Ketentuan Puasa Bagi Orang Sakit & Musafir

0

Al-Imam as-Sa’di berkata, “Orang sakit yang terkena mudharat karena berpuasa dan musafir, keduanya memiliki pilihan untuk berbuka (tidak berpuasa) atau tetap berpuasa.”

Ketentuan Puasa Bagi Orang Sakit

Dalil bolehnya orang sakit untuk berbuka (tidak berpuasa) adalah firman Allah:

“Maka dari itu, barang siapa di antara kalian sedang sakit atau dalam safar, (lalu ia berbuka) diwajibkan baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqarah: 184)

Al-Imam as-Sa’di menyatakan kriteria sakit yang menjadi uzur untuk mendapat keringanan tidak berpuasa adalah apabila orang sakit tersebut akan mendapat mudharat jika berpuasa. Mudharat itu adalah sakitnya semakin parah atau memperlambat kesembuhannya. Ini adalah pendapat al-Imam Ahmad, al-Imam Malik, dan selaras dengan pendapat ulama ahli fikih di kalangan mazhab Syafi’i.

Namun, Fatwa al-Lajnah ad-Da’imah (10/180) yang diketuai al-Imam Ibnu Baz, membolehkan berbuka apabila puasa itu berat bagi orang sakit itu, meskipun tidak menimbulkan mudharat terhadap keadaan sakitnya.

Al-Imam Ibnu Utsaimin merincikan pendapat beliau dalam asy-Syarh al-Mumti, 6/352-353. Ini merupakan pendapat yang terkuat dan terbaik dalam masalah ini:

1: Jika berpuasa itu memberi pengaruh kurang enak pada dirinya, tetapi tidak sampai memberatkannya. Pada keadaan ini, berbuka adalah sunnah baginya, sedangkan berpuasa dibolehkan baginya (tidak makruh).

2: Jika berpuasa terasa memberatkan dirinya, tetapi tidak sampai memberi mudharat. Pada keadaan ini, berbuka adalah sunnah baginya dan makruh untuk berpuasa.

3: Jika berpuasa memberi mudharat terhadapnya, seperti penderita sakit ginjal, sakit gula (diabetis) dan semacamnya. Pada keadaan ini, wajib atasnya untuk berbuka dan haram untuk berpuasa.

Ketentuan Puasa Bagi Musafir

Dalil bolehnya musafir untuk berbuka (tidak berpuasa) adalah firman Allah:

“Maka dari itu, barangsiapa di antara kalian sedang sakit atau dalam safar, (lalu ia berbuka) diwajibkan baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqarah: 184)

“Sesungguhnya Allah telah meringankan dari seorang musafir setengah dari solatnya, serta meringankan pula kewajipan puasa dari seorang musafir, wanita menyusui dan wanita hamil.” (HR Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah. Dishahihkan alAlbani dan dihasankan al-Wadi’i)

Para musafir memiliki beberapa keadaan yang masing-masingnya memiliki hukum tersendiri:

1: Berpuasa atau berbuka sama saja bagi musafir itu.

Ada tiga pendapat dalam masalah ini:

Pendapat pertama menyatakan bahawa yang afdhal baginya adalah berpuasa. Ini pendapat Al-Imam Abu Hanifah, Al-Imam Malik, Al-Imam Syafi’i. Ini dipilih oleh Ibnu Hajar dan Al-Imam Ibnu Utsaimin. Dalilnya:

“Kami pernah melakukan safar bersama Rasulullah pada bulan Ramadhan dalam keadaan cuaca sangat panas, sehingga salah seorang di antara kami benar-benar meletakkan tangannya di atas kepalanya kerana cuaca yang sangat panas. Tidak seorang pun di antara kami berpuasa kecuali Rasulullah dan Abdullah bin Rawahah.” (Muttafaq ‘alaih)

Pendapat kedua menyatakan bahawa yang afdhal baginya adalah berbuka. Ini adalah pendapat al-Imam Ahmad dan Ishaq Rahawaih. Dan dipilih oleh al-Imam Ibnu Taimiyah, alImam Ibnu Baz dan al-Lajnah ad-Da’imah. Dalilnya:

“Wahai Rasulullah, saya merasa diri saya memiliki kekuatan untuk berpuasa dalam safar.Apakah saya terkena dosa (karena berpuasa)?” Rasulullah menjawab, “Berbuka adalah keringanan dari Allah. Maka dari itu, barangsiapa mengambil keringanan itu, hal itu adalah baik, dan barangsiapa memilih untuk tetap berpuasa, tidak ada dosa atasnya.” (HR Muslim)

Pendapat ketiga menyatakan bahawa yang lebih utama baginya adalah mana yang paling mudah baginya antara berpuasa atau berbuka ditinjau dari segi susah atau tidaknya untuk melakukan qadha. Jika lebih mudah untuk berpuasa dan susah untuk melakukan qadha, yang afdhal baginya adalah berpuasa. Jika melakukan qadha di luar Ramadhan lebih mudah baginya, yang utama adalah melakukan qadha. Ini adalah pendapat Mujahid, Umar Abdul Aziz, Qatadah. Ini dipilih oleh Ibnul Mundzir dan al-Imam al-Albani. Dalilnya:

“Wahai Rasulullah, sungguh saya adalah seorang yang selalu berpuasa. Apakah saya boleh berpuasa ketika safar?” Rasulullah menjawab, “Silakan berpuasa jika engkau mau, dan silakan berbuka jika engkau mau.” (HR Bukhari dan Muslim)

2: Berbuka lebih ringan bagi musafir.

Al-Imam Ibnu Utsaimin menyatakan bahwa keadaan seperti safar, berbuka lebih utama bagi musafir. Melakukan hal yang memberatkan diri padahal terdapat keringanan dari Allah, menunjukkan adanya sikap berpaling dari keringanan yang Allah berikan. Dalilnya:

“Sesungguhnya Allah menyukai untuk diambil keringanan-keringanan-Nya sebagaimana Allah tidak suka untuk dimaksiati.” (HR Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban pada kitab Ash-Shahih dari keduanya)

3: Berpuasa sangat memberatkan musafir itu sehingga ia tidak mampu lagi untuk menanggungnya, atau bahkan memudharatkannya.

Berpuasa dalam keadaan seperti ini haram dan wajib untuk berbuka. Ini adalah pendapat al-Imam Ibnu Utsaimin dan al-Imam al-Albani. Dalilnya:

“Rasulullah pernah dalam safarnya melihat seseorang dikerumuni orang banyak dalam keadaan dinaungkan di bawah pohon (dari panas matahari). Lalu baginda bertanya, “Ada apa ini?” Mereka menjawab, “Orang ini berpuasa.” Baginda bersabda, “Bukan merupakan kebaikkan berpuasa dalam safar”.” (Muttafaq ‘alaih)

Dikutip dari: Silsilah Fikih Puasa Lengkap; www.thoriqussalaf.com.

 

Leave A Reply