Makna Kemenangan dan Kekalahan Dalam Jihad

0

 

 
Makna Kemenangan
#Makna pertama:
(Kemenangan atas dirinya dan atas 8 hal yang disukai manusia: 1.bapaknya, 2.anaknya, 3.saudaranya, 4.istrinya, 5.kerabatnya, 6.hartanya,  7.perniagaan yang dikhawatirkan kerugiannya, 8.rumahnya. -pent. )
Seorang Mujahid ketika keluar berjihad,sungguh ia telah mendapatkan kemenangan atas dirinya dan atas 8 hal yang di sukai, seperti yang telah Allah sebutkan dalam al-qurán(at-taubah; 24), beserta cabang-cabang dari kedelapan hal tersebut.

#Makna ke-2:
Kemenangan atas syaitan yang mencoba menghentikannya di jalan jihad, untuk menghalanginya dari ‘amaliah jihad. (Ketika telah berangkat atau sedang di medan jihad pun syetan tetap mengganggu mujahid,dengan segala cara, agar meninggalkan jihad.-pent)
#Makna ke-3:
Kemenangan mendapatkan hidayah/petunjuk untuk berjihad. Ia  tergolong dalam ayat:
والذين جاهَدوا فينا ليهدينهم سبلنا، وإن الله لمع المحسنين
“Orang yg berjihad di(jalan) Allah, pasti akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami.Sesungguhnya Allah pasti bersama golongan muhsinin.” (al’ankabut:69)
Sedangkan hidayah merupakan kemenangan teragung dan jalan paling utama menuju surga.
#Makna ke-4:
Kemenangan atas orang-orang dari kalangan keluarga atau kaumnya yang merendahkannya, menakut-nakutinya,melemahkannya dan merintanginya dan atas orang-orang yang menghalanginya dengan segala cara dan semua trik  dari pelaksanaan jihad.
#Makna ke-5:
Kemenangan  keteguhan di jalan jihad meskipun kesukaran dan penderitaan menimpanya dan  walaupun banyak orang berpaling,menggembosi dan menelantarkannya. Allah ta’ala berfirman:
يثبت الله الذين آمنوا بالقول الثابت في الحيوة وفي لآخرة
“Allah meneguhkan kedudukan orang-orang beriman dengan perkataan yang kokoh dalam kehidupan dunia dan akhirat,dan Allah menyesatkan orang-orang zhalim.Allah melakukan apa yg Dia kehendaki.” (Ibráhím:27)
Maka barangsiapa tetap teguh di jalan jihad dan tetap melanjutkan pelaksanaan syi’ar(jihad) ini,maka ia tergolong dalam ayat ini,dan  mendapatkan kemenangan hakiki.
#Makna ke-6:
Kemenangan pengorbanan dirinya, waktunya dan hartanya   di atas jalan keyakinannya,dan kemenangan untuk akidah dan agamanya.Karena pengorbanan untuk agama ini merupakan kemenangan tersendiri,sama saja pihak mana pun yg menang di medan tempur, baik dia(mujahid) ataupun musuhnya. (kemenangan dari hal pengorbanan  itu tetap milik mujahid, bukan milik musuhnya.-pent)
#Makna ke-7:
Kemenangan hujjah dan bayan. Dengan jihad,kebenaran menjadi nampak jelas dan tinggi,seperti halnya kemenangan hujjah dan bayan seorang pemuda.. (yang diikuti berimannya  rakyat satu kerajaan dan kemudian menjadi ashhábul uhkhdúd.-pent.)
#Makna ke-8:
((Kemenangan atas kebinasaan musuh oleh qori’ah (bencana,malaletaka-yang merontokkan/memporak-porandakan) dari sisi Allah ,disebabkan jihadnya mujahidin.-pent))
Salah satu bentuk pertolongan Allah bagi Mujahidin adalah dibinasakanNya  musuh mereka dengan qori’ah(kekuatan yang merontokkan/memporak-porandakan lawan) dari sisiNya, hal itu disebabkan oleh jihadnya para mujahidin,seperti yang terjadi pada kaum-kaum para Nabi dahulu.
