Manhaj Salaf

0

MADKHOL MANHAJ SALAF ASH SHOLIH

Mengapa Harus Manhaj Salaf?

Faktor determinan penyebab terjadinya perpecahan umat saat ini adalah penggunaan framework atau manhaj yang salah dalam memahami al Qur’an dan as Sunnah. Meski sumber dan bahannya sama, namun karena cara pengolahannya salah dan berbeda-beda maka hasilnya pun tidak sebagaimana yang diharapkan. Salah dalam arti bahwa manhaj tersebut tidak berhak menjadi methodologi untuk memahami Islam. Semestinya al Qur’an dan as Sunnah dipelajari dan fahami dengan pemahaman yang jernih dan benar menurut asy Syari’ (Pembuat syariat). Sebab jika tidak, meski landasannya adalah al Qur’an dan as Sunnah namun jika konstruksi methodologi yang dipakai dalam memahami keduannya terlampau rapuh, bukan mustahil hanya akan menelurkan kesimpulan, konsep serta pola berfikir dan beramal yang keliru. Rapuh karena hanya berlandaskan simpulan-simpulan rasio dan pengalaman empiris yang seringkali bersifat relativ dan sementara disamping tendensi nafsu yang turut campur tangan.

            Jelas hal ini berbahaya, pertama karena menggunakan dalil-dalil syar’I sehingga akan dianggap benar padahal salah, kedua karena sesuai dengan hawa nafsu sehingga meskipun tahu bahwa hal itu salah, hati akan cenderung untuk mengambilnya dan bahkan membelanya. Maka dapat kita saksikan perselisihan dan perpecahan antar sesama umat Islam kian hari kian tajam. Semakin semarak dengan terus menjamurnya kelompok-kelompok dengan faham bid’ah, aliran Islam kiri, penyembah hawa nafsu ataupun golongan yang secara landasan ilmiyah syar’iyah lemah namun memiliki sikap antipati yang tinggi terhadap kelompok yang berbeda.

Maka solusinya adalah menyamakan manhaj dalam memahami dan mengaplikasikan kedua sumber hukum Islam yaitu al Qur’an dan as Sunnah. Dan manhaj salaf adalah jawabannya. Klaim ini bukan tanpa alasan, manhaj salaf adalah sebuah manhaj yang secara syar’I memiliki aspek hujjiyyahdan otentitas yang kuat dan juga secara logika merupakan manhaj yang bersih karena sangat dekat dengan sumber risalah. Perlu kita singgung kembali manhaj salaf secara definitif. Manhaj salaf adalah sebuah methodologi dalam memahami al Qur’an dan as Sunnah warisan tiga generasi pertama, yaitu para sahabat Nabi saw, tabi’in dan tabiut tabi’in. Artinya dalam menafsirkan atau menakwilkan dan mengamalkan serta mensikapi nash-nash syar’i, tiga generasi ini menjadi referensi utama yang sama sekali tidak boleh diabaikan.

Alasan paling fundamental mengapa harus manhaj salaf sebagai manhaj yang mesti diterapkan adalah karena :

Pertama: Ada perintah dan rekomendasi dari wahyu.

Allah berfirman: “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan  mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruknya tempat kembali.” [QS. An Nisa’:115].

“Katakanlah, “Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak( kamu sekalian) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik.”(QS. Yusuf:108).

Yang paling pantas mendapat julukan “orang-orang mukmin”, pertama tentu saja para sahabat sebagaimana disebutkan dalam surat al Fath ayat 29. Kemudian orang-orang sesudah mereka yang sesuai dan mengikuti mereka. Ibnu Abbas menjelaskan bahwa maksud dari “dan orang-orang yang mengikutiku” adalah sahabat Muhammad saw, mereka berada diatas jalan yang paling baik dan petunjuk yang lurus. Mereka adalah gudangnya ilmu dan iman dan mereka pula adalah tentara ar Rahman.”

Lebih jelas lagi, perintah ini dapat kita temukan pada sabda Rasulullah saw: Ikutilah dua orang sesudahku ini, yaitu Abu Bakar dan Umar.” (HR. at Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad. Dishahihkan al Albani dalam Silsilah alAhadits ash Shahihah.)

Jagalah wasiatku dalam hal mengikuti sunnahku (dengan mengikuti) sahabat-sahabatku, kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang sesudah mereka. (tabi’ut tabi’in). (HR. at Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad. Dishahihkan al Albani dalam Silsilah alAhadits ash Shahihah.)

“Sebaik-baik generasi manusia adalah adalah generasi yang aku berada di dalamnya (para sahabat), kemudian generasi kedua (tabi’in) dan generasi ketiga (tabi’ut tabi’in). (HR. Muslim)

Sampai disini jelas, bahwa as salaf  as sholih telah mendapat amanah sebagai generasi yang dipercaya untuk menjadi pembela Rasulullah saw dan penyambung dakwah beliau kepada generasi sesudahnya. Sebuah generasi yang Allah pilih untuk menjadi suri tauladan bagi seluruh umat hingga akhir zaman. Mencontoh mereka berarti meneladani mereka dalam segala aspek termasuk yang paling pokok adalah meneladani manhaj (methodologi) mereka dalam memahami berbagai nash dalam al Qur’an maupun as Sunnah. Sehingga bisa disimpulkan, methodolgi mereka adalah methodologi yang mendapat rekomendasi dari wahyu.

Kedua,otentitas manhaj.

Ibnu Mas’ud pernah mengatakan, “Sesungguhnya Allah melihat hati hamba-hamba-Nya. Allah menemukan hati Muhammad sebagai hati yang paling baik, maka Allah memilihnya dan mengutusnya sebagai Rasul-Nya. Kemudian melihat hati hamba-hamba yang lain, Allah menemukan hati para sahabat adalah hati yang paling baik. Maka Allah menjadikan mereka pembantu Nabi-Nya dan mereka berperang membela agama-Nya. Maka apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin (para sahabat) adalah baik menurut Allah dan apa yang mereka pandang buruk adalah buruk pula menurut Allah. (Diriwayatkan Imam Ahmad dan al Baghawi)

Sebagai generasi pilihan, para sahabat adalah orang-orang yang paling memahami wahyu karena mereka berinteraksi langsung dengan penyampainya. Mereka mengalami dan mengetahui secara live bagaimana dan karena apa sebuah wahyu diturunkan. Demikian pula bagaimana dan dalam konteks apa Rasulullah Shalallahu `alaihi wa Salam Shalallahu ‘alaihi wa Salam bersabda. Dimana kemudian apa yang mereka ketahui, diaplikasikan dalam amal nyata. Jika terdapat kekeliruan dalam memahami, teguran dari Rasul pasti akan di sampaikan. Dapat dikatakan bahwa dalam memahami dan mengamalkan Islam mereka mendapat kontrol langsung dari Pembuat syareat. Hal ini logis karena satu kesalahan yang ada pada mereka dimungkinkan akan menjadi kesalahan “abadi” karena terus ‘diteladani’ oleh generasi sesudah mereka.

Jika kita permisalkan, Rasulullah itu ibarat mata air yang memancarkan air suci risalah Islam yang demikian jernih dan menyejukkan. Dan para sahabat adalah sebuah cekungan bebatuan di sekitar mata air yang menampung air tersebut kemudian mereka alirkan ke bawah menuju bebatuan lain tanpa mengurangi ataupun menambah rasa, warna dan baunya. Para tabi’in selaku murid menerima limpahan air suci yang masih sangat jernih ini kemudian mereka limpahkan kepada generasi selanjutnya. Makin ke bawah air tersebut semakin kotor karena telah tercampur dengan kotoran hawa nafsu manusia dan tendensi duniawi.

Maka wajar jika kebanyakan manusia saat ini tak lagi merasakan Islam sebagai sebuah risalah yang murni lagi menyejukkan. Tapi sebaliknya, mereka mengecap Islam dengan berbagai rasa, bau dan warna. Maka tak pelak, jika kita menginginkan Islam dalam bentuknya yang jernih dan menyejukkan kita mesti mengambil langsung dari cekungan batu di sekitar mata air. Karena disitulah Islam dalam bentuknya yang murni bisa kita dapatkan. Islam sebagaimana yang difahami oleh manusia-manusia yang telah Allah pilih sebagai sahabat Rasul-Nya sekaligus pengemban amanat sepeninggal Nabi mereka, adalah Islam yang tidak hanya bersih tapi juga merupakan pemahaman yang total.

Kesimpulannya, manhaju as salaf adalah manhaj yang kuat dari sisi hujjiyahnya karena mendapat tazkiyah (rekomendasi) dari asy Syari’ dan telah terbukti secara empiris mampu menjadikan sebuah generasi manusia menjadi sebuah generasi yang tak hanya baik dalam berbagai sisinya tapi juga mampu menegakkan kejayaan Islam. Tak salah jika Imam Malik mengatakan, “Umat ini tidak akan bisa menjadi baik –dalam berbagai dimensinya, pent- kecuali dengan sesuatu yang generasi pertama telah menjadi baik karenannya.” 

Diharapkan, jika umat dapat memahami dan menerapkan manhaj salaf dalam mengamalkan Islam, umat akan memiliki keselarasan pandangan dalam melaksanaan syariat.

Mengenal salaf sholih

Salaf sholih adalah suatu generasi dari umat ini yang telah mendapatkan jaminan dari Rasulullah saw, bahwa mereka adalah sebaik-baik generasi. Selain itu, mereka adalah satu-satunya generasi yang telah dijamin mendapat keridhoan Alloh. Banyak hadits-hadits yang menceritakan tentang keutamaan mereka, sekaligus memerintahkan kita untuk mengikuti mereka. Diantara hadits tersebut adalah sabda Nabi,

خير الناس قرني، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang datang sesudah mereka (tabi’in), kemudian orang-orang yang datang sesudah mereka (tabi’i tabi’in).”

Dalam riwayat lain disebutkan,

قد تركتكم على البيضاء ليلها كنهارها، لا يزيغ عنها بعدي إلا هالك، ومن يعش منكم فسيرى اختلافاً كثيراً فعليكم ما عرفتم في سنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين، عضوا عليها بالنواجذ.

Dari Irbadh bin Sariyah ia berkata,” Saya mendengar Rasulullah telah bersabda,” Aku telah meninggalkan kalian di atas jalan yang lurus dan terang (sunah Rasul dan sunah shahabat -pent), malamnya bagaikan siangnya. Tak ada seorangpun yang menyeleweng dari jalanku kecuali ia akan binasa (tersesat). Sesungguhnya siapa di antara kalian yang masih hidup (dalam waktu yang lama) akan melihat perselisihan yang banyak. Maka ikutilah apa yang kalian ketahui dari sunahku dan sunah para khalifahku yang  mendapat petunjuk dan terbimbing, gigitlah (sunahku dan sunah mereka) dengan gigi geraham kalian.”

أوصيكم بأصحابي، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم ، ثم يفشو الكذب حتى يحلف الرجل ولا يستحلف، ويشهد الشاهد ولا يستشهد، عليكم بالجماعة و إياكم والفرقة، فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد، من أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة

“Aku wasiatkan kepada kalian (untuk mengikuti) para shahabatku, kemudian (mengikuti) orang-orang sesudah mereka (tabi’in), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’i tabi’in). Setelah itu akan tersebar luas kebohongan, sehingga seseorang akan bersumpah padahal ia tidak diminta untuk bersumpah. Seseorang akan memberi persaksian padahal ia tidak diminta untuk bersaksi.Hendaklah kalian senantiasa berjama’ah dan jauhilah berpecah belah. Sesungguhnya setan itu bersama orang yang sendirian, dan ia lebih menjauh dari dua orang.”

Dan banyak lagi hadits-hadits Nabi yang menyebutkan tentang mereka.

Meski hadis yang menyebutkan keutamaan salaf demikian banyak, namun sangat disayangkan, masih banyak kaum muslimin yang belum memahami siapa mereka dan pentingnya mengikuti manhaj mereka. Hingga tidak mengherankan bilamana banyaknya pemahaman yang menyimpang dari quran dan sunah.

Pengertian Salaf 

Secara Bahasa

1.      Ibnu Mandhur berkata, ”Salaf merupakan jama’/plural dari kata salif seperti wazan (rumus kata dalam bahasa arab) haris yang jama’ya adalah harasdan khadim yang jama’nya khadam. Salif artinya orang yang terdahulu sesuai urutan waktu (pendahulu, nenek moyang). Salaf artinya jama’ah (kelompok) pendahulu. Salaf juga bermakna para pendahulumu dari bapak-bapakmu dan kerabatmu yang secara umur dan kemuliaan lebih tinggi darimu.”.

Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah saw berkata kepada putrinya Fathimah   ra :

فإنه نعم السلف أنا لك

“Sesungguhnya sebaik-baik pendahulu (salaf) bagimu adalah aku”

2.      Ibnu Faris dalam Mu’jam Maqayisi Lughah menyatakan,” Sin, laam dan faa’ merupakan asal kata yang shahih menunjukkan makna terdahulu dan awal-awal. Di antaranya adalah kata salaf yang bemakna orang-orang yang telah lewat. Dikatakan al Qaum as Salaf (kaum salaf) maknanya adalah terdahulu.”

Secara Istilah

Yang dimaksud dengan salaf menurut istilah syar’i adalah para shahabat Rasulullah, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan seluruh umat Islam yang mengikuti jejak mereka dengan baik hingga hari kiamat, di mana keadilan dan kebersihan diri mereka telah diakui oleh ummat secara ijma’, dan merekapun tidak pernah tertuduh melakukan bid’ah yang menyebabkan kekufuran atau kefasikan.”

Pada awalnya, yang dimaksud dengan generasi salaf adalah generasi shahabat, tabi’in dan tabi’i tabi’in. Namun karena pada masa kehidupan mereka (terutama masa tabi’in dan tabi’i tabi’in) mulai timbul berbagai sekte (kelompok) sesat seperti Khawarij, Rafidzah, Qadariyah, Mu’tazilah dan Murjiah, maka selanjutnya istilah  salaf ini mempunyai dua pengertian :

Pertama; Sisi Qudwah (keteladanan). Artinya, yang dimaksud dengan istilah salaf adalah tiga generasi pertama Islam yang disebut sebagai Al Qurun al Mufadhalah (tiga generasi mulia) yaitu generasi shahabat, tabi’in dan tabi’in.

Kedua; Sisi Manhaj (metode). Artinya salaf tidak terbatas pada tiga generasi utama saja, namun juga mencakup setiap muslim yang mengikuti manhaj mereka sampai hari akhir nanti. Siapa mengikuti pemahaman dan jejak langkah tiga generasi utama dalam maka ia bisa disebut sebagai salaf atau pengikut salaf.

