LAPORAN KEGIATAN SAHDAN ( Semarak Dakwah Islam Ramadhan ) 1437 H

0

Oleh : Muhammad Ali Akbar

KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Segala puji hanya milik Allah subhanahu wata’ala, Rab semesta alam. Shalawat beriring dengan salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hari itu, tanggal 1 atau 2 juni 2016. Tawaran untuk safari ramdhan ( tugas dakwah di bulan ramadhan) ke Nunukan akhirnya tertuju  kepadaku, rasa syukur dan bahagia meliputi hariku di saat itu. Betapa tidak, hal yang kutunggu-tunggu sejak semester empat di An-Nuur akhirnya terwujud di semester enam.
“ Ali Akbar, antum tugas di Nunukan” kata mas’ul hari itu yang bertugas untuk membacakan tabel daerah penugasan kepada mahasiswa semester enam . “insyaAllah keberangkatan dibiayai oleh Adwa’ul Bayan” lanjutnya.
Tugas di Nunukan memang terkesan hebat dan menyenangkan karena temapatnya yang terletak di perbatasan Indonesia Malaisya. terkesan seperti keluar negri ,he he he. Untuk menginjakkan kaki di tanah Malaisya hanya membutuhkan waktu setengah jam perjalanan menggunakan perahu.
Perjalanan ke pulau Nunukan membutuhkan kekuatan fisik yang ekstra dan  kesabaran yang tak terhingga serta wawasan yang luas, hal itu karena jaraknya yang sangat jauh dan jenis kendaraan yang digunakan untuk sampai ke sana juga bermacam macam, lewat darat, udara dan laut.  mulai dari bis, pesawat, hingga speedbot atau kapal.
Banyak dari teman teman MA(ma’had aly an-nuur) yang mengatakan bahwa sayalah yang paling beruntung dalam penugasan safari ramadhan tahun ini, karena tempat yang akan saya tuju adalah tidak lain dan tidak bukan rumah tempat tinggal orang tua saya sendiri yaitu Nunukan.
Setelah hal ini saya sampaikan kepada orang tua, dengan senang hati mereka langsung mengabarkannya juga kepada tokoh masyarakat sekitar dan sesegera mungkin nama saya tercantum dalam jadwal kultum dan ceramah ramadhan yang dibuat langsung oleh kemenag Nunukan. Sungguh kelihatan aneh tapi nyata, anak yang dulunya kelihatan “bandel” kini kembali dengan membawa gelar UST alias ustadz, berdiri di depan orang banyak menyampaikan mau’idhoh islamiyah dari mushalla yang kecil hingga masjid agung yang megah. Wal hamdulillah.
JAZAKUMULLAHU KHAIRAN KATSIRA saya ucapkan kepada MADINA( majelis dakwah islam indonesia) selaku  panitia SAHDAN ( semarak dakwah Islam Ramadhan ), dan juga terimakasih saya kepada YAYASAN ADWAUL BAYAN selaku yayasan yang siap untuk menanggung biaya tranportasi perjalanan saya dari keberangkatan hingga kembali ke Ma’had Aly. Atsabakumullahu ajran ‘adzima.
BAB 1
LAPORAN KEGIATAN DAN KONDISI MEDAN DAKWAH
A. Kondisi alam dan letak geografis
Kabupaten Nunukan merupakan satu di antara 5 kabupaten/kota di Propinsi Kalimantan Utara, dengan luas wilayah sebesar 14.263,68 km2. Berdasarkan geografisnya, Kabupaten Nunukan terletak di wilayah paling Utara Kalimantan  yang berbatasan langsung dengan negara tetangga yaitu Malaysia, tepatnya pada posisi 3o 30’ 00” – 4o 24’ 55 Lintang Utara dan 115o 22’30’’ – 118o 44’55’’ Bujur Timur. Secara administratif memiliki batas–batas wilayah sebagai berikut :
-Sebelah utara dengan Negara Malaysia Timur – Sabah;
-Sebelah timur dengan Selat Makassar dan Laut Sulawesi;
-Sebelah selatan dengan Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Malinau; dan
-Sebelah barat dengan Negara Malaysia Timur – Serawak.
