LAPORAN DA’I ROMADHON

0

 

 

 

PROFIL
                Nama saya Ahmad Nur Saifudin. Saya asli jawa tengah, tepatnya Tawang Mangu, kab. Karang Anyar. Sejak masuk SMP saya sudah masuk pondok pesantren. SMP dan SMA di Al-Muttaqin Jepara dan lanjut kuliyah di Pesantren Tinggi Al-Islam bekasi. Al hamdulillah sekarang saya sudah semester 4. Al hamdulillah banyak pelajaran agama yang saya pelajari selama masa sekolah, diantaranya Aqidah, Fikih, Bahasa Arab, dll yang sangat membantu saya dalam pegiriman da’i selama Romadhon.

                Al-Hamdulillah pada Romadhon tahun ini saya mendapatkan untuk berartisipasi dalam pengiriman Da’i Romadhon ke pelosok oleh yayasan Adwa’ul Bayan. Dan Al-Hamdulillah saya mendapatkan tugas di prorinsi Jogja, tepatnya di kec. Semin, Kab. Gunung Kidul.
                Awalnya saya bertugas di Masjid Besar Al-Ikhlas Semin (Masjid Kecamatan), akan tetapi karna adanya permintaan dan daerah yang lebih membutuhkan, akhirnya saya di pindak ke dusun Bendungan, Sumberjo, kec. Semin. Saya berdakwah di dusun Bendungan hanya sampai 20 Romadhon. Kemudian saya di pindah ke Dusun Pucung Malang, Kec, Semin sampai akhir Romadhon / Syawal.
                GAMBARAN DAERAH
                Ada 3 daerah yang saya tempati selama Romadhon. yaitu masjid Besar Al-Ikhlas kec. Semin, Masjid Al-Ikhlas dusun Bendungan, Sumberjo, dan dusun Pucung Malang. Adapun gambaran dan keadaanya sebagai berikut :
                Masjid Besar Al-Ikhlas Kec. Semin.
                Karena masjid terletak di pusat kecamatan, jadi jama’ah masjid banyak. masjid Al-Ikhlas termasuk masjid yang sudah tertata rapi dan maju. Bisa dilihat dari struktur kepengurusan masjid yang jelas maupun fasilitas masjid yang memadai. Di antara fasilitas yang ada ialah, tempat praktek / klinik yang di buka gratis buat masyarakat setiap hari ahad, ruang tamu dan kamar yang dikhususkan bagi tamu / ustadz yang berkunjung, dua lokal kelas yang di gunakan untuk kegiatan TPA maupun kegiatan Keagamaan lainya.
                Masjid Al-Ikhlas dusun Bendungan, Sumberjo, Semin.
                Sumberjo merupakan salah satu dusun yang teletak di kecamatan semin. Kondisi masyarakat sekitar masih terbilang sangat awam. Tidak ada kajian rutin harian, mingguan, bahkan bulanan. Kecuali tradisi kultum bakda subuh dan taraweh selama romadhon dan dilanjutkan dengan syawalan sehabis bulan romadhon.
                Adapun kegiatan TPA untuk anak-anak, alhamdulillah selama Romadhon bisa masuk rutin setiap hari. Tpi diluar bulan romadhon, hanya 2 sampai 3 kali selam seminggu, dan pengajarnya pun dari luar daerah. Dan yang di ajarkan hanya sebatas membaca al-qur’an dan pengetahuan yang lainya sifatnya hanya tambahan. Dan kebanyakan anak-anak dusun Bendungan sekolah di SD dan SMP, jadi sangat minim sekali pengetahuan mereka tentang agama islam.
               