Syaikh Muhammad Abdul Hadi Al Mishri berkata,” Salaf berarti istilah yang dipakai untuk para imam terdahulu dari tiga generasi pertama yang diberkahi dari kalangan shahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in yang disebutkan dalam hadits Rasulullah,” Sebaik-baik generasi adalah…” Setiap orang yang beriltizam dengan aqidah, fiqih dan ushul (pokok-pokok pegangan) para ulama tadi, maka ia dinisbahkan kepada salaf juga sekalipun antara ia dengan mereka ada perbedaan ruang dan waktu. Sebaliknya, setiap yang menyelisihi mereka tidak disebut sebagai salaf sekalipun ia hidup di antara mereka dan dikumpulkan oleh ruang dan waktu yang sama.”

Dr. Abu Yazid al ‘Ajami menyatakan,” Dengan demikian, lafal salaf ketika disebutkan harusnya tidak dimaknai untuk periode masa tertentu saja (tiga generasi utama) namun juga untuk para shahabat Rasulullah dan tabi’ihim (pengikut mereka) sesudah mereka dengan syarat iltizam (komitmen mengikuti) dengan manhaj mereka.”

Syaikh Mahmud Khafaji dalam Al Aqidah al Islamiyah Baina as Salafiyah wa al Mu’tazilah menyebutkan,” Pembatasan waktu ini tidak cukup untuk menentukan makna salaf, namun juga harus diikutkan di dalam kepeloporan dalam waktu ini, kesesuaian pendapat (aqidah dll—pent) nya dengan al Qur’an dan As Sunah. Siapa menyelisihi Al Qur’an dan As Sunah maka ia tidak termasuk salaf sekalipun hidup di antara para shahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in.”

Karena itu setelah timbulnya sekte-sekte sesat ini, para ulama sepakat menyatakan istilah salaf digunakan juga untuk setiap orang yang menjaga kemurnian aqidah Islam dan manhaj Islam sesuai dengan manhaj dan pemahaman tiga generasi pertama Islam.

Selanjutnya perlu diperhatikan bahwa istilah salaf atau mengikuti manhaj salaf tidak cukup dengan sekedar slogan kosong tanpa makna, namun lebih dari itu adalah praktek yang benar dan sungguh-sungguh dalam mengikuti pemahaman dan jejak langkah para shahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in. Dr.Ibrahim bin Muhammad Al Buraikan mengatakan, ”Dengan ini diketahui bahwa pensifatan dengan salaf itu pujian atas setiap orang yang menjadikannya sebagai qudwah dan manhaj. Adapun mensifati diri dengan salaf tanpa merealisasikan kandungan lafal ini maka tak ada pujian baginya, karena hukum diambil dari kandungan maknanya (praktek dari nama dan slogan –pent) bukan dengan lafal-lafal bahasa (menterengnya slogan—pent).”

Perincian genarasi salaf.      

1.      Sahabat

Secara Bahasa

Shahabat adalah bentuk plural atau jamak dari kata shahabi (الصحابي  ).Kata ini berasal dari kata dasar “al Shuhbatu”(الصحبة) yang berati perkawanan. Kata al shubhatu (perkawanan) ini dipakai untuk segala jenis persahabatan dan pertemanan baik lama maupun sebentar, seperti sesaat, sejam, sehari, sebulan dan seterusnya.

Secara Istilah

Shahabat adalah orang yang bertemu dengan Nabi pada saat Nabi masih hidup dalam keadan muslim dan ketika mati ia juga tetap muslim.

Penjelasan definisi:

– Orang yang bertemu dengan Nabi pada saat nabi masih hidup. Orang yang melihat Nabi tapi saat Nabi sudah wafat meski saat beliau belum dikuburkan tidak disebut shahabat Nabi, seperti penyair Abu Dzua’ib Al Hudzali .

– Dalam keadaan muslim: Orang yang bertemu Nabi pada saat Nabi masih hidup tapi ia masih kafir tidak disebut sahabat, meskipun sesudah Nabi wafat ia masuk Islam. Contohnya adalah utusan kaisar Romawi yang saat masih beragama Kristen bertemu dengan Nabi dan baru masuk Islam ketika Nabi telah wafat.

– Mati dalam keadaan muslim: Orang yang masuk Islam pada masa hidupnya Nabi kemudian murtad dan mati dalam keadaan murtad tidak disebut sebagai shahabat Nabi. Adapun orang yang masuk Islam pada masa Nabi hidup, kemudian murtad lalu masuk Islam lagi saat Nabi masih hidup maka tetap disebut shahabat, seperti Abdulloh bin Abi Sarh. 

Di antara para ulama shahabat yang paling terkenal adalah Abu Bakar Ash Shidiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqash, Sa’id bin Zaid, Abdurahman bin Auf,  Abdullah bin Mas’ud, Muadz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Ibnu Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amru, Abdullah bin Zubair, Zaid bin Tsabit, Abu Darda’, Ubadah bin Shomit, Abu Musa Al Asy’ari,  Imran bin Husain,  Amar bin Yasir,  Abu Hurairah,  Hudzaifah bin Yaman,  Uqbah bin Amir,  Salman Al Farisi,  Jabir bin Abdullah, Abu Sa’id al Khudri, Hudaifah bin Usaid,  Jundub bin Abdullah,  Uqbah bin Amru,  Abu Umamah Shuday bin ‘Ajlan, Umair bin Habib bin Khumasyah, Abu Thufail Amir bin Watsilah, Aisyah dan Ummu Salamah Rhadiyallahu ‘anhum.

           

2.      Tabi`in dan Tabi`ut Tabi`in

Secara bahasa

Kata Tabi’in berasal dari kata dasar taba’a-yatba’u-tab’an yang bermakna mengikuti. Tabi’in secara bahasa artinya orang-orang yang mengikuti.

Secara istilah

Secara istilah, tabi’in adalah seorang muslim yang bertemu dengan shahabat Rasulullah dan ia mati dalam keadaan muslim.

Jumlah tabi’in sangat banyak tidak terhitung secara pasti oleh ahli sejarah, karena setiap muslim yang pernah bertemu dengan seorang shahabat Nabi kemudian mati dalam keadaan muslim bisa disebut sebagai seorang tabi’in. Padahal, jumlah shahabat Rasulullah mencapai lebih dari seratus ribu shahabat, yang berpencar ke berbagai negeri.

Tabi’i tabi’in adalah seorang muslim yang bertemu dengan seorang tabi’in dan mati dalam keadaan muslim. Dengan demikian, jumlah mereka semakin banyak lagi dan semakin tak terhitung. Dengan jumlah yang tak terhitung ini, maka pemahaman Islam sesuai tuntunan Rasulullah diterima oleh lebih dari seratus ribu sahahabat, kemudian mereka sebarkan kepada sekian ratus atau sekian juta tabi’in, kemudian disebartkan lagi oleh generasi tabi’in kepada sekian juta tabi’i tabi’in. Maka Islam tetap terjaga kemurniaannya, dan pemahaman Islam yang benar tetap terjaga sampai hari kiamat nanti.

Diantara peta penyebaran tabiin di beberapa negeri islam yang besar

Madinah

[a]-   Tabi’in (                                                     [a]-  Tabi’in (…120)

Diantara tokoh tabiin yang terkenal di negeri madinah adalah Sa’id bin Musayib (94 H), Urwah bin Zubair bin Awwam (94 H), Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar (106 H), Salim bin Abdullah bin Umar (106 H), Sulaiman bin Yasar (107 H), Muhammad bin Al Hanafiyah (81 H), Ali bin Husain bin Ali (94 H), Muhammad bin Ali bin Husain (114 H), Umar bin Abdul Aziz (101 H), Ka’ab bin Mati’ Al-Ahbar (32 H)

[b]-  Tabi’i Tabi’in (120 H-180 H)                      

Muhammad bin Muslim Az Zuhri (124 H), Yahya bin Abu Katsir Al Yamami (129 H), Rabi’ah bin Abi Abdirahman (136 H), Abdullah bin Yazid bin Hurmuz, Zaid bin Ali bin Husain (122 H), Abdullah bin Hasan (145 H), Ja’far bin Muhammad Ash-Shodiq (148 H), Zaid bin Aslam (136 H).

[c]-   Tabi’ Tabi’i Tabi’in (180 H-220 H)

Malik bin Anas Al-Faqih (179 H), Abdul Aziz bin Abu Salamah Al- Majisyun (164 H).

[d]-  Tabi’ Tabi’ Tabi’I Tabi’in (220 H…)

Abdul Malik bin Abdul Aziz (212 H), Ismail bin Abu Uwais (226 H), Ahmad bin Abu Bakar Az Zuhri (292 H).

Makkah

[a]-   Tabi’in (…120 H)

Diantara tokoh tabiin yang terkenal di mekkah diantaranya adalah Atha’ bin Abi  Rabah (114 H), Thawus bin Kaisan (106 H), Mujahid bin Jabr (104 H), Ibnu Abi Mulaikah (Abdullah bin Ubaidullah) (117 H).

[b]-  Tabi’i Tabi’in (120 H-180 H)

Amru bin Dinar (126 H), Abdullah bin Thawus (132 H), Ibnu Juraij (150 H), Nafi’ bin Umar Al-Jamhi (179 H)

[c]- Tabi’ Tabi’i Tabi’in (180 H-220 H)

Sufyan bin Uyainah (198 H), Fudhail bin Iyadh (187 H), Muhammad bin Muslim Ath Thaifi (177 H), Yahya bin Sulaim Ath Thayifi (195 H), Muhammad bin Idris Asy Syafi’I (204 H), Abdullah bin Yazid Al-Muqri (213 H), Abdullah bin Zubair Al-Humaidi (219 H).

Syam

[a]-   Tabi’in (…120 H) 

Diantara tokoh tabiin yang tinggal di negeri Syam Abdullah bin Muhairiz (99 H), Raja’ bin Haywah (112 H), Ubadah bin Nasyi (118 H), Maimun bin Mihran (117 H).

[b]-  Tabi’i Tabi’in (120 H-180 H)

Abdul Karim bin Abdul Malik Al-Jazari (128 H), Abdurahman bin Amru Al-Auza’I (157 H), Muhammad bin Walid Al-Zubaidi (148 H), Sa’id bin Abdul Aziz Al-Tanukhi (167 H), Abdurahman bin Yazid bin Jabir (153 H)

[c]- Tabi’ Tabi’i Tabi’in (180 H-220 H) 

Abdullah bin Syaudzab (185 H), Ibrahim bin Mush’ab Al-Fazari (218 H).

[d]- Tabi’ Tabi’ Tabi’I Tabi’in (220 H…)

Abdul A’la bin Mushir Al-Dimasyqi (245 H), Hisyam bin Amar Al-Dimasyqi (245 H), Muhammad bin Sulaiman Al-Mushaishi (240 H).

Dan masih banyak lagi ulama`-ulama` dibeberapa wilayah negeri Islam baik periode tabi`in maupun tabi`it tabi`in.

Pengertian Manhaj

Secara Bahasa

Kata manhaj (Al Manhaju) berasal dari kata dasar nahaja-yanhaju-nahjan-manhajan, artinya jalan yang terang dan jelas. Kata manhaj kemudian dipakai untuk menyebut sirath mustaqim (jalan yang lurus, jalan yang benar). Seperti disebut dalam firman Allah Ta’ala :

لِكُّلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” [QS. Al Maidah :48].

Secara Istilah

Kata manhaj maknanya adalah cara atau jalan (metode) untuk mengetahui hakekat suatu ilmu atau permasalahan dengan perantaraan beberapa kaedah (rumus). Atau dengan ringkas bisa dikatakan metode untuk membahas masalah tertentu. Karena itu, manhaj (metode) dalam membahas setiap persoalan tentu berbeda-beda. Manhaj (metode) membuat roti tentunya berbeda dengan manhaj (metode) mengerjakan soal matematika. Begitu juga, manhaj dalam memahami Al Qur’an dan As Sunah tentu berbeda dengan manhaj meneliti atom dan nuklir.

Nama Lain Salafus Sholih

 

Seperti telah dijelaskan di muka, meskipun istilah salafu sholih bermakna generasi shahabat, tabi’in dan tabi’i tabi’in, namun istilah ini selanjutnya tidak terbatas pada ketiga generasi utama Islam ini. Setiap muslim yang mengikuti metode ketiga generasi utama ini juga disebut sebagai pengikut salafu sholih. Karena itu, sebenarnya istilah salafu sholih bukanlah istilah yang baru muncul. Istilah salafu sholih juga mempunyai beberapa nama lain, yang sebenarnya menunjukkan kepada subyek yang sama yaitu generasi shahabat, tabi’in dan tabi’i tabi’in serta segenap umat Islam yang mengikuti metode mereka dalam memahami Al Qur’an dan As Sunah. Nama-nama lain salafu sholih tersebut adalah: Ahlu Sunah wal Jama’ah, Ahlu Hadits, Ahlu Atsar, Firqah Najiyah dan Thaifah Manshurah.

I. Ahlu Sunah Wal Jama’ah

Istilah Ahlu Sunah wal Jama’ah merupakan frase (gabungan kata), terdiri dari tiga kata utama, yaitu ahlu, sunah dan jama’ah. Ahlu artinya pengikut. Ahlu sunah berarti pengikut sunah, sementara ahlu jama’ah berarti pengikut jama’ah.

Ahlu Sunah adalah orang yang mengikuti sunah dan berpegang teguh dengannya, yaitu para shahabat dan setiap muslim yang mengikuti jalan mereka sampai hari kiamat. Imam Ibnu Hazm dalam Al Fashl II/107 berkata,” Ahlu Sunah adalah pengikut kebenaran. Selain mereka adalah ahlu bid’ah. Ahlu Sunah adalah para shahabat dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka dari kalangan tabi’in, lalu para ulama hadits, lalu para ulama fikih dari satu generasi ke generasi selanjutnya sampai  hari ini dan juga masyarakat secara umum yang mengikuti mereka baik di belahan bumi barat maupun timur.”

Dari sini jelas bahwa ahlu sunah adalah setiap muslim yang mengikuti jejak para shahabat. Ahlu Sunah bukan monopoli golongan tertentu. Tidak benar bila sebagian kelompok umat Islam menganggap dirinya satu-satunya Ahlu Sunah sementara kelompok lainnya bukan ahlu sunah. Ahlu Sunah juga bukan sekedar nama namun lebih dari itu ia merupakan manhaj, jalan hidup para shahabat yang harus dipraktekkan. Ukuran apakah seseorang termasuk ahlu sunah atau bukan, tidak terletak pada nama yang disandangnya semata (seperti menamakan kelompoknya sebagai kelompok ahlu sunah), namun sesuai atau tidaknya jalan hidupnya dengan petunjuk Rasulullah dan para shahabat. Jadi tidak setiap orang yang mengklaim dirinya atau kelompoknya atau organisasinya atau jama’ahnya sebagai Ahlu Sunah itu benar-benar Ahlu Sunah (mengikuti petunjuk Rasulullah dan para shahabat).

