Manhaj Firqah Najiah

0

 

 

Mukadimah
Risalah Islam membawa, bahkan mengajarkan dan memper-juangkan : kebenaran, keadilan dan kejujuran. Islam tidak me-ngajarkan, bahkan menolak dan memerangi : kebathilan, ke-dzaliman dan kedustaan. Dalam menegakkan misi suci ini, Islam sebagai Al Haq (pihak kebenaran) pasti mendapat tantangan dan rintangan dari kekuatan lain yang memusuhi-nya, yaitu kekuatan Al Bathil yang dipelopori oleh syeithan dan pasukannya, guna menyimpangkan manusia dari jalan Al Haq (kebenaran), jalan An Najat (keselamatan), Ash Shirhath Al Mustaqim.

Menurut Dr. Muhammad bin Sa`ied Al Qahthani, per-saingan dua kubu ini dimulai sejak diciptakannya Adam hingga berakhirnya kehidupan di dunia ini. Marilah kita lihat di dalam (Al Wala wa Al Bara Fii Al Islaam : 112).
وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لأَدَمَ فَسَجَدُوا إِلآإِبْلِيسَ لَمْ يَكُن مِّنَ السَّاجِدِينَ {11} قَالَ مَامَنَعَكَ أَلاَّتَسْجُدَ إِذْأَمَرْتُكَ قَالَ أَنَاخَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ {12} قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَايَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ {13} قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَىيَوْمِ يُبْعَثُونَ {14} قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ {15} قَالَ فَبِمَآ أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ
1
 ثُمَّ لاَتِيَنَّهُم مِّنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ وَلاَتَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ {17} قَالَ اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُومًا مَّدْحُورًا لَّمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ لأَمْلأَنَّ جَهَنَّمَ مِنكُمْ أَجْمَعِينَ {18}
Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat : “Bersujudlah kalian kepada Adam”; maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman:”Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu”. Menjawab iblis:”Saya lebih baik dari-padanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. Allah berfirman:”Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya me-nyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, se-sungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. Iblis menjawab:”Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka di-bangkitkan”. (Allah berfirman:”Sesungguhnya kamu ter-masuk mereka yang diberi tangguh”. Iblis men-jawab:”Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’at). Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka me-ngikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kalian”. (QS. 7 : 11-18)
2
Di dalam ayat-ayat ini, dijelaskan beberapa unsur penting terjadinya permusuhan antara Adam dan Iblis:
1.         Sebab terjadinya permusuhan. Iblis beranggapan bahwa Allah menyesatkan dan menghancurkan dirinya disebabkan oleh Adam. Dalam hal ini  syaithan berkata (Qs. 7 : 16) :
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ
Ibnu `Abbas mengatakan bahwa makna ayat itu adalah :  (Sebagaimana Engkau menyesatkan aku).
Sedangkan menurut ulama lain, maknanya adalah :
“Sebagaimana Engkau telah membinasakan aku, niscaya aku akan duduk menghalangi hamba-hambaMu dari jalan Engkau yang lurus yang Engkau ciptakan di antara keturunan manusia yang menjadi sebab Engkau jauhkan aku”.
2.         Target akhir yang hendak dicapai dalam permusuhan, yaitu menghalangi manusia dari Ash Shirhath Al Mustaqim, agar manusia tidak lagi beribadah kepada Allah  dan tidak bertauhid. Dalam hal ini syaithan berkata (Qs. 7 : 16)
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ
3
لأَقْعُدَنّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ
Ketika menjelaskan ayat ini, Ibnu Katsir Rahima-hullah berkata :
(صراطك المستقيم) طريق الحقّ و سبيل النّجاة. و لأضلنّهم عنها لئلاّ يعبدوك و لا يوحّدوك بسبب إضلالك إيّاي
“(JalanMu yang lurus) adalah jalan kebenaran dan langkah keselamatan. Sesungguhnya aku akan me-nyesatkan mereka dari jalan tersebut agar mereka tidak beribadah dan tidak mentauhidkan Engkau di-sebabkan Engkau sesatkan aku karenanya”.
3.         Upaya-upaya yang dilakukan syaithan dalam proses permusuhan tersebut. Yaitu dengan meng-hadang manusia dari empat arah, yaitu :
a. Dari arah depan,
b. Dari arah belakang,            
c. Dari arah kanan dan 
d. Dari arah kiri.
Dalam hal ini, syaithan memberikan ancamannya dalam (Qs. 7 : 17) :
ثُمَّ لاَتِيَنَّهُم مِّنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ
Dalam mentafsirkan strategi syaithan ini, Ibnu `Abbas – yang berasal dari riwayat Ali bin Abi Thalhah – menegaskan :
4
a.         Dari depan adalah “Aku berikan keraguan kepada mereka tentang hari akhirat”.
أشككهم في آخرتهم
b.         Dari belakang adalah “Aku gemarkan mereka dengan urusan dunia mereka”.
أرغّبهم في دنياهم
c.         Dari kanan adalah “Aku samarkan kepada mereka urusan agama mereka”.
أشبّه عليهم أمر دينهم
d.         Dari kiri adalah “Aku senangi mereka dengan berbagai maksiat”.
أشهّي لهم المعاصي
Sedangkan menurut Sa`ied bin Abi `Arubah bahwa Qatadah menjelaskan hal ini sebagai berikut :
أتاهم من بين أيديهم فأخبرهم أنّه لا بعث و لا جنّة و لا نار
ومن خلفهم من أمر الدّنيا فزيّنها لهم و دعاهم إليها
و عن أيمانهم من قبل حسناتهم بطأهم عنها
و عن شمائلهم زين لهم السيّئات و المعاصي و دعاهم  إليها و أمرهم بها
Aku datang dari hadapan mereka yaitu “mereka diinformasikan bahwa tidak ada hari kebangkitan, tidak ada surga dan tidak ada nereka”.
Dari belakang mereka yaitu “tentang urusan dunia, dengan memperindahkannya dan menyerukannya kepada mereka”.
Dari kanan mereka yaitu “Dari arah kebaikan mereka dengan menghalanginya”.
Dan dari kiri mereka yaitu “memperindah keburukan dan kemaksiatan kepada mereka, menyerukannya dan memerintahkannya kepada mereka”.
5
Menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Rahimahullah : setiap keburukan yang ada di dalam dunia ini disebab-kan oleh syeithan. Dan kita tidak mungkin dapat menghitung jenis-jenis keburukan yang disebarkan olehnya, apalagi rincian satuannya. Akan tetapi, jenis-jenis keburukan yang disebarkannya itu dapat di-golongkan dalam 6 bentuk, yaitu :
1.         Kesyirikan, kekufuran serta permusuhan kepada Allah dan RasulNya.
2.         Membuat hal-hal baru dalam agama (Bid`ah).
3.         Dosa-dosa besar.
4.         Dosa-dosa kecil.
5.         Sibuk dengan hal-hal mubah, dan
6.         Sibuk dengan hal-hal yang kurang penting dengan meninggalkan hal yang lebih penting.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan jika syaithan tidak mampu menyebar 6 racun tersebut dan sudah putus asa terhadapnya, maka sebagai senjata pamungkasnya digelarlah pasukan-pasukannya yang loyal dari bangsa Jin dan Manusia untuk melakukan intimidasi, propokasi kekafiran, penyesatan dan lain-lain.
Dalam hal ini, menurut Syeikh Muhammad Shafwat Nuruddin – Pimpinan Jama`ah Anshar As Sunnah Al Muhammadiah Mesir – bahwa syeithan bekerja keras mempengaruhi manusia dengan berbagai strategi, bahkan menjadikan mereka tentara-tentaranya yang siap selalu melaksanakan apa yang direncanakannya. Menurut beliau adalah 4 pasukan yang digelar oleh syeithan dengan dibaginya menjadi 2 posisi, yaitu posisi Dzahiroh (Nyata) dan posisi Khafiah (Tersembunyi) :
6
Paukan yang berada di posisi nyata terdiri dari :
1.         Kelompok orang-orang kafir yang dzalim.
2.         Kelompok pelaku maksiat, yaitu orang-orang yang masuk Islam, akan tetapi terbuai oleh kesenangan dunia.
Sedangkan pasukan yang berada pada posisi tersembunyi, yaitu :
1.         Kaum Munafiqin, yang menyatakan loyal secara dzahir, akan tetapi menyembunyikan permusuhan.
2.         Orang-orang yang ikhlas, semangat dalam beramal dan gemar berbuat, akan tetapi semakin bertambah banyak dia mendengarkan kata-kata dan kemajuan kaum kafir, terpengaruhlah dia dengan kaum kafir tersebut dan mendukung seluruh upaya mereka.
Pasukan ini digelar – terutama kompi kaum kafir yang dipelopori oleh Yahudi dan Nashrani – dalam rangka melakukan dua serangan kepada para pembela dan penganut Al Haq (Kaum Muslimin). Kedua serangan itu adalah :
1.         Al Ghazwu Al `Askary (Serangan / Invasi Militer) dengan melakukan intimidasi, teror fhisik, pembersihan wilayah dan pembasmian kaum muslimin.
Abdullah bin Mas`ud bercerita : “Bahwa Nabi  pernah melakukan shalat di Baitullah, sedangkan di saat itu Abu Jahal dan para pendukungnya sedang duduk-duduk. Sebagian rekannya berkata kepada yang lain :
“Siapakah di antara kalian yang berani meletakkan kulit bangkau di punggung Muhammad, saat dia sujud ?”
Lalu, seorang yang paling terburuk di antara mereka, yaitu `Uqbah bin Abi Mu`ith bangkit berdiri, kemudian mendatangi Rasulullah  sambil memandang dan menunggu Nabi  melakukan sujud. Lalu dia letakkan kulit bangkai itu dipunggung beliau. Sambil tertawa, mereka saling melempar tuduhan satu sama lain. (Hr. Al Bukhari : 1 / 54)
