Maqosidusy Syariah

0

 

 

بسم الله الرحمن الرحيم
مقاصد الشريعة
A.   Syari’at diturunkan oleh Allah untuk mewujudkan kemaslahatan
       hamba-hambaNya didunia dan akhirat.
Sesungguhnya tujuan diturunkannya syari’at Islam oleh Allah I adalah untuk mewujudkan kemaslahatan bagi hamba-hambaNya dan menghindarkan mudhorot dari mereka. Kemaslahatan yang akan diwujudkan oleh syariat itu meliputi seluruh kemaslahatan dunia dan akhirat, demikian juga mudhorot atau mafsadah yang akan dihindarkan dari mereka itu meliputi seluruh mudhorot dunia dan akhirat..Dengan melaksanakan syariat Islam akan terwujudlah bagi mereka kebahagiaan yang sejati di dunia dan akhirat. Hal ini telah ditegaskan oleh para peneliti (muhaqqiqun) dari kalangan ulama  Islam. Berikut ini beberapa kutipan dari perkataan mereka :
Al ‘Izz bin Abdus Salam berkata :
(( إن الشريعة كلها مصالح, إما درؤ مفاسد أو جلب مصالح ))
“Sesungguhnya syariat itu seluruhnya adalah maslahat, bisa berupa menolak mafsadah (mudhorot) atau mendatangan maslahat.”
Syaikhul Islam Ibnu Taymiah berkata :
إن الشريعة الإسلامية جاءت بتحصيل المصالح و تكميلها وتعطيل المفاسد وتقليلها
“Sesungguhnya syariat Islam datang untuk mewujudkan kemaslahatan-kemaslahatan dan semakin menyempurnakannya serta untuk meniadakan mafsadah dan semakin meminimalkannya.”
Demikian juga murid beliau , Imam Ibnul Qoyyim berkata ;
الشريعة مبناها و أساسها على الحكم ومصالح العباد في المعاش والمعاد, وهي عدل كلها و رحمة ومصالح كلها, وحكمة كلها.
“Syariat itu landasan dan asasnya adalah hikmah-hikmah dan kemaslahatan-kemaslahatan untuk manusia di dunia dan akhirat. Syariat itu seluruhnya adalah keadilan, rahmat, kemaslahatan-kemaslahatan dan hikmah.”
Imam Asy Syatibi berkata:
إنها – أي الشريعة –وضعت لمصالح العباد
“Sesungguhnya ia –yakni Syari’at- diturunkan untuk kemaslahatan hamba-hambaNya”.
Realita membuktikan bahwa apa yang telah dinyatakan oleh para ulama Islam tersebut adalah haq dan tidak diragukan sedikitpun dan perkataan mereka itu didukung oleh dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah.
Beberapa dalil yang mendukung hal tersebut,  antara lain:
 
                                                          
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. 21:107)
Risalah Muhammad saw tidaklah disifati oleh Allah  sebagai Rahamatan Lil ‘Alamin, kecuali karena ia benar-benar mencakup seluruh kemaslahatan untuk hamba-hambaNya dan menghindarkan mereka dari segala bentuk kemudharatan, baik di dunia maupun di akhirat.
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk  ( Qs. 7:157 )
Dengan jelas sekali Allah I mensifati syariat yang dibawa oleh Rasulullah r itu sebagai syariat yang hanya menyuruh kepada yang ma’ruf, menghalalkan yang baik-baik (thoyyibaat), dan melarang semua bentuk kemungkaran serta mengharamkan semua yang kotor-kotor.
 
Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertaqwa. (QS. 2:179)
Allah I menjelaskan tujuan disyariatkannya Qishas ialah mewujudkan suatu kemaslahatan yang   besar yaitu: untuk terlindunginya jiwa manusia. Dengan adanya hukum Qishas, maka akan terwujudlah rasa aman dan ketentraman bagi masyarakat serta terlindungilah jiwa-jiwa manusia dari pembunuhan dan penganiayaaan
Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Rabbnya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. ( Qs. 5:66 )
Ini adalah jaminan dari Allah I bahwa  jika manusia mau menjalankan syariat Islam yang  diturunkan oleh Allah I niscaya mereka akan mendapatkan kemakmuran yang  melimpah ruah. Pada ayat yang  lain Allah I berjanji—dan janjiNya adalah haq– :
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. 7:96)
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, ( berkorban untuk ) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.
Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS. 5: 90-91)
Allah  mengharamkan khamr dan perjudian karena keduanya mengandung banyak mudharat; baik mudharat dunia maupun akhirat. Diantara mudharatnya ialah:
·         Sebagai alat syetan untuk menimbulkan permusuhan dan kebencian, menghalangi manusia dari mengingat Allah I dan shalat. Adapun mudharat di akhirat ialah adzab yang sangat pedih bagi para peminum khamr dan penjudi, naudzubillah min dzalik.
Demikianlah beberapa contoh dari hikmah disyariatkannya beberapa kewajiban dan diharamkannya beberapa perbuatan.
Dan hal ini berlaku umum bagi seluruh perintah-perintah syariat dan larangan-larangannya. Setiap perintahnya pasti mengandung kemaslahatan bagi manusia dan setiap larangannya pasti bertujuan menghindarkan  mereka  dari kemudharatan. Hal ini berlaku umum bagi setiap hukum-hukum syariat, tidak ada satu hukum pun yang terkecualikan   (baik hukum-hukum aqidah, peribadatan, muamalah, dll).
* Allah  Maha Bijaksana Dalam Seluruh SyariatNya.
Salah satu asma Allah I adalah “Al Hakiim” (Yang Maha Bijaksana). Itu berarti bahwa Allah I tidak pernah menakdirkan sesuatu atau mensyariatkan sesuatu kecuali dibaliknya mengandung hikmah. Seluruh perbuatanNya mengandung hikmah, seluruh perintah dan laranganNya mengandung hikmah. Kadang kita mengetahui hikmah-hikmah tsb dan kadang tidak mengetahuinya. Hal itu tidak masalah sebagaimana  kadang kita mengetahui manfaat dan kegunaan suatu obat dan terkadang pula tidak mengetahuinya. Ketidaktahuan kita tentang manfaat suatu obat tidaklah menghalangi kita untk mengkomsumsinya selama obat itu diresepkan oleh seorang dokter. Jika kita tsiqoh ( percaya ) dengan resep seorang dokter maka bagaimana halnya dengan resep dari Allah Zat Yang  Maha Tahu ?  Dan kita yakin bahwa hikmah dari  perintah dan larangan Allah itu seluruhnya kembali kepada manusia itu sendiri dan tidak sedikitpun kembali kepada  Allah I, sebab Allah I Maha kaya dan tidak butuh kepada hamba-hambaNya sedikitpun.
Kemaslahatan yang hendak diwujudkan oleh syariat  Islam itu tidak hanya terbatas pada kemaslahatan-kemaslahatan dunia saja, akan tetapi juga meluas sampai pada kemaslahatan akhirat, yaitu agar seorang hamba beruntung mendapatkan kebahagiaan yang   abadi ,menghuni surga-surga yang kekal ,berdampingan  dengan para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan orang-orang sholih serta memandang kepada  wajah Allah I Yang Maha Agung.
B. Kemaslahatan yang diakui  (المصالح المعتبرة)
Kemaslahatan yg hendak diwujudkan oleh syariat Islam –sebagaimana ditegaskan oleh nash-nashnya kembali kepada   lima hal pokok, yaitu :
1.      Agama
2.      Jiwa
3.      Akal
4.      Keturunan, dan
5.      Harta
C. Bagaimana syariat Islam menjaga kemaslahatan lima hal pokok tsb?
* Agama (dien )
   
Dalam rangka menegakkan dan mewujudkan dien tsb Allah I mensyariatkan seluruh ibadah mulai dari shalat, zakat, puasa, haji, dzikir, do’a, dan lain-lain . Dengan  menjalankan ibadah-ibadah  tersebut  maka akan tegaklah dien seseorang. Kemudian untuk menjaga keberadaan dien tersebut  Allah  mensyariatkan jihad fi sabilillah, sebagaimana firmanNya :

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah (Qs.Al Anfal :39).
Kemudian untuk menjaga jangan sampai ada seorang muslim yang murtad setelah dia memeluk Islam, maka Allah I mensyariatkan hukuman yang sangat keras bagi orang yang murtad,yaitu dihalalkan darahnya sebagaimana sabda Rasulullah e :
“Tidaklah halal darah seorang muslim kecuali dengan tiga alasan: orang yang sudah menikah lalu berzina, jiwa dibalas dengan jiwa (hukum qishas) dan orang yang meninggalkan agamanya (murtad) yang berpisah dengan jama’ah“. (HR. Bukhari dan Muslim)
 Sebaliknya untuk meneguhkan hati orang yang baru memeluk Islam (muallaf) Allah I syariatkan penyaluran zakat untuk mereka.