Sebab penamaan Ahlu Sunah

Para ulama menyebutkan bahwa dinamakan ahlu sunah karena mengikuti jalan/petunjuk/sunah Rasulullah. Di Indonesia khususnya, terjadi kerancuan dan kesalahan yang parah. Para kyiai dan ulama kita menyebutkan bahwa ahlu sunah itu ada tiga kelompok : Asy’ariyah, Maturidiyah dan pengikut imam Ahmad. Pendapat ini jelas salah kaprah. Asy’ariyah dan Maturidiyah merupakan dua kelompok sesat yang menyeleweng dari jalan shahabat dalam beberapa masalah dasar bidang aqidah, seperti misalnya masalah asma’wa shifat Allah. Mereka tidak termasuk ahlu sunah namun merupakan kelompok tersendiri. Adapun imam madzhab yang empat yaitu imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan  Ahmad, semua mereka ini  mengikuti petunjuk shahabat. Mereka semua termasuk Ahlu Sunah, bahkan tokoh pembesar dan imam-imam utama dari kalangan Ahlu Sunah.

II. Ahlu Hadits

Definisi Hadits Secara Bahasa.

Hadits secara bahasa berarti baru, lawan kata dari lama. Makna lainnya adalah khabar/berita. Dalam ayat disebutkan :

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Adapun dengan nikmat Rabbmu maka sebutlah/ceritakanlah.” [QS Al Dhuha;11].

Maknanya beritakanlah. Dalam pengertian selanjutnya sering dipakai untuk berita tertentu dalam dien [agama], seperti perkataan shahabat Ibnu Mas’ud,” Sesungguhnya sebaik-baik hadits [ucapan, berita] adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad.”

Definisi Hadits Secara Syar’i ;

Hadits secara syar’i berarti apa yang dinisbahkan/disandarkan kepada Rasululah baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir {penetapan} maupun sifat fisik dan akhlak beliau. Berdasar definisi ini Imam Kirmani dan Ath Thibi tidak menyebut perkataan dan perbuatan shahabat {dalam disiplin ilmu hadits disebut sebagai hadits mauquf}.maupun perkataan dan perbuatan tabi’in {dalam disiplin llmu hadits disebut sebagai hadits maqthu’} sebagai hadits. Namun mayoritas ulama menyamakan antara hadits dengan sunah (arti sunah bisa dibaca pada keterangan di atas). Jadi, hadits mauquf dan hadits maqthu’ juga bisa disebut hadits.

Definisi Ahlu Hadits :

Jika disebut Ahlul Hadits maka maknanya adalah para ulama dan pelajar yang mempelajari hadits-hadits nabi secara sungguh-sungguh baik secara dirayah maupun riwayat dan melaksanakan kandungan hadits dengan menjauhi bid’ah dan hawa nafsu. Dengan demikian, Ahlu Hadits semakna dengan Ahlu Sunah, artinya mereka adalah umat Islam yang paling berpegang teguh dengan sunah Rasulullah dan jama’ah. Oleh karena itu imam Ahmad mengatakan,” Kalau mereka {jama’ah} itu bukan ahlu hadits, saya tidak tahu lagi siapa mereka itu.”

Imam Abu Ismail Ash Shobuni dalam kitab “Aqidatu Salaf Ashabul Hadits“ menyatakan,” Mereka mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam dan para shahabat beliau yang istimewa layaknya bintang. Mereka mengikuti para imam dan ulama salafush sholih, berpegang teguh dengan dien dan kebenaran yang nyata yang dipegang teguh oleh para ulama, membenci ahlu bid’ah yang membuat bid’ah dalam dien, tidak mencintai mereka dan tidak pula bershahabat dengan mereka.”

III. Ahlu Atsar

Definisi Atsar Secara Bahasa.

Kata atsar maknanya bekas, sisa atau pengaruh.

Definisi Atsar Secara Syar’i

Di kalangan ulama terdapat dua pendapat:

1.      Mayoritas ulama’ berpendapat bahwa istilah hadits, sunnah, dan atsar itu satu makna.

2.      Ulama’ Khurosan membedakan antara ketiga istilah ini. Menurut mereka: istilah atsar khusus untuk perkataan dan perbuatan shohabat dan tabi’in. Sedang istilah hadits atau sunnah digunakan untuk perkataan dan perbuatan Nabi.

Pendapat mayoritas ulama’ lebih kuat. Dalam bahasa arab dikatakan atsartu haditsan artinya aku meriwayatkan sebuah hadits. Pendapat ini juga dipilih oleh Imam Al Iroqi dan Ibnu Hajar. Berdasar pendapat yang mengatakan bahwa atsar semakna dengan hadits dan sunah, maka salafu sholih dan ahlu sunah sering juga disebut dengan istilah ahlu atsar. Mereka disebut dengan ahlu atsar karena mereka mengikuti atsar-atsar yang diriwayatkan dari Rasulullah dan para shahabat.

IV. Firqah Najiyah

Selain istilah ahlu sunah, ahlu atsar, ahlu hadits dan ahlu sunah wal jama’ah, salafu sholih juga sering dikenal dengan istilah firqah najiyah (golongan yang selamat), didasarkan pada hadits-hadits yang menerangkan akan pecahnya umat Islam menjadi 73 golongan, dimana 72 golongan akan tersesat dan yang selamat (najiyah) hanya satu saja yaitu ma ana alaihi wa ashabi / apa yang saya dan para shahabatku berada di atasnya –jama’ah dengan artian ilmu/mengikuti kebenaran, ahlu sunah- dan dalam lafal lain disebutkan al jama’ah.

Hadits-hadits tentang perpecahan umat Islam menjadi 73 golongan ini diriwayatkan dari banyak shahabat, diantaranya : Abu Hurairah, Mu’awiyah, Abdullah bin Amru, Auf bin Malik, Anas bin Malik, Abu Umamah, Ibnu Mas’ud, Jabir bin Abdullah, Sa’ad bin Abi Waqash, Abu Darda’, Watsilah bin Al Aqsa’, Amru bin Auf al Muzany, Ali dan Abu Musa. Menurut para ulama, derajat hadits ini adalah mutawatir.

V. Thaifah Manshurah

Nama lain salafu sholih yang sering disebutkan dalam hadits-hadits Rasulullah adalah thoifah manshurah (kelompok yang mendapat pertolongan sampai hari kiamat karena berada di atas kebenaran dan berjihad menegakkan kebenaran). Hadits-hadits yang menyebutkan hal ini juga diriwayatkan oleh banyak shahabat dan terhitung sebagai hadits mutawatir. Para shahabat yang meriwayatkan hadits tentang thaifah manshurah ini adalah Mughirah bin Syu’bah, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Tsauban, Jabir bin Samurah, Jabir bin Abdullah, Sa’ad bin Abi Waqash, Uqbah bin Amir, Abdullah bin Amru, Zaid bin Arqam, Imran bin Hushain, Qurah bin Iyas, Abu Hurairah, Umar bin Khathab, Salamah bin Nufail Al Kindy, Nawas bin Sam’an, Abu Umamah Al Bahiliy, Murah bin Ka’ab Al Bahzy, Syurahbil bin Samth al Kindy dan Muadz bin Jabal. Para ulama seperti imam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidha’ ash Shirat al Mustaqim, imam As Suyuthi dalam Qathful Azhar al Mutanatsirah, imam Az Zubaidi dalam Luqatu al Laali al Mutanatsirah fi Ahaditsi al Mutawatirah dan imam Al Kanany dalam Nadhmul al Mutanatsir fi Hadits al Mutawatir  menyatakan bahwa hadits ini hadits mutawatir.

Kewajiban Ittiba` manhaj salaf

            Sebagai generasi islam yang jauh dari generasi Rasulullah, kita tak pernah bertemu dengan Rasululah, tak pernah mendengar sabda beliau dan tak pernah melihat perbuatan beliau dalam mempraktekkan Al Qur’an. Otomatis, kita tidak mengerti dengan baik dan benar bagaimana praktek Al Qur’an yang sesuai dengan petunjuk Allah Ta’ala. Namun Allah Ta’ala telah memilih generasi shahabat untuk menjadi pembela Rasululah. Mereka melihat dengan langsung bagaimana Al Qur’an dan As Sunah dipraktekkan oleh Rasulullah. Ilmu tentang penerapan Al Qur’an dan As Sunah yang benar sesuai petunjuk Allah Ta’ala ada pada diri generasi shahabat. Ilmu itu kemudian diwariskan kepada generasi umat Islam yang datang sesudah mereka, yaitu generasi tabi’in. Generasi tabi’in juga mewariskan ilmu tersebut kepada generasi umat Islam sesudah mereka, yaitu generasi tabi’i tabi’in. Selanjutnya, secara turun temurun ilmu tersebut diwariskan kepada segenap umat Islam melalui para ulama Islam yang terpercaya.

Dewasa ini, Al Qur’an dan As Sunah berada di hadapan umat Islam dalam wujud mushaf dan buku-buku hadits. Ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah tersebut perlu penjelasan yang benar dan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasulullah. Penjelasan yang benar dan tepat ini ada pada diri tiga generasi utama Islam, yaitu generasi salafu sholih (generasi shahabat, tabi’i dan tabi’i tabi’in). Maka, umat Islam yang datang setelah ketiga generasi mulia ini harus mengikuti pemahaman salafu sholih dalam memahami Al Qur’an dan As Sunah. Itulah satu-satunya jalan yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah.

Perintah Al Qur’an:

1- QS. An Nisa’ :115

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَاتَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.” [QS. An Nisa’ :115].

Ayat ini menerangkan dua kewajiban seorang muslim yaitu (a) mengikuti sunah Rasulullah dan (b) mengikuti jalan orang-orang beriman. Kedua kewajiban ini harus dikerjakan. Allah Ta’ala mengancam orang yang tidak mengerjakan dua kewajiban ini akan dibiarkan tersesat dan dimasukkan ke dalam neraka Jahanam. Orang yang paling berhak mendapat predikat “orang-orang beriman” adalah generasi shahabat. Merekalah generasi yang dipilih Allah Ta’ala untuk membela nabi-Nya, menegakkan dien-Nya dan berjihad di jalan-Nya. Lewat generasi shahabat pula dien Islam disampaikan kepada seluruh umat Islam sesudah wafatnya Rasulullah. Maka generasi shahabat adalah kaum yang terpercaya  dalam menyampaikan amanah dien ini dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

Generasi shahabat juga merupakan generasi yang paling paham dengan maksud ayat-ayat dan hadits-hadits Rasulullah, karena mereka hidup bersama Rasulullah dan mengetahui dengan pasti sebab-sebab turunnya ayat dan hadits. Maka perintah untuk mengikuti jalan orang-orang yang beriman dalam ayat ini berarti perintah untuk mengikuti jalan generasi shahabat. Orang yang tidak mengikuti manhaj shahabat dalam memahami Al Qur’an dan As Sunah berarti telah menyelisihi generasi shahabat dan tidak mengikuti jalan mereka. Orang yang seperti ini mendapat ancaman Allah Ta’ala berupa ancaman akan dibiarkan tersesat dan dimasukkan Allah Ta’ala ke dalam neraka Jahanam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menerangkan bahwa kedua kewajiban ini merupakan kewajiban yang saling terkait dan tidak bisa dipisah-pisahkan, Menyelisihi sunah Rasulullah setelah jelas kepadanya petujuk berarti telah mengikuti jalan selain orang-orang yang beriman. Mengikuti jalan selain orang-orang yang beriman juga berarti telah menyelisihi Rasulullah setelah jelas kepadanya petunjuk.

2        QS. Yusuf :108

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah,” Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik“. [QS. Yusuf :108].

Generasi yang paling ittiba’ (mengikuti) dan inqiyad (ketaatan) kepada Rasulullah adalah generasi shahabat. Maka generasi shahabat merupakan generasi yang paling berhak masuk dalam golongan “aku dan orang-orang yang mengikutiku”. Generasi yang seperti itu sudah pasti paling berhak untuk diikuti oleh generasi sesudah mereka.

Tentang firman Allah “aku dan orang-orang yang mengikutiku”, shahabat Abdullah bin Abbas berkata :

يعني أصحاب محمد r كانوا على أحسن طريقة وأقصد هداية، معدن العلم وكنز الإيمان، وجند الرحمن.

Yaitu para shahabat Muhammad. Mereka berada di atas jalan yang paling baik dan petunjuk yang paling lurus. Mereka adalah gudangnya ilmu dan iman, dan mereka adalah tentara Ar Rahman.”

Shahabat Abdullah bin Mas’ud juga berkata:

من كان مستناً فليستن بمن قد مات، فإن الحي لا تؤمن عليه الفتنة، أولئك أصحاب محمد rكانوا أفضل هذه الأمة، أبرها قلوباً وأعمقها علماً، وأقلها تكلفاً، اختارهم الله لصحبة نبيه ولإقامة دينه، فاعرفوا لهم فضلهم، واتبعوهم على آثارهم وتمسكوا بما استطعتم من أخلاقهم وسيرهم، فإنهم كانوا على الهدى المستقيم

“Barang siapa di antara kalian mengambil suri tauladan, hendaklah ia mengambil suri tauladan dari  orang-orang yang sudah mati, karena orang yang masih hidup tidak terjamin selamat dari fitnah. Mereka (orang-orang yang sudah mati) adalah para shahabat Muhammad. Mereka adalah umat Islam yang paling utama, paling baik hatinya, paling dalam ilmunya dan paling  sedikit bebannya (tidak memberatkan orang lain). Allah Ta’ala memilih mereka untuk menjadi penolong nabi-Nya dan penegak dien-Nya. Maka kenalilah keutamaan mereka, ikutilah jejak mereka dan berpegang teguhlah semaksimal mungkin dengan akhlak dan jalan hidup mereka, karena mereka berada di atas petunjuk yang lurus.”

3        QS. Al Baqarah :137

فَإِنْ ءَامَنُوا بِمِثْل مَآءَامَنتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِن تَوَلَّوْ فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ

Maka jika mereka telah beriman sebagaimana iman kalian, sungguh mereka telah mendapat petunjuk. Namun jika mereka berpaling, maka mereka sebenarnya berada dalam permusuhan (dengan kalian /kecelakaan).” [QS. Al Baqarah :137].

Ayat ini menunjukkan dua hal penting, yaitu:

(a)- Petunjuk yang membawa kepada keselamatan dan kebaikan di dunia dan akhirat adalah petunjuk yang dibawa oleh Rasulullah dan para shahabat beliau. Allah Ta’ala menyatakan siapa saja beriman sebagaimana para shahabat beriman, maka ia telah mendapatkan petunjuk yang sebenarnya. Allah Ta’ala menjadikan iman para shahabat sebagai standar dan tolok ukur keimanan yang benar dan lurus. Maka, pemahaman para shahabat terhadap Al Qur’an dan As Sunah merupakan pemahaman yang lurus dan benar, yang dijadikan Allah Ta’ala sebagai standar dan tolok ukur dalam memahami Al Qur’an dan As Sunah. 

