Ketentuan Bagi Orang Yang Tidak Mampu Lagi Berpuasa

0

Al-Imam as-Sa’di berkata, “Seseorang yang tidak mampu lagi berpuasa karena lanjut usia atau karena penyakit yang tidak ada harapan sembuh, berkewajiban memberi makan seorang fakir miskin untuk setiap hari puasa (yang ditinggalkannya).”

Hukum Orang Yang Tidak Mampu Lagi Berpuasa

Orang yang tidak mampu lagi berpuasa ada dua golongan:

1: Orang tua lanjut usia yang tidak mampu sama sekali berpuasa, atau merasakan beban yang sangat berat ketika berpuasa. Lanjut usia yang dimaksud di sini adalah yang belum mengalami kepikunan (nyanyok). Adapun yang telah nyanyok, sudah bukan mukallaf lagi.

2: Penderita penyakit yang tidak ada harapan sembuh. Al-Imam Ibnu Utsaimin menerangkan bahwa hal ini berdasarkan diagnosis ahli medik/doker yang terpercaya di bidangnya, atau berdasarkan keumuman yang terjadi bahwa penderita penyakit seperti itu biasanya tidak dapat sembuh.

Ulama berbeda pandangan dalam menetapkan hukum bagi orang yang tidak mampu lagi berpuasa karena lanjut usia atau karena sakit yang tidak ada harapan sembuh:

1: Sebagian ulama berpendapat bahwa orang tersebut tidak diwajibkan berpuasa, tetapi diwajibkan membayar fidyah, sebagai ganti setiap hari puasa yang ditinggalkan. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas mengenai firman Allah:

“Bagi orang-orang yang mampu menjalankan puasa (terdapat pilihan) untuk membayar fidyah berupa memberi makan seorang fakir miskin.” (Al-Baqarah: 184)

Ibnu Abbas berkata, “Ayat ini tidak dihapus (hukumnya) dan yang dimaksud adalah lelaki dan wanita lanjut usia yang tidak mampu lagi untuk berpuasa, hendaklah keduanya memberi makan seorang fakir miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan.” (HR Bukhari)

Begitu juga hukumnya bagi orang sakit yang tidak ada harapan sembuh, kerana kesamaan makna yang ada pada keduanya. Hal ini telah difatwakan oleh al-Lajnah ad-Da’imah yang diketuai al-Imam Ibnu Baz. Juga fatwa al-Imam al-Albani, Ibnu Utsaimin dan al-Wadi’i. Ini pendapat yang benar.

2: Sebagian lainnya berpendapat bahawa orang yang tidak mampu lagi berpuasa, tidak diwajibkan melakukan qadha puasa dan tidak diwajibkan pula membayar fidyah, karena ayat tersebut telah mansukh (dihapus) secara mutlak. Ini adalah pendapat al-Imam Malik, Abu Tsaur dan Dawud azh-Zhahiri. Namun pendapat ini lemah.

Ketentuan Fidyah

Fidyah yang diberikan kepada fakir miskin (dari kalangan muslim) adalah setiap jenis makanan yang biasa diberikan seseorang kepada keluarganya di antara makanan-makanan ruji (pokok) negeri setempat, baik berupa gandum, burr, gandum sya’ir, beras, maupun lainnya.

Ulama berbeda pandangan dalam ukuran fidyah yang wajib diberikan:

1: Jumhur (majoriti) ulama berpendapat bahawa kadar fidyah adalah satu mudd dari jenis makanan ruji/pokok apa saja.

2: Sebagian ulama lainnya berpendapat bahawa kadar fidyah adalah setengah sha’ dari jenis makanan ruji apa saja, berdasarkan penyamaan hukum dengan fidyah al-Adza pada ibadah haji secara qiyas. Pendapat ini difatwakan oleh al-Lajnah ad-Da’imah yang diketuai al-Imam Ibnu Baz.

Satu sha’ senilai dengan empat mudd. Jadi fidyah dengan setengah sha’ senilai dengan dua mudd. Menurut al-Lajnah Da’imah, satu sha’ dalam ukuran timbang, kurang lebih 3kg. Manakala menurut al-Imam Ibnu Utsaimin kurang lebih 2.10kg beras atau 2.04kg gandum burr.

Fidyah al-Adza adalah yang disebutkan dalam hadits Ka’ab bin Ujrah tatkala ia menunaikan haji dan terganggu oleh kutu di kepalanya. Rasulullah memerintahkan untuk mencukur rambut kepalanya dengan memberi tiga pilihan sebagai tebusannya. Di antaranya baginda mengatakan:

“Atau engkau memberi makanan kepada enam orang fakir miskin, untuk setiap orang setengah sha’.” (Muttafaq ‘alaih)

3: Ada pula yang berpendapat tidak ada ketentuan kadar tertentu dalam pembayaran fidyah. Dengan dalil bahwa Allah memerintahkan pembayaran fidyah secara mutlak tanpa membatasinya dengan kadar tertentu. Maka dari itu, sah dibayarkan dengan kadar yang dianggap cukup dalam pemberian makanan menurut tuntutan kebiasaan masyarakat.

Pendapat ini yang rajih (terkuat) sebagaimana dinyatakan al-Imam Ibnu Utsaimin dalam asy-Syarh al-Mumti (6/349-350). Ini berdasarkan perbuatan sahabat, Anas bin Malik yang telah lanjut usia, beliau mengumpulkan tiga puluh orang fakir miskin dan memberi mereka roti dan lauknya.

“Anas telah membagikan makanan fidyah setelah ia lanjut usia dalam setahun atau dua tahun, kepada seorang fakir miskin untuk setiap harinya berupa roti dan daging. Ia pun berbuka (tidak mampu berpuasa).” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari secara mu’allaq dalam Kitab ash-Shahih dalam Kitab Tafsir Al-Qur’an, Bab Qauluhu Ta’ala: ayamamma’dudat )

Pembayaran fidyah dalam bentuk uang kepada fakir miskin tidak sah, karena yang diwajibkan oleh Allah adalah al-Ith’am (pemberian makanan) dan Dia menamainya al-Ith’am. Maka dari itu, wajib menunaikannya sesuai dengan yang telah diwajibkan dan dinamakan oleh Nya. Hal ini ditegaskan oleh al-Imam Ibnu Utsaimin dan al-Lajnah ad-Da’imah yang diketuai Ibnu Baz. (Majmu’ ar-Rasa’il 19/116-117 dan Fatawa al-Lajnah 10/163-164, 23/7)

Dikutip dari: Silsilah Fikih Puasa Lengkap; www.thoriqussalaf.com.

 

Leave A Reply