                Mushola  an-Nur dusun Pucung Malang, kec. Semin.
                Dusnun Pucung Malang terletak di dataran tinggi / atas perbukitan, pelosok dan jauh dari perkotaan. Pucung Malang merupakan dusun dari kec. Semin yang palig pinggir, karena berbatasan dengan kec. Ponjong. dengan kondisi alam yang pegunungan dan jauh dari perkotaan, maka memiliki sepeda motor itu sebuah kebutuhan yang harus dimiliki untuk memudhkan melakukan rutinitas harian.
                Pucung Malang ada Masjid dan Mushola, masjid di daerah bawah dan mushola di daerah atas. akan tetapi karena dusun terletak di pegunungan, dan sangat menyusahkan kalau orang atas harus ke bawah maupun sebaliknya, maka sholat jum’at pun di laksanakan di dua tempat, yaitu di masjid untuk masyarakat daerah bawah dan di mushola untuk masyarakat bagian atas.
                Untuk pemahaman agama masyarakat pucung malang, maka terbagi menjadi dua, masyarakat bagian bawah dan masyarakat bagian atas. Untuk masyarakat bagian bawah, pemahaman agama mereka termasuk sudah lumayan, bisa di lihat dengan adanya kajian rutin 2 kali satu bulan, banyaknya jama’ah sholat, adanya kesadaran untuk berkurban baik dengan sapi maupun kambing (padahala masyarakat tergolong berekonomi rendah), adanya kesadaran untuk berzakat baik zakat fitri maupun zakat mal,  tergeraknya orang-orang tua untuk belajar membaca al-Qur’an, dan adanya TPA yang rutin setiap minggunya.
                Adapun masyarakat daerah atas, maka pemahaman agama mereka termasuk kurang dan minim. Tidak adanya ustdadz yang tinggal di sana menambah kurangnya pemahaman mereka. Tidak adanya TPA bagi anak-anak dan Tidak adanya kajian rutin bulanan di mushola menjaikan pemahaman mereka minim, kecuali mereka yang mau berusaha belajar dan mengaji di luar daerah.Akan tetapi (menurut penilaian saya) pemahaman agama mereka masih lebih dari pada masyarakat dusun Bendungan Sumberjo, bisa di lihat dari banyaknya perempuan yang memakai jilbab yang ini tidak di temui di dusun Bendungan Sumberjo.
                PROGRAM DA’WAH
                Program dakwah yang saya rencanakan dari awal sebelum keberangkatan adalah memperbaiki bacan / tahsin dan penyampaian fikih puasa. Akan tetapi setelah melihat keadaan masyarakat dan beberapa pertimbangan, maka rencana awal sedikit ada perubahan khususnya di 10 hari terakhir bulan romadhon di dusun Pucung Malang.
                PELAKSANAAN PROGRAM
                Di dusun Bendungan, Sumberjo. Untuk program tahsin saya memanfaatkan waktu sore hari ketika TPA dan ketika Tadarus sehabis sholat taraweh. Akan tetapi fokus kami hanya kepada remaja dan anak yang sudah mampu membaca al-Qur’an. Adapun untuk anak-anak yang belum bisa membaca iqro’, maka kami menggunakan buku panduan iqro’ dan al hamdulillah di pegang oleh teman (sesama da’i) yang tugas bersama di daerah situ dan sedikit mendapat bantuan dari remaja yang sudah mampu.
                Adapun penyampaian fikih puasa, saya memanfaatkan kultum subuh dan taraweh untuk menyampaikanya. Dengan pertimbangan seandainya di laksanakan di luar kultum akan menyusahkan, menimbang mata pencaharian masyarakat yang mayoritas mengandalkan sawah (berangkat pagi, pulang sore) maka saya memanfaatkan kultum bakda subuh dan taraweh.
                Adapun kegiatan tambahan di luar program awal adalah mengikuti lomba TPA sekabupaten Gunung Kidul di ponpes al-Hikmah Karang Mojo. Dan juga kami bersama teman-teman mengadakan lomba CCA sendri khusus untuk Anak-anak TPA di hari ke 20 r omadhon.
                Di awal-awal bertugas di dusun Bendungan  Sumberjo, saya di mintai bantuan untuk mengajar pesantren kilat di SMAN 2 Playen bersama da’i-da’i dari MA an-Nur solo selama 5 hari. Dan al-Hamdulillah bisa berpartisipasi dalam peskil sampai akhir.
