Kita Hanya Sebutir Debu

0

 

Kolega Save us, ada sebuah cerita menarik yang gue kutip dari sebuah buku cerita. Suatu ketika seorang remaja bernama Stanley, sebutlah begitu namanya, berniat membuat sebuah model tata surya di ruang bawah tanahnya. 

Dia memang seorang yang sangat terobsesi dengan hal-hal yang berkaitan dengan ruang angkasa. Stanley ini ingin membentuk model sistem tata surya lengkap dengan kesembilan planetnya dengan ukuran skala yang mendekati sebenarnya. Di saat anak itu sedang membentuk sebuah bola dari tanah liat yang direncanakan bakal menjadi bumi, tiba-tiba salah seorang temannya lewat dan langsung mentertawakan niat si Stanley itu. “urungkan saja niatmu, kau nggak bakalan bisa bikin model tata surya seperti yang kau inginkan” ucapnya tetap sambil tertawa. “hey, tunggu saja! Aku akan buktikan! Kurasa dengan ukuran yang sudah demikian kecil ini udah cukup” sanggahnya, “Kau belum mengerti juga. Lihat model bumimu itu, mempunyai diameter 10 senti. Bumi yang sebenarnya bergaris tengah lebih dari 12 ribu kilometer. Jadi dengan skala itu, 1 sentimeter sebanding dengan 1200 kilometer. Berarti untuk bikin matahari kau perlu membikin bola dengan garis tengah sekitar 11 meter. Itu belum planet-planet lainnya…….dan walaupun kau sanggup bikin bola sebesar itu, maka dijamin ruang bawah tanahmu yang lumayan besar itu tetap tak bakalan cukup. Karena jarak bumi dengan matahari sekitar 150 kilometer, berarti dengan skala tadi kau mesti membuat jarak di modelmu untuk bumi matahari sejauh 1,25 kilometer. Itu baru bumi-matahari, belum matahari ke pluto.” Lanjutnya masih dengan tertawa.
Kolega Save us, dari perbandingan melalui penggalan cerita di atas, kita dapat membayangkan bahwa tata surya merupakan tempat yang sangat luas. Tetapi, ingat! Itu baru tata surya. Sedangkan tata surya adalah bagian dari galaksi bimasakti. Dan dalam galaksi bimasakti sendiri, tata surya hanyalah suatu tempat yang teramat kecil. Karena, di dalam galaksi Bima Sakti, ada sekitar 250 miliar bintang yang mirip dengan matahari kita, dan kebanyakan jauh lebih padat.
Matahari kita terletak pada salah satu lengan galaksi yang berbentuk spiral ini. Tetapi, yang menarik adalah galaksi Bima Sakti sesungguhnya adalah tempat yang sangat “kecil” pula, bila kita memperhitungkan keseluruhan luar angkasa. Sebab, ada juga galaksi-galaksi lain di ruang angkasa yang diperkirakan berjumlah keseluruhan sekitar 300 miliar… (Sejenak gue membayangkan betapa kecilnya dan tak berartinya gue yang hanya sebutir debu di tengah luasnya jagad raya… Allahu Akbar!)
Sekelumit contoh tentang ukuran dan jarak yang sedemikian lebar antara benda-benda angkasa di jagat raya ini saja sudah cukup untuk menunjukkan kehebatan tiada tara dari kepiawaian Allah dalam penciptaan, fakta bahwa Dia tidak punya sekutu dalam mencipta, dan bahwa Dialah yang Mahakuasa. Allah menyerukan manusia agar memikirkan kenyataan-kenyataan ini sebagai berikut:
 “Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membinanya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya” (QS. An Naazi’aat, 79:27-28)
Kolega Save us, mari kita kembali bicara tentang tata surya. Bila kita tinjau struktur tata surya, akan kita temukan keseimbangan yang sangat halus dan teliti. Yang menahan planet-planet dalam tata surya agar tidak terlepas dari tata surya dan terlempar ke dalam suhu dingin membeku di angkasa luar adalah keseimbangan antara gravitasi (gaya tarik) matahari dan gaya sentrifugal planet-planet. Matahari menarik semua planet dengan gaya tarik kuat yang ditebarkannya, sementara planet-planet secara terus-menerus mengimbangi tarikan ini dengan menggunakan gaya sentrifugal yang ditimbulkan oleh gerakan planet-planet tersebut pada jalur lintas atau orbitnya. Tetapi bila planet-planet ini berputar pada sumbunya (gerak rotasi) dengan kecepatan yang sedikit lebih rendah, planet akan ditarik oleh matahari dengan sangat kuat sehingga jatuh ke dalam raksasa matahari dan tertelan suatu ledakan hebat. Hal yang sebaliknya juga mungkin terjadi. Jika planet-planet berputar dengan kecepatan yang lebih tinggi, kali ini gravitasi matahari tidak akan cukup kuat untuk menahannya dan planet-planet akan terlempar ke ruang hampa di angkasa luar. Tetapi, sebuah keseimbangan yang sangat halus cermat telah ditetapkan, dan sistem ini dapat terus berlangsung karena mempertahankan keseimbangan ini.
Selain itu, juga penting untuk dicatat bahwa keseimbangan yang disebutkan di atas diciptakan secara tersendiri untuk setiap planet, karena jarak masing-masing planet dari matahari adalah berlainan. Di samping itu, massa setiap planet juga berbeda. Karena itulah, untuk setiap planet, kecepatan rotasi yang berbeda juga ditetapkan. Hal ini dimaksudkan, agar planet-planet tersebut dapat menghindari tabrakan dengan matahari maupun lontaran ke ruang angkasa.
Contoh ini hanya merupakan sebagian kecil bukti dari keseimbangan luar biasa di dalam tata surya. Siapa pun yang memiliki akal dapat memahami bahwa keseimbangan yang menempatkan planet-planet besar dan seluruh tata surya dalam keteraturan, dan yang memelihara keteraturan ini hari demi hari dan abad demi abad, tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Tampak jelas bahwa keteraturan ini telah diperhitungkan dengan sangat cermat. Allah, yang Mahakuasa, menunjukkan kepada kita, dengan berbagai kesempurnaan rinci yang telah Dia ciptakan di alam semesta, bahwa segala sesuatu berada di bawah kekuasaan-Nya. Para ahli astronomi seperti Kepler dan Galileo, ilmuwan yang bekerja untuk menyingkapkan keseimbangan yang luar biasa pekanya dalam tata surya, beberapa kali menyatakan bahwa sistem ini mengisyaratkan perancangan yang sangat jelas dan merupakan bukti kekuasaan Allah di seantero jagat raya. Allah menciptakan dan berkuasa atas segala sesuatu dengan pengetahuan-Nya yang tak terbatas; Dialah Yang Mahaperkasa.

 

Leave A Reply