MARI LURUSKAN TAUHID KITA

0


Tauhid adalah meyakini keesaan Allah dalam rububiyyah, ikhlas beribadah kepada-Nya serta menetapkan bagi-Nya nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Tauhid terbagi dalam tiga macam : (1) Tauhid Rububiyyah,   (2) Tauhid Uluhiyyah dan (3) Tauhid Asma’ wa Sifat.

             
v  TAUHID RUBUBIYYAH
Tauhid Rububiyyah adalah meng-esakan Allah Swt dalam segala perbuatan-Nya dengan meyakini :
Ø  Bahwasanya Allah sendiri yang menciptakan seluruh makhluk dan alam semesta (QS 39: 62).
Ø  Bahwasanya Allah adalah Pemberi rizqi bagi setiap manusia, binatang dan makhluk lainnya (QS 1: 6).
Ø  Bahwasanya Allah adalah Penguasa alam dan Pengatur semesta, Dia Yang Mengangkat dan Menurunkan, Dia Yang Memuliakan dan Menghinakan, Maha Kuasa atas segala sesuatu, Pengatur rotasi siang dan malam, Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan ( QS 3: 26-27).
v  TAUHID ULUHIYYAH
Yang dimaksud dengan Tauhid Uluhiyyah adalah meng-esakan Allah Swt dalam ibadah dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah Swt) yang disyari’atkan Allah Swt, seperti : do’a, nadzar, qurban, raja’ (pengharapan), tawakkal, senang , khauf (takut), taubat. Jenis tauhid ini merupakan inti dakwah seluruh Nabi dan Rasul ‘alaihimus salaam.
Hal ini tegas dikatakan Allah Swt dalam firman-Nya  (QS 16: 36, QS 21: 25, QS 7: 59,65,73,85, QS 29: 16).
Begitu juga khabar yang disampaikan oleh Rasulullah Saw yang mulia dalam sabdanya : ”Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).
v  TAUHID ASMA’ WA SIFAT
Yang dimaksud dengan Tauhid Asma’ wa Sifat adalah beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya Saw menurut apa yang pantas bagi Allah Swt tanpa ta’wil(menafsirkan dengan makna tertentu tanpa dalil), tanpa ta’thil(menghilangkan makna atau sifat Allah Swt), dengan menjauhi takyif (mempertanyakan hakikat asma’ dan sifat Allah Swt dengan kalimat “bagaimana” dsb), dan tanpa tamtsil (menyerupakan Allah Swt dengan makhluq-Nya) berdasarkan  firman Allah Swt : “Tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”  (QS 42 : 11).
Kita wajib mengimani Allah Swt dengan nama dan sifat yang Dia berikan untuk diri-Nya melalui Al-Qur’an  dan Hadits Rasul-Nya yang mulia.  Karena tidak ada yang lebih mengetahui tentang Allah Swt selain daripada Dia sendiri dan tiada seorang pun yang lebih mengetahui tentang-Nya -setelah Allah Swt- melainkan Rasulullah Saw. Barangsiapa yang mengingkari nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya atau menamakan Allah Swt dan menyifati-Nya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhluq-Nya atau menta’wilkan dari maknanya yang benar dengan tanpa dalil maka dia telah berbicara tentang Allah Swt tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah Swt dan Rasul-Nya sebagaimana firman Allah Swt : “Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah”(QS 18 : 15).
 Asma’ Allah Swt semuanya husna (sangat baik) seperti Ar-Rahmaan, Ar-Rahiim, Al-Hakiim, Al-‘Aziiz, Al-Kariim, As-Sami’, Al-Bashir, Al-‘Alim, Al-Khaliq
Sedangkan sifat-sifat Allah Swt terbagi menjadi dua bagian :
v  Sifat Dzatiyah yakni sifat yang senantiasa melekat dengan-Nya dan tidak terpisah dari dzat Allah Swt, seperti : ilmu, kekuasaan, mendengar, melihat, ‘izzah/mulia, tinggi, wajah, agung dll.
v  Sifat Fi’liyah yaitu sifat yang Dia perbuat jika berkehendak, seperti : bersemayam di atas ‘Arsy, turun ke langit dunia ketika tinggal sepertiga malam dan datang pada hari kiamat.
Lurusnya tauhid seorang hamba sangat ditentukan oleh keimanannya terhadap tiga jenis tauhid di atas.  Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak boleh terpisah satu dengan yang lainnya. Tidak dikatakan beriman seorang hamba jika hanya menyakini rububiyyah Allah Swt saja tanpa yang lainnya.  Seorang hamba akan sampai pada puncak keimanannya dan merasakan kenikmatan berislam jika dia sangat yakin, paham dan mengimani akan tiga jenis tauhid di atas sehingga dia akan melihat seluruh proses yang terjadi di alam tidak akan keluar dari tiga jenis tauhid tersebut.  Keimanan akan tauhid rububiyah sebagaimana yang diyakini Fir’aun (QS 17 : 102) dan kaum musyrikin (QS 23 : 86-89) tidak membuat mereka dianggap beriman kepada Allah Swt .
Wahai saudaraku …. semoga Allah Swt merahmati kita ……….
Sudah luruskah Aqidah kita …………  mari bermuhasabah sebelum datang hari hisab/perhitungan.
             
Syirik
a. arti syirik
Syirik dalam istilah Islam artinya menyekutukan Allah I dengan makhlukNya. Hal itu bisa terjadi jika seseorang memiliki suatu kepercayaan atau melakukan suatu perbuatan yang mengandung salah satu dari tiga perkara berikut ini:
  1. memberikan suatu bentuk peribadatan kepada selain Allah I, seperti berdo’a memohon kepada selain Allah, meminta sesuatu kepada selain Allah I padahal hanya Allah I yang bisa mengabulkannya; seperti rizki, jodoh, anak dll. Apalagi kalau peribadatan itu berupa sujud atau ruku’.
  2. mempercayai adanya zat selain Allah I yang mempunyai suatu kekuasaan atau kemampuan yang sebenarnya hanya dimiliki Allah I, seperti; menyembuhkan penyakit, melipat-gandakan hasil panen, melariskan dagangan, melindungi seseorang dari marabahaya, dll.
  3. menyamakan salah satu sifat Allah I dengan sifat makhlukNya, seperti; menyamakan penglihatan Allah I dengan penglihatan makhlukNya, menyamakan ilmu Allah I dengan ilmu makhlukNya, menyamakan keagungan Allah I dengan keagungan makhlukNya, dll.
b. bahaya syirik
  1. syirik adalah dosa yang paling besar, ia tidak akan diampuni / dimaafkan oleh Allah I, jika pelakunya tidak bertaubat sebelum mati. Sedangkan dosa besar selain syirik masih mungkin diampuni Allah I. Qs. 4:48.
  2. pelaku syirik akan diharamkan masuk surga dan akan dibakar di api neraka Jahannam selama-lamanya. Qs. 5:72.
  3. seluruh amal shalih dan kebaikan-kebaikan yang dikerjakan oleh pelaku syirik akan gugur sia-sia dan tidak akan ada pahalanya di akherat kelak. Qs. 39:65.
  4. syirik adalah suatu kedzaliman yang paling besar, sebagaimana nasihat Luqman al Hakim kepada putranya. Qs. 31:13.

Leave A Reply