Syariat Islam melarang adanya fitnah dalam dien. Fitnah disini maksudnya semua upaya yang menghalangi manusia untuk menempuh jalan Allah I yang lurus. Fitnah dalam hal ini jauh lebih besar bahayanya dari pembunuhan, sebagaimana firman Allah :
Mereka bertanya tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah:”Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan fitnah itu  lebih besar (dosanya) dari pada membunuh. (QS. 2:217)
Syariat Islam juga melarang keras siapa saja yang berusaha untuk merusak atau menyimpangkan aqidah kaum muslimin atau menyebarluaskan pemahaman yang bid’ah (aliran sesat). Dalam rangka menjaga kebersihan dien seseorang, syariat Islam melarang tersebarnya apa saja yang berbau pornografi dan merusak akhlak.
* Jiwa
Dalam rangka menjaga keselamatan jiwa manusia dari pembunuhan tanpa alasan yang benar, maka Allah  mensyariatkan qishas.
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. (Qs.2:179 )
Demikian juga syariat Islam melarang seseorang untuk bunuh diri.
Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. 4:29)
Syariat juga melarang seseorang menjatuhkan dirinya dalam kebinasaan..
dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.  (Qs.2:195)
Demikian juga semua perbuatan yang dapat membahayakan keselamatan jiwa atau merusak kesehatan fisik, seperti merokok, dll. dilarang/diharamkan oleh syariat berdasarkan sabda Rasulallah r:
(( لا ضرر ولا ضرار )) رواه
“Tidak boleh ada sesuatu yang membahayakan diri sendiri dan tidak juga kepada orang lain”. (HR.                                           ).
* Akal
Syariat Islam melarang khomr (minuman keras), narkoba dan apa saja yang dapat merusak akal. Hal ini bertujuan untuk menjaga akal manusia dari apa saja yang dapat mengganggu fungsinya.
Islam memandang bahwa akal manusia adalah anugrah dan ni’mat Allah  yang  sangat besar. Dengan akal ini manusia menjadi lebih mulia daripada makhluk-makhluk Allah yang  lain. Maka termasuk dalam rangka mensyukuri ni’mat Allah   tersebut syariat mewajibkan bagi seseorang untuk memelihara akalnya dari apa saja yang  akan mengganggunya atau mengurangi fungsi kerjanya.
* Keturunan
Untuk dapat menghasilkan keturunan syariat Islam menganjurkan umatnya untuk menikah. Dan untuk menjaga keturunan, syariat mengharamkan zina.
Allah  menyifati zina sebagai suatu kekejian dan jalan yang  buruk, sebagaimana firman Allah   :
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS. 17:32)
Syariat Islam memberikan hukuman yang keras bagi pelakunya baik perempuan ataupun laki-laki, sebagaimana firman Allah  :
Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akherat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. (QS. 24:2
Syariat Islam juga melarang seseorang membunuh anak-anaknya.
Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. (QS. 17:31)
 Demikian juga perbuatan aborsi (menggugurkan kandungan) serta menelantarkan anak-anak dilarang dalam syariat.
Harta
Untuk memperoleh harta yang halal, syariat Islam membolehkan berbagai macam bentuk mu’amalah, seperti; jual beli, dll. dan untuk menjaganya syariat Islam mengharamkan memakan harta manusia dengan jalan yang bathil, sepeti; mencuri, riba, menipu, mengurangi timbangan, korupsi, dan lain-lain .
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu.  ( Qs. 4 : 29 )
Syariat juga menetapkan hukuman yang keras bagi setiap pencuri.
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan dari apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 5:38)
 Demikian juga syariat mengharamkan seseorang menghambur-hamburkan hartanya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.
dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.    (  Qs. 17:26-27   )
E. Standar maslahat dan mafsadat (Mudhorot )
Standar masalahat dan mafsadat adalah wahyu –baik berupa Al Qur’an atau As Sunnah- apa saja yang diberi kesaksian oleh wahyu bahwa itu baik, maka ia adalah maslahat, sedangkan apa saja yang diberi kesaksian oleh wahyu bahwa itu buruk, maka ia adalah mafsadah.