                Adapun pelaksanaan program di dusun Pucung Malang, maka sedikit ada perubahan. Menimbang anak anak TPA yang bacaanya masih kacau (menurut penilaian saya) bacaan dan kemampuan membaca anak-anak dusun Bendungan Sumberjo lebih baik daripada anak-anak di dusun Pucung Malang ini. Begitu juga  kondisi masyarakat yang lebih mendingan pemahaman agamnaya di bandinga masyarakat dusun Bendungan Sumberjo, maka saya sedikit keluar dari program awal.
                Untuk anak-anak dan remaja, saya memanfaatkan sore hari TPA untuk mengajari mereka bacaan al-Qur’an dan juga ketika tadarus ba’da subuh dan taraweh (dua kali). Dan al-Hamdulillah para remaja di dusun Pucung Malang ikut aktif dalam mengajar anak-anak TPA walaupun masih minim kemampuan mereka.
                Adapun penyampaian keilaman, maka saya memanfaatkan kultum habis subuh dan taraweh, hanyasaja durasi dan waktu saya perpanjang, khususnya kultum habis taraweh. Dalam penyampaian saya tidak fokus pada fikih romadhon (karena menurut saya sudah cukup), akan tetapi mulai sedikit menambah pengetahuan mereka tentang ibadah, khususnya sholat. Maka saya memanfaatkan kultum habis taraweh untuk menyampaikan praktek sholat, praktek dan tatacara sholat jenazah dan sedikit panduan zakat.
PENCAPAIAN PROGRAM
                Adapun pencapaian da’wah berdasarkan program yang saya rencanakan. Alhamdulillah mulai terlihat sedikit perubahan-perubahan (karna durasi dakwah yang singkat, hanya 20 dan 10 hari). Terlihat bacaan anak-anak yang mulai membaik, dan ada beberapa jama’ah yang melaksankan apa yang di sampaikan, khususnya dalam masalah sholat (berdasarkan pemantauan yang bisa saya lihat)
PESAN KEPADA DA’I SELANJUTNYA
Kepada da’i selanjutnya, maka saya menyarankan untuk melihat dan menilai sendiri keadaan masyarakat terlebih dahulu sebelum memulai penyampaian (bisa jadi hasil penilaian saya dengan orang lain berbeda) baik dengan mengambil pengalaman dari da’i sebelumnya maupun melihat dan bertanya langsung kepada ta’mir dan kepala daerah tersebut.
Memanfaatkan potensi yang ada dan yang bisa di ambil. Walaupun banyak kekurangan, akan tetapi bukan berarti tidak ada kebaikan dan kelebihan yang bisa di manfaatkan.
Karena lokasi dakwah yang pedesaan, khususnya daerah Pucung Malang. Maka methode dakwah rumah ke rumah / dengan silatur rahmi bisa sangat berpotensi dalam perkembangan da’wah. Karena sudah mejadi tabiat orang sana untuk menghormati tamu, dan mereka sangat senang bila rumah mereka di kunjungi ustdadz.
Mayoritas penduduk adalah muhamadiyah, dan ini menjadi celah bagi da’i untuk masuk dan menyampaikan sunnah dan mengikis bid’ah.
Dakwah akan lebih bisa berkembanga Insya Allah jika ada ustadz yang siap tinggal lama di sana, dan akan lebih bermanfat lagi jika mau menjadi orang sana.
POTENSI YANG BISA DI KEMBANGKAN OLEH ADW’AUL BAYAN DAN KAUM MUSLIMIN
1.       Belum ada ustadz yang tinggal dan masuk di sana, dan ini memudahkan da’i untuk brdakwah di sana tanpa ada yang merasa tersingkirkan dan tersaingi.
2.       Masyarakat yang masih awam, sehingga mereka akan memudahkan bagi da’i untuk menyampaikan islam dari nol tanpa ada pertentangan (asalkan di kuatkan dengan penyampaian dalil baik dari  al-qur’an maupun  hadits). Dan potensi ini akan sangat berbahaya jika di manfaatkan oleh aliran aliran yang sesat dan menyesatkan.
3.       Tidak adanya kader yang akan meneruskan dakwah, menjadikan ta’mir dan tokoh agama setempat mencari-cari da’i di luar daerah khususnya setiap bulan romadhon.
4.       Di dusun Pucung Malang, di daerah atas / di mushola belum ada TPA di luar bulan romadhon (bukan karena anak-anak yang enggan untuk belajar, tapi karena tidak adanya tenaga pengajar). Dan ini akan memudahkan bagi da’i untuk mendirikan TPA sendiri untuk anak-anak setempat.
5.       Insya allah belum ada pemahaman sesat yang masuk, jadi tinggal fokus mengembangkan bukan fokus memberantas.

 

Leave A Reply