Keterangan Bahwa Ada di Kalangan Umat Ini Yang Menyembah Berhala

0

Syaikh Muhammad At-Tamimi

——————————————————————————–

Firman Allah Ta’ala (artinya):

“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al-Kitab? Mereka beriman kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (kaum musyrikin Mekkah) bahwa mereka itu lebih benar jalannya daripada orang-orang yang beriman.” (An-Nisa’: 51)

Terdapat beberapa tafsiran dari kalangan Salaf tentang makna kata jibt, antara lain: berhala, sihir, tukang sihir, tukang ramal, Huyai bin Akhthab dan Ka’b bin Al-Asyraf (kedua orang ini adalah tokoh orang-orang Yahudi di zaman Rasulullah).

Dengan demikian pengertiannya umum mencakup makna itu semua, sebagaimana dikatakan oleh Al-Jauhari dalam Ash-Shihah: “Jibt adalah kata-kata yang dapat digunakan untuk berhala, tukang ramal, tukang sihir dan sejenisnya…”

Demikian halnya dengan kata-kata thaghut, terdapat beberapa tafsiran yang menunjukkan pengertian umum. Antara lain: syaitan, syaitan dalam wujud manusia, berhala, tukang ramal, Ka’b Al-Asyraf.

Ibnu Jarir Ath-Thabari, dalam menafsirkan ayat ini, setelah menyebutkan beberapa tafsiran dari ulama Salaf, mengatakan: “… jibt dan thaghut ialah dua sebutan untuk setiap yang diagungkan dengan disembah selain Allah, atau ditaati, atau dipatuhi; baik yang diagungkan itu batu, manusia, ataupun syaitan.”

“Katakanlah: “Maukah aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya daripada (orang-orang fasik) itu di hadapan Allah, yaitu orang-orang yang dilaknati dan dimurkai Allah, dan diantara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi, dan (orang yang) menyembah thaghut.” (Al-Maidah: 60)

“… Orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sungguh kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atas gua mereka.” (Al-Kahfi: 21)

Dari Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sungguh kamu akan mengikuti (dan meniru) tradisi umat-umat sebelum kamu bagaikan bulu anak panah yang serupa dengan bulu anak panah lainnya, sampai kalaupun mereka masuk ke liang biawak niscaya kamu akan masuk ke dalamnya pula.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, orang-orang Yahudi dan Nasrani-kah?” Beliau menjawab: “Lalu siapa lagi?” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Muslim meriwayatkan dari Tsauban Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah membentangkan bumi kepadaku sehingga aku dapat melihat belahan timur dan belahan baratnya. Dan sesungguhnya umatku, kekuasaannya akan mencapai belahan bumi yang telah dibentangkan kepadaku itu. Dan aku diberi dua perbendaharaan simpanan: Merah dan Putih (Imperium Persia dan Romawi). Aku meminta kepada Tuhanku untuk umatku agar mereka jangan dibinasakan dengan paceklik yang berkepanjangan, dan jangan dikuasakan kepada musuh selain dari kaum mereka sendiri sehingga musuh itu nantinya akan merampas seluruh negeri mereka. Lalu Tuhanku berfirman: “Hai Muhammad! Bila Aku telah menetapkan sesuatu, maka ketetapan itu tidak akan diubah lagi; dan sesungguhnya Aku telah memberikan kepadamu untuk umatmu bahwa Aku tidak akan membinasakan mereka dengan paceklik yang berkepanjangan; dan tidak akan menjadikan seorang musuh berkuasa atas mereka selain dari kaum mereka sendiri, maka nantinya musuh itu tidak akan dapat merampas seluruh negeri mereka sekalipun manusia yang ada di seluruh belahan bumi berkumpul menghadapi mereka, sampai (umatmu itu sendiri) sebagian mereka menghancurkan sebagian yang lain dan sebagian mereka menawan sebagian yang lain.”

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Al-Barqani dalam Shahih-nya dengan tambahan:

“Dan yang aku khawatirkan terhadap umatku tiada lain adalah para pemimpin yang menyesatkan; dan apabila pertumpahan darah telah menimpa umatku maka tiada akan berakhir sampai hari kiamat. Kiamat tidak akan terjadi sebelum ada suatu kaum dari umatku mengikuti orang-orang musyrik dan beberapa kelompok dari umatku menyembah berhala. Dan sesungguhnya, akan ada diantara umatku tiga puluh pendusta yang semua mengaku sebagai nabi, padahal aku adalah penutup para nabi tidak ada lagi nabi sesudahku; (sungguhpun demikian) akan tetap ada dari umatku segolongan yang tegak membela al-haq dan mendapat pertolongan (dari Allah), mereka tidak tergoyahkan oleh orang-orang yang menghinakan mereka sampai datang keputusan Allah Tabaraka wa Ta’ala.”