`Ammar bin Yasir – seorang Maula Bani Makhzum – yang masuk Islam bersama ayah dan ibundanya disiksa di tengah terik matahari yang sangat panas. Sang ayah wafat, tak sanggup menahan derita siksaan yang begitu dahsyat. Sedangkan sang ibu – yaitu Sumayyah – ditusuk kemaluannya dengan besi panas oleh Abu Jahal. Di saat Rasulullah  melintasinya, beliau berkata
صبرا آل ياسر فإنّ موعدكم الجنّة
“Sabarlah hai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah surga”. (Siroh Ibnu Hisyam : 1 / 319 – 320)
Menurut Muhammad Quthb serangan kaum kafir ini tidak perlu lagi kepada penafsiran dan alasan, karena, kedengkian mereka telah dijelaskan oleh Allah  dalam ayat-ayatNya diantaranya ialah (Qs. 2 : 109, 120 dan 217)
وَدَّكَثِيرُُ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَىكُلِّ شَيْءٍ قَدِيرُُ
Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguh-Nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 2:109)
وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَآءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَالَكَ مِنَ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah:”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. 2:120)
وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرُُ فَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS. 2:217)
2.         Al Ghazwu Al Fikri. Menurut Muhammad Quthb dalam kitab “Waaqi`una Al Mu`ashir” bahwa yang dimaksud dengan Al Ghazwu Al Fikri adalah ;
الوسائل غير العسكرية التي إتّخذها الغزو الصليبي لإزالة مظاهر الحياة الإسلامية و صرف المسلمين عن التّمسّك بالإسلام ممّا يتعلّق بالعقيدة و ما يتّصل بها من أفكار و تقاليد و أنماط سلوك
“Sarana-sarana non militer yang digunakan oleh pasukan salib untuk menghilangkan simbol-simbol kehidupan Islami serta memalingkan kaum muslimin dari sikap komitmen terhadap Islam, yang berkaitan dengan aqidah serta pemikiran, adat istiadat dan sikap hidup yang berhubungan dengannya”.
Menurut Shafiyurrahman Mubarokfuri dalam Kitab “Ar Rahiq Al Makhtum” diceritakan bahwa dahulu, di saat kaum musyrikin Quraisy melihat Nabi tidak dapat dihalang-halangi oleh berbagai bentuk intimidasi, mereka mulai beralih memikirkan strategi lain, yang diantaranya dalam 4 bentuk
a.         Melakukan ejekan, hinaan, olok-olok, pendustaan dan mentertawai. Tujuannya adalah dalam rangka menggoncang spirit jiwa kaum muslimin dan merendahkan mereka.
Baca (Qs. 38 : 4 dan 83 : 29-33)
b.         Mengacak-acak pengajaran, menyebarkan syubhat dan menggencarkan propaganda dusta. Tujuannya dalam rangka upaya menghalangi kaum awam, hingga tidak ada kesempatan untuk memikirkan dakwah beliau. (Baca Qs. 13 : 6 – 7)
c.         Menganggap Al Qur`an sebagai dongeng-dongeng / legenda nenek moyang. (Baca Qs. 25 : 4 – 5 dan 7 serta 16 : 103)
d.         Mengadakan tawar menawar win-win Solusien guna mempertemukan antara Islam dan Jahiliyah. (Baca Qs. 65 : 9)
Sedangkan menurut Dr. Al Washif `Ali Hizat, orang-orang Yahudi memiliki upaya yang cukup panjang dalam menipu dan meragukan kaum muslimin tentang agama dan iman mereka. Di antara upaya-upaya yang mereka lakukan antara lain :
a.         Mengerahkan satu komunitas yang bertugas masuk Islam di waktu pagi dan kufur di waktu sore. Tujuannya dalam rangka menggoyang kepercayaan kaum Muslimin terhadap Islam. (Qs. 3 : 71 : 72)
b.         Menyebarkan keraguan tentang berpindahnya kiblat dari Baitul Maqdis menuju Ka`bah Musyarrafah. Tujuannya adalah dalam rangka meruntuhkan rasa keagamaan dari jiwa-jiwa para shahabat. (Baca Qs. 2 : 142)
c.         Mengajukan pertanyaan-pertanyaan ilmiah yang secara dzahir dapat melemahkan jawaban ilmiah Islami. (Baca Qs.
d.         Terang-terangan mengadakan perang propaganda melawan Rasulullah  serta mengerahkan kaum Musyrikin untuk berada di bawah komando Ka`ab bin Al Asyraf.
e.         Mencela Rasulullah dengan berbagai upaya hinaan, guna menanamkan sakit hati dalam jiwa Rasulullah. (Qs. 2 : 104)
f.          Mengingkari keNabian Muhammad dengan mengemukakan pendapat bahwa Nabi itu hanya berhak dari keturunan Bani Israel. (Qs. 3 : 67)
g.         Membentuk pasukan Munafiqin yang berada di bawah komando Abdullah bin `Ubay bin Salul. Tujuannya dalam rangka melemahkan pasukan kaum muslimin.
h.         Memberikan julukan-julukan buruk serta memberikan julukan yang lebih utama kepada kaum musyrikin Quraisy. (Baca Qs. 4 : 44-45)

 

Leave A Reply