Ketentuan Qadha Bagi Orang Yang Batal Puasa Tanpa Uzur

0

Seseorang tidak boleh membatalkan puasa –wajib- tanpa uzur (alasan yang dibenarkan syariat). Barangsiapa melakukannya ia tergolong pelaku dosa besar. Apakah orang yang batal puasa tanpa uzur wajib melakukan qadha puasa (mengganti puasanya di waktu lain) atau tidak? Dalam masalah ini terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama:

1: Ada yang berpendapat wajib melakukan qadha puasa. Dalilnya adalah penyamaan hukum dengan orang yang batal puasa karena uzur secara qiyas. Ini yang disebutkan oleh penulis (as-Sa’di) yang merupakan pendapat jumhur ulama. Pendapat ini yang difatwakan oleh al-Lajnah ad-Da’imah dan Ibnu Utsaimin.

2: Ada yang berpendapat bahwa orang yang batal puasa tanpa uzur tidak terkena kewajiban melakukan qadha puasa. Kewajibannya hanyalah bertaubat dan beristighfar (memohon ampun) kepada Allah, serta memperbanyak amal soleh. Sebab pada asalnya puasa Ramadhan tidak boleh dilaksanakan di luar Ramadhan, selain jika ada uzur. Ini adalah ibadah yang telah dibatasi waktu pelaksanaannya hanya di bulan Ramadhan, dan ibadah yang telah dibatasi waktu pelaksanaannya tidaklah sah dilakukan di luar waktunya tanpa uzur, seperti halnya solat yang tidak sah ditunaikan di luar waktunya. Ini adalah pendapat Ibnu Hazm, dan ia menukilkan pendapat ini dari al-Khulafa’ ar-Rasyidun selain Utsman, serta dari Ibnu Mas’ud dan Abu Hurairah. Pendapat ini dipilih oleh al-Imam Ibnu Taimiyah, Muqbil al-Wadi’i dan al-Albani.

Tidak Diperbolehkan Menunda Qadha Puasa Ramadhan Hingga Melewati Ramadhan Berikutnya Tanpa Uzur Al-Imam al-Utsaimin berkata, “Perkataan Aisyah, ‘Kemudian aku tidak dapat mengqadhanya selain di bulan Sya’ban’, menunjukkan bahawa qadha puasanya tidak boleh ditunda lagi (lebih dari bulan Sya’ban) hingga melewati Ramadhan berikutnya. Sebab Aisyah tidak boleh menundanya lagi hingga melewati Ramadhan berikutnya, sementara ketidakmampuan yang ia maksud di sini adalah ketidakmampuan kerana dibatasi syariat, artinya ‘Aku tidak boleh lagi menundanya (lebih dari Sya’ban) kerana dibatasi syariat’.”

Barangsiapa menunda qadha puasa hingga melewati Ramadhan berikutnya tanpa uzur, ia berdosa. Adapun mengenai beban tanggung jawabnya, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama:

1: Pendapat pertama, ia tetap dituntut untuk menunaikan qadha puasanya dan tidak terkena tuntutan membayar kafarat (tebusan). Ini adalah pendapat Ibrahim an-Nakha’i dan Abu Hanifah. Dirajihkan (dikuatkan) oleh asy-Syaukani dan al-Utsaimin. Berdasarkan makna ayat:

“… Hendaklah ia berpuasa pada hari-hari yang lain sebanyak hari yang ditinggalkannya itu.” (Al-Baqarah: 184)

2: Pendapat kedua, ia tetap dituntut untuk menunaikan qadha puasanya dan terkena kewajipan membayar kafarat (tebusan) dengan memberi makan fakir miskin. Ini adalah pendapat al-Imam Ahmad, asy-Syafi’i, Malik dan jumhur. Difatwakan juga oleh al-Lajnah adDa’imah. Namun, Ibnu Hajar berkata, “Tidak ada satu riwayat marfu’ (berasal dari Rasulullah) tentang hal ini yang tsabit (benar). Yang ada hanyalah pendapat dari sekelompok sahabat, di antaranya adalah Ibnu Abbas, Abu Hurairah dan Umar.

Asy-Syaukani berkata, “Pendapat para sahabat ini bukan hujah (dalil). Demikian pula, mazhab jumhur ulama berpegang pada suatu pendapat tidaklah menunjukkan bahwa pendapat itu pasti benar. Menurut kaedah, berjalan di atas hukum asal yang ada menuntut bahwa tidak ada kewajiban untuk sibuk mengamalkan suatu hukum syariat sampai ada dalil yang menggesernya keluar dari hukum asal tersebut, sedangkan dalam masalah ini dalil itu tidak ada.”

Al-Utsaimin berkata, “Adapun menjadikan pendapat para sahabat sebagai hujah adalah lemah, jika menyelisihi makna yang tampak dari ayat al-Qur’an. Dalam masalah ini, pendapat yang mewajibkan membayar kafarat adalah pendapat yang menyelisihi zahir al-Qur’an, karena Allah tidak mewajibkan selain melakukan qadha sebanyak hari yang ditinggalkan itu dihari-hari yang lain. Allah tidak mewajibkan lebih dari itu.”

3: Pendapat ketiga, ia terkena kewajipan membayar kafarat (tebusan) dan tidak dituntut menunaikan qadha puasa. Ini adalah pendapat yang jelas salahnya, kerana menyelesihi al-Qur’an dan mewajibkan sesuatu sebagai pengganti kewajipan qadha tanpa dalil. Wallahu’alam.

(Faedah dari Kitab Manhajus Salikin wa Taudhih al-Fiqhi fid-Din -Kitab ash-Shiyam-, karya Al-Imam Abdurrahman as-Sa’di, disyarah al-Ustadz Muhammad as-Sarbini, diterbitkan Oase Media)

www.thoriqussalaf.com

telegram: http://bit.ly/thoriqussalaf

Leave A Reply