(b)- Wajibnya mengikuti keimanan dan petunjuk hidup Rasulullah dan para shahabat. Bila hal ini tidak dilaksanakan, maka Allah telah menyediakan adzab-Nya yang pedih. Karena itu dalam hadits-hadits yang shahih Rasulullah menyatakan bahwa satu-satunya metode dan pemahaman yang dijamin lurus dan diterima Allah Ta’ala adalah metode dan pemahaman Rasulullah dan para shahabat. Rosululloh saw bersabda:

افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة، فواحدة في الجنة، وسبعون في النار. وافترقت النصارى على اثنتين وسبعين فرقة، فإحدى وسبعون في النار، وواحدة في الجنة. والذي نفس محمد بيده لتفترقن أمتي على ثلاث وسبعين فرقة، واحدة في الجنة وثنتان وسبعون في النار، قيل: يا رسول الله من هم؟ قال:” الجماعة.        

“Orang-orang Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, 1 golongan masuk surga dan 70 golongan lainnya masuk neraka. Orang-orang Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, 71 golongan masuk neraka dan 1 golongan masuk surga. Demi Allah yang nyawa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh umatku (umat Islam) akan benar-benar terpecah menjadi 73 golongan. 1 golongan masuk surga dan 72 golongan masuk neraka.” Ada shahabat yang bertanya,” Wahai Rasulullah, siapa golongan yang selamat tersebut ? Beliau menjawab,” Al Jama’ah.”

Hadits ini lebih dijelaskan lagi oleh hadits:

وإن بني إسرائيل تفرقت على ثنتين وسبعين ملة، وتفرقت أمتي على ثلاث وسبعين ملة كلهم في النار إلا ملة واحدة ، قال: من هي يا رسول الله؟ قالما أنا عليه وأصحابي

“Sesungguhnya Bani Israil telah terpecah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Mereka semua masuk neraka kecuali satu golongan saja.” Abdullah bin Amru bertanya,” Siapa mereka yang selamat itu wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab,” Apa yang aku dan para shahabatku berada di atasnya (jalanku dan jalan para shahabatku.” 

Hadits kedua ini menjelaskan hadits yang pertama. Hadits pertama menyatakan dari 73 golongan umat Islam, hanya satu yang dijamin masuk surga yaitu al jama’ah (kelompok). Al Jama’ah diterangkan oleh hadits kedua, yaitu orang-orang yang mengikuti sunah (petunjuk jalan hidup) Rasulullah dan para shahabat beliau. Maka standar kebenaran dan metode yang benar dalam memahami Islam adalah memahami Al Qur’an dan As Sunah menurut pemahaman para shahabat Rasulullah. Inilah satu-satunya pemahaman yang dijamin Allah Ta’ala akan diterima dan masuk surga. Selain itu, semuanya dinyatakan sesat dan masuk neraka.

Dengan demikian, jama’ah bukan berarti kelompok mayoritas. Namun jama’ah yang sebenarnya adalah mengikuti pemahaman shahabat, sekalipun hanya dianut oleh segelintir orang sementara mayoritas masyarakat Islam tidak mengikuti pemahaman shahabat. Sedikitnya umat Islam hari ini yang mengikuti pemahaman shahabat Rasulullah tidak boleh mengecilkan hati dan menyurutkan langkah untuk msenantiasa istiqamah mengikuti jejak langkah shahabat Rasulullah. Karena Rasulullah menyatakan, memang kebanyakan manusia senantiasa lebih senang mengikuti kebatilan dan kesesatan.

4        QS. At Taubah :117

لقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ 

Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka,” [At Taubah :117].

5- QS. Al Hasyr :8-9

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُون . وَالَّذِينَ تَبَوَّأُوا الدَّارَ وَالْأِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ. وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْأِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ

“(Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-(Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya.Mereka itulah orang-orang yang benar. (9) Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka.Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri.Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (10) Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa:”Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang” [QS. Al Hasyr :8-10].

Semua ayat di atas menerangkan keutamaan para shahabat Muhajirin dan Anshor serta seluruh shahabat Rasulullah secara umum, juga keutamaan generasi sesudah mereka (generasi tabi’in). Allah Ta’ala menyatakan bahwa Ia telah meridhai mereka. Keridhaan Allah Ta’ala akan turun kepada hamba-hamba-Nya yang berada di atas jalan yang lurus, mendalam ilmunya dan benar amalnya. Ini semua menunjukkan bahwa jalan para shahabat telah diridhai oleh Allah Ta’ala.  Allah Ta’ala juga telah menjamin surga untuk mereka. Maka, siapa ingin diridhai Allah dan dijamin surga, hendaknya mengikuti jejak shahabat.

6- QS. Al Baqarah : 143.

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Dan demikian pula Kami telah menjadikan kalian sebagai umat wasath (umat yang adil dan pilihan) agar kalian menjadi saksi atas perbuatan seluruh umat manusia…” 

Ayat ini turun kepada Rasulullah dan generasi yang pertama kali termasuk dalam ayat ini adalah generasi shahabat. Washat artinya sebaik-baik ummat dan seadil-adilnya, dalam perkataan, perbuatan dan niat  mereka. Karena sifat ini para shahabat layak diangkat Allah menjadi para saksi bagi para rosul atas umat umat mereka yang kafir pada hari kiamat nanti. Allah menerima persaksian mereka sehingga mereka menjadi para saksi Allah. Karena kemuliaan ini Allah memuliakan, memuji dan mengangkat nama mereka. Alloh memberitahu seluruh makhluk-Nya bahwa para shahabat adalah para saksi Allah dan para nabi. Allah memerintahkan para malaikat untuk berdo’a bagi mereka dan memintakkan ampun bagi mereka. (Padahal) Saksi yang diterima di sisi Allah adalah yang diketahui berilmu dan jujur sehingga bisa memberitahukan kebenaran dengan bersandar pada ilmu, sebagaimana firman-Nya:

إلا من شهد بالحق وهم يعلمون

         “Kecuali orang-orang yang bersaksi dengan kebenaran dan mereka berilmu.” [Qs. Az Zukhruf : 86]. Maka ayat ini sekaligus menyatakan bahwa generasi shahabat adalah generasi yang keilmuan dan kejujurannya  telah diakui Allah Ta’ala

      

Perintah As Sunah

         1. Hadis pertama

عن أبي سعيد الخدري، قال: كان بين خالد بن الوليد وعبد الرحمن بن عوف شيءٌ، فسبه خالد، فقال رسول الله  :” لا تسبوا أحداً من أصحابي، فلو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهباً، ما أدرك مُد أحدهم ولا نصيفهمتفق عليه.

Dari Abu Sa’id dari Nabi beliau bersabda,” Janganlah kalian mencela shahabatku demi Dzat yang nyawaku berada di tangan-Nya, jika salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud pastilah tidak bisa menyamai segenggam infak mereka, tidak pula setengahnya.”

Rasulullah bersabda demikian kepada Khalid bin Walid dan para shahabat lain yang baru masuk Islam pasca Perjanjian Hudaibiyah dan Fathu Makah. Kalau satu genggam atau setengahnya saja lebih utama dari infaq emas sebesar gunung Uhud para shahabat seperti Khalid, maka bagaimana mungkin orang-orang yang berabad-abad sesudah mereka bisa menandingi ilmu dan amal generasi shahabat?. Hal ini juga menjadi bukti rekomendasi Allah Ta’ala atas kebenaran ilmu dan amal mereka. Maka kewajiban gnerasi sesudah mereka untuk mengikuti mereka.

2. Hadis kedua

أوصيكم بأصحابي، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم ، ثم يفشو الكذب حتى يحلف الرجل ولا يستحلف، ويشهد الشاهد ولا يستشهد، عليكم بالجماعة و إياكم والفرقة، فإن الشيطان مع الواحد وهو من الاثنين أبعد، من أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجماعة

“Aku wasiatkan kepada kalian (untuk mengikuti) para shahabatku, kemudian (mengikuti) orang-orang sesudah mereka (tabi’in), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’i tabi’in). Setelah itu akan tersebar luas kebohongan, sehingga seseorang akan bersumpah padahal ia tidak diminta untuk bersumpah. Seseorang akan memberi persaksian padahal ia tidak diminta untuk bersaksi.Hendaklah kalian senantiasa berjama’ah dan jauhilah berpecah belah. Sesungguhnya setan itu bersama orang yang sendirian, dan ia lebih menjauh dari dua orang.”

3. Hadis ketiga

سترون من بعدي اختلافاً شديداً فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين، عضوا عليها بالنواجذ، وإياكم والأمور المحدثات فإن كل بدعة ضلالة.

“Sepeninggalku nanti, kalian akan melihat perselisihan yang sangat tajam, maka hendaklah kalian (saat itu) mengikuti sunahku dan sunah para khalifahku yang mendapat petunjuk dan terbimbing (Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali). Gigitlah sunahku dan sunah mereka dengan gigi geraham kalian (pertanda berpegang teguh dengan sangat erat—pent) dan jauhilah setiap hal yang diadaadakan karena setiap bid’ah itu sesat.”

            4. Hadis keempat.

قد تركتكم على البيضاء ليلها كنهارها، لا يزيغ عنها بعدي إلا هالك، ومن يعش منكم فسيرى اختلافاً كثيراً فعليكم ما عرفتم في سنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين، عضوا عليها بالنواجذ.

Dari Irbadh bin Sariyah ia berkata,” Saya mendengar Rasulullah telah bersabda,” Aku telah meninggalkan kalian di atas jalan yang lurus dan terang (sunah Rasul dan sunah shahabat—pent), malamnya bagaikan siangnya. Tak ada seorangpun yang menyeleweng dari jalanku kecuali ia akan binasa (tersesat). Sesungguhnya siapa di antara kalian yang masih hidup (dalam waktu yang lama) akan melihat perselisihan yang banyak. Maka ikutilah apa yang kalian ketahui dari sunahku dan sunah para khalifahku yang  mendapat petunjuk dan terbimbing, gigitlah (sunahku dan sunah mereka) dengan gigi geraham kalian.”

خير الناس قرني، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang datang sesudah mereka (tabi’in), kemudian orang-orang yang datang sesudah mereka (tabi’i tabi’in).”

Dalam riwayat lain:

خير أمتي القرن الذي بعثت فيه ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم. ثم يخلف قوم يحبون السمانة يشهدون قبل أن يستشهدوا.

Sebaik-baik generasi adalah generasi di mana aku diutus, kemudian generasi orang-orang sesudah mereka, kemudian generasi sesudah mereka. Kemudian datang sesudah mereka sebuah kaum yang menyenangi kegemukan, mereka bersaksi sebelum diminta bersaksi.”

خير الناس القرن الذي أنا فيه ثم الثاني ثم الثالث

“Sebaik-baik generasi adalah generasi yang aku ada di dalamnya, kemudian generasi kedua (tabi’in) kemudian generasi ketiga (tabi’i tabi’in).”

لا تسبوا أصحاب محمد، فلمقام أحدهم ساعة ـ يعني مع النبي rـ خير من عمل أحدكم أربعين سنة ” . وفي رواية :” خيرٌ من عبادة أحدكم عمُرَه

Perkataan ulama salaf

Ibnu Abbas berkata:“Janganlah kalian mencela shahabat Muhammad. Sesungguhnya berdirinya mereka sesaat bersama nabi itu lebih baik dari amal salah seorang di antara kalian selama empat puluh tahun.” Dalam riwayat imam Waki’,” Lebih baik dari ibadah salah seorang di antara kalian selama hidupnya.”

إن الله تعالى نظر في قلوب العباد، فوجد قلبَ محمد خير قلوب العباد، فاصطفاه لنفسه وابتعثه برسالته، ثم نظر في قلوب العباد بعد قلب محمد r، فوجد قلوب أصحابه خير قلوب العباد، فجعلهم وزراء نبيه، يقاتلون على دينه، فما رآه المسلمون حسناً، فهو عند الله حسن، وما رأوه سيئاً، فهو عند الله سيء

         Ibnu Mas’ud berkata:“Sesungguhnya Allah melihat hati hamba-hamba-Nya. Allah menemukan hati Muhammad sebagai hati yang paling baik, maka Allah memilihnya dan mengutusnya sebagai Rasul-Nya. Kemudian Allah melihat hati hamba-hamba-Nya. Allah menemukan hati para shahabat Muhammad sebagai hati yang paling baik. Maka Allah menjadikan shahabat sebagai karena pembantu nabi-Nya. Mereka berperang membela agama-Nya. Maka apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin (para shahabat—pent) adalah baik menurut Allah, dan apa yang mereka pandang buruk adalah buruk juga menurut Allah.”

Ancaman Bagi Orang Yang Menyelisihi Manhaj Salaf

Dalam An Nisa` 115 Allah berfirman,

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَاتَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.” [QS. An Nisa’ :115].

Ayat ini menerangkan dua kewajiban seorang muslim yaitu (a) mengikuti sunah Rasulullah dan (b) mengikuti jalan orang-orang beriman. Kedua kewajiban ini harus sama-sama dikerjakan. Allah Ta’ala mengancam orang yang tidak mengerjakan dua kewajiban ini akan dibiarkan tersesat dan dimasukkan ke dalam neraka Jahanam.

Orang yang paling berhak mendapat predikat “orang-orang beriman” adalah generasi shahabat. Merekalah generasi yang dipilih Allah Ta’ala untuk membela nabi-Nya, menegakkan dien-Nya dan berjihad di jalan-Nya. Lewat generasi shahabat pula dien Islam disampaikan kepada seluruh umat Islam sesudah wafatnya Rasulullah. Maka generasi shahabat adalah kaum yang terpercaya  dalam menyampaikan amanah dien ini dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Generasi shahabat juga merupakan generasi yang paling paham dengan maksud ayat-ayat dan hadits-hadits Rasulullah, karena mereka hidup bersama Rasulullah dan mengetahui dengan pasti sebab-sebab turunnya ayat dan hadits. Maka perintah untuk mengikuti jalan orang-orang yang beriman dalam ayat ini berarti perintah untuk mengikuti jalan generasi shahabat. Orang yang tidak mengikuti manhaj shahabat dalam memahami Al Qur’an dan As Sunah berarti telah menyelisihi generasi shahabat dan tidak mengikuti jalan mereka. Orang yang seperti ini mendapat ancaman Allah Ta’ala berupa ancaman akan dibiarkan tersesat dan dimasukkan Allah Ta’ala ke dalam neraka Jahanam.

Dan Rasululah saw sendiri telah memerintahkan kepada kita untuk selalu mengikuti jalan para sahabat. Dalam sebuah hadits Nabi saw bersabda,

سترون من بعدي اختلافاً شديداً فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين، عضوا عليها بالنواجذ، وإياكم والأمور المحدثات فإن كل بدعة ضلالة.

“Sepeninggalku nanti, kalian akan melihat perselisihan yang sangat tajam, maka hendaklah kalian (saat itu) mengikuti sunahku dan sunah para khalifahku yang mendapat petunjuk dan terbimbing (Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali). Gigitlah sunahku dan sunah mereka dengan gigi geraham kalian (pertanda berpegang teguh dengan sangat erat—pent) dan jauhilah setiap hal yang diadaadakan karena setiap bid’ah itu sesat.”

Dalam riwayat yang lain beliau bersabda,

قد تركتكم على البيضاء ليلها كنهارها، لا يزيغ عنها بعدي إلا هالك، ومن يعش منكم فسيرى اختلافاً كثيراً فعليكم ما عرفتم في سنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين، عضوا عليها بالنواجذ.