Dengan letak geografis tersebut, Kabupaten Nunukan memiliki potensi besar untuk mengembangkan jalinan hubungan internasional dengan dunia luar khususnya negara Malaysia.
B. Kondisi Masyarakat
Dari sisi agama, masyarakat di Nunukan mayoritas beragama Islam namun yang mendominasi adalah NU kemudian Muhammadiyah, PKS, Persis, salafi, DDI bahkan ada syi’ahnya meskipun belum terang terangan. Dari sisi kesukuan, masyarakat di Nunukan mayoritas adalah pendatang dan yang mendominasi adalah suku Bugis, kemudian Jawa, Tator, Madura, dayak. Justru penduduk asli pribumi adalah minoritas.
Mata pencahariannya rata rata adalah pedagang, hal itu bisa disimpulkan karena pulau Nunukan terkenal dengan sebutan pulau transit, di mana orang-orang indonesia yang ingin keluar negeri seperti malaisya misalnya, maka mereka harus mampir dan singgah di pulau ini, dan begitupun sebaliknya orang-orang luar negeri yang ingin masuk ke Indonesia juga harus mampir di pulau ini guna mengurus pembuatan paspor, namun setelah beberapa tahun terakhir ini, setelah adanya kebijakan dari pemerintah bahwa paspor dapat dibuat di wilayah mana saja dan tidak harus di daerah perbatasan ini, tingkat ekonomi masyarakat mulai menurun karena berkurangnya pengunjung atau musafir yang singgah di pulau ini.Selain pedagang, PNS juga banyak, petani budidaya rumput laut dan nelayan.
Mata uang ada dua yaitu RP(rupiah) dan RM(ringgit malaisya), jika belanja menggunakan rupiah maka tidak menutup kemungkinan kempaliannya adalah ringgit, daan begitupun sebliknya.
Menurut saya, masih sangat sedikit sekali dari masyarakat Nunukan yang paham akan dinul Islam sesuai dengan peamahaman ahlussunnah wal jama’ah yang diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya, itu dapat dilihat dari cara berpakaian mereka yang masih jauh dari syar’i, kepedulian mereka terhadap ibadah dan kurangnya mereka dalam memeraktikkan adab adab Isam. Mungkin hal itu dikarenakan kebanyakan penduduknya adalah perantau atau pendatang sehingga mereka labih menyibukkan diri dengan usaha dan bisnisnya.
Secara garis besar, masyarakat Nunukan itu masih awwam kecuali hanya segelintir orang saja. Jika dia NU maka dia adalah Nu yang awwam, aura nahdiyinnya tidak begitu kental, begitu pula dengan muhamadiyahnya, sehingga masih ada harapan untuk bisa diishlah tashawur islaminya atau islamic wordlviewnya .
C. Aktifitas Selama Tugas
Selama satu bulan bertugas, saya benyak melaksanakan kegiatan yang bersifat dakwah, pedekatan dan pengenalan, terutama mengenalkan Yayasan QOLBUN SALIM yang ada Nunukan selaku pj(penanggung jawab da’i daerah Kaltara), MADINA selaku lembaga pengiriman dai ke Nusantara dan ADHWAUL BAYAN selaku fasilitator tranportasi da’i pp.
Di antara kegiatan da’i sebagai berikut:
1) Mengisi pengajian rutin ahad sore sebelum ifthar hingga menjelang ifthar(buka puasa).
2) Kegiatan TPA jaddi jam 5 sore hingga menjelang magrib selain hari ahad
3) Imam shalat tetap di mushalla al-Barokah selama sebulan, kecuali ada uzdur
4) Kultum subuh selama ramadhan di mushallah al-Barakah kecuali udzur
5) Membimbing tahfidzul qur’an untuk anak-anak masyarakat sekitar mushalla al-Barakah selama ramadhan setiap ba’da shalat subuh
6) Imam tarwih sekaligus penceramah di mushalla al-Barakah kecuali ada jadwal dari Kemenag.