Keluar dari standar ini berarti mengikuti hawa nafsu,sebagaimana firman Allah  :
Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu wahai Muhammad), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). (QS. 28:50)
Imam Ibnu Katsir berkata tentang ayat tersebut :
( فإن لم يستجيبوا لك ) أي فإن لم يجيبوك عما قلت لهم ولم يتبعوا الحق ( فاعلم أنما يتبعون أهواءهم ) أي بلا دليل ولا حجة ( ومن أضل ممن اتبع هواه بغير هدى من الله ) أي بغير حجة مأخوذة من كتاب الله
 Sedangkan hawa nafsu adalah batil, tidak dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara yang maslahat dan yang mudharat. Mengikuti hawa nafsu berarti tersesat dari kebenaran, sebagaimana firman Allah.
dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.  ( Qs.38:26 )
Demikian juga firmanNya :
Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. 28:50)
Dalam hal ini tidak ada yang lain kecuali al haq dan hawa nafsu. Al haq terdapat pada wahyu yang diturunkan oleh Allah I yang didalamnya terdapat penjelasan tentang maslahat dan mafsadah. Sedangkan selain itu adalah hawa nafsu yang mengandung mafsadah bagi manusia. Dengan demikian, kemaslahatan itu adalah dengan mengikuti al haq yang diturunkan oleh Allah I  dan meninggalkan apa yang selainnya.
F. Manusia tidak mampu mengetahui apa yang maslahat dan apa yang mudharat bagi dirinya.
            Sesuai dengan tabiatnya yang  penuh dengan keterbatasan manusia tidak mampu untuk mengetahui kemaslahatan-kemaslahatannya yang  sejati dan cara untuk meraihnya. Tidak jarang manusia menyukai dan  melakukan hal-hal yang  membawa mudharat bagi dirinya dan meninggalkan serta membenci hal-hal yang  membawa maslahat bagi dirinya. Sebagaimana firman Allah I :
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)
Beberapa contoh tentang  kekeliruan manusia dalam menilai :
a.       Minuman keras (khomer)Manusia yang  hidup tanpa bimbingan wahyu menganggap khomr sebagai suatu minuman yang  bermanfaat. Syariat Islam tidak menafikan beberapa manfaat khomr, akan tetapi syariat menilai bahwa  mudharat yang  ditimbulkan oleh khomr jauh lebih besar daripada kemanfaatannya, karena itu ia diharamkan secara tegas oleh Allah.
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah:”Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”.(Qs. 2:219)
Berapa  banyak kejahatan yang  ditimbulkan oleh minuman keras seperti  pembunuhan, perkelahian, kecelakaan lalu lintas, dan lain-lain .  Bahkan yang  cukup unik, ilmu pengetahuan manusia pernah sampai pada suatu kesimpulan bahwa alkohol (khomr) telah nampak nyata kemudharatannya. Karena itu harus ada undang-undang yang  melarangnya. Hal ini terjadi di Amerika Serikat pada tahun1930 . Pemerintah AS bermaksud membebaskan rakyatnya dari alkoholisme. Sebelum diberlakukannya undang-undang pelarangan minuman keras pemerintah melakukan sosialisasi tentang bahaya-bahaya minuman keras agar undang-undang tersebut bisa diterima oleh rakyatnya. Semua media massa dan sarana-sarana pemerintah  dikerahkan untuk proses penyadaran tersebut , tidak  kurang dari 65 juta dollar AS telah dibelanjakan untuk kampanye anti minuman keras tersebut , tidak kurang dari 9 milliar halaman telah ditulis tentang bahaya-bahaya minuman keras.. Setelah kampanye yang  sangat luas tersebut maka diberlakukanlah undang-undang yang  melarang menjualbelikan minuman keras, memproduksi, mengimpor dan mengekspornya. Untuk penerapan undang-undang tersebut  telah dikeluarkan dana sebesar 10 juta dollar AS. Namun baru berjalan tiga tahun undang-undang tersebut ditinjau kembali karena banyaknya terjadi kasus-kasus  pelanggaran. Pada akhirnya , pada tahun 1933 undang-undang tersebut dicabut kembali dan minuman keras yang  tadinya diharamkan kini  menjadi halal kembali.
b.      Dalam hal peribadatan
Syariat Islam mengajarkan agar manusia tidak menyembah atau berserah diri kepada sesuatu yang  tidak dapat memberikan manfaat kepada penyembahnya dan tidak pula dapat menolak kemudharatan darinya.
