Keyakinan Bahwasannya Syari’at Allah Itu Mudah

0

Wajib atas setiap muslim meyakini bahwasannya agama Allah itu mudah. Allah ta’ala tidak mensyariatkan kepada manusia sesuatu yang dipandang sulit, bahkan seluruh syariat islam itu mudah, walhamdulillah. Di dalamnya terdapat keringanan bagi manusia serta perhatian terhadap keadaan dan kelemahan mereka.

Allah ta’ala berfirman:

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS. Al-Baqarah: 185).

Tidak ada di dalam agama-Nya sesuatu yang menyebabkan kesulitan bagi manusia, sebagaimana firman Allah ta’ala:

Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (QS. Al-Hajj: 78).

Kemudahan ini meliputi seluruh syariat di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Demikian pula petunjuk nabi shollaulohu alaihi wassalam, seluruhnya mudah, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:

Tidaklah nabi shollaulohu alaihi wassalam diberikan dua pilihan kecuali beliau memilih yang mudah di antara keduanya, selama hal itu bukan dosa. Adapun jika hal itu dosa, maka beliau adalah orang yang paling jauh darinya.[1]

Maknanya, bahwasannya seluruh perkara di dalam syariat mudah, sedangkan perkara yang menyelisihinya pasti sulit. Tidak mungkin syariat dan lawannya mudah pada saat yang sama. Maka apabila sunnah itu mudah, berarti yang menyelisihinya pasti sulit. Sebab, sekiranya itu mudah, tentulah nabi shollaulohu alaihi wassalam telah memilihnya, sebagimana tersebut dalam hadits di atas. Barangsiapa yang menyelisihi sunnah, sesungguhnya ia telah mempersempit dan mempersulit dirinya sendiri, meskipun ia beranggapan sebaliknya atau berkeyakinan telah memilih yang mudah. Pada hakikatnya, itu merupakan persangkaan yang keliru. Dengan demikian, agama ini berhak disifati dengan kemudahan seluruhnya sebagaimana sabda rasulullah shollaulohu alaihi wassalam:

Sesungguhnya agama itu mudah.[2]

Adapun keyakinan bahwa sesuatu dari agama ini sulit, atau keyakinan bahwa Allah telah mempersulit para hamba-Nya, hal itu termasuk adab yang buruk kepada Allah ta’ala dan prasangka kepada Allah dengan  persangkaan jahiliyah.

Dikutip dari: Ensiklopedi Adab Islam 1; Abdul Aziz bin Fathi As-Sayyid; Pustaka Imam Asy-Syafi’i

[1] HR. Al-Bukhari (6786) dan Muslim (2327) dari Aisyah radhiallahu anha.

[2] HR. Al-Bukhari  (39, 5673, 6463, 7235) dari Abu Hurairah radhiallahu anhu.

Leave A Reply