Dari Irbadh bin Sariyah ia berkata,” Saya mendengar Rasulullah telah bersabda,” Aku telah meninggalkan kalian di atas jalan yang lurus dan terang (sunah Rasul dan sunah shahabat—pent), malamnya bagaikan siangnya. Tak ada seorangpun yang menyeleweng dari jalanku kecuali ia akan binasa (tersesat). Sesungguhnya siapa di antara kalian yang masih hidup (dalam waktu yang lama) akan melihat perselisihan yang banyak. Maka ikutilah apa yang kalian ketahui dari sunahku dan sunah para khalifahku yang  mendapat petunjuk dan terbimbing, gigitlah (sunahku dan sunah mereka) dengan gigi geraham kalian.”

Keutamaan Salaf

Di antara keutamaan ulama` salaf yang disebutkan oleh Dr. Gholib bin Ali `Iwaji dalam bukunya “Firoq Ma`ashiroh” adalah sebagai berikut:

1.      Mereka adalah orang-orang yang paling paham dan mengerti tentang kebenaran.

2.      Mereka adalah orang-orang yang sangat sayang dan mencintai manusia (terutama orang-orang yang beriman).

3.      Mereka adalah manusia yang paling sedikit dalam pertikaian antara sesama.

4.      Mereka adalah orang-orang yang paling bersegera untuk kembali kepada kebenaran dan paling terdepan dalam mengamalkan kebenaran tersebut.

5.      mereka adalah orang-orang yang paling pemaaf dan santun terhadap orang yang menyelisihi pendapatnya.

6.      mereka adalah orang-orang yang paling tawadhu`, lembut dan tidak mencela orang lain.

Dr. Ahmad sa`ad Hamdan, dalam bukunya “Tarikh Dhuhuril Bida` fi al Aqo`id wa Manhaj as Salaf Fi Muharobatiha” menyebutkan bahwa di antara kelebihan para salaf (sahabat) adalah; (a) mereka hidup pada zaman di mana wahyu diturunkan, (b) akal dan pikiran mereka bersih dari noda-noda kebid`ahan dan kesesatan.

Global Manhaj Salaf

Secara global, teori dan praktek manhaj salafu sholih akan diterangkan dalam delapan pokok berikut ini: 

1.      Pokok Pertama: Syariat Islam merupakan dien Allah yang haq yang diridhoi-Nya untuk seluruh makhluk sampai hari kiamat nanti. Syariat ini menjadi penutup seluruh syariat sebelumnya, ia tidak akan dihapus oleh syariat lain yang datang sesudahnya karena Rasulullah sebagai pembawa syariat ini merupakan Rasul terakhir kepada seluruh makhluk.

Penjelasan:

1        Dien yang haq: Maknanya seluruh dien dan syariat selain Islam adalah batil dan sesat [QS. Yunus : 32, Ghafir :20, Al Jatsiyah :18]. Islam merupakan syariat Allah Ta’ala. Allah Ta’ala yang menurunkannya, dan Ia Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya di dunia dan akhirat [QS. AL Mulk :14, An Nahl :17]. 

2        Syariat Islam adalah syariat Yang Maha Bijaksana [QS. At Tin :8], Yang Maha Penyayang [QS. Yusuf :64], Yang Maha Mengetahui dan Maha Berkuasa [QS. Ath Thalaq :12],. Karena itu, hak menetapkan undang-undang mutlak di tangan Allah Ta’ala semata  [QS. Yusuf : 40-67].

Karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui apa yang paling bermanfaat bagi hamba-Nya, maka syariah Allah Ta’ala dibangun di atas dasar mashalih (kemanfaatan) bagi hamba, tidak saja kemaslahatan dunia namun juga kemaslahatan akhirat. Maka syariah Islam jelas sangat berbeda dengan berbagai sistem way of life dan isme buatan manusia yang hanya berusaha meraih kepentingan dunia semata tanpa mengindahkan kemaslahatan d akhirat [QS. Al Insan :27, Ar Ruum : 6-7, Al A’laa :16-17, Ali Imran :185].

1        Hanya Allah Ta’ala semata yang berhak menetapkan syariah/way of life/perundang-undangan bagi seluruh hamba-Nya. Karena itu siapapun yang merebut hak menetapkan undang-undang ini dari kekuasaan Allah Ta’ala, berarti telah membangkang, menyaingi dan merebut hak rububiyah (hak mengatur, menghidupkan, mematikan, memberi rizqi) serta hak uluhiyah Allah Ta’ala (hak ditaati dan diabdi oleh seluruh hamba) [QS. AL A’raf : 54, Yusuf :40].

Allah Ta’ala menyebut mereka yang merebut hak uluhiyah dan rububiyah Allah Ta’ala ini sebagai syuroka’ (saingan-saingan/sekutu–sekutu) dan arbab(pengatur-penguasa/tuhan-tuhan) selain Allah Ta’ala [QS. Asy Syura :21, At Taubah :31]. Mengesakan hak Allah Ta’ala dalam menetapkan undang-undang (aturan kehidupan) dan mentaati Allah dalam masalah ini merupakan wujud tauhid uluhiyah, tanpa melakukan hal ini maka keislaman dan keimanan seseorang tidak sah [QS. Al Maidah :50].

2        Syariat Islam ini merupakan satu-satunya dien Allah Ta’ala yang Allah ridhoi untuk seluruh hamba-Nya sehingga Allah Ta’ala tidak akan menerima dien selain-Nya. Hal ini disebabkan oleh keumuman risalah Rasulullah atas seluruh alam raya ini (manusia dan jin) [QS. Al A’raf :158, As Saba’ :28]. Rasulullah bersabda :

«وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً»

Dari Jabir bahwasanya Rasulullah bersabda,” Seorang nabi (sebelumku) hanya diutus kepada kaumnya saja, namun aku diutus kepada seluruh umat manusia.” HR. Bukhari.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنْ الْخَاسِرِينَ

“Dan siapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima dan di akherat ia termasuk orang – orang yang merugi.” [QS. Ali Imron : 85]. Dan diriwayatkan oleh Muslim dari Abi Huroiroh sesungguhnya Nabi bersabda:

وَالله لا يَسْمَعُ بِي يَهُودِيٌّ وَلا نَصْرَانِيٌّ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ ثُمَّ لا يُؤْمِنْ بِي إِلا دَخَلَ النَّارِ»

“ Demi Allah, tidaklah ada seorang Yahudi atau Nashroni dari umat ini yang mendengar dariku, namun ia tidak beriman kecuali ia akan masuk neraka”,

3        Syariah Islam merupakan satu-satunya syariah yang boleh dan harus berlaku sampai hari kiamat. Ia tidak bisa dihapus dengan syariah lain, karena pembawa syariah Islam adalah rasulullah, penutup seluruh nabi dan rasul. Maka, syariah beliau menjadi penutup seluruh syaiah nabi dan rasul terdahulu :

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لا نَبِيَّ بَعْدِي

“Bani Israil selalu dipimpin oleh seorang nabi. Setiap seorang nabi mati, ia diganti oleh nabi berikutnya. Namun aku (tidak diganti) karena tidak ada nabi lagi sesudahku.” [Muttafaq ’alaihi].

بُعِثْتُ بِالسَّيْفِ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَة حَتَّى يُعْبَدَ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ

“Aku diutus dengan pedang sebelum hari akhir sehingga hanya Allah semata yang diibadahi tanpa disekutukan dengan sesuatu apapun selain-Nya.” [HR. Ahmad].

4        Karena syariah Islam merupakan satu-satunya syariah dan dien yang diterima Allah dan akan berlaku hingga hari kiamat, maka Allah Ta’ala menjaganya dari usaha penyelewengan, pemalsuan dan penyimpangan. Dengan demikian hujah Allah Ta’ala senantiasa tegak sampai hari kiamat nanti [QS. AL Hijr :9, An Nisa’ :165]. Allah Ta’ala menjaga syariah ini dengan senantiasa memunculkan sekelompok umat Islam yang tetap teguh dan istiqamah dalam menjaga kemurnian Islam dan memperjuangkan tegaknya syariah Islam di muka bumi, sebagaimana sabda Rasulullah

«لا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي قَائِمَةٌ بِأَمْرِ الله، لا يَضُرُّهُم مَنْ خَذَلَهُم أَو خَالَفَهُم حَتَى يَأْتَيَ أَمْرُ الله وَهُم ظَاهِرُونَ عَلَى النَّاس»

“Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang tegak melaksanakan perintah Allah. Orang-orang yang memusuhi dan menyelisihi mereka tidak mampu membeikan bahaya kepada mereka, sampai akhirnya dating keputusan Allah dan mereka menang atas manusia.” [Muttafaq ‘alaihi].

Imam Asy Syathibi mengatakan :

[إن هذه الشريعة المباركة معصومة، كما أن صاحبها صلى الله عليه وسلم معصوم، وكما كانت أمته فيما اجتمعت عليه معصومة]

“Sesungguhnya syariah yang diberkati ini ma’shum (terjaga), pembawanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam juga ma’shum, dan umat Islam bila telah mensepakati sebuah urusan juga ma’shum (maksudnya ijma’ ulama mujtahidin—pent).

2.      Pokok Kedua, Kesempurnaan Syariah Islam.

Karena syariah Islam menjadi satu-satunya aturan hidup bagi seluruh hamba sampai hari kiamat nanti, maka syariah Islam merupakan sebuah syariah yang sempurna mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ

“Pada hari ini telah aku sempurnakan bagi kalian agama kalian (Islam ).“

Firman Allah Ta’ala:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (yaitu Al Qur’an) sebagai penjelas bagi segala hal.” [QS. An Nahl :97].

Dari Thoriq bin Syihab, ia berkata,” Seorang Yahudi berkata kepada Umar :

«قال رَجُلٌ مِنَ الْيَهُودِ لعُمَر: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ لَو أَنَّ عَلَيْنَا نَزَلَتْ هَذِه الآيَة {الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلامَ دِينًا} لاتَّخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ عِيدًا، فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي لأَعْلَم أَيُّ يَوْمٍ نَزَلَتْ هَذِه الآيَة، نَزَلَتْ يَوْمَ عَرَفَةَ في يَوْم جُمُعَةٍ»

“Wahai Amirul Mu’minin seandainya diturunkan kepada kami ayat ini {Pada hari in itelah Aku sempurnakan bagi kalian agama Islam, dan telah Aku sempurnakan nikmatku kepada kalian dan Aku ridhoi Islam sebagai agama kalian}, maka akan kami jadikan hari itu sebagai hari raya.” Maka Umar berkata,”  Aku benar-benar tahu hari apa ayat ini turun, yaitu pada hari Arofah tepatnya di hari Jum’ah.” HR. Bukhari, Dan diriwayatkan oleh Tirmi`zi dari Ibnu Abbas, ia berkata:

نزلت في يوم عيدين، يوم جمعة ويوم عرفة

“Ayat ini turun pada dua hari raya yakni: hari jum’ah dan hari Arofah.“ Imam Ibnu Hajar berkata :

لاتخذنا ذاك اليوم عيدا، أي لجعلناه عيدا لنا في كل سنة لعظم ما حصل فيه من إكمال الدين

 “Makna dari ungkapan “akan kami jadikan sebagai hari raya” adalah akan kami jadikan hari raya bagi kami setiap tahun karena keagungan yang terdapat di dalamnya yakni disempurnakannya agama ini.”

Dari Abdullah bin Amru bin ‘Ash sesungguhnya Rosulullah bersabda:

إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ

“Sesungguhnya tidak ada seorang nabipun sebelumku kecuali ia telah menunjukkan kepada umatnya atas kebaikan yang ia ketahui bagi mereka, dan memperingatkan mereka atas kejelekan yang akan menimpa mereka.”

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «بعثت بجوامع الكلم»

   Dari Abi Huroiroh bahwa Rosulullah bersabda,” Saya diutus dengan kalimat singkat namun mempunyai makna yang luas.”

Pokok kedua ini mengandung beberapa perkara-perkara, sebagai berikut :

1.      Syariah ini telah sempurna, artinya; tidak memerlukan tambahan dan pengurangan lagi. Oleh karenanya semua bid’ah tertolak, baik bid’ah yang baru maupun bid’ah yang lama. ( I’thishom : 1/ 48).

2.      Syariat telah sempurna dan Rosulullah telah menyampaikan syariat yang sempurna ini secara sempurna pula. Artinya dalam dien Islam ini tidak terdapat ilmu bathin yang menyelisihih dhohir, atau hakekat yang menyelisihi syariat. Maka berbagai kelompok yang menganut paham ilmu bathin dan hakekat ini (seperti sufi, tarekat, bathiniyah, Syiah) adalah paham sesat dan batil.

3.      Kesempurnaan syariat juga bermakna terbebasnya syariat ini dari kontradiksi antara satu dalil dengan dalil lainnya. [QS. An Nisa’ :82, Al Fushilat :41-42].

Rosulullah bersabda :

«إِنَّ الْقُرْآنَ لَمْ يَنْزِلْ يُكَذِّبُ بَعْضُهُ بَعْضًا بَل يُصَدِّقُ بَعْضُهُ بَعْضًا فَمَا عَرَفْتُمْ مِنْهُ فَاعْمَلُوا بِهِ وَمَا جَهِلْتُمْ مِنْهُ فَرُدُّوهُ إِلَى عَالِمِهِ»

”Sesungguhnya Al Qur’an ini tidak diturunkan untuk mendustakan satu dengan yang lain, tapi untuk saling membenarkan antara satu dengan yang lainnya. Maka apa yang kalian tahu darinya, amalkanlah dan apa yang kalian tidak tahu darinya, tanyakanlah kepada orang yang mengetahuinya.“

4.      Sempurnanya syariat berarti tidak ada suatu masalahpun yang tidak diatur oleh Al Qur’an dan AS Sunah. Al Qur’an dan AS Sunah telah memuat hukum –hukumnya baik berupa larangan, perintah maupun kebolehan, baik secara global maupun terperinci. Keterbatasan manusia saja yang sering menyebabkan mereka tidak mengetahui hukum masalah-masalah tertentu.

5.      Sempurnanya syariat syariat in tidak butuh kepada aturan-atutan agama sebelumnya yang telah manshukh dan juga tidak butuh kepada hukum dan aturan yang buatan manusia. Maka barang siapa mengaku bahwa syariat ini masih membutuhkan undang-undang buatan manusia (hukum positif) berarti ia telah kafir, karena telah mendustakan ayat Allah [QS. Al Maidah :3].

Maka tidak boleh mengganti hukum Islam dengan hukum positif, tidak boleh pula mencampur hukum Allah dengan hukum positif, seperti orang-orang yang mengatakan sosialisme Islam, demokrasi Islam, liberalisme Islam dan lain-lain. Islam adalah dien tertinggi yang tidak bisa dilampaui oleh dien lain   atau dicampur aduk dengan dien lain. Maka mencampur aduk Islam dengan dien lain [seperti sosialisme, demokrasi, Pancasila, UUD 45] merupakan perbuatan syirik [QS. Yusuf ;106].