Tanpa petunjuk wahyu kita dapati sebagian manusia menyembah sapi (seperti umat Hindu), menyembah patung (seperti umat Budha dan  kaum penyembah berhala), menyembah Nabi Isa as (seperti umat Nashoro), menyembah matahari (seperti umat Shinto di Jepang), menyembah kuburan orang-orang sholeh, dan lain-lain .
Demikianlah, tanpa bimbingan wahyu manusia terjatuh dalam kemudharatan yang  paling besar yaitu syirik dan terjebak ke dalam kesesatan berfikir (khurafat).
c.       Musik dan Lagu
Sebagian besar manusia mencintai musik dan lagu-lagu. Tidak terhitung berapa besar biaya yang  telah dikeluarkan oleh manusia untuk berkhidmat kepada musik ini. Mulai pembelian kaset-kaset musik hingga konser-konser akbar. Manusia menduga bahwa  musik dapat menghadirkan ketenangan jiwa, menghilangkan stres, menghibur hati, menghaluskan perasaan, dan lain-lain.
Tetapi mereka lupa, berapa banyak kemudharatan yang  ditimbulkan oleh musik, diantaranya:
         Menumbuhkan kemunafikan dalam hati. Ibnu Mas’ud t berkata, “Sesungguhnya lagu-lagu itu menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan rerumputan.”
   Melalaikan manusia dari shalat, mengingat Allah, mengkaji al Qur’an dan ilmu-ilmu Islam. Seorang yang  hatinya telah terpaut oleh musik tidak ada ruang lagi dalam hatinya untuk mencintai al Quran karena musik adalah  seruling syetan sedangkan al Quran adalah  kalam Ar Rahman. Tidak mungkin keduanya akan berpadu dalam satu hati.
   Membuka pintu dan mengajak manusia kepada kerendahan akhlaq, seperti; pergaulan bebas, perzinahan, dan lain-lain . Bahkan sebagian lagi mengajak kepada atheisme dan kekufuran.
Merupakan rahmat Allah ketika Dia tidak menyerahkan urusan penentuan baik dan buruk, halal dan haram, maslahat dan mudharat kepada akal manusia. Jika hal itu sampai terjadi niscaya akan kacaulah kehidupan manusia. Pendapat-pendapat manusia akan simpang siur dalam menilai beberapa hal dan tidak akan tercapai satu kesepakatan. Manusia akan berselisih pendapat tentang riba,  sebagian akan menganggapnya buruk dan sebagian lagi menganggap baik. Ideologi Kapitalisme membolehkan riba, sementara Komunisme melarangnya.
Manusia akan berselisih pendapat tentang zina. Sebagian menganggapnya buruk dan sebagian lagi menganggapnya baik (boleh). Sebagian lagi merinci, jika terjadi karena pemaksaan (perkosaan) hal itu buruk, tetapi jika berdasarkan suka sama suka, maka hal itu boleh saja dan tidak bisa dilarang.
Demikianlah, jika penilaian baik dan buruk, maslahat dan mudharat, halal dan haram, boleh dan tidak boleh diserahkan kepada manusia, niscaya pendapat mereka akan simpang siur dan tersesat. Maka benar Allah I yang  telah berfirman:
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. 6:116)
Dan jika hal itu yang  terjadi niscaya akan muncul kerusakan yang  besar di muka bumi. Sebagaimana firman Allah  :
“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. (Qs. 23 : 71 ).
Ketika manusia telah mengabaikan wahyu sebagai standar penilaian maslahat dan mudharat, mereka akan mengikuti dugaan-dugaan mereka saja yang  sangat tidak terjamin kebenarannya. Hal itu sebagaimana firman Allah .
“Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu.Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran. (QS. 53:28)
Kesimpulannya, manusia pada dasarnya penuh kelemahan –tidak mampu mengetahui kemaslahatan-kemaslahatannya yang hakiki dan cara untuk meraihnya. Jika ia mengetahui sebagian dari kemaslahatan-kemaslahatan yang bersifat duniawi, maka ia tetap tidak tahu akan kemaslahatan-kemaslahatan ukhrawi dan cara untuk meraihnya
G. Kemaslahatan manusia yang  hakiki adalah  dengan mengikuti apa yang  diturunkan oleh Allah.
Manusia akan selalu berada dalam kesengsaraan selama mereka berpaling dari petunjuk wahyu. Ini adalah  suatu sunnatullah yang  tidak akan pernah berubah, sebagaimana firman Allah: (s.20:124)
Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. 20:124)
Kemaslahatan manusia yang  hakiki adalah  dengan mengikuti apa yang  diturunkan oleh Allah I dan mengatur urusan-urusan dunia mereka sesuai dengan undang-undang Ilahi. Hanya dengan itu manusia akan dapat mewujudkan kemaslahatan dan kebahagiaan di dunia. Kemudian disamping kebahagiaan yang terwujud dengan sangat nyata di dunia, ada lagi kebahagian yang agung di akhirat yaitu beruntung dengan mendapatkan ridho Allah I dan masuk ke dalam surga yang penuh dengan kenikmatan abadi. Ini adalah salah satu keistimewaan dari keistimewaan-keistimewaan syariat Islam yang agung, karena dengan menerapkan hukum-hukumNya dan mengikuti ajaran-ajaranNya tidaklah menghilangkan dari manusia kehidupannya yang  indah di dunia–sebagaimana disangka oleh sebagian orang-orang yang  bodoh—justru syariat Islam akan mewujudkan bagi manusia kebahagiaanya di dunia dengan cara yang  selamat, aman dan menentramkan.
Kehidupan yang  dibangun di atas nilai-nilai Islam ini akan memudahkan bagi manusia untuk menempuh jalan menuju akhirat dengan mudah dan selamat hingga mengantarkan mereka kepada Allah  I dalam keadaan ridho dan diridhoi. Berbeda halnya dengan nilai-nilai selain Islam ia hanya akan mengeruhkan dan menyengsarakan kehidupan manusia di dunia serta memutuskan hubungan mereka dengan Allah I dan tidak akan menghantarkan mereka ke akhirat kecuali ke neraka.
H.  Kemaslahatan dunia harus dinilai dengan kemaslahatan akhirat
Al Faqiih Asy Syatibi berkata ,” Kemaslahatan-kemaslahatan yang  hendak diraih dan kemudhorotan-kemudhorotan yang  hendak dihindarkan  secara  syar’i hanyalah dianggap (mu’tabar ) dari sisi penyempurnaan kehidupan dunia untuk kehidupan akhirat, tidak dari sisi hawa nafsu-hawa nafsu manusia dalam meraih kemaslahatan-kamaslahatannya yang  biasa atau menolak kemudhorotan-kemudhorotannya yang  biasa.”
Makna dari ucapan tersebut ialah bahwasanya Syariat Islam ketika menentukan apa yang  maslahat bagi manusia dan mensyariatkan seperangkat hukum-hukum untuk mewujudkan kemaslahatan tsb maksudnya tidak lain adalah untuk  mempersiapkan manusia agar beruntung mendapatkan kebahagiaan akhirat. Kemaslahatan-kemaslahatan dunia–pada hakikatnya– tidaklah dicari karena zatnya, akan tetapi ia dicari sebagai wasilah (sarana) untuk mendapatkan kemaslahatan-kemaslahatan akhirat. Sehingga apa saja yang  menghalangi seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat  maka ia harus ditinggalkan dan diakhirkan, dan apa saja yang  akan mengarahkan seseorang kepada  kebahagiaan akhirat maka ia wajib diambil dan diprioritaskan. Sangat tidak dibenarkan menyia-nyiakan akhirat hanya karena dunia dan kesenangan-kesenangannya  yang  bersifat sementara. Allah  berfirman :
“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. 79:  37- 41).
Berkenaan dengan ini Imam As Syatibiy berkata dalam Muwafaqatnya:
والمصالح والمفاسد الأخروية مقدمة في الاعتبارعلى المصالح والمقاصد الدنيوية باتفاق , إذ لايصح اعتبار مصلحة دنيوية تخل بمصالح الأخرة , فمعلوم أن ما يخل بمصالح الأخرة غير موافق لمقصود الشارع وكان باطلا.