 #Makna ke-9:
(Kemenangan mujahid atas fakirnya/kepapaaan/lemahnya orang-orang kafir dan atas terbelenggunya mereka  dalam kekufuran hingga ajal menjemput,disebabkan oleh jihad-pent)
Diantara potret kemenangan adalah: Keberlangsungan jihad menjadi sebab bagi kepapaan/lemahnya orang-orang kafir,kematian mereka dalam kekufuran dan ketiadaan hidayah pada mereka. Ini adalah salah satu kemenangan terbesar.Maka,prilaku mereka memerangi agama ini dan menantang mujahidin: menjadi sebab akan kesesatan mereka dan terbelenggunya mereka dalam kekufuran hingga kematian menjemput.
Seperti yang terjadi pada Firaun dan kaumnya disebabkan oleh (da’wah dan) doa nabi Musa dan nabi Harun ‘alaihimassalám.
#Makna ke-10:
(Kemenangan sebagai syuhada/pencapaian cita-cita tertinggi.-pent).
Diantara potret kemenangan adalah:Allah hendak menjadikan diantara hamba-hambanya sebagai syuhada. Firman Allah ta’álá:
وتلك الأيام نداولها بين الناس،وليعلم الله الذين آمنوا ويتخذ منكم شهداء،والله لا يحب الظلمين
“itulah hari-hari yang Kami pergilirkan  antara manusia,agar Allah mengetahui siapa saja yang beriman dan menjadikan sebagian kalian sebagai syuhada.Dan Allah tidak menyukai orang-orang zholim.” (áli  ‘Imrón:140)
Maka setiap hamba yang beramal dan bersungguh-sungguh mengerahkan kemampuan karena Allah ta’álá, sesungguhnya itu dilakukan karena ingin masuk surga.Sedangkan jihad merupakan jalan yang paling singkat menuju surga,dan kesyahidan adalah kemenangan terbesar yang menjadi cita-cinta puncak seorang mujahid
 #Makna ke 11:
Kemenangan di medan pertempuran. Inilah makna kemenangan yang diketahui oleh setiap orang. Banyak diantara mereka yang membatasi makna kemenangan hanya dari jenis ini saja, padahal itu merupakan kecacatan (ketimpangan) dalam pemahaman.Maka,mau tidak mau, kita harus memahami semua jenis kemenangan yang telah disebutkan di muka.
Makna Kekalahan
##Makna pertama:
Mengikuti agama/millah orang-orang kafir atau hawa nafsu mereka.
Firman Allah ta’álá:
ولن ترضى عنك اليهود ولا النصرى حتى تتبع ملتهم،قل إن هدى الله هو الهدى،ولئن اتبعت أهواءهم بعد الذي جاءك من العلم ما لك من الله من ولي ولا نصير
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu sampai kamu mengimuti agama mereka.Katakanlah:’Sesungguhnya petunjuk Allah-lah yang benar-benar petunjuk’.Jika kamu benar-benar mengikuti hawa napsu mereka setelah datang pengetahuan,maka tidak akan kamu dapatkan dari sisi Allah seorang pelindung dan tidak pula penolong”.(albaqoroh:120)
ولئن اتبعت أهواءهم من بعد ما جاءك من العلم،إنك إذا لمن الظلمين
“Jika kamu benar-benar mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan padamu,maka sesungguhnya kalau begitu kamu termasuk golongan orang-orang zholim”.(albaqoroh:145)
Manakala seorang muslim murtad dan mengumumkannya,apakah mengikuti millah yahudi dan nasrani ataupun satu ciri dari millah kufur yg lain dari sekulerisme, ba’atsisme, komunisme, atau isme-isme baru di jaman modern ini,sama saja apakah keseluruhannya ataupun bagian-bagiannya,maka ini jenis kekalahan terbesar,hingga kalaupun  mendapatkan ridha dari yahudi nasrani dan selain mereka dari millah-millah kufur,dan mendapatkan  kekayaan,kepemimpinan dan kekuasaan; hal itu tidak akan terealisasi tanpa mengikuti millah mereka.
##Makna kedua:
Bermudáhanah terhadap orang -orang kafir
(bersikap lunak,berkompromi,cenderung, menjilat, membiarkan/tidak mengingkari kebatilan padahal mampu.-pent)
Allah ta’ala berfirman:
فلا تطع المكذبين،ودوا لو تدهن فيدهنون
”Maka janganlah menuruti para pendusta.Mereka suka seandainya kamu bersikap lunak,maka mereka pun akan bersikap lunak juga kepadamu”.(al-qolam:8~9).