3.      Pokok Ketiga: Haram mendahulukan perkataan atau perbuatan seseorang diatas ketetapan Allah dan Rasul-Nya.

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa syari’at Islam itu sudah sempurna, dan mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, maka tidak boleh bagi seorang muslim untuk melanggar perintah atau menyelisihinya sebelum mengetahui hukum Allah dan Rasul-Nya dalam urusan tersebut, dan sekali-kali syari’at Islam tidak pernah meninggalkan hukum suatu masalah pun. [Q.S: Al-Hujarat: 1].

Imam Al-Qurthubi berkata dalam menafsirkan ayat ini,“ Janganlah engkau mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam perkataan maupun perbuatan dan hendaklah kalian mengambil urusan dunia dan dien darinya. Dan ayat ini merupakan suatu kaedah pokok untuk tidak menentang perkataan –perkataan Nabi saw. dan wajibnya mengikuti dan mencontoh beliau.”

Imam Ibnul-Qoyyim berkata dalam mengomentari ayat tersebut: “Janganlah kalian berkata sebelum Beliau saw berkata, dan janganlah kalian memerintahkan suatu urusan sehingga beliau memerintah, dan janganlah kalian berfatwa sehingga beliau berfatwa, dan janganlah kalian memutuskan suatu perkara sehingga beliau memutuskannya.”

Dari prinsip ini dapat diambil beberapa kesimpulan antara lain :

1.      Dilarangnya berbicara tentang dien Allah tanpa mengetahui ilmunya.

Allah swt berfirman :

{قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّي الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ}

“Katakanlah, “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui”. (Q.S : Al-A’rof : 33).     

Berbicara tentang dienul-Islam tanpa ilmu merupakan tipu daya iblis la’natullah. Selain itu hal ini merupakan sumber dari perbuatan-perbuatan bid’ah dan kesesatan baik pada masa lampau maupun sekarang.

Allah berfirman:

{إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ}

Sesungguhnya Syaitan itu hanya menyuruh kamu untuk berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”.

2.      Rusaknya pemikiran orang yang mendahulukan akal atas nash (dalil) syar’i.

Imam Ibnul-Qoyyim berkata dalam bukunya Ighotsatu Lahfan: II/178 ; “Sumber dari seluruh bencana yang ada yaitu didahulukannya akal atas syareat dan didahulukannya hawa nafsu atas dalil syar’i.” Sedangkan pendahuluan akal pikiran manusia atas dalil syari’at adalah kaedah pokok dari sekulerisme, yang sekarang melanda hampir seluruh pelosok dunia ini tidak terkecuali negeri-negeri Islam. Dan dari situl, muncullah faham demokrasi, diberlakukannya undang-undang buatan manusia, dipisahkannya urusan politik dari Islam dan kerancuan-kerancuan pemikirang yang lain.

Oleh karena itu manusia dihadapkan pada dua pilihan dan akan terbagi pula menjadi dua kelompok. Mereka yang mengikuti hawa nafsu dan mereka yang mengikuti Rosulullah saw , dan setiap apa yang datang (bersumber) bukan dari Rosul maka ia adalah dari hawa nafsu. Q.S : Al-Jatsiyah : 18-19.

Islam tidak bermaksud menghina atau melecehkan akal manusia, karena akal adalah modal dasar untuk memahami nash-nsah syar’i, karena Allah swt sendiri sering memuji orang-orang yang berakal sebanyak 16 kali dalam Al-Qur’an dan Alloh juga mencela orang-orang yang tidak berakal. Dan Allah swt mensifati penduduk nereka dengan firman-Nya; Q.S: Al-Mulk: 1. Jadi kita tidak mencela dzatiyah akal tersebut akan tetapi akal tidak boleh didahulukan atas nash syareat. Q.S; Az-Zumar; 17-18

.

3.      Wajibnya mengetahui urutan-urutan dalil-dalil syar’i.

Ini merupakan konsekwensi logis karena kita tidak boleh mendahulukan akal daripada nash syar’i. Sehingga kita tidak salah memahami dan menyimpulkan sebuah dalil yang akhirnya mendahulukan dalil yang lemah dari dalil yang kuat. Dari situlah para Ulama’ berkata; “Tdak ada ijtihad dalam urusan yang sudah ada dalilnya. Adapun dalil-dalil yang disepakati oleh kaum muslimin yaitu; Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’, dan Qiyas.

Adapun dalil yang menunjjukkan semua itu adalah firman Alla :

{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا}

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” An-Nisa’: 59.

Adapun selain selain dalil-dalil yang disepakati para ulama’, di sana masih ada dalil-dalil yang menjadi perselisihan di kalangaan para ulama’, yaitu; al-istihsan, al-maslahah al-mursalah, al-istishab, hukum adat, mazdhab Sahabat, dam syari’t sebelum kita.

Akan tetapi semua itu mempunyai dua sumber pokok yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemahaman para sahabat dan tabio’in, karena mereka paling  tahu akan maksud dari nash-nash tersebut, dan hal ini akan menutup pintu agar akal pikiran manusia tidak bermain-main dan seenaknya sendiri dalam menafsirkan dalil-dalil syar’i.

Syaikh Muhammad Kholil Harros mengatakan bahwa metode Ahlus-Sunnah wal Jama’ah dalam menyimpulkan hukum-hukum Islam baik yang ushul maupun furu’, yaitu:

5        Al-Qur’an karena ia adalah sebaik-baik dan sebenar-benar perkataan, oleh karena itu para salaf tidak pernah mendahulukan perkataan manusia atas perkataan Allah swt.

6        Sunnah Rosulullah shalallahu alaihi wasallam, oleh karena itu para salaf tidak mendahulukan petunjuk, atau pedoman selain petunjuk Beliau shalallahu alaihi wasallam.

7        Apa-apa yang disepakati oleh para sahabat sebelum terjadsdinya perpecahan dan berbagai bid’ah.

Oleh karena itu kalau ada perkataan seseorang maka harus ditimbang dulu dengan ketiga dasar pokok terseburt, jika sesuai kita terima dan jika tidak maka kita tolak, siapa pun yang mengatakan perkataan tersebut. Dan demikianlah yang dicontohkan oleh para sahabat, dan inilah jalan yang lurus.

Adapun sarana yang harus dipenuhi untuk memahami dalil-dalil syar’I yaitu; ilmu tata bahasa Arab dan ushul fiqh. Dan tidak layak bagi seseoranng untuk berijtihad dalam urusan dien tanpa mengetahiiu seluk-beluk tentang kedua ilmu tersebut. Sehingga tidak mendahulukan dalil-dalil yang lemah atas dalil-dalil yang kuat.

4.  Pokok Keempat : Tunduk dan patuh sepenuhnya terhadap nash-nash syar’i

Tunduk dan patuh secara totalitas baik secara lahiriah dengan mematuhi hukum-hukum beserta konsekwensinya dan secara batiniyah yaitu dengan hati yang ikhlash dan penuh kerelaan dalam melaksanakan ketundukan tersebut. Dan ketundukan batin inilah yang membedakan antara mukmin sejati dan orang-orang munafiq, walaupun secara dhohir di dunia ini mereka dihukumi sama.

Adapun dalil-dalil yang mewajibkan hal tersebut adalah firman Allah dalam surat An-Nisa’: 65. Dalam hal ini Allah mengaitkan keimanan dengan keredhlaan ketundukan hati (batin) dengan ketundukan dhohir.

Adapun maksud dari ketundukan dan kepatuhan yang sempurna yaitu dengan mengikuti seluruh syari’at ini tanpa meninggalkan sebagian yang lain karena syari’at Islam ini adalah syareat yang sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan di dunia ini [Al Ahzab :36].

            Dan ketidak patuhan terhadap nash-nash syar’I akan menyebabkan perbutan-perbuatan bidah, faham-faham sesat dan berbagai macam kemaksiatan. Dan di antara yang menyebabkan hal itu semua antara lain:

a.        Beristidlal dengan Mentakwilkan (menafsirkan) nash-nash syar’i dengan takwil yang salah. Hal ini disebabkan karena tidak mengikuti para salaf dalam menafsirkan Al-Qur’an dan cenderung mengikuti haawa nafsu dan akal pikiran manusia.

b.      Mengambil sebagian nash dengan meninggalkan sebagian yang lain, seperti nash-nash yang masih umum padahal ada nash yang mengkhususkannya, mengambil dalil yang muthlaq dengan meniggalkan yang muqayyad padahal sebab dan hukumnya sama, mengambil dalil yang masih global dengan meninggalkan dalil yang sudah terperinci, beramal dengan nash yang sudah mansukh(dihapus hukumnya) dengan meniggalkan nasikh (nash yang menghapusnya), beramal dengan nash yang masih mutasyabih (yang masih banyak mengandung takwil) dengan meniggalkan nash yang sudah jelas hukumnya, atau menolak beberapa nash dan hukum dengan menggunakan kaedah-kaedah yang masih global.

Dan inilah jalan (cara) yang ditempuh oleh para pengusung bid’ah, orang-orang yang berfaham sesat, dan para pengikut hawa nafsu [Al baqarah :26, Al Isra’ :82].

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa seorang muslim wajib untuk tunduk dan patuh terhadap hukum-hukum Allah swt baik secara dhohir mauupun batin. Dan inin harus dibangun di atas ilmu yang yaqin bahwa tidak ada suatu urusan kecuali telah diatur oleh Allah swt dalam syareatnya. Dan hendaknya ketundukan ini dipertahankan dan dibawa sampai nyawaa berpisah dari jasadnya [Al An’am :162-163].

5. Pokok Kelima: Mengembalikan Segala Persoalan Kepada Allah dan Rasul-Nya

Prinsip ini merupakan konskwensi bagi seorang mukmin yang sudah mengaku tunduk dan pasrah kepada Allah. Setiap kali mendapati persoalan dalam suatu hal wajib dikembalikan kepada Allah dan RasulNya. Dalam hal ini Allah berfirman:

 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ ذَلِكَ خَيْرُُ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [An-Nisa’ : 59]

وَمَااخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِن شَىْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللهِ

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah.” [As-Syura: 10]

وَمَآأَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلاَّ لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (al-Qur’an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” [An-Nahl: 64].

Dalam menerangkan QS. An-Nisa’ 59, Al-Allamah Ibnul Qoyyim Al-Jauziah berkata,“ Manusia telah sepakat bahwa yang dimaksud dengan mengembalikan permasalahan kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah kembali kepada kitabNya. Dan kembali kepada Rasul adalah mengembalikannya kepada diri Rasulullah ketika hidupnya, dan kepada sunnahnya setelah beliau meninggal…… mengembalikan urusan kepada Allah dan RasulNya ini termasuk kewajiban dan konsekwensi iman, bila sikap mengembalikan persoalan pada Allah dan RasulNya ini hilang, maka hilang pula keimanan tersebut….”

Dari prinsip kelima ini bisa diambil kesimpulan sebagai berikut :

1.      Syariat adalah hakim (kata pemutus) yang menentukan, bukan yang dihakimi. Maksudnya syariat adalah yang menghukumi benar dan salahnya perkataan dan perbuatan manusia. Dan syariatlah yang menghukumi mereka ketika terjadi perbedaan pendapat dan perselisihan, membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah. Mencakup dalam masalah ini adalah semua perselisihan yang muncul diantara kaum muslimin sejak para sahabat radhiyallahu ‘anhum sampai generasi sesudah mereka. Di antara bentuk penyelewengan dari prinsip ini adlah ta’ashub madzhab yang memenangkan perkataan ulama tertentu atas dalil-dalil syar’i dan sistem demokrasi yang menjadikan MPR / Parlemen Tuhan Penguasa yang menentukan nasib syariat Allah Ta’ala lewat voting. Ini jelas sebuah kekafiran yang nyata. Imam Ibnu Abil Izz Al Hanafi mengatakan: “Jika dia berkeyakinan bahwa berhukum dengan apa yang diturunkan Allah tidak wajib, dan bisa ditawar atau dia merendahkan/menghina hukum Allah walaupun ia yakin bahwa itu merupakan hukum Allah, maka ini merupakan kufur akbar (menyebabkan pelakunya murtad dan kekal di neraka).”

2.      Tidak ada seorangpun dari ummat ini yang ma’sum setelah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, karena itulah Allah memerintahkan untuk merujuk kepada Allah dan RasulNya dalam perselisihan. Allah tidak memerintahkan untuk kembali kepada pendapat fulan dan perkataan fulan. Dengan itu semua maka dimaklumi bahwasanya tidak ada perkataan siapapun yang ma’sum setelah firman Allah dan sabda RasulNya.

Ada sebuah ungkapan bagus yang diriwayatkan dari Abu Hanifah, Malik, Syafi’I dan yang lainnya walaupun berbeda redaksinya: “Setiap orang bisa diterima dan ditolak perkataannya kecuali Rasulullah  .

Kembali kepada Kitab dan Sunnah berarti kembali kepada para ulama’ yang mengamalkan Kitab dan Sunnah. Allah berfirman :

فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَتَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” [An-Nahl: 43]

6. Pokok Keenam : Segala hal yang bertentangan dengan syariat Islam adalah batil dan tertolak.

Pinsip ini kembali kepada prinsip yang sebelumnya, mengembalikan urusan dalam perselisihan kepada Allah dan Rasulullah. Sesuatu yang sesuai dengan kitab dan sunnah maka itulah kebenaran yang kita terima dan kita amalkan. Dan apa saja yang bertentangan dengan kitab dan sunnah maka ia tertolak.

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

“Barangsiapa yang mengada-adakan di dalam masalah kami ini (dien Islam) sesuatu yang tidak termasuk darinya maka ia tertolak.” [Muttafaq ‘Alaih dari ‘Aisyah], dan di dalam riwayat Muslim:

من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka tertolak.”

Di antara hal-hal yang harus ditolak karena menyelisihi syari’at adalah:

1.      Bid’ah dengan segala bentuknya. Semua bid’ah adalah sesat dan haram, baik bid’ah yang menyebabkan pelakunya fasik maupun yang menyebabkan pelakunya murtad.

2.      Fatwa seorang mufti yang bertentangan dengan Al kitab dan As Sunnah tertolak. Imam Al-Bukhori berkata,“ Jika seorang hakim berijtihad dan ijtihadnya salah, tanpa sepengetahuannya ternyata bertentangan dengan Rasulullah maka hukumnya tertolak, berdasarkan hadits Rasul,” Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka tertolak.”

Seorang mufti yang telah layak berijtihad dan telah mengerahkan segenap kemampuan ilmunya di dalam berfatwa tetap mendapatkan pahala walaupun fatwanya salah. Seperti dinyatakan dalam hadits marfu’nya Amr bin Ash:

إذا حكم الحاكم فاجتهد ثم أصاب فله أجران، و إذا حكم فاجتهد ثم أخطأ فله أجر

“Apabila seorang hakim memutuskan perkara dan dia berijtihad kemudian ijtihadnya betul, maka ia mendapatkan dua kebaikan. Dan apa bila memutuskan dan berijihad kemudian ijtihadnya salah, maka ia mendapatkan satu kebaikan.” Meski demikian, hasil ijtihadnya tetap tidak boleh dipakai karena salah.