Kemaslahatan-kemaslahatan dan mafsadat-mafsadat akherat harus didahulukan dalam penilaian daripada kemaslahatan-kemaslahatan dan tujuan-tujuan duniawi berdasarkan kesepakatan (para ulama),   karena tidak dapat dibenarkan mementingkan kemaslahatan dunia yang  sampai mengorbankan kemaslahatan-kemaslahatan akherat. Sudah jelas diketahui bahwa  apa saja yang  mengorbankan kemaslahatan-kemaslahatan akherat maka ia tidak sesuai dengan maksud  Syaari’ (Pembuat syariat), maka dengan sendirinya ia bathil ” ([1][1]).  Jadi yang terlarang adalah mendahulukan dunia atas akherat, sedangkan mengupayakan dunia dan mempergunakannya untuk akherat tidaklah dilarang, sebagaimana firman Allah I.
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.           (Qs. 28:77).
Dunia adalah ladang akherat, dan kesenangannya (perhiasannya) adalah wasilah (sarana) untuk meraih akherat, maka tidak diperbolehkan merusak ladang atau keluar dari ladang tersebut secara melarikan diri, karena manusia datang ke dunia  ini untuk berbuat kebaikan dan berbekal dengan bekal taqwa serta menghabiskan umurnya untuk hal itu. Dan ia tidak boleh lalai akan hal ini lalu menjadikan dunia sebagai tujuan atau ghoyahnya, padahal Allah I menginginkannya sebagai sarana dan pembantu untuk akherat bukan pesaingnya. Maka apabila saling tarik-menarik antara kemaslahatannya yang  duniawi dengan kemaslahatannya yang ukhrawi haruslah didahulukan (diutamakan) yang  kedua atas yang  pertama tanpa ragu-ragu lagi, karena ia tidak akan tertipu dan tidak akan rugi dalam pengutamaan tersebut, karena kemaslahatan yang  besar harus didahulukan dari kemaslahatan yang kecil baik dalam pandangan Islam maupun pandangan orang-orang yang  berakal. Sedangkan kemaslahatan akherat jelas jauh lebih besar daripada kemaslahatan dunia. Hal ini dikarenakan penilaian suatu kemaslahatan itu berdasarkan seberapa besar kadar kelezatan, ketenangan dan  kemanfaatannya dari sisi kwantitas dan kwalitasnya, serta seberapa lama kadar kelanggengannya. Satu hal yang  tidak diragukan lagi bahwa kemaslahatan akherat jauh lebih besar daripada kemaslahatan dunia ditinjau dari dua sisi tersebut. Hal itu karena apa-apa yang didunia berupa kelezatan-kelezatan, ketenangan dan kemanfaatan-kemanfaatannya  tidak bisa dibandingkan dengan apa yang ada di akherat baik secara kwantitas maupun kwalitas, karena kelezatan-kelezatan dunia senantiasa bercampur dengan hal-hal yang  mengeruhkannya serta kecil dari sisi kwantitas dan kwalitasnya, sedangkan kelezatan-kelezatan akherat bersih dari hal-hal yang  mengeruhkannya serta teristimewa dari sisi jenis dan mutunya dan di dalamnya terdapat apa-apa yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah di dengar oleh telinga dan tidak bisa dibayangkan oleh hati manusia. Semua perkara-perkara yang  besar ini satu bagiannya yang  terkecilpun tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan dunia seluruhnya. Adapun dari sisi kelanggengan maka kebahagiaan akherat dan kelezatan-kelezatannya adalah  kekal tidak akan pernah terputus ,  sementara kenikmatan dunia dan kelezatan-kelezatannya pasti terputus, tidak akan melebihi/melampaui umur manusia, itu jika kita andaikan bahwa manusia itu bersenang-senang dalam keseluruhan umurnya. Maka bagaimana bisa dibandingkan antara kebahagiaan yang  dibatasi oleh umur manusia yang  pendek dengan kebahagiaan akherat yang  kekal dan tidak pernah terputus?  Maka seorang muslim yang  berakal tidak mungkin akan mengutamakan dunia daripada akherat selama-lamanya, karena syari’at memerintahkan untuk mengutamakan akherat, perhitungan akal juga menuntut pengutamaan tersebut dan kemaslahatan manusia juga menyeru pengutamaan tersebut. Dan inilah yang  haq dan tidak ada lagi setelah yang  haq itu kecuali kesesatan, kebodohan dan kerugian yang  nyata.
مقاصد الشريعة
مؤسسة الهدى الإسلامية
بوقور – إندونيسيا
 



[1][1] Al Muwafaqat, Asy Syatibiy, Jilid II, h.384.

Leave A Reply