Dalam ayat ini Allah melarang Rasulullah صلى اللّٰه عليه وسلم untuk mengikuti kemauan para pendusta,yakni kuffar Quraisy, karena hal itu bertentangan dengan alhaq.
Imam Qurthubi berkata dalam tafsirnya (18/230):Allah melarang beliau dari hal cenderung kepada orang-orang musyrik, mereka meminta beliau agar membiarkan  mereka,sehingga merekapun akan membiarkan beliau. Kemudian Allah menjelaskan bahwa mumáyalah(cenderung)kepada mereka merupakan bentuk kekufuran. Allah ta’álá berfirman:
ولو لا أن ثبتنك لقد كدت تركن إليهم شيئا قليلا
“Seandainya Kami tidak menguatkan kamu, niscaya kamu akan  sedikit cenderung kepada mereka”. (al-isro:74)
Sebagian kaum telah sesat,karena terhadap mudahanah -yang sebenarnya  diharamkan itu- mereka anggap sebagai mudáróh yang dibolehkan; maka mereka memasuki pintu kekalahan,disebabkan kebodohan atau pura-pura bodoh; yang mengira bahwasanya mereka memasuki pintu itu (mudahanah yang mereka lakukan) dengan mwnyebutnya sebagai  “mudáróh yang syar’i”.
Untuk memperjelas hal itu kami katakan: Sesungguhnya mudáróh itu satu hal, sedangkan  mudáhanah  hal yang lain. Mudáróh itu dibolehkan,berlawanan dengan mudáhanah. Mudáróh itu termasuk dalam kategori  lemah lembut dalam pembicaraan ,luwes dan ramah   terhadap orang yang bertentangan,namun tidak mengakui ataupun menyetujui kebatilan, atau sikap-sikap semacam itu. Jika bablas dari ini (mengakui dan menyetujui kebatilan/kemungkaran) maka ia masuk dalam kategori mudáhanah. Rasulullah صلى اللّٰه عليه وسلم ,dalam hadits (بِئْسَ أخوا العشيرة), beliau tidak berbicara dengan hal yang batil,tidak mengakui sesuatu yang batil,dan tidak melakukan maksiat-hanyalah untuk menghindari keburukan dan yang lainnya-namun dengan cara yang disyariatkan,tidak bercampur dengan kebatilan. Dan telah disebutkan dalam hadits-hadits tentang  pujian terhadap sikap mudáróh kepada manusia, karena adakalanya hal itu termasuk akhlak yang baik.
Perbedaan antara mudáróh(مداراة) dengan mudáhanah(مداهنة), yakni bahwa mudáróh adalah mengorbankan dunia untuk kemaslahatan dunia atau kemaslahatan agama atau kemaslahatan keduanya sekaligus, itu hukumnya mubah,dan terkadang mustahab.Sedangkan mudáhanah adalah menanggalkan agama demi kemaslahatan dunia.Dari penjelasan di atas,menjadi jelaslah kekalahan banyak kaum yang menisbatkan  diri mereka kepada Islam-manakala mereka bermudáhanah dengan musuh-musuh Allah سبحانه وتعالى,dan  mereka menipu diri mereka sendiri dan menipu manusia,seraya mengatakan: “ini merupakan mudáróh yang syar’i”,padahal itu adalah seburuk-buruk kekalahan dan mudáhanah buta,yg mengubah haq menjadi batil,dan batil menjadi haq,dan mengorbankan agama demi dunia dan kepentingan pribadi yang kotor/hina.Maka…model kemenangan apa yang masih ada   setelah kekalahan terburuk ini?
##Makna ketiga:
  Condong dan berpihak (nurut)  kepada orang-orang kafir dan para pelaku kebatilan.
firman Allah ta’ala:
وإن كادوا ليفتنونك عن الذي أوحينا إليك لتفتري علينا غيره،وإذا لاتخذوك خليلا.
ولو لا أن ثبتنك لقد كدت تركن إليهم شيئا قليلا.
