang menyolok hanya satu yaitu bersifat furulah. Perkataan Imamiyah telah menunjukkan bahwa golongan ini disamping pokok keyakinan di atas mewajibkan adanya seorang Imam sesudah wafat Nabi. Dengan alasan-alasan yang kuat mereka menetapkan bahwa Imam yang layak (afdal) sesudah nabi itu jatuh kepada Ali bin Abi Thalib kemudian kepada keturunannya.

Masalah Imam ini termasuk masalah ijtihad, karena Nabi sendiri tidak menunjukkan dengan tentu siapa gantinya. Pemilihan ini ditafsirkan orang dari ayat Qur’an dan Hadits yang umum pengertiannya, membuka pintu untuk ijtihad.

Sebagaimana kita lihat dalam sejarah orang berhak menunjukkan Abu Bakar sebagai ganti Nabi begitu juga orang berhak mempertahankan Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah sesudah Nabi. Orang-orang terakhir ini, meskipun belum menamakan golongan Syi.’ah, sudah ada dalam masa pertikaian pemilihan Khalifah sesudah wafat Nabi, mereka menamakan dirinya Alawiyah, artinya golongan yang pro Sayyidina Ali, seperti Abu Zar dan Salman Farisi.

Bukan tempatnya di sini saya membicarakan sejarah perkembangan mazhab Syi’ah, di sini saya hanya ingin memperkatakan secara ringkas suatu perbandingan antara Imamiyah (Syi’ah) dengan Saafpah (Ahli Sunnah) untuk melihat kedekatan ajaran-ajarannya, sehingga bagi setengah orang sukar membedakannya antara satu sama lain, kecuali jika paham ilmu perbandingan mazhab dalam Islam.

Imamiyah mempunyai ilmu fiqh yang merupakan mazhab sendiri didirikan oleh Imam Ja’far Assadiq (murid-muridnya adalah Imam Abu Hanifah dan Imam Malik bin Anas, dua Imam Ahli Sunnah wal Jama’ah), seorang taba’in dan keturunan Nabi Muhammad melalui Sifi Fatimah.

Murid-muridnya memperluaskan ilmu fiqh ini dan membuktikannya sampai 400 uraian, yang mereka namakan pokok fiqh 400 (usul arba’a mi’ah). Kemudian dibukukan dalam kitab besar yang kenamaan, Al-Kafi, Man la Yahduruhul Faqih, Al-Istibsar dan Al-Tahzib.

Inilah di antara kitab-kitab fiqh Al-Ja’far yang terpenting yang merupakan kumpulan Hadits Ahkam, yang digunakan oleh Imamiyah dalam menetapkan hukum-hukum fiqhnya. (lihat Ma’asy Syi’ah Imamiyah, Syria, 1956).

Saya perbandingkan beberapa kitab ini dengan kitab Umum, karangan Syafi’i atau kitab Syafi’i yang terpokok, misalnya karangan Al-Mazani dari Mutakaddimun Syafi’i dan saya dapati tidak banyak perbedaan antara kedua mazhab itu dalam masalah furu’. Jika terdapat perbedaan adalah kecil sekali tidak essensiil dan tidak penting, demikian kecilnya, sehingga bagi orang yang belum berkenalan dengan mazhab Ja’fari mungkin menyangkanya fiqh Syafi’i. Bacalah kitab-kitab Muchtasar Nafi, kitab fiqh yang dipakai di Universitas Al-Azhar sekarang ini dan bandingkan dengan kitab-kitab Syafi’i, akan didapati hampir tak ada perbedaannya dalam masalah usul dan furu’. Saya dapati demikian baik pada waktu memperbandingkan antara mazhab Syafi’i, Hanafi, Mabki dan Hambab dalam kitab Al-Fiqh ala mazahibil arba’ah, baik pada waktu membaca kitab Al-Fiqh alal mazahibil khamsah, karangan Moh. Jawad Mughnih yang berisi perbandingan antara fiqh Al-Ja’fari, Al-Hanafi, Al-Maliki, Asy-Syafi’i dan Al-Hanbali.

Sebagai misal kita sebutkan tayammum pada waktu ada air sebelum masuk waktu sembahyang, semua imam mazhab .itu mengatakan batal sembahyangnya. Kita ambil lagi sebagai contph Fatihah dalam sembahyang pada tiap-tiap rakaat. Hanafi mengatakan, bahwa Fatihah wajib pada dua rakaat yang pertama. Syafi’i mengatakan, wajib pada tiap-tiap rakaat sembahyang awal dan akhir. Maliki mengatakan juga demikian. Hanbali pun mengatakan demikian. Imamiyah mengatakan bahwa wajib pada dua raka’at pertama .saja. Jadi hampir semua sama pendapatnya bahwa dalam dua raka’at pertama pada tiap-tiap sembahyang Fatihah itu wajib, cuma berbeda pada dua rakaat yang kedua, ada yang mewajibkan, ada yang tidak. Demikianlah selanjutnya tidak saya perpanjangkan pembicaraan saya dua rakaat yang pertama. Syafi’i mengatakan, wajib pada di sini, cukup dengan mempersilahkan membaca kitab tersebut di atas untuk perbandingan.

Bukan saja zaman yang lampau, sekarangpun masih banyak terdapat orang-orang Syi’ah yang beribadat seperti ibadah menurut mazhab Syafi’i, tidak mudah dikenal orang, bahwa mereka beribadat menurut fiqh. Ja’fari atau Zaidi, yang terakhir ini merupakan mazhab kebanyakan orang Yaman, yang banyak juga terdapat di Indonesia.