3.      Pendapat fiqih yang marjuh/lemah. Siapapun ulama yang berpegang dengan pendapat tersebut selama bertentangan dengan dalil yang shahih.

Imam Malik berkata,“ Saya ini hanya seorang manusia yang kadang benar dan kadang salah. Maka periksalah pendapat-pendapat saya. Setiap yang sesuai dengan kitab dan sunnah, ambillah. Dan setiap yang tidak sesuai dengan kitab dan sunnah, tinggalkanlah.”

Imam Asy-Syafi’i berkata,“ Apabila kalian mendapati didalam kitabku sesuatu yang tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah, maka katakanlah dengan sunnah Rasulullah dan tinggalkanlah apa yang aku katakan.”

Prinsip ini merupakan penolakan terhadap sikap fanatik madzhab. Bahkan ta’ashub madzhab dan pendapat yang mengatakan wajibnya taqlid kepada perseorangan atau madzhab tertentu dalam masalah dien pada dasarnya merupakan bid’ah yang tertolak.

4.      Segala bentuk kesepakatan, perjanjian, syarat-syarat dan akad antar sesama manusia yang menyelisihi syar’i semuanya tertolak dan batil. 

5.      Kesalahan seorang qodli/hakim di dalam menjatuhkan vonis hukuman. Imam Al-Bukhori berkata,” Apabila seorang hakim memutuskan perkara dengan salah (dzalim) atau bertentangan dengan para ulama maka maka vonisnya tertolak.” Beliau kemudian menyebutkan hadits diutusnya Kholid bin Walid ke Bani Judzaimah.

Termasuk dalam hal ini adalah keputusan hukum para hakim di negara-negara yang berhukum dengan hukum positif. Hukum-hukum positif ini batil dan tertolak karena bertentangan dengan syariah, maka seluruh keputusan yang bersumber darinya juga batil dan tertolak.

7. Pokok Ketujuh : Mencegah Segala Hal yang Menimbulkan Bid’ah

Islam merupakan dien yang telah sempurna. Ibarat gelas yang telah penuh dengan air, tidak bisa ditambah dan juga tidak boleh dikurangi, karena akan mengurangi ajaran islam itu sendiri. Untuk itu perbuatan bid`ah dalam dien sangat dilarang oleh Rasulullah, sebagaimana yang terungkap dalam sabda beliau,“ Hendaklah kalian menjauhi mengada-ada dalam urusan dien.”

Imam Asy syatibi di dalam  Al I`itishom 2/36 berkata,“ Mengada-adakan hal baru dalam urusan dien maksudnya adalah; menambah, mengurangi, merubah, atau menyelewengkan. Perbuatan bid`ah terkadang bisa mengakibatkan pelakunya menjadi fasiq dan terkadang menyebabkan pelakunya menjadi kafir.”

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas secara marfu, dengan lafadznya sebagai berikut “Akan didatangkan beberapa orang dari umatku (di hari kiamat) dari arah kiri, maka aku berkata, ”Wahai Rabbku, mereka adalah sahabatku.” Maka dijawab,”Sesungguhnya kamu tidak tahu apa yang mereka ada-adakan (bid’ah) setelah sepeninggalmu.” Maka aku menjawab sebagaimana jawaban hamba yang shalih (Isa –pent):

وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَّا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِى كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ

Dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka” Al-Maidah : 117.

Maka dikatakan kepadaku,” Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalanmu.” [HR. Bukhari no. 4625].

Kebanyakan riwayat menggunakan shighoh tasghir  أصيحابي yang menunjukkan akan sedikitnya jumlah mereka. Imam Bukhori menempatkan hadits ini (no. 7049,7051) di awal kitab fitandalam shohihnya, untuk menunjukkan bahwa hal-hal yang baru dan perubahan didalam ad dien (bid’ah) merupakan sumber terbesar terjadinya fitnah dan kemurtadan, bahkan merupakan sumber pokoknya, baik itu terjadi di masa lampau atau masa sekarang. Maka amat benarlah firman Allah Ta`ala;

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيم

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” “An-Nur : 63

Dalam ayat ini disebutkan bahwa “fitnah“ merupakan siksa yang akan ditimpakan kepada siapa saja yang menyelisi perintah Nabi Shallahu Alahi Wassalam dengan menyeleweng dari hukum-hukum syariat-Nya dan berbuat bid`ah di dalam addien.

Maka dari itu Syari`at Islam telah menetapkan kaedah-kaedah untuk mencegah terjadinya bid’ah dan perubahan (penyelewengan) dalam addien. Imam Bukhori telah menyebutkannya di dalam bab `Ithishom bil kitab was sunnah” dalam shohih Bukhari-nya, antara lain yaitu: melarang dan memperingatkan keras dari adanya bid`ah, larangan mengangkat orang-orang yang bodoh sebagai pemimpin dan perintah menerima kepemimpinan ulama`, mencela pendapat yang rusak dan menolak qiyas yang fasid (analogi yang tidak benar), melarang terlalu berlebih-lebihan didalam urusan dien, melarang saling berbantah-bantahan dan berselisih pendapat, serta melarang mengikuti ahli kitab dan orang-orang musyrik.

Penjelasan:

1.      Larangan dan peringatan keras agar tidak berbuat bid`ah.

Bid`ah adalah hal-hal yang diada-adakan yang tidak ada dasarnya dalam syare`at. Adapun hal-hal yang yang diada-adakan yang ada petunjuknya di dalam syare`at maka tidak disebut bid`ah secara syar`I, walaupun termasuk bid`ah secara bahasa. Adapun perkataan sebagian ulama` salaf yang menganggap baik sebagian bentuk bid’ah, maka bid`ah yang dimaksud dengan bid’ah disini adalah bid`ah dengan artian bahasa bukan bid`ah dengan artian syar`i.”

Syekh Hafidz bin Ahmad Al Hakmi berkata :“ Perlu diketahui bahwa seluruh bid`ah adalah tertolak, tidak sedikitpun darinya yang bisa diterima. Seluruhnya adalah sesuatu yang jelek, tidak sedikitpun ada yang baik. Seluruhnya adalah sesat, tidak sedikitpun darinya ada petunjuk. Seluruhnya adalah dosa, tidak sedikitpun padanya pahala, dan seluruhnya adalah bathil tidak sedikitpun padanya kebenaran.”

2.      Perintah untuk tidak memilih pemimpin yang bodoh.

Memilih pemimpin yang bodoh merupakan sumber penyebab adanya kesesatan dan bid`ah didalam ad dien. Tidak hanya itu saja, adanya pemimpin yang bodoh merupakan bencana bagi manusia baik di dunia maupun di akherat. Rasulullah bersabda,“ Sesungguhnya Allah Ta`ala tidak akan mencabut ilmu secara langsung dari manusia, akan tetapi Allah Ta`ala mencabut ilmu dari manusia dengan mematikan para alim ulama`, sampai tidak tersisa seorang alimpun, dan para manusia mengambil pemimpin yang bodoh, ketika mereka bertanya kepadanya dia akan berfatwa tanpa didasari ilmu maka fatwanya tersebut sesat dan menyesatkan.”

3.      Perintah mengangkat ulama` sebagai pemimpin.

Dari Abi Hurairah, Rasulullah bersabda : “Jika amanat telah disia-siakan maka tunggulah datangnya hari kiamat.” Ada shahabat yang bertanya,” Bagaimana penyia-nyiaan amanat itu?” Beliau menjawab,” Jika urusan ini (kepemimpinan) diserahkan kepada yang bukan  pada ahlinya.” HR Bukhori.

4.      Celaan terhadap pendapat yang rusak dan qiyas yang rusak.

Yang pertama kali mengambil qiyas yang fasid adalah iblis laknatullah, sebagaimana yang ditegaskan Allah Ta`ala dalam firman Nya :

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

“Iblis berkata:” Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”, [QS. Shad: 76]. Dikarenakan penentangannya akan perintah Allah, maka Allah melaknatnya.

Yang disebut dengan pendapat dan qiyas yang rusak adalah sudah ada nash, namun tetap menyelisihi nash tersebut.

Umar bin Khottob berkata,“ Hendaklah kalian menjauhi para pengikut ra`yu (kaum rasionalis). Mereka adalah musuh-musuh sunnah Nabi, mereka tidak mampu menghafal hadits-hadits Nabi apalagi menjaganya, maka mereka akan berkata dengan ra`yu mereka, sesatlah ra`yu mereka dan menyesatkan.”

5.      Larangan untuk berlebih-lebihan dalam urusan dien.

Dari Ibnu Abbas secara marfu`, Rasulullah bersabda:“ Hendaklah kalian jahui berlebih-lebihan didalam urusan dien, sesungguhnya kehancuran yang menimpa umat-umat sebelum kalian dikarenakan berlebih-lebihan didalam urusan dien.” Dishohihkan Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban.

Ibnu Taimiyah berkata,“ Hadits ini umum untuk seluruh hal yang berlebih-lebihan baik itu dalam urusan aqidah maupun ibadah.”

6.      Larangan berbantah-bantahan dan saling berselisih.

Dari Abdullah bin `Amru,“ Salah seorang sahabat menyebutkan salah satu ayat dari Al-qur`an, kemudian dibantah oleh yang lain sampai suara mereka meninggi. Maka Rasulullah keluar dengan marah ketika mendengar keributan tersebut, merah wajahnya, beliau melempari mereka dengan kerikil sambil berkata,“ Tenanglah wahai kaum ! karena inilah hancurnya umat sebelum kalian, dengan menyelisi para Nabi dikalangan mereka dan menabrakkan sebagian ayat dengan sebagian ayat yang lain. Sesungguhnya ayat-ayat Al Qur`an tidak mendustakan antara ayat yang satu dengan yang lainnya, akan tetapi saling membenarkan. maka apa-apa yang kalian ketahui beramallah dengannya, dan apa-apa yang kalian tidak ketahui tinggalkanlah, sampai kalian mengetahuinya.”

7.      Larangan untuk mengikuti Ahlul Kitab dan orang Musyrik,

Hal ini sebagaimana Alloh firmankan dalam alquran surat [QS. Al Baqarah 120, Al Imran 118, Al Maidah 13].

Rosulullah Sholallahu’alaihi wasalam bersabda :”Kalian akan mengikuti jalan orang orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai mereka masuk ke lubang biawakpun kalian akan mengikuti mereka.” Para Shohabat bertanya,”  Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang Yahudi dan Nasrani?” Rasulullah menjawab,” siapa lagi.“ ( Mutafaq ‘Alaihi ).

Adapun mengikuti dan mempelajari hal-hal keduniaan seperti seperti ilmu perindustrian kepada orang kafir, maka diperbolehkan jika dia merasa aman dalam melaksanakan syiar Diennya. Dalam hal ini wajib bagi sebagian kaum muslimin untuk memperdalam urusan-urusan ini (ilmu yang bersifat fardhu kifayah) sampai benar-benar ahli sehingga kaum muslimin tidak membutuhkan lagi kepada orang kafir dalam urusan ini.

Pokok kedelapan: Amar Ma`ruf dan Nahi Munkar

Amar ma`ruf nahi munkar merupakan usul yang melindungi usul-usul sebelumnya, oleh karena itu Allah Ta`ala mensejajarkan antara amar ma`ruf dan nahi munkar dengan hifdzu dien “melindungi agama”, Allah Ta`ala menyebutkan dalam firman Nya :

اْلأَمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu’min itu. ( Q S At Taubah : 112 ).

Di antara bentuk amar ma`ruf nahi munkar adalah :

1.      Jihad di jalan Allah Ta`ala.

Dengan memerangi orang-orang yang kafir, murtad, dan orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul Nya. Ini merupakan sebab paling utama untuk melindungi dien [QS. Al Hajj :40]. Jihad merupakan puncak bentuk amar ma`ruf nahi munkar.

2.      Jarh dan Ta`dil.

Jarh artinya menerangkan kelemahan seorang perowi hadits, sementara ta’dil artinya menerangkan keadilan (sisi positif) seorang perowi hadits. Ilmu ini juga berkembang untuk di luar ilmu hadits. Ilmu ini ilmu yang Allah berikan khusus kepada orang-orang muslim untuk menjaga sunnah Nabi-Nya dan syari`at-Nya secara keseluruhan. Maka wajib atas kita untuk memperdalami ilmu tersebut untuk mengungkap segala syubhat dan kesesatan.

3.      Menumpas ahli bid`ah.

Imam Asy Syatibi dalam Al I`thishom 1/174-177 berkata,“ Memerangi ahli bid`ah secara khusus maupun umum, merupakan suatu pembahasan yang besar di dalam fiqih, berkaitan dengan penyelewengannya di dalam dien, kerusakan yang mereka timbulkan di muka bumi, dan keluarnya mereka dari kepemimpinan Islam. Maka kami katakan,” Sesungguhnya memerangi mereka dengan cara mengusir, menjauhi, dan mengingkari mereka, semuanya tergantung kondisi bid`ah itu sendiri dan tergantung besarnya kerusakan yang di timbulkan di dalam dien, apakah pelakunya terkenal berbuat bid`ah atau tidak, pelakunya mengkampanyekannya atau tidak, menampakkan di hadapan masyarakat atau tidak, atau dia berbuat bid`ah karena kebodohannya atau tidak. Masing-masing mempunyai hukum tersendiri, jadi tidak bisa disamakan antara yang satu dengan yang lainnya.”

Tidak adanya daulah Islamiyah tidak bisa dijadikan hujjah untuk membiarkan ahli bid`ah. Apabila mereka tidak mau kembali kepada jalan yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, maka wajib atas kita untuk memberi peringatan kepada mereka dan memberi tahu kepada manusia agar berhati-hati dengan mereka [Q S Al Mujadilah : 22]

Karakteristik Aqidah Ulama` Salaf

Berikut ini akan kami sebutkan beberapa karakteristik Aqidah para ulama` salaf.  

a- Keotentikan sumbernya.

Hal ini karena ‘aqidah Ahlus Sunnah semata-mata hanya bersandarkan kepada al-Qur-an, hadits dan ijma’ para ulama Salaf serta penjelasan dari mereka. Ciri ini tidak terdapat pada aliran-aliran Mutakalimin, ahli bid’ah dan kaum Sufi yang selalu bersandar kepada akal dan pemikiran atau kepada kasyaf, ilham, wujud dan sumber-sumber lain yang berasal dari manusia yang lemah. Mereka jadikan hal tersebut sebagai patokan atau sandaran di dalam masalah-masalah yang ghaib. Padahal ‘aqidah itu semuanya ghaib.

Sedangkan Ahlus Sunnah selalu berpegang teguh al-Qur-an dan Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ijma’ Salafush Shalih dan penjelasan-penjelasan dari mereka. Jadi, ‘aqidah apa saja yang bersumber dari selain al-Qur-an, hadits, ijma’ Salaf dan penjelasan mereka itu, maka adalah termasuk kesesatan dan kebid’ahan

b– Berpegang teguh pada prinsip berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya.

