Kesesatan Para Pengingkar Sunnah

0

Di antara perkara yang memprihatinkan adalah bahwa sebagian Mufassirin (Ahli Tafsir) dan penulis-penulis sekarang berpendapat bolehnya dua contoh terakhir di atas, yaitu membolehkan memakan binatang buas dan memakai emas dan sutera bagi laki-laki bersandar dengan Al Qur’an semata.

Dewasa ini telah muncul satu kelompok yang menamakan dirinya Qur’aniyyin (ingkarus sunnah), menafsirkan Al Qur’an dengan nafsu dan akal-akal mereka tanpa mencari keterangan tafsirnya dari sunnah yang shahih.

Bagi mereka, As Sunnah hanyalah pengikut nafsu mereka. Yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, maka mereka berpegang dengannya dan yang tidak sesuai dengan akal mereka, dibuang kebelakang punggung mereka. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengisyaratkan akan adanya orang-orang seperti ini dalam satu haditsnya yang shahih :

Sungguh sebentar lagi kalian akan melihat seseorang yang duduk di singgasananya, kemudian datang kepadanya urusanku (sunnahku) baik yang berisi larangan ataupun perintah, maka dia berkata : “Aku tidak tahu itu! Semua yang kami dapatkan dalam Kitab Allah itulah yang kami ikuti.” (HR. Tirmidzi)

Dalam riwayat lain dia berkata : “Apa yang kami dapatkan dalam Kitabullah pengharamannya, akan kami haramkan.”

Maka Rasulullah bersabda : “Ketahuilah! Sesungguhnya aku diberi Al Qur’an dan yang semisalnya bersamanya.”

Dalam riwayat lain, Rasulullah berkata : “Ketahuilah apa yang dilarang oleh Rasulullah itu sama dengan yang dilarang oleh Allah.”

Hadits shahih di atas menjelaskan dengan tegas bahwa syariat Islam bukannya Al Qur’an saja, melainkan Al Qur’an dan As Sunnah. Barangsiapa hanya berpegang dengan salah satunya berarti sama dengan tidak berpegang dengan keduanya, karena Al Qur’an memerintahkan untuk berpegang dengan As Sunnah demikian pula sebaliknya.

Seperti firman Allah ta’ala :

“Barangsiapa yang mentaati Rasul berarti dia mentaati Allah.” (QS. An Nisa’ : 80)

Dalam ayat lain Allah berfirman :

“Maka demi Rabbmu. Mereka (pada hakikatnya) tidaklah beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa’ : 65)

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al Ahzab : 36)

“Apa yang disampaikan Rasul kepadamu maka ambillah dan apa-apa yang dilarangnya, tinggalkanlah … .” (QS. Al Hasyr : 7)

Sehubungan dengan ayat yang terakhir ini ada riwayat yang sangat menakjubkan, dalam satu riwayat yang shahih dari Ibnu Mas’ud datang seorang wanita kepadanya kemudian berkata : “Kamukah orang yang berkata bahwa Allah melaknat namishat (wanita yang mencabut rambut alis) dan mutanamishat (wanita yang minta dicabutkan bulu alisnya) dan wasyimat (wanita yang mentato)?” Ibnu Mas’ud menjawab : “Ya, benar.” Perempuan tadi berkata : “Aku telah membaca Al Qur’an dari awal sampai akhir tetapi aku tidak menemukan apa yang kamu katakan.” Maka Ibnu Mas’ud menjawab :

“Jika kamu betul-betul membacanya niscaya engkau akan menemukannya. Tidakkah engkau membaca :

“Apa yang disampaikan oleh Rasul ambillah dan apa-apa yang dilarang olehnya maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr : 7)

Aku telah mendengar Rasulullah bersabda :

“Allah melaknat namishat (mencabut bulu alis) … .” (HR. Bukhari Muslim)

Dikutip dari; Kedudukan As-Sunnah Dalam Islam dan Penjelasan Sesatnya Ingkarus Sunnah, Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani dan Syaikh Shalih Fauzan bin Abdullah Fauzan, Maktabah As-Sunnah

Leave A Reply