7) Ceramah dan kultum Ramadhan dari mushalla kecil hingga masjid agung sesuai dengan jadwal yang dicantumkan oleh Kemenag. Belum termasuk jadwal yang bersifat permintaan dadakan di luar daripada kemenag.
8) Khutbah jumat sebanyak 4 kali selama ramadhan
9) Mengadakan pengajian dan bimbingan kepada masyarakat seputar tajhizul janaiz(mengurus mayat dari sakaratul maut hingga pemakaman)
10) Kunjungan kerumah tokoh masyarakat dan tokoh agama masyarakat sekitar
11) Khutbah ‘id sekaligus imam di masjid an-Nuur di pulau sebakis(wilayah prusahaan kelapa sawit Nunukan)
12) Panitia pembagian zakat kepada masyarakat sekitar mushalla al-Barakah
D. Kendala Yang Dihadapi Selama Tugas
Selama masa tugas alhamdulillah terasa lancar-lancar saja, walaupun ada beberapa kendala namun meneurut saya tidak bagitu berpengaruh kecuali satu, mengubah mensed dan pandangan sebagian tokoh agama Nunukan tentang yayasan Qolbun Salim. Sebagian mereka masih ada yang memandang Qolbun salim dengan pandangan sebelah mata, hal itu bisa jadi dikarenakan yayasan ini yang masih muda dan baru muncul di beberapa tahun terakhir ini, sehingga dianggap masih kecil. Selain itu yayasan ini belum memiliki da’i atau ustadz yang bertitel atau kapabel betul dalam ilmu din, mengingat selera dan standarisasi masyarakat setempat yang tinggi—jika tidak ada titel maka tidak didengar atau dianggap angin lewat begitu saja—berbeda jika yang berbicara mepunyai titel seperti Spd.i, S.ag, LC, dll. Walaupun pemahaman dinnya masih biasa biasa saja tapi akan tetap didengar karena titelnya.
Mungkin, menghadirkan ustadz yang kapabel dalam ilmu din dan memilika skil da’i yang profesiaonal adalah menjadi PR kita bersama untuk saat ini.
BAB II
PEMBANGUNAN SIMPUL
Untuk pembangunan simpu di daerah Nunukan belum terlaksana dengan maksimal, belum ada yang perlu ditindak lanjuti secara serius. Sementara ini Yayasan setempat masih berkonsentrasi untuk menguatkan simpul yang telah ada dan memperkuat jalilinan persaudaraan antara ikhwan-ikwan Nunukan yang sempat kendor beberapa tahun terakhir ini.
Sementara itu, ada beberapa dari kerabat dan teman akrab orang tua da’i sendiri yang siap menitipkan anaknya di tahun yang akan datang untuk disekolahkan di pondok-pondok pesantren yang ada di jawa, dan sebagian dari ikhwan sudah ada yang menyekolahkan anak-anaknya di pondok pesantren “kita” untuk dikader menjadi da’i ilallah.
BAB III
REKOMENDASI STRATEGIS
Bagi saya, tempat strategis belum begitu nampak karena waktu yang begitu singkat—satu bulan ramadhan—saja , sementara disibukkan dengan jadwan yang ada. Namun yang pelu untuk di kembangkan adalah pendekatan kepada tokoh-tokoh agama dan masyarakat yang ada di Nunukan kota untuk meraih kemajuan dibidang lobisasi dan ekonomi yayasan.
BAB IV
PENUTUP
Usul dan Saran:
Alangkah baiknya jika ada ustadz yang menetap di Nunukan, bertitel dan kepabel dalam ilmu din, seta mempunyai hafalan qur’an yang banyak, kalau bisa yang hafidz sekalian, mengingat di Nunukan belum ada seorang hafidz kecuali satu orang, itupun saya belum tau persis siapa orangnya kerena masih katanya dan katanya. Nah, jika yayasan setempat memiliki ustadz seperti yang disarankan, maka itu akan sangat berpengaruh sekali untuk kelancaran dakwah dan membangun imej bahwa “kita” ada untuk ummat.

Leave A Reply