إذا لأذقنك ضعف الحيوة وضعف الممات ثم لا تجد لك علينا نصيرا
“Mereka sungguh hampir memalingkan kamu dari apa yang Kami wahyukan kepadamu,agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami;dan kalau sudah begitu  niscaya mereka menjadikan kamu sebagai teman setia.
Jika Kami tidak menguatkan kamu,pasti kamu  hampir-hampir sedikit condong kepada mereka. Kalau terjadi demikian,maka niscaya akan Kami rasakan kepadamu (siksaan) yang berlipat ganda di dunia dan juga (siksaan) yang berlipat ganda setelah kematian,kemudian tak akan kamu dapati seorang penolong pun terhadap Kami”.(al-isro:73~75)
Barangsiapa yang condong dan patuh kepada orang-orang kafir atau orang-orang zholim padahal telah diancam dengan neraka dan adzab akhirat,maka dengan sikap condong dan nurutnya kepada mereka(káfirín atau zhólimín) itu berarti ia mengumumkan  dengan lantang bahwa ia telah kalah dengan kekalahan terburuk dan bahwa prinsip(mabda)nya yang selama ini dipegang telah lenyap begitu saja setelah sikap condong dan patuhnya kepada mereka,walaupun ia mengklaim tidak melepas prinsip-prinsip(mabádi)nya, akan tetapi sikap kecondongan dan kepatuhannya kepada zholimin atau kafirin itu telah mendustakannya dan menjadi pengumuman bahwa ia telah kalah. Tidaklah bermakna mabádinya ketika didustakan oleh amalnya,ia tidak lebih dari klaim-klaim kosong  dan  tinta di atas kertas.Tidak mungkin akan selaras selamanya antara berpegang pada prinsip dengan sikap condong kepada zholimin atau kafirin yang sesuai keinginan mereka(zholimin au kafirin).Ini tidak lain hanyalah sebuah kekalahan yang hina.
Barangsiapa mentabburi makna-makna kemenangan dan makna-makna kekalahan seperti yang telah dipaparkan di atas,maka menjadi jelas baginya akan kebodohan orang-orang yang menganggap kalahnya Imaroh Islamiyyah (Afghanistan). Akan tetapi  orang yang mentadabburi makna-makna (kemenangan dan kekalahan) ini meyakini sesungguhnya Imaroh Islam dan pemimpinnya,amirul müminiin Mullá ‘Umar  hafizhohulláh   “telah menang” atas dunia internasional seluruhnya.
Allah ta’ala berkenan(memberi keutamaan)  kepada mereka, sehingga mereka memperoleh banyak bentuk-bentuk kemenangan.Sungguh Allah telah merahmati dan menjaga mereka dari hal ditimpa sifat-sifat kekalahan.
Kita memohon kepada Allah,semoga Dia meneguhkan para mujahidin dan menganugerahkan kepada mereka  kemenangan di medan tempur.Sesungguhnya Allah-lah Sang Pengawal kemenangan dan  Dia  Maha Kuasa untuk hal itu.
Maka,yg patut dilakukan oleh seorang muslim adalah memegang teguh aqidahnya dan prinsip-prinsipnya dan menyatakannya dengan terus terang selamanya bahwa sesungguhnya ia lebih tinggi kedudukannya (dari orang-orang kafir) dan bahwa ia adalah sang  pemenang  walau bagaimanapun kesukaran dan kesakitan/luka menimpanya.Allah ta’álá berfirman:
ولا تهنوا ولا تحزنوا وأنتم الأعلون إن كنتم مؤمنين
Janganlah kalian bersikap lemah,dan jangan pula  bersedih hati, padahal kalianlahlah orang-orang yg paling tinggi (kedudukannya) jika kalian adalah orang-orang yg beriman. Jika kalian mendapat luka,maka sungguh orang-orang kafir pun mendapat luka serupa. Dan begitulah masa-masa(kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia(agar manusia mengambil i’tibar) dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kalian dijadikan sebagai syuhada.Dan Allah tidak suka kepada orang-orang yang zholim.” (3:139~140)
Sholawat dan salam atas Rasulullah,keluarganya,dan para sahabatnya.
Penulis: Syaikh Yusuf Al-‘Uyairi.

 

Leave A Reply