Permasalahan ‘aqidah adalah masalah yang ghaib, dan hal yang ghaib itu hanya tegak dan bersandar kepada kepasrahan (taslim) dan keyakinan sepenuhnya (mutlak) kepada Allah (dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam). Maksudnya, hal tersebut adalah apa yang diberitakan Allah dan Rasul-Nya (wajib diterima dan diyakini sepenuhnya. Taslim merupakan ciri dan sifat kaum beriman yang karenanya mereka dipuji oleh Allah, seraya berfirman: Alif Laam Mim. Kitab al-Qur’an ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka beriman kepada yang ghaib…”[Al-Baqarah: 1-3].

Perkara ghaib tidak dapat diketahui atau dijangkau oleh akal, maka Ahlus Sunnah membatasi diri di dalam masalah ‘aqidah kepada berita dan wahyu yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Hal ini sangat berbeda dengan Ahli bid’ah dan Ahli Kalam (mutakalimin). Mereka memahami masalah yang ghaib itu dengan berbagai dugaan. Tidak mungkin mereka mengetahui masalah-masalah ghaib. Mereka tidak melapangkan akalnya. dengan taslim, berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya, dan tidak pula menyelamatkan ‘aqidah mereka dengan ittiba’ dan mereka tidak membiarkan kaum Muslimin awam berada pada fitrah yang telah Allah fitrahkan kepada mereka.

c- Sejalan dengan fitrah yang suci dan akal yang sehat.

Hal itu karena ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jam’ah berdiri di atas prinsip ittiba’ (mengikuti), iqtidha’ (meneladani) dan berpedoman kepada petunjuk Allah, bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ‘aqidah generasi terdahulu (Salaful Ummah). ‘Aqidah Ahlus Sunnah bersumber dari sumber fitrah yang suci dan akal yang sehat itu sendiri serta pedoman yang lurus. Betapa sejuknya sumber rujukan ini. Sedangkan ‘aqidah dan keyakinan golongan yang lain itu hanya berupa khayalan dan dugaan-dugaan yang membutakan fitrah dan membingungkan akal belaka.

d- Mata rantai sanad ilmu mereka sampai kepada Rasulullah, para sahabat, tabiin dan para ulama` yang mendapat petunjuk.

Tidak ada satu dasar pun dari dasar-dasar ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang tidak mempunyai dasar atau sanad atas qudwah (contoh) dari para Shahabat, Tabi’in dan para Imam yang mendapatkan petunjuk hingga Hari Kiamat. Hal ini sangat berbeda dengan ‘aqidah kaum mubtadi‘ah (ahli bid’ah) yang menyalahi kaum Salaf di dalam ber‘aqidah. ‘aqidah mereka merupakan hal yang baru (bid’ah) tidak mempunyai sandaran dari al-Qur’an dan as-sunnah, ataupun dari para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Tabi’in. Oleh karena itu, maka mereka berpegang kepada kebid’ahan sedangkan setiap bid’ah adalah kesesatan.

e- Jelas dan gamblang.

Aqidah Ahlus Sunnah mempunyai ciri khas yaitu gamblang dan jelas, bebas dari kontradiksi dan ketidakjelasan, jauh dari filsafat dan kerumitan kata dan maknanya, karena ‘aqidah Ahlus Sunnah bersumber dari firman Allah yang sangat jelas yang tidak datang kepadanya kebatilan (kepalsuan), dan bersumber dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak pernah berbicara dengan hawa nafsunya. Sedangkan ‘aqidah dan keyakinan yang lainnya berasal dari ramuan yang dibuat oleh manusia atau ta’wil dan tahrif mereka terhadap teks-teks syar’i. Sungguh sangat jauh perbedaan sumber dari ‘aqidah Ahlus Sunnah dan kelompok yang lainnya. ‘Aqidah Ahlus Sunnah adalah tauqifiyah (berdasarkan dalil/nash) dan bersifat ghaib, tidak ada pintu bagi ijtihad sebagaimana yang telah dimaklumi.

f- Bebas dari kerancuan, kontradiksi dan kesamaran.

Aqidah Islam yang murni ini tidak ada kerancuan padanya, tidak pula kontradiksi dan kesamaran. Hal itu karena ‘aqidah tersebut bersumber dari wahyu, kekuatan hubungan para penganutnya dengan Allah, realisasi ubudiyah (penghambaan) hanya kepada-Nya semata, penuh tawakkal kepada-Nya semata, kekokohan keyakinan mereka terhadap al-haq (kebenaran) yang mereka miliki. Orang yang meyakini ‘aqidah Salaf tidak akan ada kebingungan, kecemasan, keraguan dan syubhat di dalam beragama. Berbeda halnya dengan para ahli bid’ah, tujuan dan sasaran mereka tidak pernah lepas dari penyakit bingung, cemas, ragu, rancu dan mengikuti kesamaran.

Sebagai contoh yang sangat jelas sekali adalah keraguan, kegoncangan dan penyesalan yang terjadi pada para tokoh terkemuka mutakallimin (ahlu kalam), tokoh filosof dan para tokoh sufi sebagai akibat dari sikap mereka menjauhi ‘aqidah Salaf. Dan kembalinya sebagian mereka kepada taslim dan pengakuan terhadap ‘aqidah Salaf, terutama ketika usia mereka sudah lanjut atau mereka meng-hadapi kematian, sebagaimana yang terjadi pada Imam Abul Hasan al-Asy’ari (wafat th. 324 H). Beliau telah merujuk kembali kepada ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (‘aqidah Salaf) sebagaimana dinyatakan di dalam kitabnya, al-Ibanah ‘an Ushuliddiyanah, setelah sebelumnya menganut ‘aqidah mu’tazilah, kemudian talfiq (paduan antara ‘aqidah mu’tazilah dan ‘aqidah Salaf) dan akhirnya kembali kepada ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Hal serupa juga dilakukan oleh Imam al-Baqillani (wafat th. 403 H) sebagaimana dinyatakan dalam kitab at-Tamhid, dan masih banyak lagi tokoh terkemuka lainnya. (Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M)

Ciri Khusus Dan Sifat Utama Yang Harus Dimiliki Oleh Ulama` (Ahlu Sunnah Wal Jama`ah)

Berikut ini akan kami paparkan beberapa ciri khusus serta sifat yang dimiliki oleh para ulama` salaf. adapun ciri-ciri tersebut adalah;

1.      Memberikan perhatian kepada Kitab Allah dalam bentuk hafalan, bacaan dan tafsiran. Di samping itu juga memberikan perhatian kepada hadits dalam bentuk pengertian, pemahaman dan pemilahan yang shahih dari yang dha’if. Ini disebabkan karena keduanya merupakan sumber utama pengambilan dan dengan disertai pengalaman ilmu yang diperolehnya..

2.      Masuk ke dalam Islam secara menyeluruh dan iman kepada semua isi Kitabullah, yaitu mengimani seluruh nash yang berkenaan dengan janji maupun ancaman Allah, nash yang berkenaan dengan penetapan asma dan sifat Allah maupun yang berkenaan dengan penolakan hal-hal yang tidak patut bagiNya. Mengimani takdir Allah serta menetapkan bahwa makhluk mempunyai keinginan dan kehendak dan Dia-lah yang berbuat, sebagaimana mereka memadukan antara ilmu dengan ibadah, kekuatan dengan kasih sayang, di samping itu juga mau berusaha dan bekerja tetapi tetap sederhana.

3.      Mengikuti sunnah, meninggalkan bidah dan menjauhkan diri dari perpecahan dalam agama.

4.      Mencontoh dan mengikuti jejak para tokoh kebenaran yang dapat dipercaya. Yang dicontoh adalah suru teladannya dalam ilmu, amal dan dakwah. Para tokoh kebenaran itu adalah para shahabat serta orang-orang yang mengikuti manhajnya. Di samping itu juga menjauhi orang-orang yang menyalahi jalan mereka.

5.      Mengambil jalan tengah, baik dalam pemahaman aqidah maupun dalam amal serta tindak tanduk.; Berada di antara golongan yang berlebihan dan golongan yang melalaikan; berada di antara orang-orang yang melampau batas dan orang-orang yang bermalas-malasan.

6.      Senantiasa menjaga kesatuan sikap umat Islam ata al-haq dan mempersatukan barisannya atas tauhid dan ittiba’ (mengikuti sunnah). Di samping itu juga menjauhkan setiap faktor yang dapat menyebabkan pertentangan dan perselisihan di antara umat. Tidak memiliki keistimewaan atas umat dalam prinsip-prinsip agama, kecuali dengan sebutan sunnah wal jama’ah. Tidak memihak serta tidak memusuhi selain atas ikatan Islam dan sunnah.

7.      Berda’wah kepada Allah, beramar ma’ruf nahi munkar, berjihad, menghidupkan sunnah, berusaha untuk tajdid agama serta menegakkan syariat dan hukum Allah dalam segala urusan baik yang kecil maupun yang besar.

8.      Bersikap adil dan bijaksana dan senantiasa memperhatikan hak Allah Ta’ala, bukan hak pribadi atau golongan. Oleh karena itu mereka tidak bersikap berlebihan terhadap orang yang memihak dan tidak pula berlaku zalim terhadap orang yang memusuhinya. Mereka tidak mengingkari kebaikan yang datang dari siapa saja.

9.      Kesatuan dalam pemahaman dan kesamaan dalam pandangan, sekalipun berjauhan tempat dan berbeda zman. Inilah salah satu hasi dari kesatuan sumber dan pengambilan.

10.  Berbuat baik, berkasih sayang, dan sopan santun terhadap seluruh umat manusia.

11.  Ikhlas dan setia kepada Allah, Kitabullah, Rasulullah, pemimpin umat Islam dan seluruh kaum muslimin.

12.  Memperhatikan urusan umat Islam, membela kepentingannya dan melaksanakan hak-haknya. Mereka tidak melakukan tindakan menyakiti umatnya.

Konsekwensi mengikuti  manhaj salaf

Dewasa ini, kita menyaksikan banyak diantara umat Islam, termasuk di dalamnya berbagai organisasi/partai/harokah/jama’ah Islam yang mengaku berpegang kepada pemahaman Islam yang benar, pemahaman salafu sholih, pemahaman ahlu sunnah wal jama’ah. Pengakuan ini bisa jadi benar, tapi bisa juga dusta. Pengalaman sejarah membuktikan banyak sekali kelompok yang mengaku kembali kepada Islam yang benar, kembali kepada Al Qur’an dan As Sunah, namun pada hakekatnya jauh menyeleweng dari Islam. Misalnya, kita melihat kelompok Rofidhoh yang mengaku Islam padahal Islam berlepas diri dari mereka. Begitu juga dengan kelompok sesat Jahmiyah, Khowarij, Bathiniyyah, Murjiah, Mu’tazilah, sufi ekstrim, Qodiyaniyah, Bahaiyah, Nushairiyah, Ismailiyah dan masih banyak lagi kelompok sesat yang mengaku menyeru kepada Islam,  tapi tidak sesuai dengan Islam itu sendiri.

Pengakuan mengikuti manhaj salafu sholih harus diiringi dengan bukti nyata dalam bentuk keyakinan, pemikiran dan amalan. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh seorang muslim atau kelompok Islam manapun yang mengaku kembali kepada pemahaman salafu sholih (ahlu sunnah wal jamaah), diantaranya :

1.       Mempelajari pemahaman salafu sholih.

Orang yang mengaku mengikuti pemahaman ahli sunnah, apalagi kalau orang itu seorang dai/ulama, haruslah mempelajari dan mendalami aqidah mereka sehingga memahami seluk beluk dan pokok-pokoknya, dengan cara mempelajari ilmu syar’i dan bertafaquh fi dien. Mustahil seseorang bisa mengikuti dengan benar pemahaman salafu sholih jika ia tidak mempunyai gambaran yang jelas dan benar tentang pemahaman salafu sholih. Untuk itu diperlukan belajar dan tafaquh fi dien kepada kepada para ulama’ yang tsiqoh (terpercaya), ulama yang teruji betul keistiqamahannya di atas sunah Rasulullah.

Tentu perlu dibedakan antara seorang da’i dengan seorang awam. Untuk kalangan awam umat Islam, mempelajari pemahaman salafu sholih sudah cukup meski sekedar global pemahaman tanpa detail-detail dalil. Berbeda dengan para pelajar dan ulama / da’i / ustadz yang dituntut untuk mempelajari  secara detail dengan dalil-dalilnya.

Belajar kepada para ulama tidak harus berguru langsung ke arab, yang terpenting adalah bagaimana mempelajari ilmu pemahaman yang mereka ajarkan. Sebagian umat Islam yang mengaku bermanhaj salaf terjebak dengan pernyataan ini (bertafaquh fi din harus langsung kepada para ulama), padahal ilmu itu bisa diraih dengan banyak cara, tidak hanya lewat bertatap muka langsung semata.

2- Mengamalkan dan mendakwahkan pemahaman salafu sholih kepada manusia agar berpegang dengannya (kebenaran)

Sekedar pemahaman dan ilmu tanpa pengamalan tidak bisa menjadikan seseorang sebagai seorang pengikut salafu sholih. Begitu juga, ia tidak hanya mengkonsumsi ilmu tersebut untuk dirinya sendiri namun harus disampaikan kepada ummat Islam lainnya sehingga pemahaman salafu sholih ini tersebar luas dan diterima masyarakat. 

3- Seorang yang mengaku mengikuti manhaj ahlu sunnah wal jamaah juga harus menjadikan aqidah ahlu sunnah wal jamaah itu tercerminkan dalam pada keyakinan, pemikiran, tulisan dan perkataannya, bahkan pada tindak tanduk serta amalannya. Pemikiran, tulisan, ucapan dan perbuatannya harus menjadi cerminan dari manhaj salafu sholih yang diyakini dan diikutinya.

4- Mengikuti jejak langkah salafu sholih dalam keimanan, keilmuan, amal sholih, amar ma’ruf nahi mungkar dan jihad mereka.

5- Memberikan wala’ dan bara’nya kepada orang lain berdasar kedekatan dan kejauhan orang tersebut kepada manhaj salafu sholih.

6- Mengaku bermanhaj salafu sholih juga berarti harus menentang segala bentuk penyelewengan dan penyimpangan dari manhaj salafu sholih.

Dewasa ini, banyak sekali kalangan yang mengaku bermanhaj salafu sholih namun tidak menentang berbagai bentuk penyimpangan dari manhaj salafu sholih.

Konsekwensi mengaku bermanhaj salaf adalah menjauhi penyimpangan-penyimpangan dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah. Berdasar sumbernya, para ulama menyebutkan sembilan bentuk penyimpangan dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah, yaitu

(a)-Ilhad,

(b)-Ta’thil,

(c)-Tahrif,

(d)-Takyif,

(e)-Ta’wil,

(f)-Syubhat,

(g)-Majaz,

h)- Tamsil,

(i)-Mutasyabih.

Wallohu a’lam bis showab.

Leave A Reply