Kewajiban Mengikuti As-Sunnah dan Menjauhi Bid’ah

0

Rasulullah shollaulohu alaihi wassalam menyuruh kita mengikuti Sunnah beliau dan melarang kita mengadakan acara ritual baru (bid’ah). Karena agama islam telah sempurna dan cukup apa yang disyariatkan Allah dan rasul-Nya, yang diterima sebagai tuntunan as-sunnah oleh ahlussunnah wal jamaah, yaitu para sahabat dan tabi’in.

Di dalam hadits shahih rasulullah shollaulohu alaihi wassalam bersabda:

Barangsiapa mengadakan suatu amalan baru dalam agama kami yang di luar syariat kami. Maka amalan itu tertolak.[1]

Hadits ini disepakati keshahihannya oleh para ulama Sunnah. Dalam riwayat lain di shahih muslim:

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan syariat kami. Maka amalan itu tertolak.

Dalam hadits lain, beliau bersabda:

Berpeganglah kamu sekalian dengan sunahku dan sunah para khulafa’ rashidin setelahku. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia erat-erat dengan gigi geraham. Jauhilah perkara-perkara baru yang diada-adakan, karena setiap amalan yang diada-adakan itu bid’ah, sedang setiap bid’ah adalah sesat.[2]

Rasulullah shollaulohu alaihi wassalam bersabda dalam khutbah jum’at beliau:

Selanjutnya, seseungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah. Sebaik-baik ajaran adalah ajaran Muhammad shollaulohu alaihi wassalam. Seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara baru yang diada-adakan. Setiap bid’ah adalah sesat.[3]

Dalam hadits-hadits yang tertera di atas, terdapat peringatan keras mengadakan berbagai bid’ah dan penegasan bahwa bid’ah adalah sesat. Ini semua agar menjadi peringatan bagi umat islam tentang besarnya bahaya bid’ah, sekaligus untuk mengajak mereka menjauhi tindakan melakukan bid’ah.

Allah ta’ala berfirman:

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; (QS. Al-Hasyr: 7).

Allah ta’ala berfirman:

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan (dalam hatinya)[4] atau ditimpa azab yang pedih. (QS. An-Nuur: 63)

Allah ta’ala berfirman:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: 21).

Allah ta’ala berfirman:

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah: 100).

Sumber:

Kewajiban Berpegang Teguh Kepada As-Sunnah dan Waspada Terhadap Bid’ah; Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz; Islamic Propagation Office In Rabwah.

[1] HR. Imam Ahmad bin Hambal, Al-Bukhari dari Aisyah radhiallahu anha.

[2] HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Irbadh bin Sariyah radhiallahu anh.

[3] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya, Muslim dan Ibnu Majah, juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari, At-Tirmidzi dan An-Nasa’I dari Ibnu Masud dan Ibnu Umar berkata:

Setiap bid’ah adalah sesat meskipun di pandang baik oleh banyak orang. (lihat Al-Ba’its ‘ala inkkar al-bid’ah wal hawadits oleh Abu Syamah Asy-Syafi’i.

[4] Menurut Ibnu Katsir arti fitnah di ayat ini adalah cobaan dalam hati yang berupa kekafiran atau kemunafikan atau bid’ah.

Leave A Reply