KESEMPURNAAN ISLAM DAN BAHAYA BID’AH (PART 1)

0

Oleh

Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-‘Utsaimin

Bagian Pertama dari Empat Tulisan [1/4]

Pendahuluan

Segala puji milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita memujinya, memohon ma’unah dan maghfirah-Nya, bertaubat dan berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri keburukan amal perbuatan kita.

Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tiada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkannya maka tiada yang dapat menunjukinya.

Aku bersaksi bahwa Tuhan yang berhak di sembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus Allah dengan membawa petunjuk dan agama yang haq. Beliaupun telah menyampaikan risalah, melaksanakan amanah, tulus dan kasih kepada umat, serta berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya sampai beliau berpulang ke rahmat-Nya, sedang umatnya beliau tinggalkan pada jalan yang terang benderang, siapa yang menyimpang darinya pasti binasa.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan segala kebutuhan umat dalam berbagai aspek kehidupan mereka, sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu : “Tidak ada yang diabaikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai burung yang mengepakkan sayapnya di langit, melainkan beliau telah mengajarkan kepada kami tentang ilmunya”.

Ada seorang musyrik bertanya kepada Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘anhu : ” Apakah Nabi kalian mengajarkan sampai tentang tatacara buang hajat ..? Salman menjawab : ‘Ya, beliau telah melarang kami menghadap kiblat ketika buang hajat, dan membersihkan hajat dengan kurang dari tiga batu, atau dengan tangan kanan atau dengan kotoran kering atau dengan tulang”.

Allah Telah Menjelaskan Ushul dan Furu’ Agama Dalam Al-Qur’anul Karim

Anda tentu tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan dalam Al-Qur’an tentang ushul (pokok-pokok) dan furu’ (cabang-cabang) agama Islam. Allah telah menjelaskan tentang tauhid dengan segala macam-macamnya, sampai tentang bergaul sesama manusia seperti tatakrama pertemuan, tatacara minta izin dan lain sebagainya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu : ‘Berlapang-lapanglah dalam majlis’, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu” [Al-Mujaadalah : 11].

Dan firman-Nya.

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum minta izin dan memberi salam kepada penghuninya, yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat. Jika kamu tidak menemui seseorang di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu : ‘Kembalilah !’ maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. [An-Nuur : 27-28].

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan pula kepada kita dalam Al-Qur’an tentang cara berpakaian. Firman-Nya.

“Artinya : Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi) tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka[1] dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan” [An-Nuur : 60].

“Artinya : Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min : ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbanya[2] ke seluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang”. [Al-Ahzaab : 59].

“Artinya : Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasaan yang mereka sembunyikan”. [An-Nuur : 31]

“Artinya : Dan bukankah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya[3], akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa, dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya”. [Al-Baqarah : 189].

Dan masih banyak lagi ayat seperti ini, yang dengan demikian jelaslah bahwa Islam adalah sempurna, mencakup segala aspek kehidupan, tidak perlu ditambahi dan tidak boleh dikurangi. Sebagaimana firman Allah Ta’ala tentang Al-Qur’an.

“Artinya : Dan Kami turunkan kepadamu kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala seuatu”. [An-Nahl : 89].

Dengan demikian, tidak ada sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia baik yang menyangkut masalah kehidupan di akhirat maupun masalah kehidupan di dunia, kecuali telah dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an secara tegas atau dengan isyarat, secara tersurat maupun tersirat.

Adapun firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam al-kitab. Kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan”. [Al-An’aam : 38].

Ada yang menafsirkan ”Al-Kitab” disini adalah Al-Qur’an. Padahal sebenarnya yang dimaksud yaitu “Lauh Mahfuzh” . Karena apa yang dinyatakan Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Al-Qur’an dalam firman-Nya : “Artinya : Dan Kami turunkan kepadmu kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu”. lebih tegas dan lebih jelas daripada yang dinyatakan dalam firman-Nya : “Artinya : Tidaklah Kami alpakan sesuatupun di dalam al-kitab”.

Mungkin ada orang yang bertanya : “Adakah ayat di dalam Al-Qur’an yang menjelaskan jumlah shalat lima waktu berikut bilangan raka’at tiap-tiap shalat ? Bagaimanakah dengan firman Allah yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk menerangkan segala sesuatu, padahal kita tidak menemukan ayat yang menjelaskan bilangan raka’at tiap-tiap shalat ?”.

Jawabnya : Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan di dalam Al-Qur’an bahwasanya kita di wajibkan mengambil dan mengikuti segala apa yang telah disabdakan dan ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini berdasarkan atas firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah” [An-Nisaa : 80].

“Artinya : Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”. [Al-Hasyr : 7].

Maka segala sesuatu yang telah dijelaskan oleh sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya Al-Qur’an telah menunjukkannya pula. Karena sunnah termasuk juga wahyu yang diturunkan dan diajarkan oleh Allah kepada Rasulullah Shalallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya.

“Artinya : Dan Allah telah menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) kepadamu”. [An-Nisaa : 113].

Dengan demikian, apa yang disebutkan dalam sunnah maka sebenarnya telah disebutkan pula dalam Al-Qur’an.

[Disalin dari buku Al-Ibdaa’ fi Kamaalis Syar’i wa Khatharil Ibtidaa’, edisi Indonesia Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid’ah, karya Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin, penerjemah Ahmad Masykur MZ, penerbit Yayasan Minhajus Sunnah, Bogor – Jabar.]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=247

_________

Foote Note.

[1] Maksudnya : Pakaian luar, yang kalau dibuka tidak menampakkan aurat.

[2] Jilbab sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.

[3] Pada masa Jahiliyah, orang-orang yang berihram di waktu haji mereka memasuki rumahnya dari belakang, bukan dari depan. Hal ini ditanyakan oleh para sahabat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka turunlah ayat ini sebagai pnejelas.

Leave A Reply