Malu Kepada Allah Ta’ala

0

Malu kepada Allah ta’ala merupakan adab yang sangat agung. Sesungguhnya seorang mukmin jika telah tertanam dalam jiwanya bahwasannya Allah ta’ala mendengar setiap ucapan, melihat setiap amal, mengetahui seluruh perkara baik yang tersembunyi maupun yang nyata, selalu mengawasinya, mengetahui seluruh keadaannya dan mengawasi setiap apa yang dilakukan masing-masing jiwa, maka ketika itu ia akan merasa malu sebab Allah melihatnya mengucapkan kata-kata yang buruk, melakukan perbuatan jelek atau berusaha dalam berbuat kerusakan. Rasa malu ini akan selalu ada dalam setiap keadaannya. Tidak pernah terlepas atau terpisah darinya selamanya, terlebih lagi saat ia bersendiri. Jika ia jauh dari pandangan manusia dan berdiam seorang diri, maka ia merasakan kebersamaan Allah ta’ala bersamanya.

Dengan demikian, ia malu karena Allah melihatnya melakukan kemaksiatan. Rasa malu ini merupakan suatu yang sangat bermanfaat bagi seorang hamba dan memiliki pengaruh yang sangat besar, di antaranya:

  1. Bersegera melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Hal itu dilakukan karena malu jika Allah ta’ala melihat hambanya yang mukmin meninggalkan suatu perintah atau melakukan larangan. Sesungguhnya seorang mukmin malu jika Allah melihatnya dalam keadaan seperti itu.
  2. Malu Allah kepada hamba. Sesungguhnya balasan itu sesuai dengan amal. Barangsiapa malu kepada Allah untuk berbuat maksiat, niscaya Allah ta’ala akan malu mengadzabnya pada hari kiamat. Dalam sebuah hadits, rasulullah shollaulohu alaihi wassalam bersabda tentang tiga orang yang berada dalam sebuah majelis ilmu:

Adapun salah seorang dari mereka kembali kepada Allah ta’ala, maka Allah pun menyambutnya. Seorang yang lain malu kepada Allah, maka Allah pun malu kepadanya. Sementara yang lain lagi berpaling, maka Allah pun berpaling darinya.[1]

  1. Menanamkan pada diri seorang mukmin rasa malu kepada makhluk. Sesungguhnya barangsiapa yang membiasakan malu kepada Allah, maka rasa malu itu akan menghalanginya untuk melakukan keburukan.

Rasa malu itu akan menjadi kebiasaan, tabiat dan perangainya sehingga menjadikannya malu kepada manusia dan mencegahnya dari perbuatan buruk. Malu adalah bagian dari iman, sebagaimana sabda nabi shollaulohu alaihi wassalam:

Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang, malu adalah cabang dari iman.[2]

Dikutip dari: Ensiklopedi Adab Islam 1; Abdul Aziz bin Fathi As-Sayyid; Pustaka Imam Asy-Syafi’i

[1] HR. Al-Bukhari (66) dan Muslim (2176) dari Abu Waqid Al-Laitsi.

[2] HR. Muslim (35) dari Abu Hurairah. Al-Bukhari juga meriwayatkan hadits yang serupa.

Leave A Reply