Jika kita sekarang ini sukar membedakan antara penganut Syi’ah dan Syafi’i, apatah pula dimasa purbakala, dikala bangsa kita mulai menganut agama Islam. Tentu tidak mudah adanya. Memang tidak perlu ada perbedaan antara mazhab-mazhab dalam Islam, yang sama mempunyai usuluddin sebagaimana saya sebutkan di atas. Perbedaan dalam masalah furu’ adalah hasil ijtihad untuk menyempurnakan usuluddin itu, yang hampir bagi tiap mazhab memperlihatkan perbedaan yang kecil-kecil, sebagaimana untuk Syafi’i begitu juga untuk Ja’fari, Hanbali dan mazhab-màzhab yang lain.

Dalam pada itu banyak sekali hal-hal yang bersamaan, misalnya tentang rukun iman dan rukun Islam, tentang pengertian buruk dan baik, tentang mencintai semua sahabat Nabi kecuali memberi keutamaan lebih banyak kepada Ali bin Abi Thabb sebagai keluarga Rasullullah terdekat, tentang cara berijtihad dalam hukum furu’ kecuali Syi’ah membuka pintu ijtihad itu sepanjang waktu. Persamaan dalam ibadat dan muamalat dan lain-lain sebagaimana terdapat pada mazhab yang lain. Demikian banyak persamaannya, sehingga pada waktu yang terakhir ini fiqh Syi’ah itu juga dijadikan mata pelajaran pada universitas Al-Azhar di Mesir, dimana didirikan juga suatu badan untuk memperdekatkan semua mazhab dalam Islam yang bernama Darut Taqrib bainal mazabil Islamiyah, yang dipimpin oleh ulama-ulama besar, diantaranya Al-Baquri, Moh. Taqiyuddin al Qummi, dan Syaitut dan yang sudah bertahun-tahun mengeluarkan majalah Risalatul Islam dimana tiap mazhab boleh mengupas masalahnya masing-masing secara ilmiah dengan tujuan mendekatkan dan menanam persatuan dan saling pengertian baik, bukan melahirkan antagonisme.

Ada beberapa masalah yang membedakan antara Syi ah dan Ahli Sunnah (Syafi’i). Satu diantaranya masalah Imamah, yang sudah kita singgung di atas. Masalah Imamah ini dibicarakan juga dalam mazhab-mazhab yang lain, meskipun tidak setegas dalam mazhab Syi’ah yang harus terpelihara dari kejahatan dan cacat cela. Imamah ini dimaksudkan hanya dalam pimpinan rohani, bukan dalam pimpinan sembahyang dan persoalan negara. Tetapi perbedaan furu’ itu bukan alasan perpecahan.

Penutupan pintu ijtihad bagi mereka berarti menyempitkan agama. Berselisih paham antara satu mazhab dengan mazhab yang lain dalam Islam, terutama dalam masalah furu’ tidak berarti menentang agama, dan tidak berarti berlawanan dengan Qur’an dan Sunnah.

Perbedaan yang merupakan kepribadian Syi’ah ialah rasa hormat yang sangat terhadap Ali bin Abi Thalib dan anak cucunya. Hal ini tidak mengherankan kita, karena kitapun diperintahkan berselawat dan salam kepada keluarga Nabi, di luar dan di dalam sembahyang. Mengapa cintanya tertumpah kepada Ab bin Abi Thalib dan anak cucunya? Kitapun dapat merasakannya, bahwa pengorbanan Abu Thalib, pengorbanan Ali kepada Nabi tidak terbatas. Hadits-hadits yang mengutamakan Ali di samping Rasulullah sangat banyaknya pemboikotan terhadap keluarga Ali penghinaan dan kekejaman terhadap Hasan dan Husin serta anak cucunya oleh Mu’awiyah, sebagai lanjutan dendam Abu Sufyan dari Bani Umaiyyah terhadap Bani Hasyim, sangat melukakan perasaan golongan Syi’ah yang di dalamnya banyak terdapat keturunan Ali dan keturunan sahabatsahabat yang mencintainya.

Bacalah lebih lanjut mengenai hal ini kitab Ma’asi Syi ah al-Imamiyah, karangan Muhammad Jawad Mughnih, ketua Mahkamah Syar’iyah Ja’fariyah Tertinggi, di Libanon, 1956.

Memang penyelidikan kita masih jauh mengenai persoalan masuknya Islam ke Indonesia di Aceh. Jika nisan-nisan yang tertulis itu sudah sekian banyaknya, yang akan dijelaskan (ontcijferen), sebagian besar dari orang-orang Syi’ah, yang membolehkan nisan berukir itu, betapakah pula banyaknya nisan-nisan yang tidak tertulis, yang hanya terdiri dari sebuah batu gunung, pada kepala dan kaki orang-orang salaf dan salih itu, yang barangkali banyak pula membawa sumbangan dalam penyiaran agama Islam di Sumatera Utara, banyak yang tidak kita ketahui. Mereka tidak meninggalkan namanya karena takut ria dan takabur mereka tidak mengharapkan pujian dari pada kita, balasan dan syukur atas jihadnya, mereka hanya mempersembahkan amalnya kepada Tuhan belaka. Tuhan yang abadi, yang tidak mengenal batas waktu dan masa. Kita manusia, yang hanya berumur setahun jagung dan berdarah setampuk pinang, bersifat lemah dan bernyawa rapuh, hanya meraba-raba dalam gelap gulita untuk mengetahui, apa yang hanya beberapa ratus tahun sudah terjadi.

Tetapi, meskipun demikian, barang siapa berjihad atas jalannya, Tuhan akan menunjukkan jalannya.

Dikutip dari: Sekitar Masuknya Islam Ke Indonesia; Prof. Dr. H. Aboebakar Aceh; Ramadhani-Solo.

 

Leave A Reply