Kandungan tulisan ini:

Tafsiran ayat dalam surah An-Nisa’. Ayat ini menunjukkan bahwa apabila orang-orang yang diturunkan kepada mereka Al-Kitab mau beriman kepada jibt dan thaghut, maka tidak mustahil dan tidak dapat dipungkiri bahwa umat ini yang diturunkan kepadanya Al-Qur’an akan berbuat pula seperti yang mereka perbuat, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan bahwasanya akan ada diantara umat ini orang-orang yang berbuat seperti apa yang diperbuat orang Yahudi dan Nasrani.

Tafsiran ayat dalam surah Al-Maidah. Ayat ini menunjukkan bahwa akan terjadi di kalangan umat ini penyembahan thaghut sebagaimana telah terjadi penyembahan thaghut di kalangan Ahli Kitab.

Tafsiran ayat dalam surah Al-Kahfi. Ayat ini menunjukan bahwa ada diantara umat ini orang yang membangun tempat ibadah di atas atau di sekitar kuburan, sebagaimana telah dilakukan oleh orang-orang sebelum mereka.

Masalah penting sekali, yaitu: apa pengertian iman kepada jibt dan thaghut disini, apakah sekedar percaya dalam hati, atau mengikuti orang-orangnya, sekalipun membenci barang-barang tersebut dan mengerti akan kebatilannya?

(Sebagai buktinya) apa yang dikatakan Ahli Kitab kepada orang-orang kafir (kaum musyrikin Mekkah) bahwa mereka lebih benar jalannya daripada orang-orang yang beriman.

Bahwa beriman kepada jibt dan thaghut mesti akan terjadi di kalangan umat ini (umat Islam) sebagaimana ditetapkan dalam hadits dari Abu Sa’id. Dan inilah yang dimaksud dalam bab ini.

Dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa akan terjadi penyembahan berhala di kalangan banyak dari umat ini.

Hal yang amat mengherankan: Munculnya orang yang mengaku sebagai nabi, seperti Al-Mukhtar*; padahal dia mengucapkan dua kalimat syahadat, menyatakan bahwa dirinya termasuk dalam umat ini, bahwa Rasulullah benar dan bahwa Al-Qur’an benar, padahal disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa Muhammad adalah penutup para nabi. Namun demikian pengakuan kenabian Al-Mukhtar dipercayai orang, meskipun jelas kontradiksinya. Ia muncul pada akhir masa sahabat dan diikuti oleh banyak orang. (*Al-Mukhtar bin Abu ‘Ubaid bin Mas’ud Ats-Tsaqafi. Termasuk tokoh yang memberontak terhadap kekuasaan Bani Umayyah dan menonjolkan kecintaan kepada Ahlul Bait. Mengaku bahwa ia adalah nabi dan menerima wahyu. Dibunuh oleh Mush’ab bin Az-Zubair pada th. 67 H/687 M).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kabar gembira bahwa al-haq (kebenaran Allah dan ajaran-Nya) tidak akan dapat dilenyapkan sama sekali, sebagaimana telah terjadi pada masa lalu; bahkan akan tetap ada golongan yang tetap berpegang teguh dan membelanya.

Tanda utamanya bahwa mereka sekalipun sedikit jumlahnya, tidak tergoyahkan oleh orang-orang yang menghinakan ataupun menentang mereka.

Bahwa kondisi ini tetap berlangsung sampai hari kiamat.

Tanda-tanda besar atas kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkandung dalam hadits:

Beliau memberitahukan bahwa Allah telah membentangkan kepada beliau belahan timur dan belahan barat, dan beliau menjelaskan makna hal tersebut; kemudian terjadi seperti yang beliau beritakan, berlainan halnya dengan belahan selatan dan utara.

Beliau memberitahukan bahwa beliau diberi dua perbendaharaan simpanan.

Beliau memberitakan bahwa doanya untuk umatnya dikabulkan dalam dua perkara, sedangkan perkara yang ketiga tidak dikabulkan.

Beliau memberitahukan bahwa akan terjadi pertumpahan darah diantara umatnya, dan kalau sudah terjadi tidak akan berakhir sampai hari kiamat.

Beliau memberitakan bahwa sebagian umat ini akan menghancurkan sebagian yang lain dan sebagian mereka menawan sebagian yang lain.

Beliau memberitakan akan munculnya orang-orang yang mengaku sebagai nabi pada umat ini.

Beliau memberitakan bahwa akan tetap ada segolongan yang tegak membela kebenaran dan mendapat pertolongan dari Allah.

Dan itu semua benar-benar terjadi persis seperti yang beliau beritakan, padahal masing-masing berita tersebut sangat di luar jangkauan akal.

Apa yang beliau khawatirkan terhadap umatnya hanyalah para pemimpin yang menyesatkan.

Perlu diperhatikan makna dari penyembahan berhala.

Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad At-Tamimi.

Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

——————————————————————————–

Leave A Reply